Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Inisiasi Menyusu Dini Berdampak Positif Terhadap Pelepasan Plasenta pada Persalinan Kala III Sari, Rury Narulita; Ardhianingtyas, Nisa; Arwiyantasari, Wida Rahma; Nugroho, Setyo Mahanani
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 13, No 4 (2023): November 2023
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik13403

Abstract

In Indonesia, early initiation of breastfeeding is only carried out by 4% of mothers giving birth. Finding a hospital that is willing to initiate early breastfeeding is also an obstacle. Not all health workers and health facilities understand and are willing to carry out this program. So research was needed that aimed to analyze early initiation of breastfeeding on placental release in mothers in the third stage of labor. Researchers implemented a cross-sectional study, involving 37 mothers giving birth at the Maddiri Midwife Practice, Ny. Sisfitriyah, Madiun, selected using simple random sampling technique. Data was collected through direct observation, then analyzed using the independent samples t-test. The results of the analysis showed that the average length of placental release for mothers who initiated early breastfeeding was 7.9 minutes; meanwhile, for mothers who did not initiate early breastfeeding, it was 18 minutes. The t-count value was 9.853, while the t-table was 2.2065. So it was interpreted that there was a significant length of placental detachment between mothers who carried out and did not carry out early initiation of breastfeeding with a higher speed in mothers who carry out early initiation of breastfeeding. Thus, it could be concluded that early initiation of breastfeeding can accelerate the release of the placenta in parturient mothers.Keywords: early initiation of breastfeeding; detachment of the placenta; third stage of labor ABSTRAK Di Inonesia, inisiasi menyusu dini baru dilakukan oleh 4% ibu melahirkan. Mencari rumah sakit yang bersedia melakukan inisiasi menyusu dini juga menjadi salah satu kendala. Belum semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang sudah memahami dan mau melakukan program tersebut. Maka diperlukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis inisiasi menyusu dini terhadap pelepasan plasen pada ibu bersalin kala III. Peneliti menerapkan studi cross-sectional, yang melibatkan 37 ibu bersalin di Praktik Madiri Bidan Ny. Sisfitriyah, Madiun, yang dipilih dengan teknik simple random sampling.  Data dikumpulkan melalui observasi langsung, lalu dianalisis menggunakan independent samples t-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata lama pelepasan plasenta ibu yang melaksanakan inisiasi menyusu dini adalah 7,9 menit; sedangka pada ibu yang tidak melaksanakan inisiasi menyusu dini adalah 18 menit. Nilai t-hitung adalah 9,853, sedangkan t-tabel adalah 2,2065. Maka ditafsirkan bahwa ada lama pelepasan plasenta secara signifikan antara ibu yang melaksanakan dan tidak melaksanakan inisiasi menyusu dini dengan kecepatan lebih tinggi pada ibu yang melaksanakan inisiasi menyusu dini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inisiasi menyusu dini dapat mempercepat pelepasan plasenta pada ibu bersalin.Kata kunci: inisiasi menyusu dini; pelepasan plasenta; kala III persalinan
EFEKTIFITAS AROMA THERAPY BLEND DIFUSE DALAM MENGATASI KECEMASAN PASCA SALIN DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN Lestariningsih, Lestariningsih; Yuliani, Istri; Nugroho, Setyo Mahanani; Oktaviani, Fransiska Sela; Wahyuni, Kenik sri
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 19, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/mr.v19i3.1183

Abstract

Latar belakang: Beberapa perubahan yang terjadi pada ibu pasca salin diantaranya pada fisik, psikologi dan hormonalnya. Hal  ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada ibu pasca salin. Ketidaknyamanan pada ibu pasca salin merupakan hal yang masih normal yang dialami setiap ibu pasca salin. Akan tetapi ketidaknyamanan yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan permasalahan lain, salah satunya adalah kecemasan. Perasaan cemas sering kali tidak terkendali dan menguasai pikiran. Hal ini menyebabkan ibu pasca salin memiliki ketakutan yang tidak rasional atau kekhawatiran berlebihan terhadap kejadian yang mungkin tidak terjadi. Penanganan kecemasan pada ibu pasca salin disesuaikan dengan tingkat keparahan tiap individu, baik dengan obat maupun non-obat. Penanganan non-obat bisa dengan menerapkan komunikasi terapeutik, konseling, teknik relaksasi, dll. Aroma teraphy merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kecemasan dengan membuat responden rileks. Tujuan: untuk mengetahui efektifitas aroma therapy blend difuse dalam mengatasi kecemasan pasca salin di wilayah Sleman Yogyakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian Kuantitatif dengan metode Quasi Eksperiment karena penelitian ini masih menguji coba suatu intervensi pada sekelompok subjek dengan atau tanpa kelompok perbandingan namun tidak dilakukan randomisasi untuk memasukkan subjek ke dalam kelompok perlakukan atau kontrol. Penelitian ini menggunakan Pre test and post test without control yaitu mengungkapkan pada suatu kelompok intervensi dengan membandingkan nilai post test dengan pretest tanpa pembanding. Tehnik pengambilan sampel adalah Consecutive sampling. Analisis data menggunakan pairet t-test. Hasil: Pemberian aroma therapy blend difuse efektif dalam mengurangi tingkat kecemasan pada ibu pasca salin. dengan menggunakan aromaterapi ibu pasca salin dapat lebih rileks dan lebih nyaman dalam menjalani masa nifas nya. Kesimpulan: Aroma therapy blend difuse efektif untuk mengatasi kecemasan pada ibu pasca salin.
Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja Sebagai Early Warning System Terhadap Kejahatan Seksual di TK SD Model Kabupaten Sleman Wahyuni, Kenik Sri; Ceria, Inayati; Nugroho, Setyo Mahanani
Journal of Midwifery in Community Vol 1, No 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jmc.v1i2.79352

Abstract

Hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja tahun 2019 (SNPHAR 2018) oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menunjukkan satu dari 17 anak lelaki dan satu dari 11 anak perempuan pernah mengalami kekerasan seksual. Masa pubertas merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa yang dimulai umur 8 – 14 tahun (Agustiani:2006). Di masa pubertas inilah masa di mana mereka mencari jati diri dan arti dari hidup. Pada masa-masa ini pula remaja memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar dalam segala hal. Pengajaran mengenai seksualitas menjadi penting karena bisa membantu anak dan remaja keluar dari risiko penyakit alat reproduksi, pelecehan serta kekerasan seksual. Pengabdian masyarakat dilaksanakan kepada 78 siswa yang berada di kelas 4, dengan metode pemberian edukasi, roleplay dan simulasi. Hasil pengabdian menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah intervensi. Sebelum intervensi mayoritas pengetahuan siswa berada dalam kategori  sedang  (86,41%) dan setelah intervensi pengetahuan siswa mayoritas pada kategori Baik (87,17%). Sikap seksual siswa sebelum intervensi sebagian besar kategori positif (88,46%), setelah intervensi sikap seksual siswa sebagian besar kategori sangat positif (93,20%). Kesimpulan penerapan edukasi terstruktur dan efektif yang dilaksanakan memberikan perubahan yang signifikan terhadap pengetahuan dan mendukung sikap seksual yang lebih positif, sebagai upaya Early Warning System bagi remaja.
HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DENGAN STIGMA KEPALA KELUARGA TERHADAP ODHA DI NOTOYUDAN KOTA YOGYAKARTA Setyo Mahanani Nugroho; Casnuri; Maratusholikhah Nurtyas; Nurulistyawan Tri Purnanto; Nonik Ayu Wantini
The Shine Cahaya Dunia S-1 Keperawatan Vol. 6 No. 2 (2021): THE SHINE CAHAYA DUNIA - S1 KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/

Abstract

Latar Belakang: Salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan dan penanggulangan Human Imunnodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrom (HIV/AIDS) di Indonesia adalah masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Stigma terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap cara penularanHIV/AIDS, pencegahan HIV/AIDS. Semakin rendah tingkat pengetahuan seseorang maka semakin tinggi kemungkinan memiliki stigma terhadap ODHA.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma kepala keluarga terhadap ODHA.Metode: Desain penelitian adalah cross sectional. Teknik sampling dengan Accidental Sampling,jumlah sampel penelitian 41 kepala keluarga,  instrument penelitian menggunakan kuesioner.Analisis data menggunakan uji Kendall Tau.Hasil: Hasil analisis univariat karakteristik umur responden mayoritas 31-49 tahun sebanyak 33 responden (80,5%), mayoritas responden mendapatkan informasi HIV/AIDS dari media masa sebanyak 22 orang (53,7%), rata-rata pengetahuan responden memiliki pengetahuan cukup tentang HIV/AIDS yaitu 20 orang (48,8%), mayoritas responden memiliki stigma rendah sebanyak 21 orang (51,2%). Analisis bivariat dilakukan dengan uji statistik Kendall Tau didapatkan nilai p-value=(0,138)>0,05, berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma kepala keluarga terhadap ODHA.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma kepala keluarga(KK) terhadap ODHA.