Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

A culture-based public relations perspective on the traditional performing art of “Caci” Manafe, Yermia Djefri; Andung, Petrus Ana; Ali, Mohd Nor Shahizan
PRofesi Humas Vol 9, No 2 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/prh.v9i2.58116

Abstract

Background: Caci performance art is a vital cultural asset of the Manggarai community in East Nusa Tenggara Province. However, the rapid advancement of internet-based technologies poses a significant threat to the survival of traditional forms of folk media, including Caci as a traditional game. As such, an effective communication strategy is essential to preserving the noble cultural values embedded in Caci and promoting its significance to a broader audience. Purpose: This study explored the forms of culture-based public relations activities associated with Caci and analyzed the communicative functions of art within this context. Methods: The study used an ethnographic approach. The informant’s involvement in this research includes serving as a primary source during interviews, guiding participant observations, and consulting on research findings to ensure the accuracy of the data. Results: The findings indicated several culture-based public relations activities linked to Caci, including community relationship-building, bentang cama as a forum for planning, Caci as a vehicle to reinforce the masculinity of Manggarai men, post-performance evaluation, and public communication regarding the cultural significance of Caci. Conclusion: Caci performance art encapsulates key components of public relations, encompassing the stages of fact-finding, planning, communication, and evaluation. These stages reinforce the role of Caci as a tool for executing culture-based public relations strategies. Furthermore, the Caci ritual, as a traditional performance serves as social, magical-religious, and entertainment functions. Implications: Public relations research can be expanded through a cultural perspective aligned with local community values. Additionally, traditional performing arts like Caci can be effective tools in PR strategies, fostering innovative, culturally grounded approaches. The study also emphasizes the need to preserve and promote traditional arts as essential to cultural identity in the face of advancing internet technology. 
Komunikasi Persuasif Dinas PPKB Kota Kupang Dalam Pencegahan Stunting Di Kota Kupang Taek, Maria C. P; Yermia Djefri Manafe; Maria Yulita Nara
Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi Vol 5 No 1 (2025): April 2025
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59895/deliberatio.v5i1.564

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komunikasi persuasif Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) dalam mengajak masyarakat kota Kupang untuk mencegah stunting. Penelitian ini berfokus pada bagaimana komunikasi persuasif yang dilakukan oleh Dinas PPKB dalam mengajak masyarakat Kota Kupang untuk mencegah stunting. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah upaya pencegahan stunting yang dilakukan oleh Dinas PPKB Kota Kupang dan bagaimanakah strategi komunikasi persuasive Dinas PPKB dalam mengajak masyarakat Kota Kupang  dalam mencegah stunting. Metode penelitian yang digunakan adalah Studi Kasus Jenis yaitu Kualitatif. Penelitian ini dikaji menggunakan teori Komunikasi persuasif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa upaya pencegahan stunting yang dilakukan oleh Dinas PPKB Kota Kupang dilakukan dengan dengan melalui program-program yang dijalankan oleh setiap bidang yang ada di Dinas PPKB yaitu Program DASHAT yaitu Dapur Sehat Atasi Stunting, Program Pasca Salin KB, dan membentuk Tim Pendamping Keluarga yang mendampingi keluarga berisiko stunting. Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Dinas PPKB dalam upaya  pencegahan stunting yakni Sosialisasi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Pasangan Usai Subur (PSU) , Pelayanan di puskesmas Oebobo, melakukan kegiatan dashat, Kegiatan cegah stunting oleh Dinas PPKB di posyandu dengan cek kesehatan, pemberian imunisasi, dan pemberian makanan tambahan di kelurahan fatululi, melakukan pendampingan keluarga yang beresiko stunting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi persuasif yang digunakan oleh Dinas PPKB untuk mencegah stunting di Kota Kupang yakni membentuk Tim Percepatan penurunan stunting (TPPS) tingkat kota, kecamatan dan kelurahan untuk mengkomunikasikan program DASHAT yang digagas pemerintah Kota Kupang.
GEREP RUHA DALAM UPACARA PERNIKAHAN ADAT MASYARAKAT TENDA: (Studi Etnografi Klasik Masyarakat Tenda, Manggarai) Elisabeth B. P. Djihu; Yermia Djefri Manafe; Muhammad Aslam; Fadliani Sahaka
Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi Vol 5 No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59895/deliberatio.v5i2.612

Abstract

Tradisi gerep ruha (Gerep: Injak, Ruha: Telur) merupakan tradisi untuk pembersihan pengantin wanita dari adat istiadat atau kebiasaan dari kampung asalnya. Semua adat istiadat dan kebiasaan dari kampung asalnya akan ditinggalkan dan dia akan mengikuti adat istiadat atau kebiasaan dari suaminya. Tradisi gerep ruha berkaitan dengan adat istiadat dalam sistem perkawinan patrilineal orang Manggarai pada umumnya. Tahapan-tahapan yang terdapat dalam tradisi ini masing-masing memiliki makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana proses Gerep Ruha dalam upacara pernikahan masyarakat. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah: Untuk mengetahui bagaimana proses Gerep Ruha dalam upacara pernikahan masyarakat Tenda Manggarai, Kec Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Objek penelitian adalah upacara Gerep Ruha sementara subject penelitian adalah Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan Masyarakat Sendiri sebagai informan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian berupa pedoman wawancara dan alat dokumentasi (kamera, perekam, dan alat tulis). Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam acara GEREP RUHA adanya Interaksi antara Tu’a adat dengan Pengantin serta Keluarga yang bersangkutan serta adanya proses-proses dalam acara Gerep Ruha seperti Pra Peminangan Peminangan Perkawinan, Puncak Pengukuhan Perkawinan.
Membaca pesan transendental melalui komunikasi ritual wiaha manu Yermia Djefri Manafe; Monika Wutun; Muhammad Aslam
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43585

Abstract

Abstract This study explores and analyzes communication practices within the Wiaha Manu ritual of the indigenous Kodi community in Southwest Sumba Regency. This sacred ritual bridges the interaction between humans and their ancestors (Marapu) through a unique medium: chicken intestines. Using a qualitative approach and the ethnography of communication method, the study examines the ritual's communicative structure through Dell Hymes's SPEAKING model framework. Data were collected through participatory field observation, in-depth interviews with Ratos (traditional leaders), and analysis of documents related to Sumbanese cosmology. Findings reveal the Wiaha Manu ritual to be a complex transcendental communication system in which the Rato plays a central role as a symbolic mediator with sole interpretive authority. Analysis using the SPEAKING model reveals that the effectiveness of this ritual communication depends heavily on the strict sequence of actions, the solemn sacred tone and the use of the chicken's body as a 'biological text', which is translated into social instructions. Conceptually, this ritual transcends the spiritual dimension, serving as a strategic means of constructing collective meaning, strengthening social cohesion through customary consensus and preserving the cultural identity of the Kodi community in the face of changing times. This study concludes that the Wiaha Manu ritual is a form of communication that perpetuates traditional values while legitimising social power structures within indigenous Sumbanese society. Keywords: communication; ethnography; wiaha manu; kodi society; transcendental communication; speaking model. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi dan menganalisis praktik-praktik komunikasi dalam ritual Wiaha Manu di kalangan masyarakat adat Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Ritual ini merupakan peristiwa komunikasi sakral yang menjembatani interaksi antara manusia dengan leluhur (Marapu) melalui media unik berupa usus ayam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi, penelitian ini membedah struktur komunikatif ritual tersebut secara komprehensif melalui kerangka model SPEAKING karya Dell Hymes. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi partisipatif di lapangan, wawancara mendalam dengan para Rato (pemimpin tradisional), serta analisis dokumen terkait kosmologi masyarakat Sumba. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ritual Wiaha Manu bermanifestasi sebagai sebuah sistem komunikasi transendental yang kompleks, di mana Rato memegang peran sentral sebagai mediator simbolis yang memiliki otoritas interpretatif tunggal. Analisis melalui model SPEAKING mengungkapkan bahwa efektivitas dan keberhasilan komunikasi ritual ini sangat bergantung pada rigiditas urutan tindakan yang ketat (act sequence), nada suci yang khidmat dan megah (key), serta penggunaan organ fisik ayam sebagai “teks biologis” (instrumentalities) yang kemudian diterjemahkan menjadi instruksi sosial yang mengikat. Secara konseptual, ritual ini berfungsi melampaui dimensi spiritual; ia berperan sebagai sarana strategis untuk mengonstruksi makna kolektif, memperkuat kohesi sosial melalui konsensus adat, dan melestarikan identitas budaya komunitas Kodi di tengah arus perubahan zaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Wiaha Manu adalah institusi komunikasi yang mereproduksi nilai-nilai tradisional sekaligus melegitimasi struktur kekuasaan sosial dalam masyarakat adat Sumba. Kata-kata kunci: Etnografi komunikasi; wiaha manu; masyarakat kodi; komunikasi transendental; model speaking.