Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Efektivitas Pelatihan Konseling Menyusui bagi Tenaga Kesehatan sebagai Upaya Promotif dan Preventif Masalah Gizi di Kota Bandar Lampung Novika J., Yulia; Mustamin, Mustamin; Asikin, Hijrah; Chaerunnimah, Chaerunnimah
JURNAL ILMIAH OBSGIN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan & Kandungan P-ISSN : 1979-3340 e-ISSN : 2685-7987 Vol 16 No 3 (2024): SEPTEMBER
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah gizi yang dialami balita Indonesia sejalan dengan praktik pemberian ASI eksklusif yang belum optimal yaitu sebesar 55,5%. Adanya tenaga kesehatan terlatih konseling menyusui diharapkan dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif yang dapat meningkatkan kesehatan ibu dan status gizi anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pelatihan konseling menyusui terhadap pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan di kota Bandar Lampung. Desain penelitian yang digunakan adalah evaluasi dengan rancangan pendekatan one group pretest-posttest design yaitu melihat efektivitas kegiatan pelatihan konseling menyusui selama 5 hari yang diikuti oleh subjek. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung pada bulan Juli dan Agustus 2024 menggunakan sampling jenuh berjumlah 40 orang tenaga kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sampel adalah tenaga kesehatan dengan profesi nutrisionis (50%) dan bidan (50%). Mayoritas tenaga kesehatan memiliki latar belakang pendidikan terakhir adalah sarjana (57,5%) dan memiliki kisaran usia dari 28 hingga 55 tahun. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan tenaga kesehatan terkait konseling menyusui (p-value<0,001) dan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan konseling menyusui (p-value<0,001) antara sebelum dan sesudah intervensi pelatihan konseling menyusui. Adanya pelatihan konseling menyusui dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan konseling menyusui.
SEMPOL ABATI SEBAGAI PRODUK MAKANAN UNTUK PENCEGAHAN STUNTING Bertalina, Bertalina; Hendrayati, Hendrayati; Sahariah, Sitti; Asikin, Hijrah
JURNAL ILMIAH OBSGIN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan & Kandungan P-ISSN : 1979-3340 e-ISSN : 2685-7987 Vol 16 No 3 (2024): SEPTEMBER
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting is a failure to thrive due to the accumulation of nutrient deficiencies that occur from pregnancy to 24 months of age (1.000 Hari Pertama Kehidupan). These deficiencies can inhibit growth and negatively impact child welfare. According to WHO 2022, the stunting rate in toddlers is 22.3%, and according to SKI 2023, the stunting rate in toddlers is 21.5%. Eating foods that contain high protein can be one way to prevent stunting.Determined the most preferred Sempol Abati formulation with chicken liver and red spinach substitution and the nutritional value This research was conducted using an experimental method, namely making Sempol Abati with chicken liver substitution F1 (12%), F2 (14%), F3 (16%) and F4 (18%) and in each formula added 10% red spinach. An organoleptic test using a hedonic test (colour, aroma, taste, texture, and overall acceptance) was conducted with 75 panellists and 1 repetition. The most preferred sempol abati product was then analyzed for fiber by the gravimetric method, iron by the ICP-OES method, and other nutrients by TKPI calculation, determining food cost, and selling price. Data were analyzed univariately using a Likert scale. The most preferred formula was F3 (16%). The nutritional value result based on TKPI Formula R0 E 277.95 kcal, P 8.08 g, L 20.1 g, KH 17.3 g, Fe 1.7 mg and fiber 0.05, while the preferred Sempol Abati formula per serving (40 grams) were E 277.38 kcal, P 8.61 g, L 19.64 g, KH 17.54 g, fiber 0.12 g, and Fe (Fe) 2.01 mg. The selling price per serving (2 pieces = 40 grams) was Rp. 6,000. The most preferred formula was formula F3 with 16% chicken liver substitution and 10% red spinach addition. In further research, it can be noted for minimizing the fishy aroma in the product and testing other nutrients in the laboratory.
GAMBARAN KESESUAIAN STANDAR PORSI MAKANAN BIASA MENU MAKAN SIANG PASIEN KELAS I DI RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL KOTA MAKASSAR: Description of The Standard Completeness of The Usual Food Portion of The Lunch Menu For Class I Patients At The Faisal Islamic Hospital Makassar City Rauf, Suriani; Kartini B, Thresia Dewi; Isqara Putri, Andi Diin; Asikin, Hijrah
Media Gizi Pangan Vol 31 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Media Gizi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mgp.v31i2.1188

Abstract

Penyusunan standar makanan adalah kegiatan menyandingkan dana, kondisi kesehatan dan latar belakang sosial budaya pasien dalam menyusun kecukupan gizi. Standar makanan rumah sakit diperlukan sebagai alat adminstrasi untuk merancang jenis dan jumlah kebutuhan makanan pasien perhari. Kesesuaian standar porsi makanan di rumah sakit berdasarkan penelitian terdahulu dan yang berkaitan menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam pemorsian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesesuaian standar porsi makanan biasa menu makan siang pasien kelas I di Rumah Sakit Islam Faisal Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 5 pasien perhari selama 10 hari pelaksanaan mengikuti satu siklus menu. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan metode penimbangan makanan (food weighing) secara langsung yaitu makan siang pasien dan data sekunder yaitu standar porsi RSI Faisal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar porsi yang tidak sesuai yaitu makanan pokok hanya 87,70%, lauk hewani 94,14%, sayur 89,58% dan buah 87,38% sedangkan yang sesuai dengan standar porsi yaitu lauk nabati 97,6%. Kesimpulan penelitian ini  adalah kesesuaian standar porsi makanan pokok pada menu makan siang pasien kelas I di Rumah Sakit Islam Faisal Kota Makassar dikategorikan tidak sesuai dengan standar porsi yang telah ditetapkan. Disarankan agar Pemorsian makanan pokok di instalasi gizi di RSI Faisal Makassar menggunakan URT yang ukurannya telah distandarkan sesuai dengan rata-rata kebutuhan pasien pada umumnya, sehingga belum memenuhi standar porsi rumah sakit.
OPTIMALISASI PEMANFAATAN TEPUNG MULTIGIZI (TUMIZ) OLEH KADER DAN IBU BALITA DI KELURAHAN BERUA Asikin, Hijrah; Sri Lestari, Retno; Nadimin; Agung, Permana
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 6 No. 2 (2025): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v6i2.1763

Abstract

Masalah gizi masih menjadi tantangan serius di Wilayah Kerja Puskesmas Paccerakkang, Kelurahan Berua. Jika tidak ditangani, masalah gizi dapat berdampak negatif pada tumbuh kembang balita dan menghambat kemampuan belajar di masa depan. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pemanfaatan pangan lokal yang diolah menjadi Tepung Multigizi (Tumiz) untuk menghasilkan produk cemilan seperti kue kering. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dan ibu balita dalam memanfaatkan Tumiz, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pangan fungsional berbasis pangan lokal, kandungan gizi Tumiz, dan praktik pembuatan kue kering berbasis Tumiz. Edukasi disampaikan melalui modul yang didistribusikan kepada peserta. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, serta dokumentasi hasil produk untuk menilai keterampilan praktik. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta, dengan persentase pengetahuan baik meningkat dari 47,6% pada pre-test menjadi 85,7% pada post-test (ρ = 0,003). Kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan kader dan ibu balita dalam memanfaatkan Tumiz, dan diharapkan dapat mendorong pemanfaatan pangan lokal secara lebih luas untuk pemenuhan gizi seimbang.
NILAI INDEKS GLIKEMIK DAN ZAT GIZI MAKRO FORMULA FLAKES JEWAWUT, KACANG MERAH DAN LABU KUNING: Glycemic Index Value and Macronutrients of Jekabu Flakes Formula Chaerunnimah; Rihadatul Aisy, Nabilah; Asikin, HIjrah; Mustamin
Media Gizi Pangan Vol 32 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Media Gizi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mgp.v32i1.1196

Abstract

Pola makan di era gobalisasi bergeser ke makanan cepat saji yang mengandung indeks glikemik, lemak dan energi yang tinggi yang meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes. Flakes merupakan produk pangan yang banyak dikonsumsi karena kepraktisannya, sehingga dibuat formula flakes Jekabu yang menggunakan lebih dari satu jenis tepung yaitu jewawut, kacang merah dan labu kuning karena ketiga bahan makanan tersebut memiliki indeks glikemik yang rendah. Tujuan penelian untuk mengetahui nilai indeks glikemik dan zat gizi makro flakes Jekabu. Desain penelitian adalah one shot case study dengan  menggunakan 6 sampel yang memiliki indeks masa tubuh normal dan tidak memiliki riwayat diabetes untuk pemeriksaan glukosa pada waktu 0 menit, 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120 menit. Data pemeriksaan glukosa darah dihitung luas area di bawah kurva dan data indeks glikemik dianalisis dengan uji One Way Anova.  Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan formula produk flakes Jekabu yang digunakan yaitu dengan perbandingan tepung jewawut, tepung kacang merah dan tepung labu kuning yaitu (70%, 15%, 15%), (68%, 20%, 12%) dan (65%, 25%, 10%). Kandungan gizi karbohidrat dibawah standar SNI dan kandungan gizi protein dan lemak mencapai standar. Kandungan zat gizi makro pada flakes Jekabu (70%, 15%, 15%) rendah dan meningkat pada flakes (68%, 20%, 12%) dan (65%, 25%, 10%). Kisaran indeks glikemik  dari ketiga formulasi flakes Jekabu berada di kisaran lebih kecil dari 55 yaitu indeks glikemik rendah.  Disarankan melakukan pengembangan formula lebih lanjut untuk memperbaiki rasa dan meningkatkan kadar karbohidrat produk flakes Jekabu hingga mencapai standar SNI dan tetap memiliki indeks glikemik rendah.
DAYA TERIMA DAN KANDUNGAN FLAVONOID MOCASIA DENGAN SUBSTITUSI TALAS DAN EKSTRAK BUNGA TELANG SEBAGAI ALTERNATIF MENCEGAH KANKER PAYUDARA: Acceptance Rate and Flavonoid Content of Mocasia with Taro Substitution and Butterfly Pea Extract as an Alternative for Breast Cancer Prevention Suci F, Putri Anugrah; Kartini B, Thresia Dewi; Chaerunimmah; Agung, Permana; Asikin, Hijrah
Media Gizi Pangan Vol 32 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Media Gizi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mgp.v32i1.1480

Abstract

Pangan fungsional merupakan pangan yang kaya zat gizi sehingga dapat dimanfaatkan untuk mencegah berbagai jenis penyakit seperti kanker yang menjadi salah satu penyakit tidak menular di Indonesia. Mocasia (Mochi Colocasia Esculenta) dengan substitusi talas dan ekstrak bunga telang menjadi produk alternatif mencegah kanker payudara. Jenis penelitian pra eksperimen dengan desain one shot study case. Daya terima dinilai dengan uji organoleptik pada 50 panelis tidak terlatih. Kandungan flavonoid diuji menggunakan metode Spektrofotometri Uv-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi talas tidak berpengaruh nyata terhadap daya terima dari aspek warna (ρ=0,312), rasa (ρ=0,084), tekstur (ρ=0,067) dan aroma (ρ=0,383). Kandungan flavonoid meningkat secara signifikan pada setiap perlakuan dari hasil uji statistik One Way Anova (ρ=0,000) yang artinya formulasi talas berpengaruh nyata pada uji kandungan flavonoid. Formula terpilih berdasarkan hasil perbandingan eksponensial pada penelitian ini adalah F1 (Talas 60%). Disarankan dalam pembuatan mocasia selanjutnya agar meneliti zat gizi makro dan mikro lainnya dan mengembangkan produk mocasia.
Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu Dalam Pembuatan Makanan Tambahan Berbahan Dasar Pangan Lokal Aziz, Fatmawati; Sunarto; Asikin, Hijrah
Nutrition Science and Health Research Vol 4 No 1 (2025): Nutrition Science and Health Research
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/nutrition.v4i1.5294

Abstract

Background: Stunting is a chronic nutritional problem that occurs over a long period and can be transmitted across generations. One of the key strategies to prevent stunting is providing adequate complementary feeding in both quality and quantity, as nutritional fulfillment plays a vital role in a child's growth. Nutrition education for Posyandu cadres serves as a strategic effort to enhance their role in stunting prevention.Objective: This study aimed to measure the effectiveness of nutrition education in improving cadres' knowledge regarding the preparation of supplementary food (PMT) using local food ingredients at Paccerakkang Public Health Center, Makassar City. Methods: This research used a quasi-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. A total of 30 Posyandu cadres were selected using quota sampling. Results: The findings showed that the average knowledge score increased from 5.77 (pre-test) to 9.83 (post-test). The paired sample t-test and Wilcoxon Signed Ranks Test indicated a statistically significant difference (p < 0.001), confirming that the training had a substantial impact on improving cadre knowledge. Conclusion: Training on the preparation of supplementary food based on local ingredients effectively enhances Posyandu cadres' knowledge and supports community-level efforts to prevent stunting.
Daya Terima dan Kandungan Gizi Biskuit dengan Penambahan Mocaf dan Tepung Ikan Kembung Andi Khaerunnisa; Ipa, Agustian; Asikin, Hijrah
Media Gizi Ilmiah Indonesia Vol 3 No 2 (2025): AUGUST 2025
Publisher : Kabar Gizi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62358/mgii.v3i2.75

Abstract

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya.  Prevalensi stunting di Indonesia masih sangat tinggi. Salah satu upaya untuk mencegah stunting adalah melalui pemenuhan zat gizi yang cukup dan pemberian makanan tambahan yang tepat. Salah satu makanan tambahan yang dapat diberikan dalam bentuk selingan adalah biskuit.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima dan kandungan gizi (karbohidrat, protein, lemak, serat, dan zat besi) biskuit dengan penambahan mocaf dan tepung ikan kembung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental murni (true experimental). Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari variasi 2 formula. Uji daya terima dilakukan kepada 50 panelis konsumen. Satu formula terbaik dari hasil uji organoleptik akan diuji kandungan protein menggunakan metode Mikro Kjedhal, karbohidrat, lemak, dan serat menggunakan uji analisis proksimat dan zat besi menggunakan metode spektrofotometer. Hasil uji daya terima menunjukkan formula terbaik adalah formula perlakuan dengan tepung terigu 50%, mocaf 35% dan tepung ikan kembung 15%. Dalam 100 gr formula mengandung 48.48gr karbohidrat, 25,65gr protein, 16,21gr lemak, 20,59gr serat, dan 3.,157mg zat besi dan dapat memenuhi 10% kecukupan snack harian jika mengonsumsi sebanyak 7 keping biskuit sehari anak usia 4-6 tahun. Kesimpulan: Penambahan mocaf dan tepung ikan kembung pada biskuit memiliki pengaruh terhadap jumlah kandungan karbohidrat, protein, lemak, serat, dan zat besi serta tingkat kesukaan pada uji organoleptik.
Nugget Gemarikan (Steamed Rice Mixed with Additional of Mackerel) as an Alternative Food to Prevent Stunting Candradewi, Anak Agung Istri; Ipa, Agustian; Asikin, Hijrah
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v4i3.4323

Abstract

Stunting remains a crucial public health issue in Indonesia. This condition of impaired growth is primarily triggered by chronic malnutrition, especially during the first 1,000 days of life (HPK). The impacts of stunting are irreversible on children's growth and cognitive development. Although the prevalence of stunting in Indonesia decreased to 21.6% in 2022, this figure is still far from the national target of 14% by 2024. One of the strategies to address stunting is through the provision of protein- rich supplementary foods, such as mackerel. This study aimed to design and modify a functional food product named "Nugget Gemarikan". The method employed was an experimental study with a randomized block design, involving four treatment levels of mackerel addition: P1 (0%), P2 (16.7%), P3 (33.3%), and P4 (50%). Organoleptic testing was conducted by 30 trained panelists to assess subjective quality (taste, color, aroma, and texture) using hedonic and numeric tests. The data were then analyzed using ANOVA. The results showed that Nugget Gemarikan with 50% mackerel addition (P4) had the highest nutritional value, specifically 349.4 kcal of energy and 14.3 grams of protein per serving. Nevertheless, panelists overall preferred the formulation with 33.3% mackerel addition (P3). ANOVA testing revealed a significant difference in taste, texture, and aroma across treatments (p-value < 0.05), except for the color aspect (p-value > 0.05). This Nugget Gemarikan has the potential to be a balanced, nutritious supplementary food that helps meet the daily needs of toddlers and prevent stunting.
DAYA TERIMA, KADAR PROTEIN DAN SERAT FISH CRACKERS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KACANG HIJAU (Vigna radiata): Acceptance, Protein Content, and Fiber Content of Fish Crackers with the Addition of Mung Bean Flour (Vigna radiata) Zakaria; Asikin, Hijrah; Mas’ud, Hikmawati; Hajirah
Media Gizi Pangan Vol 31 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Media Gizi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mgp.v31i1.553

Abstract

The production of crackers is still predominantly based on cereals from grains, resulting in relatively low protein content. Fish crackers, on the other hand, are processed foods that already contain animal protein based on previous research, but consumer panels have indicated that the aroma is still considered unpleasant. Therefore, the addition of a food ingredient containing plant protein that can neutralize the aroma is necessary. One such source of plant protein rich in fiber that can neutralize the aroma is mung bean flour. This study aims to determine the acceptance, protein, and fiber content of fish crackers with the addition of mung bean flour (Vigna radiata). This study employed a pre-experimental design with a one-shot case study design, utilizing three treatment formulas with mung bean flour ratios of 40% (F1), 50% (F2), and 60% (F3), with a standard formula without the addition of mung bean flour as the control (F0). The results showed that the addition of mung bean flour could affect the acceptance of fish crackers based on aroma (p=0.017) and taste (p=0.000), while color (p=0.131) and texture (p=0.435) were not significantly affected. The selected formula based on the accumulation of panelist preference acceptance percentages of 92-96% was Formula 1 (with 40% mung bean flour addition), which had a protein content of 16.63% and fiber content of 26.96%.