Claim Missing Document
Check
Articles

INTEGRASI NILAI HARMONI DALAM PENDIDIKAN ISLAM MELALUI KELUARGA DAN SEKOLAH Said, Nur
PALASTREN Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inti dari ajaran Islam adalah tauhid dan nilai harmoni (Islam). Tulisan ini fokus pada kajian terkait teori pendidikan harmoni melalui pendidikan Islam di sekolahdan keluarga. artikel ini dimulai dari konsep pendidikan harmoni yang meliputi harmoni dari dalam, harmonisosial, dan harmoni alam. Selanjutnya mengkaji terkait pandangan Islam  terkait harmoni yang meliputi 4 dimensiyaitu (1) harmoni kaitanya hubungan manusia dengan Tuhan; (2) harmoni dengan diri sendiri; (3) harmonidengan masyarakat; dan (4) harmoni dengan lingkungan.Dengan memperkenalkan teori pendidikan harmoni baikIslam maupun non-Islam, diharapkan dapat memberikan sumbangan pada design kurikulum pembelajaran melalui pendidikan Islam dan menjadi salah satu materi pelajarandi sekolah Indonesia dan pendidikan keluarga.kata kunci: Integrasi, Pendidikan Harmoni, Sekolah,Keluarga.
SPIRITUAL ENTERPRENERSHIP WARISAN SUNAN KUDUS: MODAL BUDAYA PENGEMBANGAN EKONOMI SYARI’AH DALAM MASYARAKAT PESISIR Said, Nur
EQUILIBRIUM Vol 2, No 2 (2014): EQUILIBRIUM
Publisher : EQUILIBRIUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper will prove a thesis that, in a religious community culture was influenced by three phenomena; modernity, religion and culture of ancestors. That case also happen especially in Kudus in strengthening of spiritual enterprenership that was known as gusjigang as Sunan Kudus’ heritages. This paper analyzed by ethnoarchaeology combined with a semitic approach. Sunan Kudus predicates which, among other known as waliyyul ilmy and also as an Islamic merchants has spawned a cultural communication that reproduces gusjigang culture (bagus/ noble-character, ngaji/ scientific orientation, dagang/ entrepreneurship). Gusjigang culture is part of a local genius who planted by Sunan Kudus is so relevant enough to be developed as the basis of spiritual entrepreneurship or religious capitalism in the coastal areas. The development of Shariah economic studies and also its implementation in order to find a clear distinction needs to pay attention to social and cultural foundation such as the spirit of religious capitalism, that is guided by the principles, values, and religious ethics are built on the basis of justice and goodness (al-Adl wal ihsan) to humanity. In some cases gusjigang culture in Kudus in line with spiritual entrepreneurship ethos and the spirit of religious capitalisme.Paper ini akan membuktikan tesis bahwa budaya masyarakat agama dipengaruhi oleh tiga fenomena yaitu; modernitas, agama dan budaya nenek moyang. Gejala tersebut  juga terjadi di Kudus dalam penguatan spiritual enterprenership yang dikenal dengan gusjigang sebagai warisan Sunan Kudus. Pembahasan tulisan ini dianalisis dengan pendekatan etnoarkeologi dikombinasikan dengan pendekatan Semiotik. Predikat Sunan Kudus yang dikenal sebagai waliyyul ilmy dan juga sebagai pedagang Islam telah melahirkan komunikasi budaya yang mereproduksi budaya gusjigang (baGus, ngaJi, daGang). Budaya Gusjigang merupakan bagian dari kearifan lokal yang ditanamkan oleh Sunan Kudus begitu relevan sebagai dasar pengembangan spiritual enterprenership atau kapitalisme religius di daerah pesisir. Perkembangan studi ekonomi syariah dan juga implementasinya yang distingtif perlu memperhatikan modal sosial dan budaya seperti semangat kapitalisme religius, yang dipandu oleh prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan etika universal Islam seperti nilai-nilai keadilan dan kebaikan (al-Adl wal ihsan) bagi umat manusia. Dalam kasus tertentu, budaya gusjigang di Kudus sejalan dengan etos kewirausahaan spiritual dan semangat kapitalisme agama sehingga hal ini bisa dijadikan sebagai landasan budaya dalam membumikan ekonomi syari’ah di pesisir ini.Kata Kunci: Spiritual entrepreneurship, Sunan Kudus, gusjigang, religious capitalism
URGENSITAS CULTURAL SPHERE DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Rekonstruksi Semangat Multikulturalisme Sunan Kudus bagi Pendidikan Multikultural di STAIN Kudus Said, Nur
ADDIN Vol 7, No 1 (2013): ADDIN
Publisher : P3M STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v7i1.568

Abstract

DIALOG LINTAS IMAN DALAM KOMUNITAS LINTAS BUDAYA (Telaah Diskursif Polemik Ahmadiah dalam Milis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta) Said, Nur
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1072

Abstract

The development of social media has made the world like folded. The actual issues to be so fast and easy to synthetically discussed through a mailing list included in the polemic issue of Ahmadiyah. This paper discussed the genealogy and characteristics of CRCS UGM student mailing list in response to issues of Ahmadiyah in Indonesia and how far it reinforce the idea of archeology students in nurturing empathetic intelligence in internal conflicts of Islam. This study was a library research that relied on documents as objects of study then to do in contents analyzed. The conclusion is in polemics on Ahmadiyah in mailing CRCS indicate an attempt to find "objectivism" and "rationality" in the understanding that the issue be debated Ahmadiyah distintinkly and contextually. But among those showing different domination between objectivism and rationality that sometimes still have not found any common ground between the pro and anti Ahmadiyah although  they generally in inclusive way of life. However, the process of intense discussion through the mailing list is very helpful in understanding the sow intelligence building empathy among Muslims especially those who are experiencing conflict.Perkembangan media sosial telah menjadikan dunia bagai dilipat. Isu-isu aktual menjadi begitu cepat dan mudah untuk didiskusikan melului sarana mailinglist (milis) termasuk dalam polemik isu Ahmadiyah. Paper ini mendiskusikan genealogi dan karakteristik milis mahasiswa crcs UGM Yogyakarta dalam merespon isu-isu Ahmadiyah di Indonesia dan sejauhmana hal itu memperteguh arkeologi pemikiran mahasiswa dalam menyemai kecerdasan empatik di tengak konflik intern umat Islam. Penelitian ini merupakan library research yang mengandalkan dokumen sebagai obyek kajiannya kemudian dilakukan analisis isi. Kesimpulannya adalah dalam berbagai polemik tentang Ahmadiyah di milis crcs menunjukkan upaya menemukan  “obyektivisme” dan “rasionalitas” dalam memahami polemik Ahmadiyah sehingga isunya menjadi distintif dan kontekstual. Namun diantara mereka menunjukkan dominasi yang berbeda antara obyektivisme dan rasionalitas sehingga terkadang masih dijumpai belum adanya titik temu antara yang pro maupun yang kontra meskipun secara umum nalarnya inklusif. Namun proses diskusi yang intens melalui milis tersebut sangat membantu dalam membangun kesepahaman dalam menyemai kecerdasan empati antar umat Islam terutama yang sedang mengalami konflik.
URGENSITAS CULTURAL SPHERE DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Rekonstruksi Semangat Multikulturalisme Sunan Kudus bagi Pendidikan Multikultural di STAIN Kudus Said, Nur
ADDIN Vol 7, No 1 (2013): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v7i1.568

Abstract

SPIRITUAL ENTERPRENERSHIP WARISAN SUNAN KUDUS: MODAL BUDAYA PENGEMBANGAN EKONOMI SYARI’AH DALAM MASYARAKAT PESISIR Said, Nur
EQUILIBRIUM Vol 2, No 2 (2014): EQUILIBRIUM
Publisher : Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/equilibrium.v2i2.730

Abstract

This paper will prove a thesis that, in a religious community culture was influenced by three phenomena; modernity, religion and culture of ancestors. That case also happen especially in Kudus in strengthening of spiritual enterprenership that was known as gusjigang as Sunan Kudus’ heritages. This paper analyzed by ethnoarchaeology combined with a semitic approach. Sunan Kudus predicates which, among other known as waliyyul ilmy and also as an Islamic merchants has spawned a cultural communication that reproduces gusjigang culture (bagus/ noble-character, ngaji/ scientific orientation, dagang/ entrepreneurship). Gusjigang culture is part of a local genius who planted by Sunan Kudus is so relevant enough to be developed as the basis of spiritual entrepreneurship or religious capitalism in the coastal areas. The development of Shariah economic studies and also its implementation in order to find a clear distinction needs to pay attention to social and cultural foundation such as the spirit of religious capitalism, that is guided by the principles, values, and religious ethics are built on the basis of justice and goodness (al-Adl wa'l ihsan) to humanity. In some cases gusjigang culture in Kudus in line with spiritual entrepreneurship ethos and the spirit of religious capitalisme.Paper ini akan membuktikan tesis bahwa budaya masyarakat agama dipengaruhi oleh tiga fenomena yaitu; modernitas, agama dan budaya nenek moyang. Gejala tersebut  juga terjadi di Kudus dalam penguatan spiritual enterprenership yang dikenal dengan gusjigang sebagai warisan Sunan Kudus. Pembahasan tulisan ini dianalisis dengan pendekatan etnoarkeologi dikombinasikan dengan pendekatan Semiotik. Predikat Sunan Kudus yang dikenal sebagai waliyyul ilmy dan juga sebagai pedagang Islam telah melahirkan komunikasi budaya yang mereproduksi budaya gusjigang (baGus, ngaJi, daGang). Budaya Gusjigang merupakan bagian dari kearifan lokal yang ditanamkan oleh Sunan Kudus begitu relevan sebagai dasar pengembangan spiritual enterprenership atau kapitalisme religius di daerah pesisir. Perkembangan studi ekonomi syariah dan juga implementasinya yang distingtif perlu memperhatikan modal sosial dan budaya seperti semangat kapitalisme religius, yang dipandu oleh prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan etika universal Islam seperti nilai-nilai keadilan dan kebaikan (al-Adl wal ihsan) bagi umat manusia. Dalam kasus tertentu, budaya gusjigang di Kudus sejalan dengan etos kewirausahaan spiritual dan semangat kapitalisme agama sehingga hal ini bisa dijadikan sebagai landasan budaya dalam membumikan ekonomi syari’ah di pesisir ini.Kata Kunci: Spiritual entrepreneurship, Sunan Kudus, gusjigang, religious capitalism
Meneguhkan Islam Harmoni Melalui Pendekatan Filologi Said, Nur
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.2084

Abstract

Indonesia dihuni oleh sebuah bangsa yang memiliki kelimpahan aneka seni dan budaya. Salah satu produk budaya yang khas nusantara adalah naskah kuno. Maka menjadi sebuah keniscayaan menjadikan naskah kuno sebagai bagian dari sumber utama dalam meneguhkan Islam nusantara. Maka ilmu filologi mutlak diperlukan. Paper ini akan membahas ruang lingkup manuskrip di nusantara serta menjelaskan pemahaman tentang pendekatan filologi secara teoritis dan praktis. Penulisan paper ini merupakan bagian dari penguatan theoretical framework  melalui review literatur secara kritis. Kesimpulannya adalah bahwa hampir di setiap kota lintas pulau di Indonesia ditemukan sejumlah manuskrip dengan ragam aksara, bahasa dan materi isinya yang mencerminkan kedalaman spiritualitas bangsa. Salah satu tugas filolog adalah peran pokoknya adalah melakukan transliterasi (alih aksara), agar naskah kuno tersebut bisa dibaca lebih luas dan selanjutnya mengkajinya secara interdisipliner sebagai bahan untuk rekonstruksi budaya. Sejauhmana produk riset filologis tersebut memberi kontribusi keilmuan tergantung kecerdasan dan kreatifitas peneliti mendialogkan dengan disiplin keilmuan yang ditekuninya sehingga mampu  meneguhkan identitas Islam nusantara yang dikenal ramah dan harmoni dalam relasi dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan.
REVITALIZING THE SUNAN KUDUS’ MULTICULTURALISM IN RESPONDING ISLAMIC RADICALISM IN INDONESIA Said, Nur
QIJIS Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/qijis.v1i1.175

Abstract

This article’s main focus is on exploring Sunan Kudus’multiculturalism in Java with special focus on revitalizing them in responding Islamic radicalism in Indonesia. In this writing the authors use the semiotic and phenomenological approaches and supported by the oral history. Semiotics in this case can be a form of deconstruction of the understanding that was considered to be established. So it will be able to find the cultural capital with does not separate the spiritualism of Sunan Kudus. Some important conclusions are: First, the presence of Sunan Kudus in has brought the mission of Walisong to transmit a peaceful Islam in Java through a cultural approach, according to prominent local situation and conditions of each. Second, Sunan Kudus has built a successful political integration with the rights of democratic participation that considers tolerance and equality for citizens even though dealing with the different religious communities such as Hindu and Confucianism so that awakened a ‘social system’ with democratic civility, known as “Kudus Darussalam”. Third, the values and spirit of multiculturalism of Sunan Kudus are a cultural capital that will be the habitus of the community and strengthen democratic civility to the level of actions (behaviors), when reconstructed through a systematic educational values in responding the Islamic radicalism in the name of democracy. Keywords: Revitalizing, Sunan Kudus’ multiculturalism, Islamic radicalism
NALAR PLURALISME JOHN HICK DALAM KEBERAGAMAAN GLOBAL Said, Nur
FIKRAH Vol 3, No 2 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i2.1806

Abstract

Paper ini secara khusus membahas paham pluralisme agama dalam nalar John Hick sebagai respon atas terjadinya berbagai aksi kekerasan bernuansa agama di berbagai negara terutama di Perancis baru-baru ini. Terjadinya kekerasan bernuansa agama tak lepas dari paham keberagamaan yang eksklusif. Maka perlu paridigma baru yang lebih humanis. Paham pluralisme agama bisa sebagai alternatif, meski tetap harus kritis tak menerima begitu saja. Melalui pendekatan filsafat kritis, topik ini dikaji. Simpulannya adalah bahwa Hick telah menawarkan suatu kerangka paradigmatis dalam melihat teologi agama sehingga mendorong terwujudnya dialog antar agama di tengah kemajmukaan. Menurut Hick, semua agama berasal dari the Real. Namun karena tidak adanya akses secara langsung kepada the Real, lahirlah conflicting conception of the Real. Semua persepsi terhadap the Real selalu melalui mediator yaitu tradisi keagmaan yang unik (unique religious tradition) yang disebut sebagai “konsep lensa “ (conceptional lens) sehingga melahirkan pluralitas agama sebagai awal paham pluralisme agama. Secara etik paham pluralisme Hick bisa menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan universal untuk saling bekerja-sama menanggulangi penderitaan manusia. Namun secara paradigmatis paham pluralisme Hick tetaplah problematik, karena Hick cenderung rasional murni. Padahal secara ontologis setiap manusia itu bergerak dengan tiga pertimbangan sekaligus yaitu; kualitas baik (potensi rasional), kualitas benar (potensi spiritual), dan kualitas nyaman (potensi emosional). Dalam tiga kualitas itulah mestinya paradigma pluralisme agama perlu dirumuskan ulang agar paham pluralisme yang berkembang lebih komprehensif.
TEOLOGI ISLAM KONTEKSTUAL- TRANSFORMATIF Said, Nur
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.307

Abstract

A Religion has strong influence on humanity, morality, ethics, and aesthetics in the process of humankind development. This of course, will construct the worldview individually and socially as well. It may be said that nearly all the social life haven’t been ignored the role of religion in the making humanity as an expression of the whole of collective life. Therefore the religious spirit is also in constant change, which formulated in a certain theology in line with the historical progress contextually. In addition, theology is a discourse through which believers develop and express the content of their faith as they have confessed it. The notion of this article tries to elaborate the contextualization of Islamic Theology in Indonesia in respecting to the social phenomena such as colonialism, oppression, human right, and pluralism in Indonesia. It also gives paradigmatic contribution to interpret the Secret text on historical situation in order to determine public morality more than just individual morality. The main points are a searching of meaning between “text” and context in Indonesia society as manifestation of Islamic contextual theology. It means that Islam should be “translated” in particular way in order may “come down to earth” and meet in the contemporary demands. Keywords: Islam, contextual-transformative theology, human right, Indonesia