Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Spiritualisme Ratu Kalinyamat: Kontroversi Tapa Wuda Sinjang Rambut Kanjeng Ratu di Jepara Jawa Tengah Said, Nur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i2.2761

Abstract

In Javanese tradition, patriarchal culture is hold strongly though it cannot be generalized as a necessity. The emergence of Queen Kalinyamat as the representation of Javanese woman apparently indicates a contrary to the mainstream Javanese tradition. This article is a semiotical analysis on the spiritualism of Queen Kalinyamat who lived in the 16th century and protested against injustice in that time. She sent the military forces to Malacca to repel the Portuguese so that she was known as a wealthy and very powerful woman. Meanwhile, when her husband and brother were killed by Arya Penangsang, she also demanded justice by living as a naked ascetic (tapa wuda sinjang rambut) which resulted in multiple spiritual interpretations for grass root society. This is mostly interpreted as the spirit of sex drive, but the sufis interpreted it as meaningful metaphor to leave all sorts of worldly power material and position, then it is symbolized by the Arabic letter of Alif. Naked in this case is as a symbol of self-emptying and then filled with repentance, love and taqorrub to God. Queen Kalinyamat’s spiritualism counters the Javanese tradition toward different perspective reflecting eco-feminism trend in post-colonial era. Dalam tradisi Jawa, budaya patriarki masih sangat kuat meskipun tidak bisa digeneralisasi sebagai suatu keniscayaan. Munculnya Ratu Kalinyamat sebagai representasi perempuan di Jawa, ternyata menunjukkan kondisi bertentangan dengan tradisi Jawa secara umum. Artikel ini melalui analisis semiotik membahas spiritualisme Ratu Kalinyamat di Jepara, Jawa Tengah yang hidup di abad ke16 dan berani protes terhadap ketidakadilan pada waktu itu. Dia mengirimkan armada pasukan militer ke Malaka untuk mengusir penjajah Portugis hingga dikenal sebagai wanita kaya dan sangat kuat. Sementara itu, ketika suami dan kakaknya dibunuh Arya Penangsang, dia juga menuntut keadilan dengan bertapa telanjang (tapa wuda sinjang rambut) yang telah melahirkan multi-makna spiritual di masyarakat akar rumput. Meskipun sebagian memaknainya sebagai semangat gairah seksual, kalangan sufistik memandangnya sebagai perilaku simbolik yang bermakna meninggalkan segala macam kekuasaan duniawi baik material dan jabatan sehingga dilambangkan dengan huruf Arab Alif. Telanjang dalam hal ini sebagai simbol pengosongan diri dan kemudian diisi dengan pertobatan, kasih dan taqorrub kepada Allah. Spiritualisme Ratu Kalinyamat menentang tradisi Jawa yang cenderung patriarki menuju perspektif yang berbeda yang mencerminkan trend ecofeminisme di era poskolonial.
Budaya Berhuni Kaum Sufistik Borjuis: Kontestasi Simbolik dalam Konstruksi Rumah Adat Kudus Said, Nur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i3.4759

Abstract

Omah, Javanese term for house, is not only as a place to protect from hot and cold weather, importantly, as a place for Javanese people to actualize themselves both personally and socially. This is interesting to expose as its existence represents the symbolic fight of negotiation process between cultures happened in its period. The relationship between the house and its occupant symbolizes the cultural apprenticeship which is expressed in the use of the room. The house also represents the substance and material aspect, even, the first one still becomes the main concern. The substance aspect can be seen in the ornament which sometimes still has animal picture, as Sunan Kudus is someone who has high tolerance. The material aspect expresses the strategy to defend the existence and dignity. As a whole, the house represents the face of Islam which is substantive-esoteric, and still considers existentialist-symbolic aspect as another important aspect. Omah, istilah Jawa untuk rumah, tidak hanya sebagai tempat untuk melindungi dari cuaca panas dan dingin, yang penting, sebagai tempat bagi orang Jawa untuk mengaktualisasikan diri mereka baik secara pribadi maupun sosial. Hal ini menarik untuk diungkapkan karena keberadaannya merupakan pertarungan simbolis dalam proses negosiasi antara budaya yang terjadi pada periode tersebut. Hubungan antara rumah dan penghuninya melambangkan magang budaya yang diungkapkan dalam penggunaan ruangan. Rumah juga mewakili substansi dan aspek material, bahkan yang pertama tetap menjadi perhatian utama. Aspek substansi bisa dilihat pada ornamen yang terkadang masih memiliki gambar binatang, karena Sunan Kudus adalah seseorang yang memiliki toleransi tinggi. Aspek material mengekspresikan strategi untuk mempertahankan eksistensi dan martabat. Secara keseluruhan, rumah tersebut mewakili wajah Islam yang bersifat substantif-esoteris, dan masih menganggap aspek eksistensialis-simbolis sebagai aspek penting lainnya.
The Influence of Career Advancement, Job Promotion, and Competence on Employee Performance Through Work Motivation As An Intervening Variable: (A Study at Education Office Of Kabupaten Jember) Syamilah, Aliyatus; Cahyono, Dwi; Sanosra, Abadi; Said, Nur
Journal of Economics and Business UBS Vol. 13 No. 1 (2024): Regular Issue
Publisher : Cv. Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52644/joeb.v13i1.1444

Abstract

This article delves into the intricate dynamics of Human Resource Management (HRM) in the Education Office of Jember Regency, with a specific focus on the interplay between career advancement, job promotion, employee competence, and employee performance. Drawing on the AMO (Ability, Motivation, Opportunity) framework, this research investigates the direct and indirect impacts of these factors through a comprehensive survey of 80 Education Office employees. The research findings reveal a significant positive influence of career advancement and job promotion on employee motivation and performance. The anticipated direct impact of employee competence on work motivation also proves to be significantly positive. These findings underscore the importance of structured career paths, promotions, and competence in shaping a motivated workforce and enhancing overall employee performance. This research contributes to bridging knowledge gaps in HRM practices and provides practical interventions for organizational improvement. The proposed insights offer a foundation for organizational leaders and HR practitioners to enhance employee motivation and performance holistically.
Meneguhkan Islam Harmoni Melalui Pendekatan Filologi Said, Nur
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.684 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.2084

Abstract

Indonesia dihuni oleh sebuah bangsa yang memiliki kelimpahan aneka seni dan budaya. Salah satu produk budaya yang khas nusantara adalah naskah kuno. Maka menjadi sebuah keniscayaan menjadikan naskah kuno sebagai bagian dari sumber utama dalam meneguhkan Islam nusantara. Maka ilmu filologi mutlak diperlukan. Paper ini akan membahas ruang lingkup manuskrip di nusantara serta menjelaskan pemahaman tentang pendekatan filologi secara teoritis dan praktis. Penulisan paper ini merupakan bagian dari penguatan theoretical framework  melalui review literatur secara kritis. Kesimpulannya adalah bahwa hampir di setiap kota lintas pulau di Indonesia ditemukan sejumlah manuskrip dengan ragam aksara, bahasa dan materi isinya yang mencerminkan kedalaman spiritualitas bangsa. Salah satu tugas filolog adalah peran pokoknya adalah melakukan transliterasi (alih aksara), agar naskah kuno tersebut bisa dibaca lebih luas dan selanjutnya mengkajinya secara interdisipliner sebagai bahan untuk rekonstruksi budaya. Sejauhmana produk riset filologis tersebut memberi kontribusi keilmuan tergantung kecerdasan dan kreatifitas peneliti mendialogkan dengan disiplin keilmuan yang ditekuninya sehingga mampu  meneguhkan identitas Islam nusantara yang dikenal ramah dan harmoni dalam relasi dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan.
NALAR PLURALISME JOHN HICK DALAM KEBERAGAMAAN GLOBAL Said, Nur
FIKRAH Vol 3, No 2 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.465 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v3i2.1806

Abstract

Paper ini secara khusus membahas paham pluralisme agama dalam nalar John Hick sebagai respon atas terjadinya berbagai aksi kekerasan bernuansa agama di berbagai negara terutama di Perancis baru-baru ini. Terjadinya kekerasan bernuansa agama tak lepas dari paham keberagamaan yang eksklusif. Maka perlu paridigma baru yang lebih humanis. Paham pluralisme agama bisa sebagai alternatif, meski tetap harus kritis tak menerima begitu saja. Melalui pendekatan filsafat kritis, topik ini dikaji. Simpulannya adalah bahwa Hick telah menawarkan suatu kerangka paradigmatis dalam melihat teologi agama sehingga mendorong terwujudnya dialog antar agama di tengah kemajmukaan. Menurut Hick, semua agama berasal dari the Real. Namun karena tidak adanya akses secara langsung kepada the Real, lahirlah conflicting conception of the Real. Semua persepsi terhadap the Real selalu melalui mediator yaitu tradisi keagmaan yang unik (unique religious tradition) yang disebut sebagai “konsep lensa “ (conceptional lens) sehingga melahirkan pluralitas agama sebagai awal paham pluralisme agama. Secara etik paham pluralisme Hick bisa menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan universal untuk saling bekerja-sama menanggulangi penderitaan manusia. Namun secara paradigmatis paham pluralisme Hick tetaplah problematik, karena Hick cenderung rasional murni. Padahal secara ontologis setiap manusia itu bergerak dengan tiga pertimbangan sekaligus yaitu; kualitas baik (potensi rasional), kualitas benar (potensi spiritual), dan kualitas nyaman (potensi emosional). Dalam tiga kualitas itulah mestinya paradigma pluralisme agama perlu dirumuskan ulang agar paham pluralisme yang berkembang lebih komprehensif.
TEOLOGI ISLAM KONTEKSTUAL- TRANSFORMATIF Said, Nur
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.307

Abstract

A Religion has strong influence on humanity, morality, ethics, and aesthetics in the process of humankind development. This of course, will construct the worldview individually and socially as well. It may be said that nearly all the social life haven’t been ignored the role of religion in the making humanity as an expression of the whole of collective life. Therefore the religious spirit is also in constant change, which formulated in a certain theology in line with the historical progress contextually. In addition, theology is a discourse through which believers develop and express the content of their faith as they have confessed it. The notion of this article tries to elaborate the contextualization of Islamic Theology in Indonesia in respecting to the social phenomena such as colonialism, oppression, human right, and pluralism in Indonesia. It also gives paradigmatic contribution to interpret the Secret text on historical situation in order to determine public morality more than just individual morality. The main points are a searching of meaning between “text” and context in Indonesia society as manifestation of Islamic contextual theology. It means that Islam should be “translated” in particular way in order may “come down to earth” and meet in the contemporary demands. Keywords: Islam, contextual-transformative theology, human right, Indonesia
PENGARUSUTAMAAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN WAWASAN KEBANGSAAN (Studi Kasus GEMA NUSA di Pesantren Daarut Tauhiid Bandung) Said, Nur
QUALITY Vol 2, No 2 (2014): QUALITY
Publisher : Pascasarjana IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/quality.v2i2.2103

Abstract

AbstractThe article’s main focus is on exploring the character educational model for nationalism in pesantren (Islamic boarding school)  Daarut Tauhid (DT) Bandung  through Gerakan Nurani Membangun Bangsa (GEMA NUSA).  The article based on qualitative research through case study and phenomenological method. The results are; (1) The presence of GEMA NUSA aims to build a moral nation towards "dignified Indonesia” by making the conscience as a foundation, a way of thinking and acting, (2) The concept of nationalism which was developed by GEMA NUSA tend to be oriented to three things: (a ) religious nationalism, (b) universal humanism, (c) synergistic multiculturalism;  (3) Character educational model of nationalism that was developed by GEMA NUSA are looking forward to the problems facing the informal education based on the real issues at that time.   AbstrakPaper ini menfokskan pada model pengarusutamaan spiritual sebagai strategi pendidikan wawasan kebangsaan dengan studi kasus di Gerakan Nurani Membangun Bangsa (GEMA NUSA) Pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Paper ini merupakan hasil penelitian kualitatif dengan  metode studi kasus dan fenomenologis. Paper ini menyimpulkan; (1) kehadiran GEMA NUSA yang menjadikan kesadaran hati nurani (spiritualitas) sebagai landasan dalam pendidikan karakter telah melahirkan ratusan bahkan ribuan relawan untuk aksi solidaritas sosial; (2) Konsep kebangsaan yang dikembangkan GEMA NUSA memiliki karakter nasionalisme religius, humanisme universal dan multikulturalimse sinergis; (3) Model pengarusutaan spiritual dalam pendidikan wawasan kebangsaan yang dikembangkan oleh GEMA NUSA lebih mengedepankan model pendidikan hadap masalah (berbasis realitas) sehingga nilai-nilai moral yang diinternalisasikan melalui proses pengkaderan diintegrasikan juga dengan aksi nyata solidaritas sosial atas masalah yang dihadapi pada saat itu.
PENDIDIKAN AKHLAK MUSLIMAT MELALUISYA’IR : ANALISIS GENDER ATAS AJARAN SYI’IR MUSLIMAT KARYA NYAI WANIFAH KUDUS Said, Nur
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.970

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada tiga hal: (1) Apakah karakteristik lingkup isi Syi’ir Muslimat?, (2) Bagai-manakah kondisi sosial budaya pada saat naskah ditulis oleh penulis?, (3) Apa nilai-nilai pendidikan moral bagi perempuan Muslim di isi Syi’ir Muslimat dalam perspektif gender?. Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi dengan meningkatkan penggunaan analisis gender. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, Syi’ir Muslimat ditulis oleh Nyai Wanifah, seorang wanita yang hidup pada zaman kolonial Belanda dipesantren tradisi di Kudus, Jawa Tengah. Kedua, beberapa nilai pendidikan moral di Syi’ir Muslimatantara lain: (1) Pentingnya pendidikan moral, (2) Bahaya perempuan bodoh; (3) Pentingnya belajar bagi perempuan di usia dini, (4) Etika menghias diri; (5) Bahaya materialisme, (6) Etika hubungan keluarga; (7) Dari rumah untuk mencapai surga; (8) Berhati-hatilah dengan tipu iblis; (9) Hindari perzinahan; (10) yang penting dari penutupan aurot; (11) yang ditujukan kepada orang tua. Ketiga, meskipun ada beberapa senyawa yang bias gender dalam Syi’ir Muslimat misalnya: (a) Ada penjelasan yang menunjukkan bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki dalam derajat, (2) Pernyataan bahwa wanita bicara dibandingkan laki-laki, (3) wanita hanya cocok di wilayah domestik; Namun secara umum nasihat di syi’ir masih sangat relafen dalam konteks sekarang, terutama untuk memberikan solusi alternatif dalam merespon krisis moral bangsa terutama pada wanita generasi muda.Kata kunci: Syi’ir Muslimat, Pendidikan Karakter, Analisis Gender.This study focused on three things: (1) What is the characteristics of the scope of contents of Syi’ir Muslimat?, (2) What is the socio-cultural conditions at the time the manuscript was written by the author?, (3) What are the moral education values for Muslim women in the content of Syi’ir Muslimat in the perspective of gender?. This research uses a philological approach with enhanced use of gender analysis. The result of this study are: Firstly, Syi’ir Muslimat is written by Nyai Wanifah, a woman who lived during the Dutch colonial era in Islamic boarding schools (pesantren) tradition in Kudus, Central Java. Secondly, some of the moral education values in Syi’ir Muslimat among others: (1) The importance of moral education, (2) The danger of stupid women; (3) The importance of learning for women at early age, (4) Ethics decorated themselves; (5) The danger of materialism, (6) The ethics of relation the family; (7) From the house to reach heaven; (8) Beware the devil trickery; (9) Avoid adultery; (10) the important of closing aurot; (11) devoted to parents. Third, although there are some compounds that gender bias in Syi’ir Muslimat for example: (a) There is an explanation that shows that women lower than men in degree, (2) The claim that women are talkative than men, (3) Women only fit in the domestic sphere; however in general the advices in syi’ir is still very relafen in the present context, particularly to give alternative solution in responding the nation moral crisis especially in women young generation.Keywords:Syi’ir Muslimat, Character Education, Gender Analysis.
POLITIK ETIS KEPAHLAWANAN RA KARTINI: MENGUAK SPIRITUALISME KARTINI YANG DIGELAPKAN Said, Nur
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1022

Abstract

Artikel ini membahas tiga isu utama terkait kepahlawanan RA Kartini di Indonesia: (1) Apa saja pertimbangan politikpemerintah dalam menetapkan Kartini sebagai pahlawanannasional?; (2) Bagaimana arkeologi pemikiran Kartiniterbentuk sehingga dikenal sebagai tokoh emansipasiwanita di Indonesia?, (3) Mengapa spiritualisme Kartinicenderung tersembunyi?, Makalah ini ditulis berdasarkanpenelitian perpustakaan dengan pendekatan filosofis.Kesimpulan dari artikel ini adalah: (1) Penentuan Kartinisebagai pahlawan tak lepas dari kepentingan politik. (2)Telah terjadi intervensi dari orientalis yang mengesankanKartini sebagai seorang sekuler dan penganut feminis Barat.(3) Kartini adalah seorang Muslim yang kritis bahkan diatidak ragu-ragu untuk memberikan gugatan dan kritik tajamdari fenomena keagamaan yang kurang mendidik, termasukdalam pembelajaran dari Al-Qur’an. Hal ini telah benar benar mencapai tingkat tertinggi kesadaran Kartini sebagai “hambaAllah” yang anti-feodalisme dan kolonialisme.kata kunci: Kepahlawanan Kartini, Spiritualisme, kolonialisme, politik etis This article discusses three focus issues: (1) What kindsof political interest in deciding behind the heroism ofKartini?; (2) What is the archaeological thought of  Kartinidespite his heroic figure?, (3) Why does the spiritualismof Kartini inclined hidden behind the frenzied heroismKartini that tends to make it as an object of ethical politics of dutch colonialism? This paper was writtenbased on library research with philosophical approaches.Conclusions of this article are: (1) the determinationof Kartini as an hero could not be separated from thepolitical intrigues. (2) Due to the intervention of theOrientalist writer has impressed Kartini be secular andWestern feminist adherents. (3) Kartini is a Muslimcritical even she did not hesitate to give the lawsuit andsharp criticism of the religious phenomenon which doesnot educate, including the learning of the Qur’an. It hasactually reached the highest degree of Kartini’s awareness as a servant of God that anti-feudalism and colonialism.Keywords: Heroism of Kartini, Spiritualism, Colonnialism, Ethics Political
INTEGRASI NILAI HARMONI DALAM PENDIDIKAN ISLAM MELALUI KELUARGA DAN SEKOLAH Said, Nur
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.934

Abstract

Inti dari ajaran Islam adalah tauhid dan nilai harmoni (Islam). Tulisan ini fokus pada kajian terkait teori pendidikan harmoni melalui pendidikan Islam di sekolahdan keluarga. artikel ini dimulai dari konsep pendidikan harmoni yang meliputi harmoni dari dalam, harmonisosial, dan harmoni alam. Selanjutnya mengkaji terkait pandangan Islam  terkait harmoni yang meliputi 4 dimensiyaitu (1) harmoni kaitanya hubungan manusia dengan Tuhan; (2) harmoni dengan diri sendiri; (3) harmonidengan masyarakat; dan (4) harmoni dengan lingkungan.Dengan memperkenalkan teori pendidikan harmoni baikIslam maupun non-Islam, diharapkan dapat memberikan sumbangan pada design kurikulum pembelajaran melalui pendidikan Islam dan menjadi salah satu materi pelajarandi sekolah Indonesia dan pendidikan keluarga.kata kunci: Integrasi, Pendidikan Harmoni, Sekolah,Keluarga.