Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

SPIRITUALITAS DAN KEKUASAAN DALAM LAKON WAYANG ARJUNAWIWAHA KARYA KI NARTOSABDO: ANALISIS WACANA KRITIS MICHEL FOUCAULT Aris Aryanto; NFN Rochimansyah; Khabib Sholeh; Herlina Setyowati
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.729 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.799

Abstract

The Arjunawiwaha puppet play does not only convey discourse on Arjuna’s attempt to meditate on Mount Indrakila, but there is an ulterior motive behind it. Therefore, the purpose of this study is to describe the hidden motives contained in the Arjunawiwaha puppet play by Ki Nartosabdo. This research includes literary research in the form of qualitative descriptive with collection techniques, namely content analysis. Michel Foucault's theory of knowledge power discourse is applied in this study to see the implicit motives in the Arjunawiwaha story. In his hermitage, Arjuna received two divine gifts, first, the Pandavas would excel in the great war of Bharatayuda and the Pandavas would become rulers in the country of Astina; second, Arjuna received the gift of Batara Guru in the form of an arrow named Kyai Pasupati. The hidden motive in the Arjunawiwaha puppet play is due to the basic human psychic impulses that the researcher identifies as the motive for power hiding in the motive of spirituality. Arjuna's naivety who only asked for victory for the Pandavas had to be paid handsomely by the death of the Pandava children on the battlefield. Arjunawiwaha puppet plays can provide moral teaching on the importance of self-control in relation to the human ego or will.Lakon wayang Arjunawiwaha tidak sekadar menyampaikan wacana tentang usaha Arjuna melakukan tapa di Gunung Indrakila, tetapi ada motif tersembunyi dibaliknya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan motif tersembunyi yang terdapat dalam lakon wayang Arjunawiwaha karya Ki Nartosabdo. Penelitian ini termasuk penelitian sastra berbentuk kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data, yaitu kajian isi. Teori wacana kuasa pengetahuan Michel Foucault diterapkan dalam penelitian ini untuk melihat motif tersirat dalam cerita Arjunawiwaha. Dalam pertapaannya, Arjuna mendapat dua anugerah dewa, pertama, Pandawa akan unggul dalam perang besar Bharatayuda dan Para Pandawa akan menjadi penguasa di negara Astina; kedua, Arjuna mendapatkan anugerah Batara Guru berupa anak panah bernama Kyai Pasupati. Motif tersembunyi dalam lakon wayang Arjunawiwaha karena adanya dorongan dasar psikis manusia yang dapat ditengarai sebagai motif kekuasaan yang bersembunyi dalam motif spiritualitas. Kenaifan Arjuna yang hanya meminta kemenangan bagi Pandawa harus dibayar mahal dengan kematian anak-anak Pandawa di medan Perang. Lakon wayang Arjunawiwaha dapat memberikan pengajaran moral tentang pentingnya pengendalian diri kaitannya dengan ego atau kehendak manusia.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM CERITA PENDEK MENDEM JARAK: PERSPEKTIF ANTROPOBOTANI SASTRA Setyowati, Herlina; Endraswara, Suwardi; Dwijonagoro, Suwarna
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1569

Abstract

This study aims to examine the existence of cultural aspects and the meaning of botanical symbols in the short story Mendem Jarak. The research method used is literary anthropology. The primary data source is the short story Mendem Jarak by Muhammad Taufiq Syarif. Data collection is conducted through reading and note-taking techniques. The data analysis employs literary anthropology techniques. The research findings reveal cultural phenomena emerging in the short story Mendem Jarak including 1) cultural ideologies, 2) cultural practices, and 3) cultural materials. Cultural ideologies regarding the antidote for jarak fruit (Jatropha plant) poisoning in the short story Mendem Jarak uncover the utilization of young coconut water (degan), processed coconut products such as klentik oil, and the sap of the jarak plant to counteract the effects of jarak fruit seeds' poison. Cultural practices demonstrate collaborative efforts and problem-solving activities regarding jarak fruit seed poisoning. Additionally, cultural materials involve the jarak plant as a symbol of disaster for the community due to its poisonous nature. Nevertheless, the community relies on their knowledge of treating jarak fruit poisoning victims with simple remedies, such as utilizing young coconut water, processed coconut products (klentik water), and jarak tree sap. The short story Mendem Jarak reflects the lives of a community closely connected with reality; portraying children with a strong sense of curiosity and the communal spirit prevalent in rural areas. The short story Mendem Jarak depicts the traditional knowledge of the community in using plants as medicine. Thus, the anthropobotanical perspective enriches the point of view in literary studies.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wujud budaya dan makna simbol botani dalam cerita cekak Mendem Jarak. Metode penelitian yang digunakan yaitu antropologi sastra. Sumber data penelitian yakni cerita cekak Mendem Jarak karya Muhammad Taufiq Syarif. Pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Adapun analisis data menggunakan teknik antropologi sastra. Hasil penelitian yang diperoleh ialah gejala kebudayaan yang muncul dalam cerita cekak Mendem Jarak meliputi 1) ideologi budaya, 2) tindakan budaya, dan 3) materi budaya. Ideologi budaya penawar keracunan buah jarak dalam cerita cekak Mendem Jarak mengungkap fakta penggunaan air buah kelapa muda (degan), produk olahan buah kelapa berupa minyak klentik, dan getah tumbuhan jarak untuk menghilangkan efek racun dari biji buah jarak. Tindakan budaya menunjukkan aktivitas kerja sama dan aktivitas mengatasi masalah keracunan biji buah jarak. Adapun materi budaya yakni tumbuhan jarak sebagai simbol sumber petaka bagi masyarakat karena mengandung racun. Meskipun demikian, masyarakat mempercayai pengetahuan mereka terhadap para korban keracunan buah jarak dengan konsep pengobatan sederhana, yakni dengan memanfaatkan air buah kelapa muda, olahan buah kelapa (lenga klentik), dan getah pohon jarak. Cerita cekak Mendem Jarak merefleksikan kehidupan masyarakat yang lekat sekali dengan kehidupan nyata; anak-anak yang rasa ingin tahunya tinggi dan rasa kebersamaan masyarakat di perdesaan. Cerita cekak Mendem Jarak melukiskan pengetahuan tradisional masyarakat untuk memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Dengan demikian, perspektif antropobotani sastra memperkaya sudut pandang dalam pengkajian sastra.