Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Kelimpahan Bakteri Coliform di Perairan Laut Celukanbawang, Provinsi Bali Firda Nurdiana; Pande Gde Sasmita Julyantoro; Endang Wulandari Suryaningtyas
Current Trends in Aquatic Science Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.729 KB)

Abstract

Pencemaran pada perairan laut merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh berbagai macam kegiatan yang menghasilkan limbah. Pencemaran dalam suatu perairan mempunyai hubungan dengan jenis dan jumlah mikroorganisme dalam perairan tersebut. Salah satu kelompok mikroorganisme yang sering digunakan sebagai indikator pencemaran perairan adalah bakteri kelompok Coliform. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan tersebut dengan mengukur kelimpahan bakteri Coliform di perairan laut Celukanbawang. Penelitian dilakukan pada bulan November 2018 dengan mengambil data dari 3 stasiun penelitian. Pengambilan sampel dilakukan saat musim kemarau dengan 3 kali pengulangan di setiap stasiun. Metode yang digunakan saat pengambilan sampel, yaitu purposive sampling. Parameter kualitas air yang diukur dalam penelitian ini meliputi suhu, pH, salinitas, DO, dan nitrat. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 16 Tahun 2016 mengenai Kriteria Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut dan Baku Mutu Air Laut Untuk Pariwisata dan Rekreasi (Mandi, Renang, dan Selam). Uji kelimpahan Coliform dilakukan dengan metode MPN (Most Probably Number). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri Coliform di stasiun 1 berkisar antara 3 MPN/100 ml-93 MPN/100 ml, stasiun 2 berkisar antara 7 MPN/100 ml-93 MPN/100 ml, dan stasiun 3 tidak ditemukan bakteri kelompok Coliform sama sekali. Hasil uji E. coli menunjukkan hasil 0 MPN/100 ml di semua stasiun penelitian. Hal ini mengindikasikan bahwa perairan laut Celukanbawang masih dalam keadaan baik sesuai dengan Pergub No. 16 tahun 2016 tersebut.
Perbandingan Struktur Komunitas Ophiuroidea pada Zona Intertidal di Perairan Pantai Segara Samuh dan Pantai Melasti, Badung, Bali Debi Bunga Novitasari; I Wayan Arthana; Endang Wulandari Suryaningtyas
Current Trends in Aquatic Science Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada perairan Pantai Segara Samuh dan Pantai Melasti, Badung, Bali pada bulan Januari hingga Maret 2018. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan struktur komunitas Ophiuroidea dan mengetahui kondisi fisika kimia perairan pada kedua pantai tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Di Pantai Segara Samuh ditemukan 5 spesies, sedangkan di Pantai Melasti ditemukan 6 spesies. Ophiocoma schoenlenii merupakan spesies yang hanya ditemukan pada Pantai Melasti. Berdasarkan hasil perhitungan, Kelimpahan total pada Pantai Segara Samuh sebesar 109,9 ind/m2 sedangkan Pantai Melasti sebesar 124,133 ind/m2. Nilai indeks keanekaragaman pada Pantai Segara Samuh sebesar 1,604 sedangkan Pantai Melasti sebesar 1,687. Berdasarkan kriteria indeks keanekaragaman Shannon-wiener, keanekaragaman Ophiiuroidea kedua pantai tersebut tergolong keanekaragaman sedang. Nilai indeks keseragaman pada Pantai Segara Samuh sebesar 0,997 sedangkan Pantai Melasti sebesar 0,941. Berdasarkan nilai tersebut, Pantai Segara Samuh dan Pantai Melasti tergolong dalam keseragaman tinggi yang mengacu pada Odum (1971). Nilai indeks dominansi pada Pantai Segara Samuh sebesar 0,202 sedangkan pada Pantai Melasti sebesar 0,194. Berdasarkan kriteria nilai indeks dominansi Simpson (1949), kedua pantai tersebut memiliki nilai dominansi tergolong rendah. Hasil pengukuran kualitas air di perairan Pantai Segara Samuh berkisar 7,7 (pH); 5,5-56 mg/L (DO); 30-30,8 ppt (salinitas); dan 29,6-30oC (suhu). Sementara untuk perairan pantai Melasti berkisar 7,5-7,7 (pH); 5,6-5,7 mg/L (DO); 29,3-30 ppt (salinitas); dan 29,6-30,5oC (suhu). Perairan pada kedua pantai tersebut tergolong optimal bagi pertumbuhan Ophiuroidea. Substrat pada kedua pantai dimana Ophiuroidea ditemukan berupa pasir berkarang, pasir, karang dan pecahan karang.
Uji Tantang Bakteri Vibrio harveyi Pada Pasca Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Ni Putu Tika Lestari; Pande Gde Sasmita Julyantoro; Endang Wulandari Suryaningtyas
Current Trends in Aquatic Science Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.113 KB) | DOI: 10.24843/CTAS.2018.v01.i01.p15

Abstract

This research aims to determine the survival of Litopenaeus vannamei post larvae when challenged with various density of pathogenic Vibrio harveyi. The L. vannamei post larvae used in this study was obtained from Vannamei Broodstock Center BPIUUK, Karangasem Bali. This research was conducted for two months, from April to May 2018 in fishery laboratory, Faculty of Marine Science and Fisheries, Udayana University by using complete randomized experimental design with four different V. harveyi density and three times repetitions. The study showed that the higher density of pathogenic V. harveyi resulted on the lower survival of L. vannamei post larvae. The highest density of V. harveyi 107 CFU/mL in treatment D resulted on 53±5.77% post larvae survival, while treatment A as control without addition of V. harveyi was still has survival of 100±0.00% at the end of experiment. The density 105 CFU/mL of V. harveyi (Treatment B) seems able to be tolerated by L. vannamei post larvae since the shrimp was still have high survival at this V. harveyi density. Further both V. harveyi density of 106 CFU/mL and 107 CFU/mL were not able to tolerated by the shrimp post larvae and lead to the high shrimp mortality. Although affected on shrimp survival, addition of V. harveyi have no significant effect to the weight of shrimp post larvae between treatments.
Identifikasi dan Intensitas Rocinela sp. Pada Ikan Kerapu di Pantai Kedonganan, Jimbaran, Bali Ni Luh Ayu Trisnayanti; I Made Damriyasa; Endang Wulandari Suryaningtyas
Current Trends in Aquatic Science Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.134 KB)

Abstract

This research was aims to determine the intensity level of Rocinela sp. in groupers. Grouper fish samples were taken at Kedonganan Beach, Jimbaran, Bali. Grouper fish is a type of fish that lives around coral reefs, that have a high economic value. Grouper fish sampling was done randomly method, so that the length and weight of the grouper samples used will be more diverse. Fish samples obtained at Kedonganan Beach will be excamine for parasites at the Fisheries Laboratory, Marine and Fisheries Faculty, Udayana University. The grouper samples observed in this study were 40 individuals. The type of parasite found in grouper is Rocinela sp. This parasite belongs to the order of Isopoda which is a type of ectoparasite that attacks fish. Ectoparasites are a type of parasite that infects the outside of a fish's body, such as the gills, mouth, eyes, and operculum. Ectoparasites can cause damage and impaired function in the infected organ. Based on the results of the study found Rocinel sp. in 26 fish sampled with a total number of parasites of 28 individuals. Most of these parasites were found in the gills with a percentage of 92.6% and some were found in the operculum with a percentage of 7.4%. The intensity value of parasitic Rocinela sp. that is 1,067, this value indicates infection of Rocinela sp. which is low in grouper fish at Kedonganan Beach, Jimbaran, Bali.
Pengaruh Kadar Protein Pakan yang Berbeda terhadap Laju Pertumbuhan Juvenil Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) pada Kolam Terpal Gede Bayu Sulastika; I Wayan Restu; Endang Wulandari Suryaningtyas
Current Trends in Aquatic Science Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.612 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan harian/Specific Growth Rate (SGR) juvenil ikan gurami, rasio konversi pakan/Feed Convertion Ratio (FCR) dan efisiensi pakan, serta tingkat kelangsungan hidup/Survival Rate (SR) juvenil ikan gurami yang diberi pakan komersil, pakan tepung ikan, dan campuran pakan tepung ikan dengan tepung kangkung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap terdiri dari tiga perlakuan dan tiga kali ulangan, dan pengambilan sampel dengan teknik Simple Random Sampling. Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu Perlakuan A adalah pakan komersil, perlakuan B adalah pakan buatan dengan formulasi pakan tepung ikan 50%, tepung jagung 20%, tepung kedelai 10%, dan minyak ikan 20%, terakhir perlakuan C adalah pakan buatan dengan formulasi tepung ikan 5%, tepung jagung 10%, tepung kedelai 5%, tepung kangkung 50%, dan minyak ikan 30%. Berdasarkan hasil penelitian selama 60 hari didapatkan nilai pertumbuhan berat mutlak tertinggi pada perlakuan C sebesar 0.86 gram, nilai laju pertumbuhan harian tertinggi yaitu pada perlakuan C sebesar 3.40%, nilai rasio konversi pakan terbaik pada perlakuan C sebesar 1 : 2.3, nilai efisiensi pakan terbaik pada perlakuan C sebesar 43.57%, dan nilai tingkat kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan C sebesar 79%.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TERDAMPAK COVID 19 MELALUI USAHA BUDIDAYA LELE PADA LAHAN PERKEBUNAN DI DESA GALUNGAN, BULELENG D.A.A. Pebriani; I.K.W. Negara; N.P.P. Wijayanti; E.W. Suryaningtyas; M.A. Pratiwi
Buletin Udayana Mengabdi Vol 21 No 2 (2022): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.253 KB) | DOI: 10.24843/BUM.2022.v21.i02.p08

Abstract

The existence of COVID-19 has had a very large impact on economic conditions throughout the world, one of the business fields that has been greatly affected by this pandemic is the business sector of tourism activities. Until now, people in the Province of Bali have relied heavily on businesses in the tourism sector, which directly experienced a tremendous impact due to economic shocks, so that this condition resulted in several people who depended on tourism for their livelihoods choosing to return to their home villages due to layoffs or losses due to business. which is not profitable. Buleleng Regency has an area of ??1,365.88 km² or 24.25% of the island of Bali, so it has the largest land and water area in the Province of Bali. There are many activities that can be used as a source of livelihood during this pandemic, one of which is fish farming. Catfish farming is one of the activities of choice in the midst of this pandemic because it is practical and productive. Practical because it is easy to apply and can even use plantation land as a location for cultivation and produce because the harvest can not only be consumed by cultivators but can also be sold which of course provides economic value. The purpose of this service activity is to provide solutions to problems of economic opportunity for communities affected by COVID-19 and the use of plantation land for catfish cultivation with the application of round tarpaulin ponds, so as not to interfere with the main commodities of the plantation land. Tarpaulin ponds are one solution for the development of catfish cultivation on plantation land so that the land, in addition to getting production from its main commodity, also gets additional results from catfish production. The service activity took place on August 21, 2021 in Galungan Village by involving the community starting from the preparation, implementation, and evaluation stages. The community was very enthusiastic about following the presentation from Mr. Dr. Pande Gde Sasmita Julyantoro, S.Si., M.Si and Mr. Nyoman Agus Sudarta, S.Pi, judging by the feedback given by the community in the form of questions related to catfish farming using tarpaulin ponds. Keywords: aquaculture method, catfish (Clarias sp.), community empowerment, Galungan Village.
Korelasi Jenis Kelamin Ikan dengan Jumlah Endoparasit pada Ikan Layur (Trichiurus lepturus) yang diperdagangkan di Pasar Ikan Kedonganan, Bali Ni Luh Putu Ayu Puspita Dewi; Pande Gde Sasmita Julyantoro; Ni Putu Putri Wijayanti; Endang Wulandari Suryaningtyas
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 23 No 2 (2023)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/blje.2023.v23.i02.p10

Abstract

Swordfish (Trichiurus lepturus) with the local name Layur is one of the demersal fish commodities that has high economic value because it is an export commodity with high omega 3 content.. The high demand for layur fish must be supported by good fish quality and quality. The quality control is needed related to fish diseases, one of which is fish parasites. Endoparasite infection in marine fish can be zoonotic and dangerous if consumed by humans. This research was conducted to determine the intensity, prevalence, abundance and correlation of fish sex with the number of endoparasites. The research sample was obtained from the Kedonganan Fish Market, Bali which was held from September 2022 to November 2022. The sampling method was carried out by purposive sampling by paying attention to the secondary sexual characteristics of the swordfish. The total sample of fish examined was 36 fish consisting of 18 male fish and 18 female fish. Endoparasites of the genus Acanthobothrium were parasites with the highest intensity and abundance values, namely 46.05 ind./fish and 28.14 ind./fish, while the highest prevalence value was obtained from the Genus Lecithochirium of 86.11%. The correlation between fish sex and the number of endoparasites was analyzed using the Mann – Whitney test with an Asymp value. Sig 0.506 and Z value -0.665. These results showed an insignificant relationship (p > 0.05) between the sex of the fish and the number of endoparasites in the whitefish that were sampled in this study. Keywords: Endoparasites; Gender; Number of Parasites; Trichiurus lepturus
EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH UNTUK PENGOBATAN INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN SIDAT Anguilla bicolor DITINJAU DARI PERUBAHAN HEMATOLOGI Endang Wulandari Suryaningtyas; Alfi Hermawati Waskita Sari
Jurnal Perikanan Unram Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v7i2.65

Abstract

Ikan sidat (Anguilla sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan Indonesia berskala intemasional dan merupakan komoditas ekonomi tinggi karena mempunyai kandungan protein tinggi sehingga menjadi daya tarik bagi para konsumen. Pasokan benih sidat masih tergantung pada hasil penangkapan di alam, sehingga terjadi ke­ terbatasan dalam kontinuitas. Kondisi tersebut diperparah dengan infeksi bakteri patogen, khususnya aeromonas hydrophila yang menyebabkan angka kematian tinggi pada budidaya sidat. Upaya untuk mencegah dan me­ nanggulangi serangan bakteri A. hydrophila pada kegiatan budidaya ikan sidat dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami yang aman dan ramah lingkungan seperti bawang putih, yang mengandung zat aktif allicin dan minyak atsiri yang dapat membunuh bakteri merugikan. Pada penelitian ini digunakan ekstrak bawang putih sebagai pengobatan infeksi bakteri aeromonas hydrophila dengan dosis yang berbeda, yaitu Perlakuan 1 sebesar 15 mg/ml, Perlakuan 2 sebesar 25 mg/ml dan Perlakuan 3 sebesar 35 mg/ml dengan cara disuntikkan pada intramuskuler. Ikan yang terinfeksi patogen akan terjadi perubahan pada darahnya, melalui pemeriksaan hematologi dapat dijadikan salah satu cara untuk membantu diagnosa penyakit dan mengetahui proses penyembuhan pada ikan secara efektif. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan hematologi ikan sidat yang terinfeksi bakteri aeromonas hydrophila, yaitu terjadi penurunan jumlah eritrosit, penurunan kadar hemoglobin, peningkatan jumlah leukosit dan peningkatan kadar hematokrit. Perubahan hematologi menunjukkan terjadin­ ya perubahan fisiologis ikan. Berdasarkan hasil uji F (Anova) membuktikan bahwa pengobatan menggunakan ekstrak bawang putih dengan dosis 15 mg/ml, 25 mg/ml dan 35 mg/ml berpengaruh secara nyata (signifikan) terhadap jumlah leukosit, eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit ikan sidat (p<O,05). Namun perlakuan ekstrak bawang putih sebesar 15 mg/ml, 25 mg/ml, 3S mg/ml berbeda secara nyata dengan kontrol positif dan kontrol negatif dalam mempengaruhi jumlah leukosit, jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan kadar hematokrit.
GROWTH ASPECT OF FRIGATE TUNA (Auxis thazard Lacepède, 1800) IN KUSAMBA WATERS IN EAST SEASON Made Ayu Pratiwi; Endang Wulandari Suryaningtyas
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 1 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i1.275

Abstract

Ikan Tongkol Krai atau frigate tuna (Auxis thazard) merupakan sumberdaya ikan pelagis dan neritik, memiliki ukuran maksimum hingga 65 cm (Fishbase, 2022). Di Bali Ikan Tongkol Krai ditemukan di perairan karangasem (Grati et al., 2017) ; (Putra et al., 2020) ; perairan kusamba (Luh et al., 2021); dan perairan kedonganan (Ayu Pratiwi et al., 2020). enelitian ini bertujuan untuk menduga pola pertumbuhan dan parameter pertumbuhan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Perairan Kusamba. Sebanyak 121 sampel Auxis thazard diamat setiap ±14 hari sekali pada Bulan Juni sampai Agutus di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kusamba. Pertumbuhan diduga dengan program ELEFAN pada software FISAT (FAO I-CLARM Stock Assesment Tools). Ukuran panjang minimum dan maksimum Ikan Tongkol Krai jantan berkisar antara  33.2-44.0 cmFL, sedangkan Ikan Tongkol Krai betina berkisar antara 31.4-40.8 cmFL. Pola pertumbuhan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Perairan Kusamba berbeda antara jantan dan betina, yaitu bersifat allometrik positif pada ikan jantan dan allometrik negatif pada ikan betina. Allometrik positif dapat diartikan bahwa pertambahan bobot lebih cepat daripada pertambahan panjang, sedangkan allometrik negative diartikan bahwa pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan bobot. persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy Ikan Tongkol Krai di perairan Kusamba yaitu Lt = 50.00 [1-e-0.31(t+0.4658)] dengan nilai panjang asimtotik Ikan Tongkol Krai sebesar 50.00 cmFL; koefisien pertumbuhan sebesar 0.31/tahun; dan umur saat panjang sama dengan 0 sebesar -0.4658.
Impact of Implementing Ex-Foreign Ship Moratorium Policy on Tuna Fishing Business in Benoa, Bali I Ketut Wija Negara; Pande Gde Sasmita Julyantoro; Endang Wulandari Suryaningtyas; Made Ayu Pratiwi; Salman Mokoginta; Nu&#039;man Najib; John Lynham
Advances in Tropical Biodiversity and Environmental Sciences Vol. 8 No. 1 (2024): February 2024: Pages 1-57
Publisher : Institute for Research and Community Services Udayana University (LP2M Universitas Udayana)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ATBES.2024.v08.i01.p01

Abstract

Regulation of the Minister of Maritime Affairs and Fisheries number 56 of 2014 and Regulation of the Minister of Maritime Affairs and Fisheries number 10 of 2015 help realize responsible fisheries management and combat Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing in Fisheries Management Area of ​​the Republic of Indonesia (WPP NRI). The policy of temporarily stopping permits (moratorium) for ships manufactured overseas (ex-foreign vessels) directly impacts fishermen working on ex-foreign vessels in the form of reduced income to loss of livelihoods. The research used a retrospective approach where policy analysis is carried out on the consequences of a policy after the policy is implemented. It is usually referred to as an evaluative analysis model, so it is expected to produce information that can improve the quality of the policies implemented by the government. The study aimed to determine the moratorium's impact on capture fisheries licensing on business activities, especially on fishing effort, catch per unit effort (CPUE), and socioeconomic conditions of fisheries at Benoa Harbor, Bali. This research was conducted from March to October 2022 in the Benoa Harbor Area, Bali. The data in this study were obtained from observation, interviews, questionnaires, and literature/document studies. The moratorium policy for ex-foreign vessels, followed by a ban on transshipment, significantly changed the pattern of trade, particularly for tuna, which was dominated initially by fresh tuna to frozen tuna with a lower value. The longline catches are dominated by Thunnus alalunga, followed by Thunnus maccoyii, Thunnus albacares, and Thunnus obesus. The total of ships in 2014 was 915 units, and only 246 ships remained in 2018. The significant decrease in fish landings in 2015-2017 is a real impact of the moratorium on ex-foreigners in Benoa. The results of the data analysis show that in 2014 the number of attempts was 2,264, which continued to decline until 2018, with only 697 trips.