Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

EXPERIMENTAL STUDY OF THE EFFECT OF REACTOR TEMPERATURE RECONSTRUCTION ON FUEL CONSUMPTION AND DISTILLATE QUANTITY Ida Bagus Puspa Indra; I Made Anom Adiaksa; Gusti Ngurah Ardana
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol. 22 No. 2 (2022): July
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.912 KB) | DOI: 10.31940/logic.v22i2.174-178

Abstract

Temperature is a measure or degree of hotness or coldness of an object or system which is defined as a physical quantity that is divided between two or more objects that are in thermal equilibrium. The second law of thermodynamics states that there is no reversible process in which heat flows naturally from a high-temperature object to a low-temperature object, and not vice versa. Heat is energy that is transferred due to a temperature difference. This heat transfer always occurs and the process stops until thermal equilibrium occurs. In a high temperature distillation column, the distillate fluid will tend to be at the top and the bottom will tend to be cooler even though the heat treatment is carried out at the bottom. Thermal equilibrium is reached in a relatively long time because the distillation system is open. The addition of the pump aims to reconstruct the temperature so that it reaches thermal equilibrium more quickly. The process is carried out for 60 minutes using 25 liters of raw materials of the same quality and the temperature is set at 90 degrees Celsius. The average temperature difference in the reactor is 86.11%, the decrease in fuel consumption is 30.3%, and the increase in distillation quantity between the reactor without a pump compared to the reactor with a pump is 16.67%.
EXPERIMENTAL ANALYSIS OF THE EFFECT ADDITION HEAT COVER IN DISTILLATION REACTOR Gusti Ngurah Ardana; Made Anom Adiaksa; Putu Darmawa
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol. 22 No. 2 (2022): July
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.557 KB) | DOI: 10.31940/logic.v22i2.179-183

Abstract

Distillation is the process of separating two or more components of a liquid based on their boiling points in which the material to be evaporated is contained. Distillation is simply done by heating/evaporating the liquid and then changing the vapor phase to liquid with the help of a condenser. Research on the distillation column or reactor has been carried out to improve the distillation system but is still discussing the reactions that occur due to heating and the final product of the distillation process. An analysis based on the second law of thermodynamics is developed, known as exergy analysis to obtain information about the thermodynamic efficiency and locations that have low energy efficiency so that energy savings can be targeted. The distillation reactor as one of the vital tools at the separation stage is very important to note is the manufacture of the reactor. To reduce heat loss that occurs by adding a heat protective layer (heat cover) on the distillation reactor. The heat protection materials used are burlap sacks and glass wool to be implemented for rural communities and also become prototypes of appropriate technology application tools. The use of a 3 cm jute alloy on the inside and 3 cm glass wool on the outside gave the highest heat transfer value of 7864.21 watts. The increase was 43% of those who only used burlap. An increase of 37% over those using only glass wool. A 3% improvement over an alloy of 3 cm glass wool inside and 3 cm burlap on the outside.
REDESIGN OF HORIZONTAL COFFEE ROASTERS WITH TEMPERATURE, TIME AND ROTATION CONTROLS I Ketut Suherman; I Wayan Suirya; I Made Anom Adiaksa
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol. 22 No. 2 (2022): July
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1996.019 KB) | DOI: 10.31940/logic.v22i2.184-188

Abstract

Coffee roasting is still using clay pans with the traditional method and heat is obtained from firewood fires. Only 20% of the national coffee bean production which reaches 600,000 tons per year is processed and marketed as secondary products. Treatment of temperature and roasting time can affect the physical mechanical properties of coffee, namely a faster decrease in water content, an increase in brittleness and an acceleration of color change. Adding the function of regulating the rotation speed of the stirrer on the horizontal roaster prototype while still emphasizing the traditional method equipped with temperature and time control to improve product creation. At a temperature of 12000 C coffee has not shown the level of maturity where the weight has not been very well reduced and there is no smell of aroma. Roasted maturity occurred at 18000 C for 15 minutes with a rotation of 100 RPM causing a significant weight loss of 60% and a strong aroma of coffee has been smelled. At a temperature set to 22000 C although the time and rotation varied, resulting in a completely burnt and immature coffee exhibited by a weight loss of only 50%. The results showed that temperature, time and rotation greatly affect the quality of roasting results.
Pemberdayaan Bumdes Wisnu Prabawa Desa Guwang Sukawati Menuju Desa Wisata I Gde Agus Jaya Sadguna; I Made Anom Adiaksa; Ni Ketut Pradani Gayatri Sarja
Madaniya Vol. 3 No. 4 (2022)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.284

Abstract

Maraknya pengembangan desa menjadi desa wisata memunculkan niatan desa-desa menjadi desa wisata. Desa Guwang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar dengan memiliki luas wilayah 278,5 Ha. Desa ini dibagi menjadi beberapa wilayah yaitu bagian utara, timur, dan barat. Pada tahun 2015 penduduk Desa Guwang berjumlah 6.029 jiwa. Desa guwang tidak memiliki areal hutan namun demikian Desa Guwang memiliki sentral Pengerajin Industri kecil seperti Pengerajin patung, tukang ukir dan jasa, seni budaya di Desa Guwang sangat berkembang. Desa Guwang merupakan salah satu desa di Bali yang menjadikan potensi objek wisata Hidden Canyon sebagai unit Badan Usaha Milik Desa. Walaupun dikelola oleh BUMdes saat ini status Desa Guwang belum menjadi Desa Wisata. Beberapa permasalahan yang dihadapi adalah belum optimalnya pengelolaan desa wisata melalui BUMdes dengan legitimasi Desa Wisata Guwang, kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa dalam memetakan potensi wisatanya serta belum optimalnya peran Pokdarwis dan pemandu wisata dalam memberikan pelayanan serta fasilitas pendukung di objek wisata Hidden Canyon. Solusi yang diberikan untuk permasalahan tersebut adalah memberikan pelatihan mengenai pemetaan potensi desa untuk menuju desa wisata, melakukan pendampingan dan pelatihan kepada Pokdarwis dan pemandu wisata untuk meningkatkan pelayanan di objek wisata Hidden Canyon, memberikan bantuan infrastruktur pendukung di desa wisata dan objek wisata seperti Plang Desa Wisata, plang petunjuk arah, serta denah objek wisata serta melakukan pendampingan dan pelatihan pengelolaan desa wisata melalui Bumdes dengan legitimasi Desa Guwang. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarat desa tentang pemetaan potensi desa, meningkatkan pelayanan Pokdarwis dan pemandu wisata, penambahan infratruktur penunjang untuk objek wisata Hidden Canyon serta meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan desa wisata melalui Bumdes dengan legitimasi Desa Guwang.
Penerapan Teknologi Tepat Guna Dalam Pengelolaan Pakan Peternakan Kambing di Mengwi Badung Putu Adi Suprapto; I Made Anom Adiaksa; Ni Luh Ayu Kartika Yuniastari Sarja
Madaniya Vol. 3 No. 4 (2022)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.289

Abstract

Ternak kambing merupakan salah satu jenis ternak potensial yang dapat dimanfaatkan bagian tubuhnya, mulai dari daging, susu sampai kulitnya pun bisa dimanfaatkan. Prospek pengembangan kambing cukup baik, di samping untuk memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri juga memiliki peluang ekspor, sehingga akan membuka kesempatan kerja dan usaha untuk meningkatkan pendapatan petani. Kambing memiliki tempat tersendiri di kalangan peternak. Perkembangan dan minat dari peternak dalam membudidayakan kambing meningkat pesat dari tahun ke tahun. Bapak I Made Kartawan merupakan mitra kegiatan pemberdayaan yang merupakan pemilik usaha peternakan kambing yang berlokasi di Abianbase Mengwi. Beberapa permasalahan yang dihadapi mitra saat ini adalah mesin penghancur pakan rusak sehingga harus dilakukan secara manual, keterbatasan pengetahuan pengolahan dan pengawetan pakan kambing, tidak melakukan pencatatan keuangan dan media pemasaran secara langsung serta melalui Facebook. Solusi dari permasalahan ini dapat diatasi dengan mengimplementasikan beberapa kegiatan yaitu memberikan bantuan mesin pencacah pakan, instalasi dan pelatihan penggunaan mesin pencacah pakan ternak serta pelatihan pengolahan pakan ternak kambing tambahan sebagai alternatif pakan. Dengan diadakannya kegiatan ini mampu mempersingkat waktu pengolahan pakan menjadi 50% dari waktu pengolahan manual, 5 orang karyawan dapat menggunakan mesin pencacah pakan ternak serta bertambahnya jenis pakan ternak sebanyak 2 jenis pakan.
Pengolahan Sisa Asparagus Menjadi Keripik dan Pemasaran Produk Pada Koperasi Tani Mertanadi di Desa Pelaga Kabupaten Badung Putu Adi Suprapto; Ni Luh Ayu Kartika Yuniastari Sarja; I Made Anom Adiaksa; I Ketut Suarja
Madaniya Vol. 3 No. 4 (2022)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.316

Abstract

Asparagus merupakan salah satu tanaman yang bernilai ekonomi sangat tinggi dan sangat baik untuk dikonsumsi karena memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Asparagus pada umumnya dapat diolah menjadi seperti steak, sayur, dan soup. Mitra dalam kegiatan ini adalah Koperasi Kelompok Tani Mertanadi. Letak Koperasi Tani Mertanadi berada di Banjar Bukian, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, yang berjarak sekitar 45 km dari lokasi pengusul. Landasan dalam pengembangan asparagus di Desa Pelaga sendiri adalah melalui pendekatan One Village One Product (OVOP) yang bermuara pada koperasi. Perkembangan koperasi yang didirikan pada Tahun 2010 ini sangat didukung dengan status Pulau Bali sebagai tempat pariwisata yang dikunjungi wisatawan mancanegara. Mitra kegiatan ini menyalurkan produk tani asparagus mereka ke berbagai restoran, hotel dan jasa akomodasi pariwisata lainnya di seluruh Pulau Bali. Pada saat ini, dampak yang dirasakan dengan adanya pandemi COVID-19 yaitu terjadi penurunan pesanan ataupun penjualan asparagus sebanyak kurang lebih 80%. Lebih lanjut, permasalahan lanjutan yang terjadi berupa banyaknya stok asparagus yang terbuang setelah proses sortir. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dilakukan beberapa kegiatan yang difokuskan pada aspek produksi dan pemasaran dari produk Mitra. Kegiatan dimulai dengan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan kegiatan yang akan dilakukan, pembuatan media pemasaran berbasis digital, pemberian bantuan alat produksi pengolahan asparagus yang tidak terjual, pendampingan dalam pengolahan sisa asparagus sehingga menjadi produk baru, pendampingan pengemasan produk hasil olahan asparagus, pendampingan atau pelatihan penggunaan media pemasaran online serta diakhiri dengan evaluasi kegiatan. Indikator capaiannya adalah terciptanya 2 produk baru hasil olahan sisa asparagus yang tidak terjual berupa keripik, peningkatan pasar produk sebanyak 50% dan peningkatan penjualan sebanyak 50%, 4 orang karyawan Koperasi Tani Mertanadi dapat melakukan pemasaran produk secara online, mitra mempunyai account media sosial, marketplace dan website ecommerce.
Optimalisasi Produksi Alkohol Organik Di Dusun Pesangkan Anyar Karangasem I Made Anom Adiaksa; Ni Wayan Dewinta Ayuni; I Made Agus Putrayasa
Madaniya Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.314

Abstract

Dusun Pesangkan merupakan salah satu dusun bagian dari Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem Bali. Terletak di sisi timur, desa ini berada pada ketinggian diatas 1000 mdpl dengan suasana yang sejuk pada kawasan pegunungan Gunung Agung. Dusun dengan luas wilayah 22 hektar ini memiliki jumlah penduduk 657 jiwa. Secara demografi termasuk dusun dengan kepadatan yang kecil. Luas wilayah hampir 80% merupakan kawasan perkebunan dan pertanian yang didominasi oleh perkebunan salak. Produk salak ini telah lama mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat. Permasalahan yang muncul justru di luar perencanaan yang ada, di mana peningkatan jumlah produksi justru berbanding terbalik dengan harapan. Harga per kilo salak bahkan sangatlah rendah mencapai Rp.500, sehingga tidak sesuai dengan biaya operasional dalam perawatan maupun pemeliharan pohon. Solusi yang diberikan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah pengolahan buah salak pasca panen raya yang terbuang untuk diolah menjadi alkohol yang dapat disimpan lama dengan alat destilasi. Target dari alkohol buah salak ini adalah memenuhi kebutuhan hotel dan restoran sebagai bahan baku campuran minuman cocktail dengan cita rasa khusus buah salak yang nantinya dapat menjadi produk unggulan wilayah. Di samping itu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku hand sanitaizer maupun produk lainnya yang memerlukan alkohol. Cara kerja alat destilasi yang diberikan adalah pemanasan dengan kompor LPG yang dikontrol dengan termostat sehingga panas generator menjadi lebih stabil dan penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien. Sistem pedinginan menggunakan model cooling tower, di mana dapat memberikan efek pendinginan yang lebih baik karena menggunakan paduan antara air dan udara sehingga pendinginan menjadi lebih efektif untuk mengurangi adanya uap yang terbuang atau tidak terkondensasi. Kelompok Tani Jaka Tarub telah melakukan terobosan baru dalam pengembangan produk hasil dari alat destilasi ini. Pengembangan produk tersebut dengan melakukan uji coba waktu permentasi serta bahan katalis tambahan. Waktu permentasi dicoba dengan memvariasikan dari 4 hari, 7 hari, dan 9 hari. Bahan tambah katalis divariasi menggunakan lau (sabut kelapa) dan ragi roti. Hasil yang dicapai adalah kadar alkohol terbaik didapat dari waktu permentasi 7 hari dengan menggunakan katalis lau (sabut kelapa). Kadar alkohol yang didapat sebesar 65%. Nilai ekonomis buah salak menjadi meningkat dengan harga jual alkohol organik menjadi Rp.90.000 dengan biaya produksi Rp.50.000 sehingga keuntungan yang didapat sebesar Rp.40.000 untuk 10 liter bahan baku.
ALTERNATIF PEWARNAAN PADA KERAJINAN ENDEK UNTUK EFISIENSI PROSES PRODUKSI I Made Sukerta; I Made Anom Adiaksa; Ni Gst.Ag.Gde Eka Martiningsih
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 1 (2018): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.481 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia memiliki ragam budaya yang sangat bervariasi, mulai dari etnis, agama, tradisi, kesenian, sampai pada industri tekstil. Salah Satu kebanggan industry tekstil tradisional Bali adalah kain tenun ikat yang disebut Endek dan Songket Bali. Jenis kain tenun ini memiliki nilai historis yang adiluhung karena konon setiap perempuan Bali diharuskan memiliki ketrampilan menenun. Keterampilan menenun ini merupakan salah satu persyaratan seorang perempuan Bali dapat melakukan pernikahan. Tradisi ini kemudian memberikan efek semakin menyebarnya keterampilan menenun masyarakat perempuan Bali, yang kemudian menghasilkan beragam karakter desain di masing-masing daerah di Bali. Setiap kabupaten di Bali memiliki ciri khas desain yang menunjukkan karakter daerah masing-masing. Setiap kabupaten menonjolkan cirri khas daerahnya melalui goresan desain pada setiap lembar kain tenunnya. Keberagaman ini sangat positif dalam menambah khasanah desain dan kebergaman jenis kain tenun Bali. Keberagaman ini akhirnya menghasilkan corak yang sangat variatif sehingga memudahkan konsumen untuk menentukan pilihan. Selain itu persaingan penjualan menjadi sehat karena setiap hasil tenun daerah di Bali memiliki ciri khas. Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE) yang dilaksanakan oleh Universitas Mahasaraswati Denpasar bekerjasama denga Politeknik Bali mengidentifikasi beberapa kendala pengerajin dalam melakukan pengembangan desain, dan teknik pewarnaan. Salah satu alternative yang sudah mulai dipahami oelh beberapa pengerajin adalah teknik pewarnaan Airbrush. Program pendampingan telah dilakukan di UD Anugrah dan UD Arta Darma dalam pewarnaan dengan teknik Airbrush. Air- brush mempunyai banyak kegunaan yang sangat beragam. Contohnya adalah untuk memperbaiki foto, sebagai pengecatan seni arsitektur, pembuatan sampul majalah, mewarnai ukiran, dan desain sampul kaset. Tidak menutup kemungkinan juga untuk membuat iklan billboard, melukis diatas body otomotif, bahkan hingga tato. Air brush dapat digunakan secara beragam tergantung kreatifitas dari pengguna/pelukisnya. Pewarnaan dengan teknik airbrush pada kerajinan endek memberikan banyak keuntungan bagi pengerajin terutama pada proses peawrnaan akan lebih mudah, proses mendisain lebih cepat dengan kualitas pewarnaan yang tidak terlalu berbeda dengan pewarnaan alam, apalagi kalau desain kain endek menggunakan pewarnaan tiga dimensi. Kata kunci: Air brush, Endek, Desain, SongketABSTRACTIndonesia has a wide variety of cultures, ranging from ethnicity, religion, tradition, art, to the textile industry. One of the pride of the traditional Balinese textile industry is the woven cloth called Endek and Songket Bali. This type of woven fabric has a noble historical value because it is said that every Balinese woman is required to have weaving skills. This weaving skill is one of the requirements of a Balinese woman to make a marriage. This tradition then gives effect to the increasingly spread of Balinese women's weaving skills, which then results in a variety of design characters in each region in Bali. Each district in Bali has a characteristic design that shows the character of each region. Each district emphasizes the distinctive features of the region through strokes of design on each piece of woven fabric. This diversity is very positive in adding to the design repertoire and style of Balinese woven fabrics. This diversity eventually produces a very varied style that makes it easy for consumers to make choices. In addition, sales competition is healthy because every weaving area in Bali has its own characteristics. The Export Product Development Program (PPPE) carried out by Denpasar Mahasaraswati University in collaboration with the Bali Polytechnic identified several constraints on craftsmen in developing designs, and coloring techniques. One alternative that has begun to be understood by some craftsmen is the Airbrush staining technique. Mentoring programs have been carried out at UD Anugrah and UD Arta Darma in coloring with Airbrush techniques. Air brush has many very diverse uses. An example is to improve photos, as painting art architecture, making magazine covers, coloring engravings, and cassette cover designs. It is also possible to make billboard advertisements, paint on automotive bodies, even tattoos. Air brush can be used in various ways depending on the creativity of the user / painter. Coloring with airbrush techniques on endek crafts provides many advantages for craftsmen, especially in the processing process, it will be easier, the process of designing faster with quality which is not too different from natural coloring, especially if the design of endek fabric uses three-dimensional coloring.Keywords: Air brush, Endek, Design, Songket
Revitalisasi Sistem Penerangan Jalan Instalasi Lampu Penerangan Jalan Tenaga Surya Untuk Pemberdayaan Kegiatan Masyarakat Banjar Jeroan Patemon Singaraja I Made Anom Adiaksa; I Wayan Suastawa; I Wayan Suma Wibawa; Made Ardikosa Satrya Wibawa
Madaniya Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.497

Abstract

Instalasi lampu penerangan jalan tenaga surya merupakan solusi energi terbarukan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan penerangan di daerah yang jangkauan jaringan listriknya masih sedikit. Salah satu daerah tersebut adalah Banjar Jeroan Patemon Singaraja. Penerangan jalan yang buruk di daerah ini mengakibatkan kurangnya kenyamanan dalam berkegiatan khususnya di sore hari menjelang malam. Oleh karena itu, penggunaan lampu penerangan jalan tenaga surya sangat penting untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat. Pengabdian ini bertujuan untuk mengimplementasikan instalasi lampu penerangan jalan tenaga surya di Banjar Jeroan Patemon Singaraja. Pengabdian ini dilakukan melalui tahapan-tahapan yaitu survey lokasi, perhitungan beban lampu, pemilihan komponen sistem, dan instalasi. Pengabdian ini diharapkan dapat memberikan instalasi lampu penerangan jalan tenaga surya di Banjar Jeroan Patemon Singaraja sehingga memberikan penerangan yang cukup untuk jalan dan sekitarnya dengan waktu penerangan yang cukup lama. Dari sisi ekonomi, instalasi lampu penerangan jalan tenaga surya lebih hemat biaya dibandingkan dengan instalasi listrik konvensional. Selain itu, penggunaan energi terbarukan ini juga lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kedepannya, dengan adanya instalasi lampu penerangan jalan tenaga surya di Banjar Jeroan Patemon Singaraja, masyarakat dapat lebih nyaman dan aman ketika beraktivitas di malam hari. Penggunaan energi terbarukan ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan contoh yang baik dalam upaya pelestarian lingkungan.
PEMBERDAYAAN USAHA BENGKEL LAS UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS DAN INOVASI PRODUK DI KELURAHAN JIMBARAN I Gde Agus Jaya Sadguna; I Made Anom Adiaksa; Kadek Cahya Dewi
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Media Ganesha Vol 1 No 2 (2020): November, Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Media Ganesha FHIS
Publisher : Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the micro, small and medium enterprises that are commonly run by the community today is a workshop business, one of which is a welding workshop. The business development of the welding workshop business is indeed quite rapid in line with the increasing demand for iron and metal welding services today. Welding Workshop Noovy Teknik is a welding workshop business which is located at Jalan Uluwatu Bukit Jimbaran engaged in working on repair orders and manufacturing equipment such as trellises, canopies, tables and chairs for coffee shops such as welding workshops in general, besides that it is also capable of repairing and engineering machines. -machines and equipment such as laundry machines and other electronic equipment. As a relatively newly developed MSME, of course, it faces challenges and obstacles, especially during this Covid-19 pandemic that has hit the community's economy. The problems faced by the Noovy Engineering Welding Workshop include the lack of equipment supporting the production process such as welding machines, seated drilling machines, jig shaws, cutting grinders and work tables; the need for Occupational Health and Safety (K3) training considering the magnitude of the risks faced during the production process; Financial Management Training and Marketing assistance on various social media platforms. The solution in dealing with partner problems is to provide the necessary equipment assistance as well as provide good welding technique training, provide K3 training, management of financial transaction records and digital marketing training by utilizing social media.