Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Bifidobacterium dalam Perkembangan Otak dan Tumbuh Kembang Anak Ahmad Suryawan; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 22, No 5 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.5.2021.325-30

Abstract

Pengetahuan tentang peran spesifik mikrobiota saluran cerna dalam perkembangan otak dan tumbuh kembang anak semakin menarik perhatian peneliti pada beberapa tahun terakhir. Hal tersebut disebabkan karena terakumulasinya bukti dari berbagai studi tentang komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak, yang digambarkan sebagai teori gut-brain axis. Salah satu mikrobiota yang mendapat perhatian khusus dalam hal ini adalah Bifidobacterium, yang berpotensi mempunyai peran khusus dalam perkembangan otak anak usia dini, Kolonisasi Bifidobacterium dalam saluran cerna paling dominan pada usia awal setelah lahir, yang terjadi paralel dengan periode kritis perkembangan sirkuit otak anak. Aplikasi klinis teori gut-brain axis lebih banyak terbukti pada studi eksperimental. Studi pada subyek anak mayoritas merupakan studi observasional dengan hasil yang tidak konsisten. Pemberian Bifidobacterium nampak menjanjikan sebagai regimen untuk terapi gejala gangguan tumbuh kembang. Namun bukti berbasis uji klinis masih sangat terbatas, dan menunjukkan hasil yang heterogen. Masih diperlukan bukti berbasis uji klinis acak-terkontrol yang dirancang dengan baik untuk memvalidasi efektivitas probiotik untuk terapi gangguan tumbuh kembang dalam hal identifikasi strain, dosis, dan waktu pengobatan yang sesuai dan standar. Peningkatan pemahaman tentang keilmuan gut-brain axis diharapkan membuka kemungkinan dimasa depan akan muncul terapi berbasis probiotik yang mempunyai efek terhadap berbagai kondisi otak dan tumbuh kembang anak
Peran Instrumen Modifikasi Tes Daya Dengar sebagai Alat Skrining Gangguan Pendengaran pada Bayi Risiko Tinggi Usia 0-6 Bulan Rini Andriani; Rini Sekartini; Ronny Suwento; Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.56 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.174-83

Abstract

Latar belakang. Gangguan pendengaran pada bayi dapat menghambat perkembangan bicara, bahasa, dankemampuan kognitif. Identifikasi dan intervensi segera dengan program skrining akan mencegah konsekuensitersebut. Pemeriksaan elektrofisiologi merupakan alat skrining yang direkomendasikan namun memerlukanalat khusus, biaya dan tenaga ahli, sehingga diperlukan kuesioner pendengaran (hearing checklist) sebagaialat skrining. Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan instrumen tes daya dengar sebagaialat skrining gangguan pendengaran yang kemudian dimodifikasi pada tahun 2005.Tujuan. Membandingkan sensitivitas dan spesifisitas instrumen modifikasi tes daya dengar (MTDD) dengan bakuemas pemeriksaan skrining pendengaran yaitu distortion-product otoacoustic emission (DPOAE) dan AABR.Metode. Studi potong-lintang di RSCM pada bayi usia 0-6 bulan dengan satu atau lebih faktor risikoseperti riwayat keluarga dengan tuli bawaan, infeksi TORCH, prematuritas, berat badan lahir rendah,hiperbilirubinemia dengan terapi sinar atau transfusi tukar, sepsis awitan lambat dan meningitis, nilai skorApgar rendah, distress pernapasan, pemakaian alat bantu napas dan pemakaian obat yang bersifat ototoksikselama lebih dari 5 hari. Subjek dilakukan pemeriksaan fisis, pertumbuhan dan perkembangan, MTDD,DPOAE dan AABR.Hasil. Enam puluh subjek diperoleh ikut dalam penelitian, lelaki lebih banyak dengan rasio 1,1:1. Sebagianbesar subjek merupakan anak pertama (38,3%), diasuh oleh orangtua (60%) dan memiliki 􀁴3 faktor risiko(70%). Pemakaian obat yang bersifat ototoksik (76,7%) merupakan faktor risiko terbanyak. Prevalensigangguan pendengaran berdasarkan MTDD 63,3% sedangkan kombinasi DPOAE dan AABR 11,7%. Umursubjek merupakan faktor yang secara bermakna mempengaruhi hasil MTDD (nilai p=0,032). Sensitivitasdan spesifisitas MTDD berturut-turut 85,7% dan 39,6%.Kesimpulan. Instrumen MTDD bukan merupakan alat skrining pendengaran yang ideal namun dibutuhkandan dapat digunakan di negara berkembang seperti Indonesia
Efektivitas Seminar pada Perubahan Sikap Ibu dalam Pemberian Dukungan Nutrisi dan Stimulasi selama Pemantauan Tumbuh Kembang Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Bernie Endyarni Medise; Ikhsan Johnson; Yulianti Wibowo; Ray Wagiu Basrowi
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.597 KB) | DOI: 10.14238/sp19.4.2017.201-8

Abstract

Latar belakang. Kualitas tumbuh kembang balita ditentukan oleh nutrisi, kasih sayang, stimulasi, dan perlindungan terhadap penyakit. Ibu sebagai pengasuh utama anak berperan penting mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga harus memiliki sikap yang baik tentang pemantauan tumbuh kembang saat kunjungan ke tenaga kesehatan. Peningkatan pengetahuan Ibu dapat dilakukan dengan edukasi dan pelatihan.Tujuan. Menganalisis efektivitas seminar pada perubahan sikap ibu dalam pemberian dukungan nutrisi dan stimulasi selama pemantauan tumbuh kembang. Metode. Penelitian desain potong lintang dengan kuesioner pre dan post intervensi dilakukan pada ibu dengan balita. Perubahan sikap ibu dievaluasi dalam pemantauan tumbuh kembang anaknya. Intervensi berupa seminar mengenai kesehatan anak yang diadakan di 6 kota besar di Indonesia dengan purposive sampling peserta yang mengisi lengkap kuesioner. Analisis data digunakan metode paired T-test dalam software IBM SPSS statistics versi 22.Hasil. Terdapat 617 ibu yang mengisi lengkap kuesioner yang diberikan dalam seminar. Terjadi peningkatan yang bermakna (beda mean -0,15±0,26;95%CI -0,17sampai-0,13; p<0,001) pada rerata skor sikap ibu setelah mengikuti seminar yang diadakan oleh peneliti. Sumber informasi yang penting dan berkesan, antara lain, televisi, gawai, media sosial, tenaga kesehatan, dan seminar oleh tenaga kesehatan. Kesimpulan. Pemberian seminar oleh tenaga kesehatan mengubah sikap ibu pada pengasuhan anak selama pemantauan tumbuh kembang dengan efektif (p<0,001).
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kapsular Hartono Gunardi; Soedjatmiko Soedjatmiko; Rini Sekartini; Jeane Roos Ticoalu
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.667 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.125-8

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, higiene perorangan, persiapan makanan yang baik dan pemberian vaksin. Baik vaksin tifoid peroral maupun parenteral dapat mencegah gejala klinis demam tifoid. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia. Metode. Penelitian deskriptif potong-lintang dilakukan pada anak Indonesia sehat umur 2-5 tahun yang mengunjungi Klinik Tumbuh Kembang Utan Kayu pada Juli 2000 atau Klinik Dokter Keluarga Kiara pada Agustus 2000. Digunakan vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler (typhim-Vi) dalam kemasan 10 ml. Penyuntikan 0,5 ml vaksin dilakukan oleh dokter Peserta Pendidikan Spesialis Anak pada paha bagian anterolateral dengan menggunakan semprit steril sekali pakai. KIPI dimonitor dengan menggunakan formulir KIPI Departemen Kesehatan. Hasil. Dari 198 anak yang divaksinasi, KIPI yang berhasil dipantau 174 (87,9%) anak. Gejala klinis KIPI yang ditemukan adalah nyeri pada tempat suntikan (44,8%), demam > 38,5∞ C (14,4%), indurasi (9,2%), dan muntah (0,6%). Kesimpulan. KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler penelitian ini cukup komparabel dengan penelitian lain dalam hal demam. Bengkak dan indurasi lebih tinggi dibanding penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah vial multidosis yang rentan terhadap timbulnya kontaminasi.
Kelengkapan Imunisasi Dasar pada Anak Usia 1 – 5 tahun Ari Prayogo; Astri Adelia; Cathrine Cathrine; Astri Dewina; Bintang Pratiwi; Benjamin Ngatio; Asmoko Resta; Rini Sekartini; Corrie Wawolumaya
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.551 KB) | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.15-20

Abstract

Latar belakang. Indonesia memiliki angka cakupan kelengkapan imunisasi dasar yang sudah cukup baik, namun beberapa daerah masih rendah. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi sangat penting untuk diketahui sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan angka cakupan kelengkapan imunisasi dasar.Tujuan. Untuk mengetahui kelengkapan imunisasi dasar dan faktor-faktor yang berhubungan di RW 04 Kelurahan Jati, Jakarta Timur.Metode. Penelitian cross-sectional pada 87 ibu dan anak yang berusia 1-5 tahun di RW 04 Kelurahan Jati, Jakarta Timur. Pengambilan sampel secara purposive sampling pada bulan April 2009, data primer dari kuesioner, dan catatan imunisasi dari buku kesehatan anak.Hasil. Angka cakupan kelengkapan imunisasi dasar pada anak usia 1-5 tahun di RW 04 Kelurahan Jati, Jakarta Timur sebesar 47,1%. Cakupan kelengkapan imunisasi di bawah usia satu tahun yang terendah adalah imunisasi hepatitis B4 dan polio 4. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara sebaran usia anak, berat lahir anak, usia kehamilan ibu, urutan anak, usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tingkat pendapatan keluarga, jumlah anak, budaya, jarak ke pelayanan kesehatan, pelayanan kader dan petugas kesehatan, sumber informasi, dan pengetahuan ibu dengan kelengkapan imunisasi (p>0,05). Ditemukan hubungan yang bermakna secara staitstik antara urutan dan jumlah anak dengan kelengkapan imunisasi (p<0,05).Kesimpulan. Kelengkapan imunisasi dasar pada subjek 47,1%. Terdapat hubungan antara urutan anak dan jumlah anak dengan kelengkapan imunisasi dasar. 
Pengaruh Kepatuhan Latihan Senam Kesegaran Jasmani 1988 Terhadap Perilaku Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas Listya Tresnanti Mirtha; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.397 KB) | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.146-56

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPP/H) merupakan gangguan neuropsikiatrik yang disinyalir memberikan dampak negatif bagi kesehatan ketika dewasa.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan sosiodemografis anak dengan GPP/H, dan pengaruh kepatuhan latihan fisik terhadap perubahan prilaku pada anak GPP/H.Metode. Penelitian eksperimen, pre-post design dengan perlakuan latihan SKJ ’88 dilakukan pada subjek penelitian di Sekolah Khusus Al-Ikhsan selama 8 minggu. Pemilihan sampel digunakan metode tanpa acak (non probability sampling) dengan jenis metode consecutive sampling, yaitu semua anak dengan GPP/H yang memenuhi kriteria pemilihan akan diikutsertakan dalam penelitian. Analisis data digunakan uji t satu sampel dan uji t berpasangan.Hasil. Di antara 40 subjek penelitian, didapatkan 19 (47,5%) sangat patuh dan 21 (52.5%) patuh. Nilai selisih rata-rata skor SPPAHI orangtua (SPPAHI-O) tiap tipe GPP/H didapatkan inatentif 46,2 (p<0,001), hiperaktif-impulsif 60,4 (p<0,001), campuran 47,6 (p<0,001) ditunjukkan adanya perbaikan perilaku di rumah. Nilai selisih rata-rata skor SPPAHI guru (SPPAHI-G) tiap tipe GPP/Hdidapatkan inatentif 41,7 (p<0,001), hiperaktif-impulsif 56,8 (p<0,001), campuran 42,2 (p<0,001) ditunjukkan adanya perbaikan perilaku di sekolah.Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan melakukan latihan SKJ ’88 berpengaruh terhadap perbaikan perilaku di rumah (p<0.001) dan di sekolah (p<0.001) pada kelompok subjek sangat patuh maupun patuh.
Pengaruh Bullying Antarsiswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa SDN Pondok Cina 03 Depok Ghifari Nurullah; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.208 KB) | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.285-90

Abstract

Latar belakang. Bullying dapat dikatakan sebagai hal yang biasa pada lingkungan sekolah dan pertumbuhan anak dan remaja. Salah satu faktor yang dapat dipengaruhi bullying adalah prestasi belajar siswa. Tujuan. Mengetahui pengaruh bullying terhadap prestasi belajar siswa di SDN Pondok Cina 03 Depok. Metode. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan di bulan Januari 2016 dengan responden berjumlah 184 siswa. Hasil. Subjek yang tidak terlibat bullying 67 subjek (37,0%), korban bullying 65 subjek (35,3%), pelaku 6 subjek (3,3%), dan korban sekaligus pelaku 45 subjek (24,5%). Dengan uji Kai Kuadrat, tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status bullying dengan prestasi belajar di tiga mata pelajaran tersebut. Kesimpulan. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi prestasi belajar, seperti sosiodemografi, komunikasi, dan fasilitas sekolah yang belum sepenuhnya diteliti pada penelitian ini.
Penilaian PEDS pada Anak Usia 6-72 bulan Hesti Lestari; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.865 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.7-12

Abstract

Latar belakang. Pemantauan tumbuh kembang secara berkala sangat penting untuk mendeteksi secaradini penyimpangan perkembangan anak. Tahap awal penapisan perkembangan dapat melibatkan orangtuadan setelah diketahui anak memerlukan evaluasi lebih lanjut, dilakukan uji tapis yang lebih rinci dankompleks. Salah satu instrumen uji tapis yang peruntukkan pada orangtua adalah parents evaluation ofdevelopmental status (PEDS).Tujuan Penelitian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penggunaan PEDS sebagai alat uji tapisperkembangan anak dan mengetahui sebaran kekhawatiran orangtua pada aspek perkembangan yang dinilaidalam kuesioner PEDS.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan pada 82 anak sehat berusia 6-72 bulan di YayasanBalita Sehat, Jakarta pada bulan Agustus 2006 sampai dengan September 2006. Pengisian kuesioner ujitapis perkembangan PEDS dilakukan dengan cara wawancara.Hasil. Dari 82 anak yang diteliti, 16 (19,5%) anak termasuk dalam langkah A yaitu kelompok risikotinggi untuk mendapatkan masalah perkembangan dan memerlukan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut.Langkah B yaitu 33 (40,2%) anak termasuk kelompok risiko sedang dan memerlukan skrining, stimulasidan pemantauan lanjut, kelompok risiko rendah 14 (17,1%) anak termasuk langkah C memerlukanbimbingan tingkah laku dan 19 (23,2%) anak termasuk langkah E yaitu berisiko rendah dan hanya perlupemantauan rutin.Kesimpulan. Kelompok risiko tinggi dan sedang kelainan perkembangan pada penelitian ini lebih tinggidari penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah tingginya kekhawatiran orangtua terhadap penyakitdan masalah kesehatan lainnya yang dalam uji tapis PEDS merupakan indikator bermakna adanya gangguanperkembangan
Masalah Tidur pada Anak MF Conny Tanjung; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1320.474 KB) | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.138-42

Abstract

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, kebutuhan tidur untuk semua umurberbeda. Tidur merupakan keadaan berkurangnya tanggapan dan interaksi dengan lingkunganyang bersifat reversibel dan berlangsung cepat. Gangguan tidur dapat terjadi pada anakdengan manifestasi kesulitan pada saat mulai tidur, mempertahankan tidur, atau gangguanyang berhubungan dengan pernapasan. Penyebab gangguan tidur dapat bersifat internalmaupun eksternal. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi kualitas tidur pada anak, demikianpula perilaku dan kebiasaan dapat dihubungkan dengan gangguan tidur.Pengukuran kualitas tidur dapat dilakukan menggunakan polisomnografi (PSG) danaktigrafi (ACG). Cara lain untuk mendeteksi gangguan tidur menggunakan kuesioneratau interview. Brief screening questionnaire for infants sleep problem merupakan kuesioneryang sudah divalidasi terhadap ACG. Tidur yang buruk berdampak negatif terhadap mooddan perilaku bahkan dapat bermanifestasi sebagai gejala psikiatrik. Penanganan bersifatmultifaktor, kadang - kadang terapi medikamentosa dapat digunakan pada kasus khusus.
Deteksi Adiksi Internet dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya pada Remaja di Masa Pandemi Covid-19 Diana Adriani Banunaek; Rini Sekartini; Sudung O. Pardede; Bambang Tridjaja; Ari Prayitno; Yoga Devaera
Sari Pediatri Vol 23, No 6 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.6.2022.360-8

Abstract

Latar belakang. Pandemi Covid-19 memberikan dampak besar secara global, salah satunya di bidang pendidikan. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan). Remaja yang mengikuti sekolah daring lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar. Remaja juga merasa kesepian karena adanya pembatasan sosial sehingga mencari pelarian melalui internet. Hal ini menyebabkan semakin meningkatnya waktu di depan layar sehingga meningkatkan adiksi internet pada remaja.Tujuan. Mengetahui prevalens adiksi internet remaja di masa pandemi Covid-19 serta mengetahui hubungannya dengan beberapa faktor sosio-demografik. Metode. Penelitian potong lintang terhadap 332 siswa SMP/SMA/SMK/sederajat yang sedang menjalani sekolah daring, melalui pengisian kuesioner faktor sosio-demografik dan KDAI (kuesioner deteksi adiksi internet), dalam waktu 3 bulan (Maret-Juni 2021).Hasil. Prevalensi adiksi internet remaja sebanyak 29,8%. Faktor yang berhubungan dengan adiksi internet adalah waktu di depan layar untuk kegiatan hiburan ≥3 jam (p=0,001, adjusted OR 4,309, IK 95% 1,833-10,129) serta pengawasan orangtua yang buruk dalam penggunaan internet (p=0,037, adjusted OR 1,827, IK 95% 1,038-3,215). Kesimpulan. Tidak ada peningkatan prevalensi adiksi internet remaja di masa pandemi Covid-19. Variabel yang memiliki hubungan dengan adiksi internet adalah pengawasan orangtua yang buruk dan waktu depan layar untuk kegiatan hiburan ≥3 jam.
Co-Authors Abdul Latief Adam Adam Adantio Rashid Santoso Aditya, Clarissa J. Ahmad Suryawan Alim, Edward Goei Aman B. Pulungan Amin Soebandrio Andintia Aisyah Santoso Andy Martahan Andreas Angela BM Tulaar Anindya, Isti Ari Prayitno Ari Prayogo Aria Kekalih Ariani Dewi Widodo Ariyanto, Ibnu Agus Armeilia, Rilie Asmoko Resta Asrawati Nurdin Astri Adelia Astri Dewina Bambang Tridjaja AAP, Bambang Tridjaja Basrowi, Ray Wagiu Batubara, Jose Benjamin Ngatio Bernie Endyarni Medise Bintang Pratiwi Cathrine Cathrine Chandra, Dian Novita Christine Natalita Clarissa Josephine Aditya Corrie Wawolumaja Corrie Wawolumaya Corry Wawolumaya Corry Wawolumaya Darmawan, Anthony C. Dian Kusumadewi Dian Milasari Diana Adriani Banunaek Dwi Putro Widodo Dyah Tunjungsari Eleonora Mitaning Christy Elina Waiman Elisa Harlean Erick Wonggokusuma Eva Devita Harmoniati Evan Regar Faisal Adam Fathan, Fariz Dwi Ghifari Nurullah Gunawan, Talitha Dinda Hannisa Rizka Setiawati Hardiono Poesponegoro Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Helda Helda Helda Khusun Henry Riyanto Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hindra Irawan Satari Ika Citra Dewi Ikhsan Johnson Imam D Imam N Irene Audrey Davalynn Pane Irene Yuniar, Irene Jeane Roos Ticoalu Jenni Kim Dahliana Jose RL Batubara Jusuf Kristianto Kartjito, Melissa Stephanie Levina Chandra Khoe Lily Rahmawati Listya Tresnanti Mirtha M. Triadi Wijaya Maelissa P. Ririmasse Martin Hertanto Maulina Rachmasari Medise, Bernie E. Melyarna Putri MF Conny Tanjung Mirtha, Listya T. Munasir, Zakiuddin Nadya, Ruth Nahla Shihab Nashrul Ihsan Ninik Mudjihartini Nurdina, Nazlah Nuri Indahwati Nuri Purwito Adi Nycane Nycane oedjatmiko oedjatmiko Oktarina, Molly Dumakuri Olfriani, Ciho Pasiak, Taufiq Fredrik Praevilia M Salendu Pramesthi, Indriya Laras Prastya, Reza Wahyu Dwi Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia R.A. Deta Hanifah Ranto, Huminsa Ratna Djuwita Ray Wagiu Basrowi Retnaningdyah, Windri Ria Andreinie Rini Andriani Rini Mulia Sari Rismala Dewi Robert Sinto Ronny Suwento, Ronny Salma Oktaria Salsabila Yasmine Dyahputri Salsabila Yasmine Dyahputri Saptawati Bardosono Sarah Listyo Astuti Sari, Novika Purnama Siti Mirdhatillah Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sri Hartati R. Suradijono Sri Sukmaniah Sudung O Pardede, Sudung O Sukamto Koesnoe Sundjaya, Tonny Surapsari, Juwalita Suzy Maria Tazkya Amany Thjin Wiguna Tjhin Wiguna Triatmoko, Barkah Trinovita Andraini Tutik Ernawati Wahyuni Indawati, Wahyuni Wangke, Lydia Wasito, Erika Widjaja, Melanie William Cheng Wirahmadi, Angga Yoga Devaera Yulianti Wibowo Yuliarti, Klara Yusra Zakiudin Munasir