Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The Effectiveness of Using Continuous Variable Transmission (CVT) in 2WD Buggy Vehicles I Putu Darmawa; I Made Anom Adiaksa; Ida Bagus Puspa Indra; I Wayan Suma Wibawa
invotek Vol 23 No 1 (2023): INVOTEK: Jurnal Inovasi Vokasional dan Teknologi
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/invotek.v23i1.1109

Abstract

Continuous Variable Transmission (CVT) is a transmission system that does not have gears like in manual transmission cars or conventional automatic transmission cars. CVT has the advantage of being able to maintain the proper rotational speed at any time in terms of engine efficiency by changing the speed ratio flexibly and continuously. A continuously variable transmission (CVT) is a transmission that can change steplessly through an infinite effective gear ratio between maximum and minimum. This is in contrast to other mechanical transmissions which only allow a few different gear ratios to choose. The flexibility of the CVT allows the drive shaft to maintain a constant angular speed over the output speed range. Torque is transmitted from the drive to the pulley which is driven by friction acting between the belt and pulley surfaces. Tests were carried out using a dynotest to obtain wheel rotation data and the resulting torque. The loading is given from 3 kg, 5 kg, 7 kg and 8 kg, the engine rpm used is 5500 rpm, 6000 rpm, 6500 rpm, 7000 rpm and 8000 rpm. Rear wheel rotation is inversely proportional to the load, the greater the load the rotation will decrease. Load is directly proportional to torque, the greater the load given the torque will increase. The CVT system is still effective for use as a power successor. The power that can be transmitted is still greater than 50%, namely 68%.
Pemberdayaan UMKM Gula Bali Di Desa Les Tejakula Buleleng Putu Adi Suprapto; Made Dana Saputra; I Made Anom Adiaksa
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2023): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v8i3.1373

Abstract

Gula aren di Desa Les, Banjar Dinas Selonding, Tejakula, Buleleng, berpotensi jika dikelola dan dipasarkan dengan baik. Usaha Gula Bali milik I Made Karmawan telah berdiri selama 26 tahun sejak 1996. Mereka menggunakan metode tradisional dalam pembuatan gula, dimana tuak atau nira dimasak dengan kayu bakar selama 3-4 jam. Tantangan yang dihadapi adalah ketergantungan pada tenaga fisik, penggunaan alat tradisional, absennya label usaha, pemasaran offline, dan kurangnya pencatatan keuangan.Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah mendampingi mitra dalam proses peningkatan produksi serta manajemen agar usahanya lebih berkembang. Metode pelaksaan kegiatan terdiri dari empat tahapan yaitu persiapan, pengadaan teknologi tepat guna, pelatihan dan evaluasi. Pemberian teknologi tepat guna berupa mesin pengaduk gula serta kompor gas merupakan solusi terhadap masalah produksi. Beberapa pelatihan diberikan untuk menjadi solusi permasalahan manajemen seperti pelatihan pengemasan dan labelling, media online untuk pemasaran serta manajemen keuangan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan adanya percepatan waktu produksi sebanyak 50% dan peningkatan kuantitas produksi sebanyak 50% pula, 100% produk mitra dikemas dengan label, serta 1 orang mitra dapat melakukan pencatatan keuangan. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk mitra adalah penggunaan media online sebagai media pemasaran harus terus diimplementasikan karena dapat memperluas pasar. Empowerment of Bali Sugar UMKM in Les Village, Tejakula, Buleleng  Palm sugar in Les Village, Banjar Dinas Selonding, Tejakula, Buleleng, has potential if managed and marketed well. I Made Karmawan's Bali Sugar Business has been established for 26 years since 1996. They use traditional methods in making sugar, where palm wine is cooked over firewood for 3-4 hours. The challenges faced are dependence on physical labor, use of traditional tools, absence of business labels, offline marketing, and lack of financial records. The aim of this service activity is to accompany partners in the process of increasing production and management so that their businesses can develop further. The activity implementation method consists of four stages, namely preparation, procurement of appropriate technology, training and evaluation. Providing appropriate technology in the form of sugar kneading machines and gas stoves is a solution to production problems. Several trainings are provided to provide solutions to management problems such as packaging and labeling training, online media for marketing and financial management. Based on the results of the evaluation carried out, there was an acceleration of production time by 50% and an increase in production quantity by 50%, 100% of partner products were packaged with labels, and 1 partner was able to carry out financial records. The recommendation that can be given to partners is that the use of online media as a marketing medium must continue to be implemented because it can expand the market.
Pemberdayaan Usaha Pande Besi di Desa Sukawati Gianyar Pratiwi, Ni Made Wirasyanti Dwi; Pramitari, I Gusti Ayu Astri; Adiaksa, I Made Anom
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 3 (2024): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i3.2161

Abstract

Usaha pande besi merupakan usaha menempa logam khususnya besi untuk membuat berbagai perkakas untuk membantu kehidupan manusia. Desa Sukawati Kabupaten Gianyar – Bali sebagaimana halnya dengan desa di Indonesia juga terdapat usaha pande besi. Salah satu usaha pande besi yang ada di Desa Sukawati Gianyar adalah Usaha Pande Besi Bapak Pande Wayan Suanda atau Pak Balik yang memfokuskan produksi perkakas usaha kerajinan seperti gunting, luju, mata pahat, plong, bungut guak disamping juga memproduksi perkakas pada umumnya seperti pisau blakas, pisau kecil dan sabit sesuai pesanan yang diterima. Permasalahan yang dihadapi oleh usaha Bapak Pande Wayan Suanda yaitu keterbatasan alat-alat produksi, kurangnya pemahaman dan penerapan K3, pemasaran produk yang masih terbatas pesanan dan belum adanya pembukuan usaha yang baik. Oleh sebab itu, mengacu hal tersebut dirancang beberapa kegiatan untuk meningkatkan dan memberdayakan usaha mitra pada dengan menggunakan metode pelatihan dan pendampingan yaitu peningkatan alat-alat produksi, memberikan pelatihan K3, memberikan pelatihan pemasaran online dengan memanfaatkan media sosial dan memberikan pelatihan pembukuan keuangan usaha. Tujuan kegiatan ini adalah membantu peningkatan produk mitra sehingga sejalan dengan peningkatan pendapatan dari usaha mitra. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa adanya rak yang digunakan untuk menyimpan bahan baku, perkakas dan hasil produksi, 1 orang mitra sudah dapat menggunakan bantuan alat yang diberikan serta adanya peningkatan jumlah produksi sebanyak 50%, peningkatan pengetahuan mitra terhadap kesehatan dan keselamatan kerja pada saat proses produksi serta tersedianya alat-alat K3, adanya media sosial instagram dan marketplace, 1 orang mitra sudah dapat menggunakan pemasaran media sosial tersebut serta 1 orang mitra dapat melakukan pembukuan usaha. Empowerment of Iron Pande Business in Sukawati Village, Gianyar Abstract Blacksmithing is a business of forging metal, especially iron, to make various tools to help human life. Sukawati Village, Gianyar Regency – Bali has a blacksmithing business. One of the blacksmithing businesses in is the Blacksmith Business of Mr. Pande Wayan Suanda or Mr. Balik, which focuses on the production of craft business tools such as scissors, luju, chisels, plong, bungut guak in addition to producing general tools such as blakas knives, small knives and sickles according to orders received. The problems faced by Mr. Pande Wayan Suanda's business are limited production tools, lack of understanding and application of K3, product marketing that is still limited to orders and the absence of good business bookkeeping. Therefore, several activities have been designed to enhance and empower partner businesses by using training and mentoring methods, including the improvement of production tools, providing occupational health and safety (OHS) training, offering online marketing training using social media, and providing business financial bookkeeping training. The purpose of these activities is to help improve the partners' products, which in turn will align with increased income from their businesses. The results of the activity evaluation show that there are shelves used to store raw materials, tools and production results, 1 partner has been able to use the tools provided and there has been an increase in production by 50%, an increase in partner knowledge of occupational health and safety during the production process and the availability of K3 tools, the existence of Instagram social media and marketplaces, 1 partner has been able to use social media marketing and 1 partner can do business bookkeeping.
Pemanfaatan Solar Panel Sebagai Sumber Energi Pada Green House di Dusun Lepang Klungkung I Made Anom Adiaksa; Ni Nyoman Sri Astuti; I Made Agus Putrayasa; I Made Satrya Ardikosa Wibawa; Dewa Ayu Indah Cahya Dewi; Putu Adi Suprapto
Madaniya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.1257

Abstract

Dusun Lepang merupakan salah satu wilayah yang berada di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali. Tempekan Abian Kapas merupakan salah satu kelompok subak yang ada dengan jumlah anggota 12 orang. Dampak pembangun yang ada mengakibatkan perubahan saluran irigasi konvensional yang menyebabkan berkurangnya pasokan air ke kawasan pertanian. Ditetapkannya wilayah ini menjadi zona pink, di mana subsidi pupuk dan pestisida mulai ditiadakan. Model pertanian modern dengan penerapan energi hijau dari panel surya sebagai sumber daya listrik bagi green house menjadi alternatif dalam penanggulangan masalah irigasi dan serangan hama. Pelaksanaan dilakukan dengan melibatkan mitra secara langsung dalam pembangunan maupun instalasi solar panel untuk memberikan pengetahuan agar nantinya mampu melakukan perawatan maupun perbaikan secara mandiri sehingga program dapat berkelanjutan. Solar panel yang dipasang mampu menghasilkan daya listrik sebesar 1000 watt sebagai sumber energi untuk pompa dan exhaust fan. Hasil yang dapat dicapai melalui pengujian bulan pertama menghasilkan panel surya berfungsi dengan optimal sesuai perencanaan dapat menyuplai energi yang dibutuhkan oleh green house, bahkan masih kelebihan daya sebesar 321,9 watt. Pengujian pada bulan kedua panel surya berfungsi dengan optimal sesuai perencanaan dapat menyuplai energi yang dibutuhkan oleh green hosue, bahkan masih kelebihan daya sebesar 421,9 watt, sistem irigasi dan exhoust fan dapat berfungsi sesuai perencanaan pada saat pengamatan maupun pengujian serta tanaman dapat tumbuh subur tanpa adanya serangan hama.
IMPLEMENTASI PLTMH UNTUK MENDUKUNG GREEN TECHNOLOGY DI DUSUN PETAPAN KLUNGKUNG Adiaksa, I Made Anom; Suherman, I Ketut; Wibolo, Achmad
Dharma: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2020): November
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/dlppm.v1i2.4055

Abstract

The area of Petapan Hamlet is an upstream area where there are still many water sources as the main flow for downstream irrigation. There is one secondary stream with a fairly large channel size (2 m wide and 1 m deep). The flow velocity of this channel averages 1.6 m / sec with an average water depth in the dry season of 40 cm. The relatively large size of the channel results in a water flow of 1.26 liters / second. There is one place where the dimension of the channel shrinks for the distribution of irrigation to a width of 1 meter so that the correlation with a steady flow rate will increase. The people of Petapan Hamlet have built a tourism area based on green tourism with educational tourism as the main point. This tourism area is traversed by the subak water channel which will later be used as a place to play and educational tours about the subak irrigation system for tourists visiting this place. There is no supporting infrastructure in developing this tourism, both facilities and supporting facilities for the convenience of tourists in carrying out their activities The energy source that will be used to support the development of educational tourism is obtained from PLN sources. Lack of knowledge of the tourism community based on green tourism green technology (environment-based energy) which can be used as educational tourism              In 2019, a micro hydro generator in the form of a waterwheel has been built with an output power of 7000 kg / cm2. This power is obtained from the encouragement of water flow when it touches the blade of the wheel. This power is relatively large if it can be transmitted to generators. Problems that arise related to large power are small rotations. From the mill, the maximum rotation produced is 15 rpm. Making the rotation conversion by means of pulley reduction and gearbox resulting in a rotation of 1500 rpm. This obstacle is overcome by utilizing a DC type generator to lighten rotation and losses due to friction with 500 watts of power.
PEMETAAN OBYEK WISATA SPIRITUAL DI DESA BAKAS BANJARANGKAN-KLUNGKUNG I Made Anom Adiaksa; Sudiadnyani, I Gusti Agung Oka; Uthavi, Wayan Hesadijaya
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol. 8 No. 1 (2022): Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/bp.v8i1.53-60

Abstract

Bakas adalah desa yang berada di kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, Indonesia. Adapun juga letak dan kondisi geografis Desa Bakas kurang lebih 3 km dari kota kecamatan Banjarangkan. Mata pencaharian atau pekerjaan masyarakat Desa Bakas, mulai dari petani, Pegawai Negeri Sipil, hingga menjadi pedagang. Luas wilayah Desa Bakas 2,82 km², dan sebagian besar lahan dimaanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Desa Bakas memiliki beberapa objek yang menarik berupa wisata alam dan budaya. SK Pokdarwis dikeluarkan Desa Bakas tahun 2018. Desa Bakas secara topografi ada perbukitan dengan persawa-hannya yang membentang, sekaligus menjadi ikon Desa Bakas. Sisi barat desa merupakan Tukad Melangit yang sekaligus menjadi batas desa. Mata air yang berada di pinggir sungai Desa Bakas ini memiliki potensi besar untuk dapat dikelola secara professional untuk meningkatkan pendapatan desa. Kondisi lingkungan sekitar serta potensi alam yang masih alami sangat mendukung untuk pengembangan ini. Pelaksanaan pengabdian ini telah dilaksanakan dengan beberapa aspek seperti aspek pembangunan, aspek sosial masyarakat dan aspek keberlanjutan program. Aspek pembangunan menyangkut pembangunan penunjang wisata seperti tulisan identitas lokasi, gerbang masuk lokasi, papan penunjuk lokasi serta pengecatan. Aspek social dilihat dari tingkat partisipasi aktif kelompok mitra mencapai 90% dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Aspek keberlanjutan program dimana telah terbentuk kelompok Bungsih Tourism Destination (BTD) yang secara aktif bersama tim pelaksana melakukan perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. Kelompok ini yang mengelola sekaligus melakukan perawatan dan pengembangan lokasi.
Optimalisasi Objek Wisata Edukasi di Dusun Petapan Kabupaten Klungkung Ciptayani, Putu Indah; Ayuni, Ni Wayan Dewinta; Kariati, Ni Made; Adiaksa, I Made Anom
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol. 8 No. 1 (2022): Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/bp.v8i1.46-52

Abstract

Dusun Petapan merupakan salah satu dusun di Desa Aan yang terletak di Kabupaten Klungkung. Desa Aan memiliki potensi wisata yang sedang dikembangkan, akan tetapi pengelolaan kawasan belum optimal. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah mengoptimalkan objek wisata yang telah ada dengan membangun infrastruktur wisata edukasi. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi, penyiapan lokasi, pengerjaan pembangunan, pemantauan lapangan dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini berupa dipasangnya papan penunjuk objek wisata, papan nama objek wisata, wahana permainan edukasi anak-anak dan penataan jalan menuju kawasan wisata. Survey yang dilakukan menunjukkan persepsi masyarakat terhadap objek wisata sebesar 78%, dengan tiga aspek yang masih perlu ditingkatkan yaitu variasi permainan edukasi (75%), papan penunjuk (69%) dan staf (65%).
Alternative Pewarnaan Pada Kerajinan Endek Untuk Efisiensi Proses Produksi Sukerta, I Made; Adiaksa, I Made Anom; Martiningsih, Ni Gst.Ag.Gde Eka
Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK Vol. 3 No. 1 (2019): Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Dhyana Pura – Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.459 KB) | DOI: 10.36002/jpd.v3i1.952

Abstract

ABSTRAKIndonesia memiliki ragam budaya yang sangat bervariasi, mulai dari etnis, agama, tradisi, kesenian, sampai pada industri tekstil. Salah Satu kebanggaan industr1 tekstil tradisional Bali adalah kain tenun ikat yang disebut Endek dan Songket Bali. Setiap kabupaten di Bali memiliki ciri khas desain yang menunjukkan karakter daerah masing-masing. Setiap kabupaten menonjolkan ciri khas daerahnya melalui goresan desain pada setiap lembar kain tenunnya. Keberagaman ini akhirnya menghasilkan corak yang sangat variatif sehingga memudahkan konsumen untuk menentukan pilihan. Selain itu persaingan penjualan menjadi sehat karena setiap hasil tenun daerah di Bali memiliki ciri khas. Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE) yang dilaksanakan oleh Universitas Mahasaraswati Denpasar bekerjasama dengan Politeknik Negeri Bali mengidentifikasi beberapa kendala pengerajin dalam melakukan pengembangan desain, dan teknik pewarnaan. Salah satu alternatif yang sudah mulai dipahami oleh beberapa pengerajin adalah teknik pewarnaan airbrush. Program pendampingan telah dilakukan di UD Anugrah dan UD Arta Darma dalam pewarnaan dengan teknik airbrush. Airbrush mempunyai banyak kegunaan yang sangat beragam. Contohnya adalah untuk memperbaiki foto, sebagai pengecatan seni arsitektur, pembuatan sampul majalah, mewarnai ukiran, dan desain sampul kaset. Tidak menutup kemungkinan juga untuk membuat iklan billboard, melukis diatas body otomotif, bahkan hingga tato. Air brush dapat digunakan secara beragam tergantung kreatifitas dari pengguna / pelukisnya. Pewarnaan dengan teknik airbrush pada kerajinan endek memberikan banyak keuntungan bagi pengerajin terutama pada proses pewarnaan akan lebih mudah, proses mendisain lebih cepat dengan kualitas pewarnaan yang tidak terlalu berbeda dengan pewarnaan alam, apalagi kalau desain kain endek menggunakan pewarnaan tiga dimensi.Kata kunci: Air brush, Endek, Desain, SongketABSTRACT Indonesia has a wide variety of cultures, ranging from ethnicity, religion, tradition, art, to the textile industry. One of the pride of the traditional Balinese textile industry is the woven cloth called Endek and Songket Bali. Each district in Bali has a characteristic design that shows the character of each region. Each district emphasizes the distinctive features of the region through strokes of design on each piece of woven fabric. This diversity eventually produces a very varied style that makes it easy for consumers to make choices. In addition, sales competition is healthy because every weaving area in Bali has its own characteristics. The Export Product Development Program (PPPE) carried out by Denpasar Mahasaraswati University in collaboration with the Bali State Polytechnic identified several constraints on craftsmen in developing designs, and coloring techniques. One alternative that has begun to be understood by some craftsmen is the Airbrush staining technique. Mentoring programs have been carried out at UD Anugrah and UD Arta Darma in coloring with Airbrush techniques. Air brush has many very diverse uses. An example is to improve photos, as painting art architecture, making magazine covers, coloring engravings, and cassette cover designs. It is also possible to make billboard advertisements, paint on automotive bodies, even tattoos. Air brush can be used in various ways depending on the creativity of the user / painter. Coloring with airbrush techniques on endek crafts provides many advantages for craftsmen, especially in the processing process, it will be easier, the process of designing faster with quality naan which is not too different from natural coloring, especially if the design of endek fabricuses three-dimensional coloringKeywords: Air brush, Endek, Design, Songket
Digital Branding untuk Penguatan Pemasaran Produk Dodol Khas Desa Selat Karangasem sebagai Kearifan Lokal Bali Astuti, Ni Wayan Wahyu; Sarja, Ni Luh Ayu Kartika Yuniastari; Adiaksa, I Made Anom; Pamularsih, Tyas Raharjeng; Sarja, Ni Ketut Pradani Gayatri; Dwijuliasri, Kadek Ayu; Puspita, Ni Made Ayu Maya
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/etx3w337

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pemasaran produk Dodol Bhuana Sari sebagai makanan khas Desa Selat, Karangasem, melalui penerapan strategi digital branding. Permasalahan utama mitra adalah sistem pemasaran yang masih konvensional, belum adanya identitas merek yang kuat, serta keterbatasan pemanfaatan media digital. Kegiatan dilaksanakan dengan metode partisipatif yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan pelaku usaha melalui tahapan sosialisasi, pelatihan pembuatan logo dan label kemasan, pelatihan pemasaran digital melalui media sosial, Google My Business, dan website, serta pendampingan dan evaluasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis catatan penjualan untuk memastikan validitas hasil. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan permintaan produk dari 100 kg menjadi 280 kg dalam dua bulan kegiatan serta peningkatan kemampuan mitra dalam pengelolaan promosi digital. Temuan awal menunjukkan adanya dampak positif terhadap kapasitas promosi dan permintaan produk, meskipun evaluasi lanjutan dibutuhkan untuk mengukur dampak jangka panjang. Digital Branding to Strengthen the Marketing of Selat Village’s Traditional Dodol as Balinese Local Wisdom Abstract This community service activity aims to strengthen the marketing capacity of Dodol Bhuana Sari products as a typical food of Selat Village, Karangasem, through the implementation of digital branding strategies. The main problems faced by partners are the marketing system which is still conventional, the absence of a strong brand identity, and the limited use of digital media. The activity was carried out using a participatory method involving lecturers, students, and business actors through stages of socialization, logo and packaging label creation training, digital marketing training through social media, Google My Business, and websites, as well as mentoring and evaluation. Evaluation is conducted through observation, interviews, and analysis of sales records to ensure the validity of the results. The results of the activity showed an increase in product demand from 100 kg to 280 kg in two months of activity as well as an increase in partners' capabilities in managing digital promotions. Initial findings indicate a positive impact on promotional capacity and product demand, although further evaluation is needed to measure the long-term impact.
Model Sistem Pengolahan Pupuk Organik untuk Mendukung Ekowisata di Desa Munduk Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng I Made Anom Adiaksa; I Wayan Marlon Managi; I Ketut Gde Juli Suarbawa; I Putu Gede Sopan Rahtika; M. Yusuf
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 3 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i3.1305

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Munduk melalui pengolahan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik, serta mendukung pengembangan ekowisata berbasis pertanian. Model sistem pengolahan pupuk organik yang diterapkan melibatkan pembuatan pupuk kompos padat dari kotoran sapi dan pupuk organik cair dari batang pisang, menggunakan aktivator EM4. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pupuk kompos dengan EM4 dapat diproduksi dalam waktu 20 hari, lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional yang membutuhkan 40 hari. Pupuk cair (POC) yang dihasilkan siap digunakan dalam waktu 7–14 hari dan terbukti meningkatkan jumlah bunga dan buah pada tanaman cabai sebesar 18% lebih banyak dibanding kontrol. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam aspek ekonomi, dengan pengurangan biaya pembelian pupuk kimia sebesar ±30% dan potensi usaha pupuk organik lokal. Dalam aspek sosial, masyarakat memperoleh keterampilan baru dalam pengolahan limbah dan membentuk kelompok tani yang mandiri. Selain itu, integrasi pengolahan pupuk organik dengan ekowisata edukatif memberikan kontribusi pada penguatan daya tarik wisata desa dan edukasi lingkungan. Kebaruan program ini terletak pada pendekatan inovatif yang menggabungkan pengolahan pupuk organik dengan pengembangan ekowisata berbasis pertanian berkelanjutan. Ke depan, model sistem ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan meningkatkan skala produksi pupuk organik, memperkenalkan diversifikasi produk, serta mengintegrasikan energi biogas dari limbah ternak, untuk mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan Desa Munduk.