Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

INSPECTION OF TEST MAINTENANCE IN PT PJB UBJ OPERATION AND MAINTANANCE PLTU INDRAMAYU Kino Hartono; Oni Oni; Mutiara Salsabiela
Jurnal Migasian Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inspeksi adalah salah satu alat kontrol manajemen klasik, namun masih relevan dan diterapkan secara luas dalam upaya menemukan masalah yang dihadapi di lapangan, termasuk untuk memperkirakan besarnya risiko, pengujian adalah alat ukur yang memiliki standar objektif yang dapat dilakukan. digunakan secara luas, dan bisa benar-benar digunakan dan membandingkan keadaan psikologis atau perilaku individu. Pemeliharaan adalah kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menyimpan barang atau memperbaikinya sampai kondisi bias. K3 merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja dengan menerapkan teknologi pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan tenaga kerja dapat mencapai ketahanan fisik, tenaga kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi. Dalam pelaksanaan Tugas Akhir yang dilakukan pada 1 Juni 2017 s.d 1 Juli 2017 bertujuan untuk mengetahui pemeriksaan program k3 APAR, prosedur pemeriksaan K3 APAR, pelaksanaan pemeriksaan K3 APAR. APAR adalah perangkat yang dirancang sebagai pertolongan pertama di awal kebakaran. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Tugas Akhir adalah metode wawancara, observasi, dan studiliteratur. Program yang dilaksanakan adalah pemeliharaan apar dalam waktu 1 tahun 2 kali, dengan area transfer tower II, CWWTMBDS, Heavy Equipment, gudang, stepup B, limbah B3, boiler 3, turbin 3, CCB 1, CCB 2, pada minggu 1 (Rabu), minggu 2 (Selasa), minggu ke 3 (Selasa). Prosedur yang digunakan adalah prosedur pemeriksaan APAR dengan dokumen IKE-8.2.3.085 dengan tanggal 10 Maret 2016 dan prosedur pengendalian APAR dengan nomor dokumen IKY8.2-03-8 dengan tanggal publikasi 15 Maret 2013. Pelaksanaan ap3 untuk pencegahan kebakaran dan pengendalian bias dengan cara membuat manajemen kebakaran di perusahaan. Kesimpulannya adalah pemeriksaan K3 APAR yang telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan 04 tahun 1980.
Pengolahan Limbah Cair Rumah Sakit X Kabupaten Bogor Mutiara Salsabiela; Salsabila Alwi
Jurnal Migasian Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36601/jurnal-migasian.v3i1.67

Abstract

Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan yang menghasilkan limbah cair. Limbah cair rumah sakit merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sangat potensial. Oleh karena itu, guna memastikan kesehatan dan keselamatan bagi masyarakat sekitar maka limbah cair tersebut harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air sehingga tidak akan menganggu atau merusak ekosistem lingkungan. Pengolahan limbar cair dilakukan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah. Adapun tujuan melaksanakan kajian ini yaitu mengetahui pengolahan limbah cair Rumah Sakit X di Kabupaten Bogor. Kajian ini dilakukan dengan metode pengambilan data observasi lapangan, metode studi literatur, dan wawancara, sementara itu pengolahan data dilakukan dengan metode kualitatif. Rumah Sakit X di Kabupaten Bogor berdiri pada tahun 1982 pada areal seluas 41,974 m2 dengan luas bangunan 415m2. Rumah Sakit X di Kabupaten Bogor merupakan rumah sakit umum terbesar dengan kapasitas ruang inap terbanyak di kabupaten Bogor. Berdasarkan kajian yang dilakukan, pengolahan limbah cair Rumah Sakit X di Kabupaten Bogor dilakukan secara fisika dan biologi dengan mengacu pada prosedur pengolahan limbah cair nomor dokumen 028/03/109 yang dibuat pada tanggal 22 April 2016 dan kemudian diperbarui kembali oleh pihak ketiga yang mengelola limbah cair Rumah Sakit X di Kabupaten Bogor dan sudah sesuai dengan PERMENLHK Nomor 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Limbah Cair Domestik.
The Effectiveness Assessement of Coral Reef Management (Case Study : Marine Conservation Area (MPA) Biawak Island and Area, Indramayu District) Mutiara Salsabiela; Sutrisno Anggoro; Hartuti Purnaweni
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 10, No 1 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.509 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.10.1.13-18

Abstract

Utilization of coral reefs by destructive and not environmentally friendly as well as water pollution , making it be in a worrying condition .condition of coral reefs in 2012 on the Biawak Island, 45.4% were in good condition and the remaining 27.3% were in fairly good condition and 27.4% are in poor condition with the risk index of 2.96 to 3.84 (southern part of the Biawak island). Establishment of MPA is one alternative policies management and protection of coral reefs and marine life that live in it, so hope to protect coral reefs and marine environment from adverse impacts.This study aims to assess the effectiveness of the management of coral reefs in MPA Biawak island and it was conducted in November-December 2013. The effectiveness of the management of coral reefs in Biawak island using a scorecard (Coremap-II) which includes the biophysical aspects of coral reef habitat conditions, social-economic and governance.The results showed that the effectiveness of the management of coral reefs in the MPA Biawak island and obtained scores around 139 with a percentage rating of 73.52%, it means less effective management. Keywords : Effectiveness, Management, Coral Reef, MPA Biawak Island
POLA OSMOREGULASI UDANG VANNAMEI (LITOPENAEUS VANNAMEI) DEWASA YANG DIABLASI DAN DIKULTIVASI PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS Mutiara Salsabiela
Gema Wiralodra Vol. 11 No. 1 (2020): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v11i1.117

Abstract

Salinitas media berperan dalam mengendalikan proses molting dan osmoregulasi udang tidak terkecuali Litopenaeus vannamei, sehingga rentang optimum salinitas media pada berbagai fase molting perlu diketahui sebagai landasan untuk pengaturan media yang optimum, sehingga pertumbuhan dan kelulushidupannya diharapkan menjadi optimum pulaTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pola osmoregulasi, L. vannamei dewasa yang diablasi dan dikultivasi pada media dengan salinitas berbeda. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratories dengan Rancangan Acak Sistematis (RAS) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan pada tiap perlakuannya. Perlakuan yang diujikan adalah salinitas dengan perlakuan S1 (10 ppt, 289,20 mOsm/l H2O isosmotik postmolt), S2 (15 ppt, 432,80 mOsm/l H2O isosmotik intermolt awal), S3 (25±1 ppt,725,15 mOsm/l H2O isosmotik intermolt akhir) dan S4 (29±1 ppt, 820,10 mOsm/l H2O isosmotik molt). Data dianalisis dengan analisis varian (ANOVA), dan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan dilakukan uji wilayah ganda Duncan. Penelitian ini dilaksanakan selama 60 hari (Juli-September 2010). Hasil ANOVA menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh (p<0,05) terhadap Tingkat Kerja Osmotik (TKO), frekuensi molting dan laju pertumbuhan harian (sebelum dan setelah mengalami kematian), namun tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan (SR) (p>0,05). TKO terendah berada pada perlakuan S3 (25±1 ppt) sebesar 1,01 mOsm/l H2O, dan pola osmoregulasinya berubah menjadi osmoregulator lemah (mendekati osmokonformer) dengan adanya ablasi. Pada pemeliharaan L. vannamei yang diablasi, sebaiknya memperhatikan kebutuhan media isoosmotik yaitu media dengan salinitas 25±1-29±1 ppt (rentang isoosmotik intermolt akhir/premolt hingga molt).
ANALYSIS OF HEAVY METAL CONTENT IN SALT (CASE STUDY OF SALT FIELD, LOSARANG DISTRICT, INDRAMAYU REGENCY) Mutiara - Salsabiela
Journal of Green Science and Technology Vol 5, No 2 (2021): VOL 5, NO 2 (2021): JOURNAL OF SCIENCE AND TECHNOLOGY VOL. 5 NO. 2 SEPTEMBER 202
Publisher : FAKULTAS TEKNNIK UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v5i2.5678

Abstract

Salt is a staple food needed for human life, especially for industrial and household consumption. The raw material for making the salt comes from sea water which is very susceptible to contamination by contaminants in the form of heavy metals. The presence of heavy metals in salt will be harmful to human health when consumed. The study was conducted to determine the quality of salt free from heavy metal contamination and suitable for consumption. in Losarang District, Indramayu Regency. This research was conducted by descriptive method. Data collection techniques were carried out through observation and interviews. The samples tested were salt produced with TUF technology and Geoisolator. The sampling technique refers to SNI 19-0428-1998 regarding the instructions for taking solid samples where the sample is taken using a spear and inserted into a plastic clip that has been labeled with the name and code. The parameters tested were heavy metals consisting of Lead (Pb), Cadmium (Cd), Mercury (Hg) and Arsenic (As). The method of testing the content of heavy metals in salt in this study used the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method which was carried out in the
ANALYSIS OF WATER SALINITY LEVEL OF FREQUENCY MOLTING IN VANNAMEI SHRIMP (LITOPENAEUS VANNAMEI) ABLATED Mutiara Salsabiela Salsabiela
Journal of Green Science and Technology Vol 4, No 2 (2020): Journal of Green Science and Technology, Vol.4 No.2 (2020)
Publisher : FAKULTAS TEKNNIK UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v4i2.3436

Abstract

Media salinity is a masking factor that plays an important role in controlling the process of shrimp molting and osmoregulation. Both of them are ecophysiological factors for shrimp life, so it is necessary to know the optimum level or range of media salinity for each phase of the molting phase changes in the stage and osmoregulation phase. This study was conducted to examine the molting frequency of adult L. vannamei which was ablated and cultivated at various levels of salinity. This research was carried out for 60 days. This study uses experimental laboratory methods with a systematic randomized design (RAS) with 4 treatments and 3 replications in each treatment. The treatments tested were salinity with S1 treatments (10 ppt, 289.20 mOsm / l postmolt H2O isosmotic), S2 (15 ppt, 432.80 mOsm / l H2O initial intermolt isosmotic), S3 (25 ± 1 ppt, 725, 15 mOsm / l H2O isosmotic final intermolt) and S4 (29 ± 1 ppt, 820.10 mOsm / l H2O isosmotic molt). Data were analyzed with ANOVA. Meanwhile, the difference in effect between treatments was obtained through Duncan's multiple area test. ANOVA results showed that various levels of isoosmotic media salinity at various molting phases had an influence (p <0.05) on molting frequency. The best value of molting frequency was in the S4 treatment (29 ± 1 ppt) (close to isoosmotic molt) 10 times. In the maintenance of L. vannamei which is affixed, it should pay attention to the needs of isoosmotic media, namely media with a salinity of 25 ± 1-29 ± 1 ppt (final intermolt isoosmotic range / premolt to molt). the difference in effect between treatments was obtained through Duncan's multiple region test. ANOVA results showed that various levels of isoosmotic media salinity at various molting phases had an influence (p <0.05) on molting frequency. The best value of molting frequency is in the treatment of S4 (29 ± 1 ppt) (close to isoosmotic molt) 10 times. In the maintenance of L. vannamei which is affixed, it is better to pay attention to the needs of isoosmotic media, ie media with a salinity of 25 ± 1-29 ± 1 ppt (final intermolt isoosmotic range / premolt to molt). the difference in effect between treatments was obtained through Duncan's multiple region test. ANOVA results showed that various levels of isoosmotic media salinity at various molting phases had an influence (p <0.05) on molting frequency. The best value of molting frequency is in the treatment of S4 (29 ± 1 ppt) (close to isoosmotic molt) 10 times. In the maintenance of L. vannamei which is affixed, it is better to pay attention to the needs of isoosmotic media, ie media with a salinity of 25 ± 1-29 ± 1 ppt (final intermolt isoosmotic range / premolt to molt). The best value of molting frequency was in the S4 treatment (29 ± 1 ppt) (close to isoosmotic molt) 10 times. In the maintenance of L. vannamei which is affixed, it is better to pay attention to the needs of isoosmotic media, ie media with a salinity of 25 ± 1-29 ± 1 ppt (final intermolt isoosmotic range / premolt to molt). The best value of molting frequency is in the treatment of S4 (29 ± 1 ppt) (close to isoosmotic molt) 10 times. In the maintenance of L. vannamei which is affixed, it is better to pay attention to the needs of isoosmotic media, ie media with a salinity of 25 ± 1-29 ± 1 ppt (final intermolt isoosmotic range / premolt to molt). Keyword : Salinity, Osmoregulation, Molting, L. vannamei, Ablation. 
Pengaruh Penggunaan Teknologi Ulir Filter dan Geoisolator pada Produksi Garam Rakyat di Kabupaten Indramayu: Impact of the Utilization of Filter Thread Technology and Geoisolators on Salt Production in Indramayu Regency Mutiara Salsabiela; Joko Prayitno
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.261 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v23i2.4976

Abstract

The choice of technology in the production of salt is one of the key factors to obtain higher productivity. Salt farmers in Indramayu Regency have been utilizing a combination of filtration thread technology (TUF) and Geoisolator to increase the quantity and quality of their salt production. The aim of this study was to ascertain the impact of TUF and Geoisolator utilization compared to the traditional method on salt production in Indramayu in 2015 using descriptive analysis. The result of this study shows that TUF and Geoisolator technology produces salt which met the national standard (in accordance with SNI; free from impurities and heavy metal contaminants), and higher productivity than traditional technology. The productivity of TUF and Geoisolator was ± 140 tons/ha, while that of the traditional was ± 92.23 tons/ha, or an increase of 151.8%. The selling price of salt per unit of weight increased with better salt quality. The salt price of TUF and Geoisolator was in the range of 450,000–650,000 IDR / ton (Grade I), while the traditional was in the range of 130,000–450,000 IDR / ton (Grade II). Although the investment cost of the TUF and Geoisolator was 82.2% larger than the traditional, and the operating cost also increased by 42%, the revenue from salt sales increased up to 104.7%. Thus, with higher productivity and quality, total income of salt farmers per unit of area was also higher. With higher investment cost, BEP of the TUF and Geoisolator was longer than the traditional (27 and 21 months, respectively). This result indicates that TUF and Geoisolator technology is a good alternative for improving the economy and welfare of salt farmers. Keywords: TUF, Geoisolator, Salt production, Salt farming, Indramayu ABSTRAK Pemilihan teknologi produksi garam merupakan faktor penting dalam meningkatkan produktivitas garam. Petambak garam di Kabupaten Indramayu telah menggunakan kombinasi Teknologi Ulir Filter (TUF) dan Geoisolator untuk meningkatkan hasil produksi secara kualitas maupun kuantitas. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui besaran pengaruh penggunaan teknologi TUFG terhadap produksi garam pada tahun 2015 dibandingkan dengan teknologi tradisional, berdasarkan analisis deskriptif dari hasil observasi, wawancara/kuesioner, dan pengumpulan data sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan TUFG menghasilkan garam sesuai standar SNI dengan produksi dan mutu yang lebih baik (terbebas dari kandungan impuritas dan cemaran logam berat) daripada teknologi tradisional. Penggunaan TUFG menghasilkan produktivitas ± 140 ton/ha sedangkan teknologi tradisional menghasilkan ± 92,23 ton/ha, atau terjadi peningkatan sebesar 151,8%. Mutu yang lebih baik membuat harga jual produk per satuan berat menjadi lebih tinggi. Harga jual garam TUFG yang termasuk Kualitas Produksi I (KP I) berkisar antara Rp450.000,- – Rp650.000,- per ton, sedangkan harga jual garam teknologi tradisional yang termasuk KP II adalah antara Rp130.000,- – Rp450.000,- per ton. Meskipun biaya investasi dan biaya operasional dari teknologi TUFG lebih besar dibandingkan teknologi tradisional (masing-masing lebih besar 82,2% dan 42%), namun pendapatan dari penjualan garam dengan teknologi ini meningkat 104,7%. Dengan produktivitas dan kualitas garam yang meningkat tersebut, maka total penghasilan petani garam per satuan luas menjadi lebih tinggi. PBP usaha garam TUFG adalah 27 bulan, sedangkan usaha tradisional 21 bulan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa teknologi TUFG menjadi teknologi alternatif bagi petambak garam dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan mereka. Kata kunci: TUF, Geoisolator, Produksi garam, Petambak garam, Indramayu
Community Knowledge in Waste Management at Lemahmekar and Plumbon, Indramayu Regency Ira Puspita Windiari; Mutiara Salsabiela; Nurlaili Fauziah
LEGAL BRIEF Vol. 11 No. 2 (2022): Law Science and Field
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.257 KB) | DOI: 10.35335/legal.v11i3.363

Abstract

Garbage is the remains that have been taken as the main part or have undergone certain treatments. Some people view waste as material that is no longer used. From environmental management point of view, waste is an element/substance that can cause pollution to environmental sustainability. This study using questionnaire which given to 60 household. Respondents were determined using the Simple Random Sampling technique. The results of community knowledge in Lemahmekar and Plumbon showed different results. The level of community knowledge in Lemahmekar show the high category with a percentage of 63.33 %. Meanwhile, the level of community knowledge in Plumbon show low category with a percentage of 63.33 %. This means, people in Lemahmekar have better knowledge on waste management than the people in Plumbon. Based on the results of the Spearman's Correlation test, it shows that the level of education has an influence on knowledge of waste management with a value of +0.651 and +0.826, both of which indicate the level of correlation in a positive direction. This shows that the higher a person's education level, the better knowledge of waste management will be.
Persepsi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Kecamatan Indramayu: Persepsi Masyarakat Ira Puspita Windiari; Mutiara Salsabiela
Gema Wiralodra Vol. 13 No. 2 (2022): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v13i2.256

Abstract

Pengelolaan sampah merupakan tindakan atau upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak negetif sampah bagi manusia maupun bagi lingkungan. Pengelolaan sampah tidak hanya menyangkut masalah teknis dan sistem pengelolaan, tetapi juga menyangkut masalah persepsi masyarakat dalam mengelola sampah. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan kuesioner kepada 60 kepala keluarga yang menjadi responden. Responden ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling. Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan metode skoring (berdasarkan Skala Likert), tabel frekuensi, dan uji Spearman's Correlation. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon terhadap pengelolaan sampah termasuk kategori netral dengan presentase 93,33% dan 53,33%. Masyarakat menilai kegiatan pengelolaan sampah memberikan dampak positif terutama bagi keluarga dan sebagai tambahan penghasilan. Hasil uji Spearman's Correlation menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon dominan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, dengan arah hubungan positif. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka persepsi terhadap pengelolaan sampah akan semakin baik.
STRATEGI PENGELOLAAN TERUMBU KARANG BERKELANJUTAN DI KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (KKLD) PULAU BIAWAK DAN SEKITARNYA, KABUPATEN INDRAMAYU Salsabiela, Mutiara
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.243 KB)

Abstract

Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) dibentuk sebagai alternatif kebijakan dalam pengelolaan dan perlindungan terhadap terumbu karang. Keefektifan pengelolaan terumbu karang di KKLD Pulau Biawak dan Sekitarnya adalah mendekati efektif dengan persentase penilaian sebesar 73,52%, sehingga diperlukan strategi kebijakan pengelolaan untuk meningkatkan keefektifan pengelolaannya. Tujuan dilaksanakan penelitian ini bermaksud untuk merumuskan rekomendasi strategi kebijakan pemanfaatan terumbu karang demi terwujudnya pemanfaatan terumbu karang yang sistemik dengan menggunakan aplikasi analisi SWOT. Berdasarkan masalah yang telah diteliti bahwa rekomendasi strategi pengelolaan dengan mengembangkan pengelolaan yang ramah lingkungan melalui peningkatkan Kesadaran kepada masyarakat sekitar tentang arti pentingnya nilai ekologis dan ekonomis terumbu karang, dan meningkatkan kerjasama antara masyarakat sekitar dan stakeholder melalui program-program pengelolaan berbasis masyarakat bebagai upaya penurunan laju degradasi, meningkatan kelembagaan dan sarana prasarana pengawasan demi terwujudnya penegakan hukum dan menetapan rencana zonasi pengelolaan terumbu karang. Kata Kunci : Pengelolaan, Terumbu karang, Berkelanjutan, KKLD, Pulau Biawak