Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Kajian Pustaka Komparatif Protokol Komunikasi Internet of Things Berdasarkan Latensi, Efesiensi Energi, dan Skalabilitas Afriansyah Saputra, Muhammad Yudis; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2269

Abstract

This study presents a comparative literature review of Internet of Things (IoT) communication protocols, focusing on latency, energy efficiency, and scalability. The rapid development of IoT applications requires efficient communication mechanisms capable of handling constrained devices and large-scale networks. This research adopts a Systematic Literature Review (SLR) approach by analyzing relevant studies published between 2021 and 2026 from reputable databases such as Scopus, IEEE Xplore, ScienceDirect, and MDPI. The results indicate that no single protocol outperforms others across all performance parameters. CoAP demonstrates superior performance in latency and energy efficiency due to its lightweight UDP-based communication. MQTT provides stable latency and high scalability through its publish–subscribe architecture, making it suitable for large-scale IoT systems. Meanwhile, HTTP/HTTPS offers high interoperability but suffers from higher latency and energy consumption. The findings highlight the importance of selecting communication protocols based on specific application requirements. This study contributes by providing an integrated comparative analysis that considers multiple performance aspects simultaneously, offering a more comprehensive perspective for IoT system design
PERBANDINGAN ARSITEKTUR 5G NON-STANDALONE (NSA) DAN STANDALONE (SA): KAJIAN LITERATUR Fikri Adi Pratama; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2274

Abstract

Perkembangan teknologi jaringan seluler generasi kelima (5G) menghadirkan peningkatan signifikan dalam hal kapasitas data, efisiensi jaringan, dan kualitas layanan dibandingkan generasi sebelumnya. Dalam implementasinya, terdapat dua pendekatan arsitektur utama, yaitu Non-Standalone (NSA) dan Standalone (SA), yang memiliki karakteristik serta keunggulan masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan arsitektur 5G NSA dan SA berdasarkan beberapa parameter teknis utama, meliputi struktur core network, latency, kompleksitas deployment, serta dukungan terhadap fitur-fitur lanjutan 5G. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan kualitatif, melalui pengumpulan dan analisis sumber ilmiah bereputasi yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur NSA masih bergantung pada infrastruktur LTE melalui Evolved Packet Core (EPC), sehingga memungkinkan proses deployment yang lebih cepat dan efisien dari sisi biaya, namun memiliki keterbatasan dalam mendukung fitur-fitur lanjutan 5G secara optimal. Sebaliknya, arsitektur SA menggunakan 5G Core (5GC) berbasis cloud-native yang memberikan fleksibilitas, skalabilitas, serta dukungan penuh terhadap fitur seperti network slicing dan komunikasi dengan latency rendah. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa NSA lebih sesuai sebagai solusi awal implementasi 5G, sedangkan SA merupakan arah pengembangan utama jaringan 5G di masa depan untuk mendukung layanan yang lebih kompleks dan kritis.
Analisis Komprehensif Tantangan Implementasi Network Slicing pada Jaringan 5G Menggunakan Metode Systematic Literature Review Muhammad Erlangga; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2279

Abstract

Perkembangan jaringan 5G menghadirkan konsep network slicing sebagai solusi untuk mendukung beragam layanan dengan kebutuhan yang heterogen dalam satu infrastruktur jaringan terpadu. Namun, implementasinya menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan saling berkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tantangan implementasi network slicing secara komprehensif melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Metode yang digunakan mengacu pada pedoman Kitchenham serta kerangka PRISMA dengan menganalisis literatur dari berbagai basis data ilmiah dalam periode 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan implementasi network slicing bersifat multidimensi, mencakup aspek teknis, operasional, dan keamanan yang saling berinteraksi. Pada aspek teknis, tantangan utama meliputi kompleksitas orkestrasi end-to-end, alokasi sumber daya dinamis, isolasi antar-slice, serta interoperabilitas multi-domain. Pada aspek operasional, permasalahan muncul dalam pemenuhan Service Level Agreement (SLA), skalabilitas, serta kebutuhan otomasi jaringan. Sementara itu, pada aspek keamanan, peningkatan attack surface akibat virtualisasi dan lingkungan multi-tenant menjadi isu kritis. Selain itu, hasil penelitian mengungkap adanya hubungan kausal antar tantangan serta trade-off antara efisiensi, isolasi, dan keamanan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyusunan sintesis literatur yang terintegrasi lintas aspek serta identifikasi hubungan antar tantangan secara komprehensif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan solusi adaptif untuk mendukung implementasi network slicing pada jaringan generasi mendatang.
Evolusi Teknologi Jaringan Seluler Dari 4G Ke 5G : Sebuah Kajian Literatur Berbasis Arsitektur Dan Kinerja Shintia Destrianita; Firdaus Nursal; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2300

Abstract

The development of wireless communication technology has entered the 5G era, designed to address global data traffic surges and low latency requirements through a shift in infrastructure paradigms. While previous studies have partially examined technical parameters, there remains a gap in comprehensive synthesis directly linking core architecture transformation to multi-parameter performance. This study aims to integrate the correlation between network architecture evolution, from Evolved Packet Core (EPC) to Service-Based Architecture (SBA), with empirical performance analysis including latency, throughput, and connection density using a Systematic Literature Review (SLR) of global research data from the last five years across IEEE Xplore, ScienceDirect, and MDPI databases. Analysis results indicate that the transition to SBA and the implementation of Multi-access Edge Computing (MEC) are key factors in drastically reducing latency compared to 4G. Empirically, 5G NSA networks can deliver throughput up to 180 Mbps, significantly surpassing 4G’s 10-12 Mbps, although signal stability at high frequencies remains a challenge in high-mobility conditions. This study concludes that the transformation toward service-based architecture and edge computing is the primary driver enabling significant performance leaps in 5G technology.
Kajian Literatur Tentang Perbedaan Kebutuhan Dan Karakteristik Jaringan 5g Pada Wilayah Urban Dan Suburban Erin Aulia Rahma; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2308

Abstract

Pengembangan jaringan seluler generasi kelima (5G) membutuhkan strategi perencanaan adaptif berdasarkan karakteristik area layanan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan persyaratan dan karakteristik jaringan 5G di daerah perkotaan dan pinggiran kota menggunakan pendekatan tinjauan pustaka terstruktur. Sumber data diperoleh dari jurnal internasional terkemuka yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir, yang berfokus pada aspek teknis utama seperti lalu lintas data, kepadatan pengguna, propagasi radio, pemanfaatan spektrum, dan perencanaan jaringan. Hasil menunjukkan bahwa daerah perkotaan dicirikan oleh kepadatan pengguna yang tinggi dan lalu lintas data yang dinamis, yang membutuhkan kapasitas tinggi, densifikasi jaringan, dan penggunaan spektrum frekuensi menengah hingga tinggi, termasuk gelombang milimeter. Sebaliknya, daerah pinggiran kota menunjukkan pola lalu lintas yang lebih stabil dan kepadatan pengguna yang lebih rendah, yang mengarah pada strategi perencanaan jaringan yang menekankan cakupan luas dan efisiensi biaya melalui penggunaan pita frekuensi rendah hingga menengah. Perbedaan ini menyoroti bahwa tidak ada pendekatan perencanaan jaringan universal, dan strategi harus disesuaikan dengan karakteristik regional tertentu. Kebaruan studi ini terletak pada penyediaan perbandingan komprehensif dan terintegrasi dari persyaratan dan karakteristik jaringan 5G antara lingkungan perkotaan dan pinggiran kota.  
Kajian Literatur Perbandingan Teknologi EPON dan GPON pada Jaringan Akses Fiber Optik Muhammad Rizky Irawan; Andi Ahmad Dahlan; Lifwarda Lifwarda; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2324

Abstract

The increasing demand for high-speed broadband services has driven the adoption of Fiber To The Home (FTTH) technology based on Passive Optical Network (PON). The two primary technologies dominating current implementations are Ethernet Passive Optical Network (EPON) and Gigabit Passive Optical Network (GPON). This study aims to conduct a systematic literature review providing an in-depth comparison between EPON and GPON regarding technical specifications, Quality of Service (QoS) performance, and economic implications. The methodology employed is a Systematic Literature Review (SLR), evaluating scientific publications from 2020 to 2025. The results indicate that GPON offers significant advantages in downstream capacity (2.488 Gbps), protocol efficiency reaching 92%, and granular bandwidth management through the T-CONT mechanism, making it ideal for large-scale triple-play services. Conversely, EPON provides a simpler architecture, 20-30% lower capital expenditure (CAPEX), and symmetric speeds (1.25 Gbps) suitable for business or rural traffic needs. This research concludes that technology selection must be based on subscriber density and operational budget, where GPON excels in dense metropolitan areas, while EPON remains competitive for cost-sensitive market segments.
Systematic Literature Review Peran Internet of Things dalam Meningkatkan Kualitas Layanan Jaringan Digital Zaki, Muhammad Aulia; Lifwarda Lifwarda; Vera Veronica; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2327

Abstract

Perkembangan teknologi IoT yang pesat telah memberikan kontribusi signifikan terhadap transformasi sistem jaringan digital, khususnya dalam peningkatan parameter Quality of Service (QoS). Metode penelitian yang digunakan meliputi tahapan identifikasi, screening, eligibility, dan inklusi terhadap artikel ilmiah yang relevan dengan rentang tahun publikasi 2021 hingga 2026. Data dikumpulkan dari berbagai basis data akademik seperti Google Scholar, Scopus, dan sumber terindeks lainnya. Sejumlah artikel terpilih dianalisis untuk mengidentifikasi tren, tantangan, serta kontribusi penerapan IoT dalam sistem jaringan. Hasil kajian menunjukkan bahwa IoT memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja jaringan melalui pemantauan secara real-time, alokasi sumber daya yang adaptif, serta pengolahan data yang cerdas. Implementasi IoT mampu meningkatkan parameter QoS seperti latency, throughput, reliability, dan efisiensi jaringan. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti kerentanan terhadap keamanan, kompleksitas pengelolaan data, serta masalah skalabilitas sistem. Selain itu, integrasi IoT dengan teknologi terkini seperti kecerdasan buatan dan edge computing menunjukkan potensi yang besar dalam mengoptimalkan layanan jaringan digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa IoT merupakan komponen penting dalam pengembangan jaringan digital yang cerdas dan efisien, serta memiliki implikasi signifikan bagi penelitian lanjutan maupun implementasi praktis di masa depan.
ANALISIS PERAN TEKNOLOGI FTTH BERBASIS GPON DALAM MENDUKUNG TRANSFORMASI DIGITAL WILAYAH PEDESAAN Grace Aulia, Ramanda; Amelia Yolanda; Yustini Yustini; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2328

Abstract

Transformasi digital menuntut ketersediaan infrastruktur broadband berkecepatan tinggi yang andal, namun kesenjangan akses di wilayah pedesaan masih menjadi kendala utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran teknologi Fiber to the Home (FTTH) berbasis Gigabit Passive Optical Network (GPON) dalam mendukung pemerataan akses broadband. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap publikasi ilmiah periode 2020–2025 dari berbagai database bereputasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa FTTH-GPON mampu menyediakan kapasitas bandwidth tinggi, latensi rendah, serta kualitas layanan (QoS) yang stabil dengan parameter teknis seperti link power budget yang memenuhi standar. Selain itu, penggunaan arsitektur jaringan optik pasif meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan biaya operasional. Dari sisi implementasi, ketersediaan jaringan broadband berbasis FTTH berkontribusi terhadap peningkatan akses layanan digital, termasuk pendidikan dan kesehatan, serta mendukung inklusi digital di wilayah pedesaan. Namun demikian, implementasi FTTH-GPON masih menghadapi keterbatasan infrastruktur serta belum terintegrasinya aspek teknis, ekonomi, dan sosial secara komprehensif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan integratif dalam perencanaan dan pengembangan jaringan FTTH berbasis GPON untuk mendukung transformasi digital yang berkelanjutan.
Analisis Optimasi Desain Jaringan FTTH Berbasis GPON Menggunakan Pemetaan Wilayah pada Area Rural Kerinci Bengkolan Dua, Jambi Khoirul Yazid; Dikky Chandra; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2330

Abstract

This study examines the optimization of Fiber To The Home (FTTH) network design using the Gigabit Passive Optical Network (GPON) architecture through a geographic mapping approach between customer houses and Network Points (NP). The background of this research lies in the inefficiency of conventional FTTH design in rural areas where house distribution is irregular, often causing excessive cable usage and higher optical attenuation. The objective of this study is to compare a conventional design scenario, where NP placement follows the feeder route, with an optimized scenario that assigns each house to the nearest NP based on geographic proximity. A comparative design analysis method was applied using field observation data, estimated block dimensions, and visual network mapping. The findings indicate that the geographic mapping approach significantly reduces total cable length by 2,586 meters, primarily from shorter drop cables, resulting in a more organized cable layout and easier network maintenance. This optimization also implies lower material usage, reduced attenuation, and better network scalability. The results demonstrate that nearest-distance-based design provides a practical and efficient solution for FTTH deployment in rural environments with non-uniform house patterns.
PERAN TEKNOLOGI FIBER OPTIK DALAM MENINGKATKAN QUALITY OF SERVICE PADA JARINGAN 5G: SEBUAH SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Hisyam Akbar, Muhammad Aqil; Yustini Yustini; Amelia Yolanda; Yulindon Yulindon
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (JIPM) April 2026
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i2.2331

Abstract

Perkembangan jaringan komunikasi generasi kelima (5G) menuntut infrastruktur transmisi yang mampu memenuhi persyaratan Quality of Service (QoS) yang semakin kompleks, mencakup parameter latensi , throughput , packet loss , dan keandalan . Teknologi fiber optik telah diidentifikasi sebagai komponen infrastruktur yang fundamental dalam mendukung kinerja jaringan 5G, namun kajian yang secara komprehensif mengintegrasikan peran fiber optik terhadap seluruh parameter QoS dalam satu kerangka analisis yang terpadu masih sangat terbatas dalam literatur yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis peran teknologi fiber optik dalam meningkatkan QoS pada jaringan 5G melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Proses seleksi literatur dilakukan menggunakan panduan PRISMA 2020 terhadap artikel-artikel yang diterbitkan pada rentang tahun 2020–2026 dari basis data IEEE Xplore, ScienceDirect, SpringerLink, dan Google Scholar, menghasilkan 13 artikel terpilih dari 128 artikel yang diidentifikasi pada awal. Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa fiber optik berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan seluruh parameter QoS utama, yakni penurunan latency pada segmen backhaul dan fronthaul , peningkatan throughput akibat kapasitas bandwidth yang besar, penurunan packet loss karena stabilitas transmisi yang tinggi, serta peningkatan keandalan jaringan. Selain itu, integrasi antara fiber optik dan teknologi akses nirkabel dalam arsitektur Fixed Wireless Access (FWA) dan Cloud Radio Access Network (C-RAN) terbukti menghasilkan sinergi positif dalam meningkatkan efisiensi dan transmisi jaringan secara menyeluruh. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa kerangka analisis integratif yang menghubungkan fiber optik dengan seluruh dimensi jaringan QoS 5G secara holistik, serta memberikan dampak praktis bagi operator telekomunikasi dan pemangku kepentingan dalam perencanaan infrastruktur jaringan nasional.