Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Inkuiri Terstruktur Berpendekatan CRT (Culturally Responsive Teaching) sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa SMP Salsabilla Abidah Alfina; Laily Rosdiana
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 2 (2026): May - August 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.2.2026.8984

Abstract

Kemampuan pemahaman konsep merupakan aspek penting yang perlu dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran IPA. Pemahaman konsep menjadi pondasi untuk berpikir ke tingkat kognitif yang lebih tinggi. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa SMP masih tergolong rendah, terutama pada materi campuran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terstruktur dengan pendekatan CRT (Culturally Responsive Teaching) terhadap peningkatan pemahaman konsep siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian pre-experimental dengan bentuk one group pretest-posttestpada 30 siswa kelas VIII-D di SMPN 52 Surabaya. Data dikumpulkan melalui tes awal dan tes akhir pemahaman konsep. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep siswa yang ditunjukkan oleh nilai N-gain pada indikator mengklasifikasikan sebesar 0,6 dengan kategori sedang, indikator menyimpulkan sebesar 0,4 dengan kategori sedang, dan indikator membandingkan sebesar 0,5 dengan kategori sedang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terstruktur dengan pendekatan CRT mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa pada submateri campuran.
Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP pada Pembelajaran IPA Berdasarkan Jenis Kelas (Bilingual, Tahfidz, dan Reguler)) Amaturahman Zulfa; Laily Rosdiana
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu Vol. 6 No. 1 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/pelita.6.1.2026.1518

Abstract

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran IPA, namun informasi mengenai keterampilan berpikir kritis siswa berdasarkan perbedaan jenis kelas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keterampilan berpikir kritis siswa SMP pada pembelajaran IPA berdasarkan jenis kelas, yaitu bilingual, tahfidz, dan reguler. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Sampel berjumlah 68 siswa yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri atas kelas VII B bilingual, VII C tahfidz, dan VII E reguler di SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda keterampilan berpikir kritis sebanyak 10 butir berdasarkan indikator Ennis dan diadaptasi dari karakteristik soal TIMSS serta PISA. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis yang signifikan antar jenis kelas (p = 0,247) dengan effect size sangat kecil (?² = 0,012). Secara deskriptif, rata-rata tertinggi terdapat pada kelas tahfidz (M = 47,50), diikuti bilingual (M = 38,57) dan reguler (M = 37,92), namun perbedaannya tidak bermakna secara statistik. Secara umum, keterampilan berpikir kritis siswa berada pada kategori sedang hingga rendah, dengan capaian tertinggi pada indikator memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, dan menyimpulkan, serta terendah pada indikator strategi dan taktik. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbedaan program pada masing-masing jenis kelas belum diikuti oleh perbedaan keterampilan berpikir kritis yang nyata, sehingga pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, khususnya pada aspek strategi dan pemecahan masalah, masih perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran IPA.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN TPACK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA Endah Proboningtyas; Laily Rosdiana
BIOCHEPHY: Journal of Science Education Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : MO.RI Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa SMP dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dipadukan dengan pendekatan TPACK. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan rancangan penelitian one group pretest posttest design. Data diperoleh melalui tes (pretest-posttest) berupa 25 butir soal pilihan ganda yang disusun berdasarkan taksonomi Bloom tingkat C1 hingga C4. Peningkatan hasil belajar siswa dianalisis menggunakan uji-t berpasangan (paired sample t-test) dan analisis N-Gain. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan setelah penerapan model pembelajaran. Hal ini dibuktikan melalui skor N-Gain sebesar 0,58 yang termasuk dalam kategori sedang, serta hasil uji-t yang menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05. Secara rinci, 69% siswa berada dalam kategori sedang, 28% dalam kategori tinggi, dan 3% berada pada kategori rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan TPACK efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi klasifikasi makhluk hidup.
ABDUCTIVE REASONING SKILLS: THE IMPACT OF COOPERATIVE LEARNING TYPE NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) ASSISTED BY LUMI EDUCATION IN SCIENCE LEARNING Dania Yuliyati; Azzah Rohadatul Aisy; Sisilia Eka Maulidiah; Laily Rosdiana
JURNAL EDUSCIENCE Vol 13, No 2 (2026): Jurnal Eduscience (JES), (Authors from Malaysia and Indonesia)
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jes.v13i2.9058

Abstract

Purpose – This study aims to determine the effectiveness of NHT Cooperative Learning assisted by Lumi Education in improving the abductive reasoning skills of junior high school students in science lessons on substance pressure material.Methodology – The research used a pre-experimental pretest with a replication across two schools. The effectiveness of learning in improving abductive reasoning skills was analyzed using pretest and posttest results. Data collection uses test and questionnaire methods. The test data were analyzed using the n-Gain score and the average difference test, while the response questionnaire data were analyzed using the Likert scale.Findings – The results of this study showed an n-Gain score of 0.71, indicating a high category. The results of the paired t-test showed a p-value of <0.001 (<0.05), indicating a significant difference in ability before and after the learning application. The results of the response questionnaire showed that 100% of students responded positively to learning. Thus, the implementation of NHT Cooperative Learning, assisted by Lumi Education, has proven effective in improving abductive thinking skills in science learning.Contribution – Abductive reasoning in science learning supports the scientific process so that students are able to design innovative solutions based on incomplete data. This research can serve as a basis for improving higher-order thinking skills so that students gain a deep, meaningful understanding and, in addition, can create an active classroom atmosphere and integrate technology into learning.
Factors Determining Socio-Scientific Issues in STEAM Education to Enhance Problem-Solving Skills for Pre-Service Teachers: Development and Validation of a Measurement Model Eko Hariyono; Laily Rosdiana; Mohammad Budiyanto; Muhammad Satriawan; Hasna Nabilah; Iqbal Ainur Rizki
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jpii.v15i1.40341

Abstract

This study aimed to develop and validate a measurement model of SSI–STEAM education for pre-service science teachers (PSTs), with particular attention to dimensions associated with problem-solving skill development. Using a cross-sectional survey design, data were collected from 173 PSTs enrolled in science education programmes in Indonesia. Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA) were conducted to identify and validate the latent constructs underpinning SSI–STEAM implementation. EFA results supported a clear two-factor model, consisting of enacted values and practices, affective learning, authentic contexts and activities, interdisciplinary thinking and integrated practices, and problem-solving skill reflection. CFA confirmed the adequacy of this structure, producing acceptable model-fit indices and satisfactory reliability and convergent validity across factors. To conclude, this study highlights the multidimensional nature of SSI–STEAM education and underscores the importance of value-driven instruction, interdisciplinary integration, authentic socio-cultural contexts, and reflective problem-solving in preparing PSTs to engage learners with complex real-world scientific issues. These insights offer valuable implications for curriculum design in science teacher education, which are also discussed.
Pelatihan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Sains Inovatif berbasis Deep Learning bagi Guru SMP/ MTs Kabupaten Tuban Laily Rosdiana; Eko Hariyono; Mohammad Budiyanto; Hasna Nabilah
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 10 No 2 (2026): Volume 10 Nomor 2 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v10i2.27060

Abstract

Pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran sains inovatif dipandang sangat penting khususnya bagi para guru IPA di Tuban. Salah satunya adalah mengenalkan perangkat ajar sains inovatif berbasis deep learning, pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan pada penguatan keterlibatan siswa dalam proses belajar melalui aktivitas yang kontekstual, bermakna, dan menyenangkan (mindful, meaningful, and joyful learning). Hal ini menjadi trend baru dalam Pendidikan Sains, sehingga produk pembelajaran yang dihasilkan dapat disesuaikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Fokus pelatihan adalah guru-guru IPA di Tuban. Tahapan kegiatan ini meliputi 1) tahap persiapan; 2) tahap pemaparan materi, 3) tahap pendampingan; dan 4) tahap evaluasi. Tahapan ini dilakukan untuk menunjang pelaksanaan pelatihan dalam memberikan pemahaman mendalam terkait deep learning serta melakukan pembimbingan kepada guru terkait pembuatan produk. Solusi yang bisa ditawarkan dari permasalahan tersebut dengan melakukan pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran sains inovatif berbasis deep learning. Dukungan teknis dan mentoring juga dapat diberikan selama dan setelah pelatihan untuk memastikan pendampingan yang dilakukan berjalan lancar dan sukses. Produk yang dihasilkan adalah produk perangkat pembelajaran sains inovatif berbasis deep learning sesuai dengan materi yang diidentifikasi dan masalah yang ingin diselesaikan oleh guru.