Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Desain Jaringan Komunikasi Lte Untuk Penumpang Kereta Cepat 140 Km/jam Jakarta-surabaya Jalur Cirebon – Pekalongan Nia Soniyanti; Erna Sri Sugesti; Rina Pudji Astuti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) penggunaan kereta untuk perjalanan jauh menjadi pilihan utama untuk masyarakat karena biaya yang murah dan tepat waktu. Indonesia akan membangun sarana transportasi kereta cepat pada rute Jakarta – Surabaya dengan kecepatan 140 km/jam pada frekuensi 900 MHz. Namun, sisi negatif ketika berada di dalam kereta cepat, delay yang tinggi menyebabkan packet loss yang sangat besar. Demi menunjang kenyamanan penumpang selama melakukan komunikasi dalam perjalanan dilakukan penelitian agar terpenuhinya Quality of Service (QoS) pada kereta cepat dengan delay maksimal ≤ 40 ms. Metode yang digunakan yaitu coverage dan capacity planning menggunakan network dimensioning dan perhitungan jarak maksimum coverage untuk mengakumulasi jumlah site serta kapasitas tiap site yang diperlukan dan melakukan simulasi. Untuk perhitungan delay total menggunakan simulator delay. Simulasi jaringan microcell LTE dengan memperhitungkan letak eNodeB existing dan RRU extend yang dikhususkan untuk jalur kereta cepat dengan memperhatikan delay, throughput, SINR, RSRP dan overlapping Berdasarkan simulasi dan perhitungan diperoleh delay total sistem yaitu sebesar 38,6287 ms dan delay handover 20 ms. Nilai overlapping 1483 m dengan persentase coverage total area yang didapat yaitu 37,07%. Perancangan dengan adanya eNodeB existing menghasilkan RSRP -62,88 dBm, nilai SINR 8,96 dan jumlah site 37. Perancangan yang tidak memakai eNodeB existing memiliki hasil RSRP -64,81 dBm, SINR sebesar 8,74 dB dan jumlah site 38. Perancangan ini dikatakan layak karena memenuhi persyaratan LTE kereta cepat dimana delay total ≤ 40 ms dan kualitas jaringan memenuhi standar KPI Telkomsel. Kata Kunci: Delay, Handover, Overlapping, LTE, Kereta Cepat Abstract As stated by Badan Pusat Statistik (BPS), long distance travel by train become a first choice for the community because of the safety, low cost and right on time schedule. Indonesia will build high speed train facilities on the Jakarta - Surabaya route with speed 140 km/h at 900 MHz frequency. However, there is a disadvantage when on a high speed train, high latency lead to huge packet loss. In order to provide comfort for passenger during communication, thus a research is conducted on high speed train with maximum allowed delay ≤ 40 ms. Method that used during the research included the design of coverage areas and capacity planning using network dimensioning, which is a method for accumulating the number of sites and the capacity of each site needed. Performing simulation and calculating the total delay using a delay simulator. Simulation network of the LTE communication by taking coordinate existing eNodeB and RRU extend which are specifically for high speed train without neglecting to delay, throughput, SINR, RSRP and overlapping. Based on the simulation and calculation, the total system delay is 38.6287 ms and the handover delay is 20 ms. The value of overlapping is 1483 m with the percentage of total coverage area obtained is 37.07%. Network design that used existing RRU produced RSRP -62.88 dBm, SINR 8.96 and amount of sites are 37. Design that did not use the existing RRU has result RSRP -63.43 dBm, SINR values of 8.74 dB and make 38 sites. This design is feasible, because it meets the requirements of LTE high speed train where total delay ≤ 40 ms and network quality meet requirements Telkomsel KPI Keywords: Delay, Handover, Overlapping, LTE, High Speed Train
Analisis Reliabilitas Access Point Pada Jaringan Wlan 802.11n Untuk Kereta Cepat Jakarta-surabaya Inda Izzatin Tujza; Erna Sri Sugesti; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kereta merupakan transportasi yang paling banyak digunakan untuk proses mobilisasi pekerja dari satu kota ke kota lainnya. Hal ini disebabkan laju kereta yang cepat sehingga waktu perjalanan menjadi lebih singkat. Efisiensi waktu selama perjalanan sangat dibutuhkan agar tetap produktif, khususnya bagi pekerja yang membutuhkan layanan internet. Pengadaan layanan internet dikereta perlu mempertimbangkan faktor reliabilitas baik dari aspek fisik maupun jaringan. Penelitian ini melakukan analisis terhadap reliabilitas access point dari aspek fisik dan jaringan. Analisis aspek fisik dilakukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh IEC 60077, sedangkan analisis pada aspek jaringan dilakukan berdasarkan nilai QoS yang dimiliki setiap access point. Skenario pengujian QoS dilakukan dengan meletekan access point ditengah gerbong kereta, dengan jumlah user 20, 30, 40, dan 52. Simulasi QoS dilakukan menggunakan Network Simulator 3.26 dengan memasukkan parameter tambahan berupa redaman sebesar 17 dB sebagai akibat yang ditimbulkan dari material pada gerbong kereta. Berdasarkan dua aspek tersebut, dapat diketahui bahwa access point terbaik jika ditinjau dari faktor nilai stres dan reliabilitas yaitu Huawei AP9131DN dengan nilai stres sebesar 125 dan reliabilitas sebesar 99.99921875%. apabila ditinjau dari faktor QoS, access point terbaik yaitu Teldat APR222n dengan nilai throughput sebesar 43.8059275 kbps, nilai delay sebesar 74.41269 ms, dan nilai jitter sebesar 7.27849 ns. Kata kunci : Reliabilitas, Stres, Access Point, Delay, Jitter, Throughput, Packet Loss Abstract Train is the most widely used transportation for the process of mobilizing workers from one city to another. This becomes even shorter. Time efficiency during the trip is needed so that it remains productive, especially for workers who need internet service. The procurement of internet services must consider the reliability factors from physical and network aspects. This research analyzes the reliability of access points from physical and network aspects. Analysis of physical aspects is carried out based on the criteria determined by IEC 60077, while analysis on the aspect of the network is carried out based on the QoS values required for each access point. The QoS testing scenario is done by erupting the access point in the middle of the train car, with a number of users 20, 30, 40, and 52. QoS simulations are carried out using Network Simulator 3.26 using parameters adding attenuation of 17 dB as a result of material on the train cars. Based on these two aspects, the best access point can be known if viewed from the stress and reliability value factors, namely Huawei AP9131DN with a stress value of 125 and reliability of 99.99921875%. It is estimated that in terms of the QoS factor, the best access point is Teldat APR222n with a throughput value of 43.8059275 kbps, a delay value of 74.41269 ms, and a jitter value of 7.27849 ns . Keywords: Reliability, Stress, Access Point, Delay, Jitter, Throughput, Packet Loss
Desain Server-gateway Jaringan Wi-fi 802.11n Untuk Layanan Komunikasi Lte Di Kereta Cepat Jakarta-surabaya Yoslie Yoslie; Erna Sri Sugesti; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak BPS Indonesia menyatakan pertumbuhan transportasi darat tertinggi wilayah pulau Jawa 2012-2016 adalah kereta api. PT Kereta Api Indonesia belum menyediakan layanan Internet di dalam kereta. Penelitian ini merancang jaringan Wi-Fi pada kereta cepat Jakarta-Surabaya menggunakan standar IEEE 802.11n. Pada jaringan tersebut terdapat server yang berfungsi menampung trafik user, serta menghubungkan jaringan internal (di dalam kereta) dan jaringan eksternal (di luar kereta). Pada jaringan server-gateway diperlukan scheduling untuk mengatur lalu lintas trafik user. Simulasi jaringan dilakukan menggunakan software NS-3. Parameter QoS yang digunakan adalah throughput, delay, dan packet loss, untuk layanan video streaming. Pengujian jaringan internal dilakukan bertahap 1-5 gerbong penumpang, menggunakan scheduling 10 ms, 100 ms, 250 ms, dan 500 ms. Pengujian jaringan eksternal dilakukan dengan membandingkan data simulasi dengan perhitungan menggunakan metode capacity planning. Pengujian 1 gerbong penumpang memperoleh throughput rata-rata user 0,426 Mbps, mendekati hasil perhitungan bandwidth yaitu 0,487 Mbps. Semakin banyak jumlah user maka throughput jaringan akan berkurang, dan semakin lama scheduling yang digunakan, delay-nya akan semakin tinggi. Pengujian scheduling 100 ms memiliki throughput yang relatif lebih stabil dan packet loss yang lelih rendah dibandingkan scheduling 10 ms, tetapi memiliki delay yang lebih tinggi. Pada simulasi jaringan eksternal kondisi terpadat, throughput pada sisi downlink 34,24036 Mbps, mendekati hasil perhitungan yaitu 36,39212 Mbps, kemudian delay yang diperoleh memenuhi standar yang digunakan yaitu 40 ms. Kata kunci: Wi-Fi, server, scheduling, kereta cepat Abstract BPS Indonesia states that the highest growth of land transportation in the Java region 2012-2016 is trains. PT Kereta Api Indonesia has not provided Internet services on the train. This Final Project designed a Wi-Fi network on the Jakarta-Surabaya fast train using the IEEE 802.11n standard. On the network there is a server that functions to accommodate user traffic, and connects internal networks (on the train) and external networks (outside the train). In the network servers, scheduling is needed to regulate user traffic. Network simulation is done using NS-3 software. The QoS parameters used are throughput, delay, and packet loss, for video streaming services. Internal network testing is done in phases of 1-5 carriage, using scheduling 10 ms, 100 ms, 250 ms, and 500 ms. External network testing is done by comparing simulation data with calculations using the capacity planning method. Testing of 1 carriage has a user average throughput of 0.426 Mbps, approaching the result of bandwidth calculation which is 0.487 Mbps. The more number of users, the network throughput will decrease, and the longer the scheduling is used, the delay will be higher. Testing scheduling 100 ms has relatively more stable throughput and low packet loss compared to scheduling 10 ms, but has a higher delay. In the simulation of the worst case on external network, the throughput on the downlink side is 34.24036 Mbps, meets the calculation result of 36.39212 Mbps, then the delay obtained meets the standard used which is 40 ms. Keywords: Wi-Fi, server, scheduling, high speed train
Perancangan Jaringan Serat Optik Untuk Komunikasi Lte Penumpang Pada Kereta Cepat Jakarta-surabaya Sub Jakarta-cirebon Argymnasthiar Ramadhana; Erna Sri Sugesti; Rina Pudji Astuti
eProceedings of Engineering Vol 9, No 2 (2022): April 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak BPS (Badan Pusat Statistik) menyampaikan bahwa jumlah penumpang sepanjang 2020 mengalami penurunan karena pandemi Covid-19 yang terus meningkat, jumlah penumpang kereta untuk Jabodetabek sebanyak 154,591 (ribu) penumpang dan non-jabodetabek sebanyak 28,805 (ribu). Pada teknologi backbone optik dapat digunakan pada (SDH) Synchronous Digital Hierarchy STM-64 DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing), teknologi jaringan akses menggunakan XG-PON, dan teknologi core network LTE (Long Term Evolution) menggunakan EPC. Rancangan yang dibuat berupa dengan parameter delay, power link budget, Q-factor, rise-time, SNR, dan BER dengan ketentuan standar ITU-T G.987, ITU-T G696.1 DAN 3GPP TS23.203. Hasil perancangan membutuhkan satu EPC di Jakarta. Delay pada link sisi Downstream 1.569633952 ms. Link downstream didapat pada link STO Pagaden – Site 26_KROYAML dengan LPB sebesar -19.83 dBm, Q-factor 8,960069158, BER 1,64x10-19 dan RTB 0,046097749 ns. Untuk link upstream total delay yang didapat adalah 1.569123599 ms, LPB terendah didapat pada site tambahan 14 - STO CIKINI dengan LPB sebesar -19,62 dBm, Q-factor 6.76041511, BER 1,02x10-12, dan RTB 0.046097724. Dan link backbone terendah LPB -23,67 dBm, Q-factor 11,08921015, BER 7,133x10-29, dan RTB 0.044821906 ns. Kata Kunci: LTE (Long Term Evolution), Backhaul, Backbone, EPC, XG-PON, DWDM. Abstract BPS (Central Statistics Agency) said that the number of passengers throughout 2020 experienced a decline due to the increasing the Covid-19 pandemic, the number of train passengers for Jabodetabek was 154,591 (thousand) passengers and non-Jabodetabek were 28.805 (thousand).Optical backbone technology can be used on (SDH) Synchronous Digital Hierarchy STM-64 DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing), access network technology using XG-PON, and LTE (Long Term Evolution) core network technology using EPC. The design is made with parameters of delay, power link budget, Q-factor, risetime, SNR, and BER with the standard provisions of ITU-T G.987, ITU-T G696.1 AND 3GPP TS23,203.The design require one EPC in Jakarta. Delay on Downstream side link of 1.569633952 ms. The downstream link is obtained at the STO Pagaden – Site 26_KROYAML with LPB of -19,83 dBm, Q-factor 8.960069158, BER 1.64x10-19 and RTB 0.046097749 ns. For upstream link, total delay obtained is 1.569123599 ms, lowest LPB is obtained at additional site 14 - STO CIKINI with LPB of -19,62 dBm, Q-factor 6.76041511, BER 1.02x10-12, and RTB 0.046097724. And lowest backbone link, LPB is -23,67 dBm, Q-factor is 11.08921015, BER is 7.133x10-29, and RTB is 0.044821906 ns. Keywords: LTE (Long Term Evolution), Backhaul, Backbone, EPC, XG-PON, DWDM
Feasibility Study On Igg Network Development In The Sangatta & Mangkajang Branching Unit Using Mp?s Bima Kurnia Marahsakti A. Karel; Erna Sri Sugesti; Ahmad Tri Hanuranto
eProceedings of Engineering Vol 7, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The province of East Kalimantan has good market potential, due to the relocation of Indonesia’s capital city to East Kalimantan. Based on the results of population projections, it is estimated that in 2040 the population in East Kalimantan will reach 189.917.791 inhabitants. Unfortunately, there is only one landing station that connects East Kalimantan with the internet network, the Balikpapan landing station. This study conducted an analysis of the placement of landing station based on potential internet users, geographical conditions, network feasibility based on the value of Bit Error Rate (BER), Quality Factor (Q-Factor), Power Received, and business feasibility by the Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), and Payback Period (PBP). The technical simulation result showed BER value 3,94E-32, Q-Factor 11,7147, and power received -18,8614 dBm. Besides, for Capital Budgeting simulation results show that it takes 4 years 3 months for the PBP, NPV > 0 and, IRR of 31 %. Keywords: Submarine Cable Network, Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period, Indonesia Global Gateway (IGG).
Analisis Perancangan Jaringan Backhaul Serat Optik Untuk Layanan Komunikasi Lte Penumpang Kereta Cepat Jakarta-surabaya Sub Pekalongan-cepu Joses Steven Tarigan; Erna Sri Sugesti; Rina Pudji Astuti
eProceedings of Engineering Vol 9, No 2 (2022): April 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kereta api merupakan salah satu moda transpotasi massal yang sangat digemari masyarakat daripada transportasi lainnya karena biaya yang relatif murah, nyaman dan sesuai waktu. Oleh sebab itu, Indonesia akan membangun sarana transportasi kereta cepat pada rute Jakarta – Surabaya dengan kecepatan 140 km/jam pada frekuensi 900 Mhz. Pada teknologi backbone optik dapat digunakan pada SDH (Synchronous Digital Hierarchy) STM-64 DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing), teknologi jaringan akses menggunakan XG-PON, dan teknologi core network LTE (Long Term Evolution) menggunakan EPC. Rancangan yang dibuat berupa dengan parameter delay, power link budget, Q-factor, rise-time, SNR, DAN BER dengan ketentuan standar ITU-T G.987, ITU-T G696.1 DAN 3GPP TS23.203. Parameter delay pada link terjauh downstream yaitu 2,12274208 ms, sedangkan pada sisi upstream 2,12271064 ms. Parameter terendah LPB pada sisi dowstream bernilai -24,421 dBm, Q-factor 5,8221, BER 2,99 x 10-9 , dan RTB 0,046097796 ns. Nilai parameter terendah pada link akses upstream LPB -24,896 dBm, Q-factor 5,669152517, BER 7,39 x 10-9 dan RTB 0,046097843 ns. Pada sisi backbone nilai terendah LPB -26,09, Q-factor 6,425875721, BER 6,71 x 10-11, dan RTB 0,046098000 ns. Kata Kunci: Backhaul, LTE (Long Term Evolution), XGPON (10-Gigabit Passive Optical Network), STM-64 Abstract The train is one of the most popular public transportation than other transportation. because the costs are relatively cheap, convenient and timely. Therefore, Indonesia will build fast train transportation facility on the Jakarta - Surabaya route with a speed of 140 km/hour at a frequency of 900 MHz. Optical backbone technology can be used in Synchronous Digital Hierarchy (SDH) STM-64 Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), access network technology using XG-PON and LTE (Long Term Evolution) core network technology using EPC. The design is made with parameters delay, power link budget, Q-factor, rise-time, SNR, AND BER with standard provisions of ITU-T G.987, ITU-T G696.1 AND 3GPP TS23,203. Delay parameter on the farthest downstream link which is ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.9, No.2 April 2022 | Page 331 2.12274208 ms, while on upstream side is 2.12271064 ms. The lowest parameter of LPB on dowstream side is -24,421 dBm, Q-factor 5.8221, BER 2.99 x 10-9, and RTB 0.046097796 ns. The lowest parameter value on LPB upstream access link is -24,896 dBm, Q-factor 5.669152517, BER 7.39 x 10-9 and RTB 0.046097843 ns. On the backbone side, the lowest value is LPB -26.09, Q-factor 6.425875721, BER 6.71 x 10-11, and RTB 0.046098000 ns. Keywords: Backhaul, LTE (Long Term Evolution), XGPON (10-Gigabit Passive Optical Network), STM64
Peningkatan pH Air Hujan Menjadi pH 7 Pada Storage Rain Water Harvesting Menggunakan Besi Elektroda Rasyad, Al Adri Sarwan; Kurniawan, Ekki; Sugesti, Erna Sri
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan sumber daya yang penting bagi semua makhluk hidup, manusia, hewan dan tumbuhan. Air sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari seperti minum, mandi, memasak, kebutuhan industri. Oleh karena itu, air harus tetap ada untuk kelangsungan hidup. Menurut BMKG, pH ideal air hujan biasanya 5,6 - 6. Air dengan nilai pH 5,6 - 6 tidak cocok untuk aktivitas manusia 24 jam sehari - hari Air di reservoir kemudian diolah dalam sistem elektrolisis dengan pH 5,6-6. Sistem elektrolitik adalah reaksi dekomposisi dalam larutan elektrolit di bawah pengaruh arus listrik. Air yang diolah dengan sistem elektrolisis mengubah pH menjadi 7, yang cocok untuk penggunaan sehari-hari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah air hujan dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari setelah proses elektrolisis dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya banjir. Pengguna dapat dengan mudah memeriksa kondisi air karena sistem pemantauan pH dan kekeruhan air digunakan, yang memungkinkan pengguna untuk secara teratur memeriksa tingkat pH air dan kekeruhan air.Kata Kunci : Air Hujan, Kadar pH, Alat, Elektrolisis.
Sistem Pv Untuk Peningkatan Ph Air Hujan Di Storage Rain Water Harvesting Menjadi Air Siap Pakai Wardhana, Rifad Aritz; Kurniawan, Ekki; Sugesti, Erna Sri
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Panel Surya merupakan peralatan pembangkit listrik yang dapat mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Panel surya adalah perangkat semikonduktor area luas yang terdiri dari susunan dioda tipe p dan n. Panel surya juga sering juga disebut Solar Cell, atau Solar Photovoltaic, atau Solar Energy. Dengan konsep yang sederhana yaitu mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik yang mana cahaya matahari adalah salah satu bentuk energi dari Sumber Daya Alam. Cahaya matahari sudah banyak digunakan untuk memasok daya listrik di satelit komunikasi melalui sel surya. Sel surya ini dapat menghasilkan energi yang tidak terbatas langsung diambil dari matahari, tidak memerlukan bahan bakar. Sehingga sel surya sering dikatakan bersih dan ramah lingkungan.Kata Kunci : Panel Surya, Solar Cell, Photovoltaic
Penggunaan Sensor Ph dan Turbidity pada Peningkatan Ph Air Hujan di Storage Rain Water Harvesting Menjadi Air Siap Pakai Charles, Rendy Elisa; Kurniawan, Ekki; Sugesti, Erna Sri
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan curah hujan yang terbilang cukup tinggi. Rata-rata curah hujan di Indonesia berkisar antara 2.000 – 3.000 mm per tahun. Potensi air hujan yang begitu besar belum termanfaatkan dengan baik. Air hujan dapat menjadi sumber air yang menyegerkan dan aman untuk digunakan dalam keperluan sehari – hari. Namun, air hujan di Indonesia belum dapat langsung digunakan untuk keperluan sehari – hari. Dikarenakan, kadar pH air hujan di Indonesia mencapai 5.6 – 6 dan faktor kekeruhan air hujan yang turun dapat mengandung debu atau zat – zat yang berasal dari daun – daun atau pohon yang ada. Dimana pH tersebut masih tergolong sebagai pH ideal air hujan dan belum layak digunakan untuk aktifitas manusia sehari – hari. Kadar pH netral yang baik untuk digunakan sebagai keperluan sehari – hari adalah pH 7. Untuk memenuhi standar air yang dapat digunakan untuk keperluan sehari- hari adalah dengan cara elektrolisis. Sebelum masuk ke proses elektrolisis, air hujan yang berada di dalam bak penampungan air hujan akan melakukan proses filtrasi agar mendapatkan hasil air yang maksimal.Kata kunci4 Air, elektrolisis, sensor pH, sensor Turbidity