Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kajian Etnografi Komunikasi Dell Hymes Terhadap Tradisi Tu’u Belis Fifi A. Elimanafe; Yermia Djefri Manafe; Christian J. Balalembang; Felisianus Efrem Jelahut
Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi Vol 3 No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59895/deliberatio.v3i2.159

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan dan komponen komunikasi dalam tradisi Tu’u Belis. Metode penelitian ini adalah adalah metode etnografi komunikasi model Dell Hymes yakni SPEAKING. Hasil dalam penelitian ini adalah prosesi pelaksanaan tradisi Tu’u Belis yang merupakan urutan atau tahap-tahap untuk melaksanakan Tradisi ini di Kelurahan Oesapa Barat yakni ada 3 tahap antara lain; 1)Tahap Persiapan 2)Tahap Pelaksanaan 3)Tahap Akhir dan komponen-komponen komunikasi berdasarkan etnografi komunikasi Dell Hymes yakni SPEAKING antara lain; 1) Setting-nya di Rumah dan Scene-nya Serius, Santai, Khusyuk, Akrab dan Bahagia 2) Participant: Tuan Pesta, Juru Bicara, Tamu undangan, Petugas Konsumsi dan Pemegang Buku, 3) Ends dalam tradisi Tu’u Belis membangun interaksi yang baik, Tolong-Menolong antar sesama ketika membutuhkan bantuan dalam pemenuhan belis dan membangun solidaritas, 4) Act Sequence terdiri dari 3 tahap, 5) Keys dalam Tu’u Belis adalah  nada tinggi dan stabil, 6) Instrument nya menggunakan bahasa lisan, tulisan dan simbol, 7) Norms-nya yaitu pengadaan Tu’u Belis hanya 1 kali dalam 1 bulan pada setiap RT, , mengembalikan  Tu’u yang diberikan atau obligasi yang harus dilunasi. 8) Genre Melalui narasi dalam bentuk pernyataan, pertanyaan, pemberitahuan dan nasehat. Berbagai komponen tersebut telah membentuk Tradisi Tu’u Belis. Kesimpulan penelitian ini adalah Proses dalam pelaksanaan Tradisi Tu’u Belis merupakan alur proses komunikasi yang berhubungan dalam mencapai tujuan pengadaan tradisi Tu’u Belis.
Analisis Peristiwa Komunikasi Ritual Tofa Lele Pada Kegiatan Bertani Atoni Pah Meto Yermia Djefri Manafe
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 9 No 1 (2020): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v9i1.2324

Abstract

ABSTRAK Ritual tofa lele merupakan salah satu tahapan kegiatan pertanian yang wajib dilaksanakan petani Atoni Pah Meto. Tofa lele adalah kegiatan membersihkan atau mencabuti gulma yang tumbuh di sekitar tanaman utama petani. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis peristiwa komunikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi komunikasi. Pendekatan ini digunakan untuk memberikan pemahaman mengenai pandangan dan nilai-nilai suatu masyarakat sebagai cara untuk menjelaskan sikap dan perilaku anggota-anggotanya. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui komponen komunikasi sebuah peristiwa komunikasi dapat diidentifikasi. Komponen etnografi komunikasi sebagai berikut: Setting atau Latar, Partisipan (Participants), Tujuan (End), Isi pesan (Act Secuence), Bentuk Isi Pesan (Key), Kaidah Interaksi Jalur bahasa yang digunakan (Insturumentalities), Norma-Norma Interpretasi (Norms), Genre atau tipe peristiwa komunikatif, Topik, dan Urutan Tindakan. Berdasarkan analisis terhadap komponen etnografi komunikasi, maka kesimpulan penelitian ini adalah komunikasi pada ritual tofa lele dapat dipahami melalui isi doa adat yang mengandung makna pengharapan agar para petani dijauhi dari berbagai bentuk malapetaka selama melakukan kegiatan tofa lele serta permohonan agar gulma tidak menghambat pertumbuhan dan kesuburan tanaman yang ada dalam kebun para petani. Kata Kunci: Tofa Lele, Komunikasi Ritual, Peristiwa Komunikasi, Komponen Komunikasi ABSTRACT Tofa lele ritual is one of the stages of agricultural activities that must be carried out by Atoni Pah Meto farmers. Catfish tofa is the activity of cleaning or pulling weeds that grow around the main crop of farmers. The purpose of this study was to analyze communication events. The method used in this research is communication ethnography. This approach is used to provide an understanding of the views and values ​​of a society as a way to explain the attitudes and behavior of its members. The results show that through the communication component a communication event can be identified. The ethnographic components of communication are as follows: Setting or Setting, Participants, Objectives (End), Message Content (Act Secuence), Form of Message Content (Key), Interaction Rules of Language used (Insturumentalities), Interpretation Norms (Norms) ), Genre or type of communicative event, topic, and action sequence. Based on an analysis of the communication ethnographic component, the conclusion of this study is that communication on tofa lele rituals can be understood through the contents of traditional prayers which contain the hope that farmers are kept away from various forms of catastrophe during tofa lele activities and requests that weeds do not inhibit plant growth and fertility in the farmers' garden. Keywords: Tofa Lele, Ritual Communication, Communication Events, Communication Components
Komunikasi Ritual Fua Ton pada Suku Leosikun Sesarius Giovanni Badj; Yermia Dj. Manafe; Ferly Tanggu Hana
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 10 No 2 (2021): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v10i2.2419

Abstract

Fua Ton merupakan ritual dari desa Saenam yang dilakukan oleh suku Leosikun. Ritual ini memiliki tujuan untuk mengucap syukur atas tahun yang telah lewat serta memohon berkat di tahun yang baru dan untuk memohon berkat dari leluhur dan alam agar mendapatkan hasil kebun yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses komunikasi dan komponen-komponen komunikasi dalam ritual Fua Ton. Metode dalam penelitian ini adalah metode etnografi komunikasi model SPEAKING (Setting / Scene, Partisipant, Ends, Act Sequence, Keys, Instrument, Norms, dan Genre) dari Dell Hymes dengan menggunakan teori interaksi simbolik. Hasil dalam penelitian ini adalah proses komunikasi dalam ritual Fua Ton merupakan sebuah urutan tindakan dalam peristiwa komunikasi yang terdiri dari 3 tahap dan komponen-komponen komunikasi SPEAKING adalah komponen-komponen komunikasi yang membentuk ritual Fua Ton. Kesimpulan penelitian ini adalah tahapan-tahapan dalam ritual Fua Ton merupakan alur proses komunikasi yang berkesinambungan dengan maksud untuk mencapai tujuan dari ritual, lalu komponen-komponen komunikasi Setting / Scene, Partisipant, Ends, Act Sequence, Keys, Instrument, Norms, dan Genre merupakan elemen-elemen pembentuk peristiwa komunikatif ritual Fua Ton. Saran terhadap penelitian selanjutnya adalah terkait dengan penelitian yang berfokus pada ritual-ritual adat yang menggunakan metode etnografi komunikasi, diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih dalam lagi mengenai makna dari ritual Fua Ton, khususnya peran bahasa Dawan dalam ritual Fua Ton ini, dan bagaimana tetua adat dalam ritual Fua Ton memiliki pengaruh besar dalam berjalannya ritual Fua Ton.
Transaksional Budaya Belis Fransisco Avelino Costa Laudasi; Yermia Djefri Manafe; Yohanes K. N. Liliweri
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 9 No 2 (2020): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v9i2.2493

Abstract

Belis merupakan suatu upacara dimana pihak laki-laki memberi mas kawin barang berupa hewan, uang dan kain kepada pihak peempun. Tujuan peneltiian ini untuk mengetahui pengalaman, motif, dan makna belis pada masyarakat Desa Gunung. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masyarakat tentang nominal belis yakni apabila pihak laki-laki tidak mampu melunasi semua belis pada saat upacara masuk minta maka pihak keluarga perempuan membuat suatu kesepakatan dimana mempelai laki-laki tinggal di keluarga perempuan sampai keluarga laki-laki melunasi belis atau pihak laki-laki boleh membawa mempelai perempuan dengan kesepakatan wajib membayar belis sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dampak positif dengan adanya pemberian belis, martabat keluarga laki-laki terangkat, pihak keluarga wanita merasa dihargai, dan terbentuknya kekerabatan baru. Dampak negatifnya, pihak laki-laki merasa malu jika tidak melunasi belis karena menimbulkan utang piutang. Budaya belis masih tetap dipertahankan dan tidak mengalami perubahan karena belis dianggap sebagai tradisi, dan bentuk penghargaan terhadap perempuan sebagai benih penerus keturunan. Motif masyarakat mempertahankan belis yakni sebagai tali pengikat yang menandakan hubungan kedua pasangan dan keluraga besarnya dan penanda si perempuan telah keluar dari keluarga asalnya dan berpindah ke klan suami. Belis juga sebagai alat menyatukan kedua keluarga.
Media Baru dalam Konstruksi Jurnalis Media Cetak Maria Widiyanti Nugu; Yermia Djefri Manafe; Maria V. D. P. Swan
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 9 No 2 (2020): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v9i2.2765

Abstract

Hadirnya media baru sebagai salah satu manifestasi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah model komunikasi massa yang umumnya dilakukan media massa dari one to many menjadi many to many, di mana siapa pun kini bisa menjadi pembuat informasi dan melalui media baru menyebarluaskannya. Kondisi ini kemudian mengaburkan fungsi institusi pers sekaligus menimbulkan pertanyaan, apakah media massa telah terpinggirkan. Namun juga, kehadiran media baru ini secara bersamaan membantu institusi media dalam memperluas jangkauannya. Penelitian ini bermaksud untuk mencari tahu bagaimana para jurnalis media cetak sebagai media konvensional memaknai dan mengalami media baru dalam keseharian mereka sebagai jurnalis dihadapkan dengan kehadiran media baru. Melalui metode studi fenomenologi dan teori fenomenologi Alfred Schutz, hasil dari penelitian ini adalah para jurnalis memaknai media baru sebagai sumber informasi awal, tantangan yang memacu kerja, mitra yang saling melengkapi dan media informasi dan hiburan. Sementara pengalaman para jurnalis di antaranya adalah dituntut bekerja cepat serta menghasilkan laporan yang mendalam, mencari informasi melalui media sosial tanpa meninggalkan agenda liputan dan menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan berita, mengedukasi dan partisipasi kolektif.
Pengalaman Komunikasi Kelompok Prischa Cornelia Banunaek; Liliweri Aloysius; Yermia Dj. Manafe
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 10 No 2 (2021): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v10i2.3168

Abstract

Kelompok merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Eksistensi kelompok cenderung mempengaruhi perilaku seseorang termasuk perilaku komunikasi yang pada gilirannya membentuk pengalaman komunikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengalaman komunikasi kelompok mulai dari konformitas, fasilitasi sosial dan polarisasi. Adapun teori yang digunakan adalah Teori FIRO. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang yang merupakan perwakilan dari tiap sub-kelompok yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Jemaat Pniel Sikumana, Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas terjadi apabila adanya perbedaan status keanggotaan dalam kelompok. Sementara itu, fasilitasi sosial terjadi karena kelompok hadir sebagai media belajar untuk memberi motivasi bagi anggota untuk penguatan kapasitas. Pada sisi lain, tidak ditemukan polarisasi dalam kelompok Pemuda Jemaat Pniel Sikumana karena kelompok ini ternyata ditemukan lebih berani, kreatif, dan cukup inovatif menghadapi berbagai tantangan dalam berkelompok.
Pengaruh Pemberitaan Covid-19 di Media Online terhadap Perubahan Sikap Tenaga Kesehatan RSUD Naibonat Kabupaten Kupang Monicha Y. Suku; Yermia Dj. Manafe; Fitria Titi Melawati
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 10 No 2 (2021): July
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v10i2.3751

Abstract

Covid-19 saat ini tengah menjadi pandemi global dan ramai diberitakan di banyak media, termasuk media online. Ramainya pemberitaan ini membuat masyarakat tertarik untuk mengonsumsi informasi terkait Covid-19, begitu juga para petugas kesehatan di RSUD Naibonat Kabupaten Kupang yang saat ini berada pada zona merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberitaan Covid-19 di media online terhadap perubahan sikap petugas kesehatan di RSUD Naibonat Kabupaten Kupang. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode survei. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling sehingga jumlah sampel sebanyak 151 orang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, adanya Pengaruh Pemberitaan Covid-19 di Media Online terhadap Perubahan Sikap Petugas Kesehatan RSUD Naibonat Kabupaten Kupang dengan tingkat hubungan yang signifikan dan digolongkan SEDANG, terlihat dari uji korelasi Pearsons Product Moment yang menunjukkan angka 0.452 yang berada di antara 0.40-0.59. Nilai rata-rata variabel X (Pemberitaan Media Online) berada pada angka 4.51 dengan taraf sangat setuju, sedangkan nilai rata-rata variabel Y(Perubahan Sikap) berada pada angka 4.51 dengan taraf sangat setuju. Pengaruh Pemberitaan Covid-19 di Media Online terhadap Perubahan Sikap Petugas Kesehatan sebesar 20.40%. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada Pengaruh Pemberitaan Covid-19 di Media Online terhadap Perubahan Sikap, sehingga H1 diterima dan H0 ditolak.
Penerapan Jurnalisme Empati Dalam Berita HIV/AIDS Monika Wutun; Mas’Amah Mas’Amah; Yermia Djefri Manafe; Juan Ardiles Nafie
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 12 No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v12i1.8785

Abstract

Penelitian ini bermula dari aktivitas sekelompok jurnalis yang menulis berita HIV/AIDS dengan jurnalisme empati di Kota Kupang, Indonesia. Mereka tergabung pada Komunitas Jurnalis Peduli AIDS (KJPA) yang terbentuk sejak tahun 2008. Mereka menerbitkan tabloid Peduli News yang berkembang menjadi majalah sehingga penelitian ini bertujuan mengungkapkan pengalaman komunikasi dan motif yang melatari penerapan jurnalisme empati dari tujuh orang anggota aktif KJPA. Paradigma konstruktivis dengan metode fenomenologi Alfred Schutz melalui teknik pengumpulan data yakni wawancara, observasi dan studi dokumentasi dengan teknis analisis data menggunakan enam Langkah Cresswell membingkai penelitian ini. Hasil penelitian ditemukan terdapat sepuluh kategori pengalaman komunikasi yang dituturkan yakni Jurnalisme Empati adalah hal baru; menerapkan jurnalime empati menantang hati nurani; menerapkan human interest dalam berita; berita berpihak pada ODHA; memperjuangkan hak ODHA dan kaum termarginalkan; ODHA adalah subjek berita bukan objek berita (bukan angka kasus); Berita bersifat empati; Tidak boleh ada stigma dan diskriminasi dalam peliputan dan penulisan berita; Topik yang diliput membantu ODHA membangun kepercayaan diri untuk bangkit; Menambah pengetahuan wartawan; memberi informasi dan edukasi yang benar tentang HIV/AIDS. Temuan lain, motif yang melatari penerapan jurnalisme empati bersumber dari panggilan jiwa dan ketaaaan pada kode etik jurnlaistik, kemauan untuk mengembangkan kompetensi diri, mendapatkan penghasilan serta membangun relasi sosial baru
Komunikasi Visual dalam Desain Tenun Masyarakat Suku Mollo: (Studi Etnografi di Desa Taneotob, Kabupaten TTS) Oematan, Ivan; Yermia Djefri Manafe; Maria V.D.P. Swan
Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi Vol 4 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59895/deliberatio.v4i1.236

Abstract

Desain Tenun masyarakat Taneotob merupakan salah satu karya tangan manusia yang mengandung  unsur-unsur visual  warna, garis, bentuk dan simbol merepresentasikan komunikasi visual. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan Pesan komunikasi visual, Makan dan Proses dalam desain tenun bermotif Lulat (Pau’kolo dan Lul’sial). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi etnografi pada msyarakat desa Taneotob. Hasil penelitian menunjukan bahwa pesan komunikasi visual ada pada setiap unsur visual dalam desain tenun lulat merpresentasikan fungsi pedang leluhur dalam motof Pau’kolo dan Ikat pinggang leluhur dalam motif Lul’sial sebagai alat pelindung yang digunakan dalam berperang dan menjaga wilayah kekuasaan, sesama maupun isi alam kefettoran Nunbena. Masyarakat Taneotob memakanai desain tenun lulat sebagai citra diri dan akar yang menyimpan tradisi kehidupan kefettoran Nunbena, hasil bentuk desain berupa selimut dan selendang yang terbuka lebar dan memeliliki helaian benang di setiap ujung, sebagai peran biologis laki-laki yang memberikan keturunan sedangkan sarung yang dijahit bulat sebagai peran perempuan yang menjadi ibu dan istri. Proses desain dimulai dari Nonot atau perangkaian benang kemudian proses Teon atau menenun menggunakan teknik yang berbeda dalam menenun kedua motif tersebut, para penenun di Fettor Nunbena menggunakan teknik Ikat dan Songket.
KOMUNIKASI RITUAL SESAJIAN TEING HANG : (Studi Etnografi Komunikasi pada Tradisi Wuat Wai di Desa Urang Kecamatan Lelak Kabupaten Manggarai) Sium, Maria Kevin; Yermia Djefri Manafe; Herman Elfridus Seran
Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi Vol 4 No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59895/deliberatio.v4i2.351

Abstract

Ritual teing hang pada tradisi wuat wai merupakan upacara kasih makan leluhur dengan tujuan meminta restu atas anak yang akan merantau atau berjalan jauh untuk mengejar cita-cita di lindungi dalam perjalanan dan di tanah rantau sehingga pulang bisa membawa perubahan yang baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosesi ritual teing hang dalam tradisi wuat wai  dan komponen-komponen komunikasi yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian ini adalah metode etnografi komunikasi. Hasil dalam penelitian adalah adanya prosesi ritual teing hang pada tradisi wuat wai dengan beberapa tahapan yaitu 1) Tahap Persiapan 2) Tahap Pelaksanaan 3) Tahap akhir, dan komponen-komponen komunikasi antara lain; 1) Setting  yaitu di ruang depan atau ruang tamu rumah dalam keadaan khusyuk, tenang, santai, akrab. 2) Participant yakni keluarga yang melaksanakan, ata tudak, woe, anak rona, ase kae. 3) ends yaitu untuk meminta restu dan perlindungan atas anak yang akan berjalan jauh supaya dijauhkan dari malapetaka dan bisa pulang membawa perubahan untuk dirinya dan keluarga. 4) Act secuece terdiri dari 3 tahap. 5) Key yaitu santun, lambat, dan agak tinggi. 6) Instrumental yaitu bahasa Manggarai kiasan dan simbol-simbol. 7)Norms-nya yaitu  wajib menyiapkan segala bentuk sesajian yang dibutuhkan serta ketika sudah melantunkan doa adat saat paginya, orang yang akan berjalan jauh harus langsung jalan. 8) Genre yaitu berupa tudak atau doa adat dengan bentuk penyampaiannya berupa pemujaan, permohonan dan harapan.