Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : MEDIAN

Etnobotani Masyarakat Dalam Pemanfaatan Serat Kulit Melinjo Sebagai Bahan Baku Pembuatan Noken Di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat azis maruapey; Ponisri Ponisri; Syarif Ohorella
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v12i2.963

Abstract

Tas rajutan tangan rakyat Papua, Noken, telah resmi masuk dalam daftar UNESCO warisan budaya. Pengakuan UNESCO akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken. Inskripsi UNESCO ini membuat kami melakukan penelitian etnobotani pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui etnobotani dan pengetahuan lokal (local knouwledge) masyarakat dalam memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo, proses dan kriteria pengambilan bahan baku serta proses pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat.  Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara semi struktural (semi structural interview). Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan etnobotani pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo dan disajikan dalam bentuk gambar.Hasil menunjukkan bahwa pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo untuk pembuatan Noken oleh masyarakat Kampung Esyo ,,,,,’Distrik Aifat Kabupaten Maybrat, dengan memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo dengan ukuran diameter antara 10 - 20 cm. Proses pengambilan serat dengan cara ditebang dan menguliti pohon tersebut. Perlakuan bahan baku melalui perendaman, penjemuran, penghalusan dan pewarnaan dengan maksud agar serat kulit kayu tidak cepat rusak dan lebih tahan lama (awet). Proses pembuatan Noken mengikuti pola sulaman dan anyaman, yang disesuaikan dengan pola dan ukuran Noken yang diinginkan. Pemberian warna Noken memakai pewarna alami dengan memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan anggrek alam. Proses perajutan Noken dilakukan pada saat santai atau istirahat, tempat perajitan Noken bisa di rumah, pasar atau tempat pertemuan di kampung.
Kelembagaan Lokal Masyarakat Suku Maybrat Kampung Kamisabe Dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan Inawati Irnawati; Syarif Ohorella; Nurhidaya Nurhidaya
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.095 KB) | DOI: 10.33506/md.v14i2.1936

Abstract

Sistem pengusahaan Hutan Alam dalam prakteknya, masyarakat memiliki perangkat hukum yaitu berupa aturan-aturan adat yang sangat baik dalam mengatur status penguasaan/kepemilikkan lahan hutan, sampai dengan mengelola hasil-hasil tanaman ”tertentu” yang diusahakannya. Di Kampung Kamisabe Distrik Muswaren, untuk status kepemilikan sumberdaya lahan di hutan Alam, sejak dulu telah diatur secara adat berdasarkan masing-masing kelompok marga atau yang yakni suatu kesatuan kekerabatan masyarakat yang terdiri dari beberapa rumah tangga dengan memakai nama keluarga berupa marga yang sama di dalam suatu wilayah perkampungan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengkaji bentuk dan peran kelembagaan adat masyarakat dalam mengatur dan mengelola sumberdaya hutan. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem Kelembagaan Adat dalam pengelolaan Sumberdaya Hutan. Penelitian ini di rancang dengan menggunakan metode studi kasus dengan beberapa teknik pengumpulan data yakni melalui : Wawancara individual (individual interview), pengamatan terlibat (participant observation), dan diskusi kelompok terfokus (focused group discussion). Hasil penelitian menunjukan bahwa Masyarakat Kampung Kamisabe memiliki sistem kekerabatan masyarakat yang terdiri dari kesatuan-kesatuan geneologis yang berperan dalam pengaturan pengelolaan sumberdaya hutan termasuk Tanah dan Air didasarkan pada teritorial geneologis. Pengelolaan hasil-hasil Hutan diatur melalui sistem Kelembagaan Adat yang berlaku di wilayah Kelembagaan Adat yang diselenggarakan oleh Kepala Pemerintah Kelembagaan Adat dan para dewan Kelembagaan Adat kampung melalui musyawarah Kelembagaan Adat di tingkat Kampung.
Biomasa Karbon Below Ground Paraserianthes Falcataria (L.) Nielsen pada Lahan Agroforestri Tradisional di Distrik Aimas, Sorong Ohorella, Syarif; Siburian, Rima H; Febriadi, Ihsan
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v16i3.4176

Abstract

Forests as part of the environment have a big role in maintaining ecosystem stability. One of them is as a carbon store. Vegetation in forests can prevent the release of carbon into the atmosphere through the process of photosynthesis where vegetation absorbs CO2 then breaks it down and stores it in the form of biomass. This is what makes it important for forest friends to study their ability to store biomass and carbon specifically on Agroforestry land as one of the site level forest management units. The aim of this research is to develop an allometric equation model to estimate the value of carbon biomass stored in bellow ground specifically for stands on traditional agroforestry land. The method used is a destructive sampling by selecting sample trees purposively and selecting three samples. trees with different diameters at breast height (dbh) but the same age representing stands on agroforestry land in Aimas District, Sorong Regency. biomass and carbon measurements were carried out through laboratory tests. The total below ground biomass content of the 19 of Paraserianthes falcataria stands obtained was 0.369 tons/ha. The below ground carbon content of sengon stands on 2.8 hectares of agroforestry land is 0.184 tonnes C/ha.
Potensi Dan Sebaran Diameter Batang Terhadap Dugaan Sekuestrasi Karbon Pada Tegakan Dipterocarpaceae Di Taman Wisata Alam Sorong Maruapey, Azis; Nanlohy, Lona H.; Saeni, Fajrianto; Ohorella, Syarif
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v16i1.3613

Abstract

This research was carried out in the Sorong Nature Tourism Park (TWA) Forest area from August 2023. This research aims to determine potential, biomass per diameter, biomass per unit area; and the amount of carbon stored in stands of Dipterocarpaceae species in the Sorong TWA forest. The potential stands of dipterocarpaceae species found in the Sorong TWA forest are 398 trees or an average of 39.8 trees/ha. The types of dipterocarpaceae stands found were Resak (Vatica papuana), Mersawa (Anisoptera spp.), and Merawan (Hopea sangol). The distribution of dipterocarpaceae stands is quite even, with the Vatica species being very dominant, namely 156 trees or 15.6 trees/ha, Mersawa with 132 trees or 13.2 trees/ha, and Hopea with 110 trees or 11.0 trees/ha. The total standing biomass of dipterocarpaceae species was 38.82 tonnes/ha, with details for the Vatica species contributing the most biomass, namely 16.58 tonnes/ha, Mersawa 12.49 tonnes/ha and Hopea 9.75 tonnes/ha. Meanwhile, the total biomass per area is 3.88 tons per hectare. The greatest amount of biomass is stored in stands of trees with a diameter > 30 cm compared to those with a diameter < 30 cm. The stored carbon reserve content of dipterocarpaceae stands is 1.78 tonnes/ha, so assuming the Sorong TWA forest has an area of ​​945.90 ha, it is estimated that the amount of carbon stored in dipterocarpaceae stands is 1683.70 tonnes.