Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi Pemasaran Global Merk Mills: Studi Kasus Ekspansi Pasar Internasional Wijaya, Endrio Chandra; Pribadi, Muhammad Adi
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36806

Abstract

This study examines the brand communication tactics used by Mills, a regional sportswear company from Indonesia, to penetrate the international market. Mills chose to implement a global branding strategy amid challenges such as declining local purchasing power and the dominance of multinational giants such as Nike and Adidas. The study identified key tactics, such as international partnerships with football teams, influencer marketing, integrated social media campaigns, and culturally sensitive branding messages, using qualitative case study techniques that included in-depth interviews and document analysis. The results show that through collaborations with international clubs, authenticity initiatives such as product holograms, and narrative advertising such as ‘From Indonesia to the World,’ Mills has successfully increased brand awareness. The study found that when brand communication is digitally optimised and culturally sensitive, it can strengthen national identity and product credibility while enabling local companies to compete at a global level. Penelitian ini mengkaji taktik komunikasi merek yang digunakan oleh Mills, sebuah perusahaan pakaian olahraga regional asal Indonesia untuk menembus pasar internasional. Mills memilih untuk menerapkan strategi branding global di tengah tantangan seperti menurunnya daya beli lokal dan dominasi raksasa multinasional seperti Nike dan Adidas. Studi ini menemukan taktik penting, seperti kemitraan internasional dengan tim sepak bola, pemasaran influencer, kampanye media sosial terintegrasi, dan pesan branding yang sensitif secara budaya, menggunakan teknik studi kasus kualitatif yang meliputi wawancara mendalam dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui kolaborasi dengan klub-klub internasional, inisiatif keaslian seperti hologram produk, dan iklan cerita seperti “Dari Indonesia ke Dunia,” Mills berhasil meningkatkan kesadaran merek. Studi ini menemukan bahwa ketika komunikasi merek dioptimalkan secara digital dan sensitif secara budaya, hal ini dapat memperkuat identitas nasional dan kredibilitas produk sambil memungkinkan perusahaan lokal bersaing di tingkat global.
Makna Tinju sebagai Lifestyle Sport dalam Perspektif Interaksi Simbolik pada Generasi Z Ramadhan, Daffananda Okto; Pribadi, Muhammad Adi
Kiwari Vol. 4 No. 4 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i4.36825

Abstract

This study aims to explore how Generation Z interprets boxing as part of a lifestyle sport through the perspective of Symbolic Interactionism. The research is grounded in the phenomenon of a shifting meaning of boxing, which is no longer understood solely as a harsh and competitive sport, but also as a form of physical fitness, self-care, and a symbol of a modern lifestyle among young people. A qualitative case study approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, observations in boxing training spaces, and visual and digital documentation, and analyzed using a descriptive-reflective method with source triangulation to ensure data credibility. The findings indicate that the meaning of boxing is constructed through a gradual process of symbolic interaction. Social media serves as the initial point of engagement, introducing visual symbols of boxing that generate interest prior to direct experience. Interactions within training environments, particularly with coaches and fellow trainees, reinforce meaning exchange and self-reflection. Over time, training routines are internalized as part of a more active, structured, and self-oriented daily rhythm. Boxing is ultimately interpreted as a symbol of discipline, self-confidence, and a modern lifestyle identity, while also fostering a sense of personal achievement and self-transformation in Generation Z’s everyday life. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Generasi Z memaknai olahraga tinju sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle sport) melalui perspektif Teori Interaksi Simbolik. Penelitian ini berangkat dari fenomena pergeseran makna tinju yang tidak lagi dipahami semata sebagai olahraga keras dan kompetitif, tetapi juga sebagai sarana kebugaran, perawatan diri, serta simbol gaya hidup modern di kalangan generasi muda. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi di ruang latihan, serta dokumentasi visual dan digital, kemudian dianalisis secara deskriptif-reflektif dengan triangulasi sumber untuk menjaga kredibilitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan tinju terbentuk melalui proses interaksi simbolik yang berlangsung secara bertahap. Media sosial berperan sebagai pintu awal perjumpaan Generasi Z dengan simbol visual tinju yang menumbuhkan ketertarikan awal. Pengalaman langsung di ruang latihan, melalui interaksi dengan pelatih dan teman latihan, memperkuat pertukaran makna dan membentuk refleksi diri. Rutinitas latihan kemudian diinternalisasi sebagai bagian dari ritme hidup yang lebih aktif, terarah, dan berorientasi pada perawatan fisik serta emosional. Tinju dimaknai sebagai simbol kedisiplinan, kepercayaan diri, dan identitas gaya hidup modern, sekaligus menghadirkan rasa pencapaian dan transformasi diri dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z.
Brand Ambassador AESPA sebagai Penunjang Brand Image Nabati Richoco Renwarin, Angie Veronica; Pribadi, Muhammad Adi
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37008

Abstract

This study explores how K-Pop brand ambassadors contribute to brand image amidst the trend of utilizing K-Pop idols in digital marketing communication strategies. This study begins with the phenomenon of utilizing collaboration campaigns, exclusive photocards, and fan engagement activities on social media to examine the emotional closeness between brands and fans. The purpose of this study is to understand the presence of Aespa as a brand ambassador to support the brand image of Nabati Richoco among K-Pop fans exposed to the collaboration campaign. The study uses a qualitative approach with a phenomenological method to explore the direct experiences of Aespa fans who learned about the collaboration, saw promotional materials, and purchased Aespa x Richoco products. Data were obtained through in-depth interviews with informants selected purposively based on their involvement. The analysis focuses on brand image factors (Strength of Brand Association, Favorability of Brand Association, and Uniqueness of Brand Association) and VisCAP indicators (visibility, credibility, attraction, power) to see how brand ambassadors are able to shape public perception of the brand image. The results show that brand collaborations, iconic jingles, and photocards are the main reasons why fans purchase products. Penelitian ini berisi bagaimana brand ambassador K-Pop berkontribusi dalam brand image di tengah tren pemanfaatan idol K‑Pop dalam strategi komunikasi pemasaran digital. Penelitian ini berangkat dari fenomena pemanfaatan kampanye kolaborasi, photocard eksklusif, dan aktivitas fan engagement di media sosial untuk melihat kedekatan emosional antara merek dan penggemar. Tujuan penelitian ini untuk memahami kehadiran Aespa sebagai brand ambassador sebagai penunjang citra merek Nabati Richoco di kalangan penggemar K‑Pop yang terpapar kampanye kolaborasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman langsung penggemar Aespa yang mengetahui kolaborasi, melihat materi promosi, dan membeli produk Aespa x Richoco. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan mereka. Analisis berfokus pada faktor brand image (Strength of Brand Association, Favorability of Brand Association, dan Uniqueness of Brand Association) dan indikator VisCAP (visibility, credibility, attraction, power) untuk melihat bagaimana brand ambassador seperti mampu membentuk persepsi masyarakat terhadap brand image. Hasil penelitian menunjukkan kolaborasi merek, jingle ikonik, dan photocard, menjadi alasan utama mengapa penggemar membeli produk.
Persepsi Followers pada Personal Branding Perempuan Berturban di Instagram: Studi Fenomenologi Dyah Ajeng Rayi Pangestuti; Muhammad Adi Pribadi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37606

Abstract

Social media has become a strategic space for individuals to construct and communicate their public identities. Instagram, as a dominant visual platform, enables users to present personal images through visual content, narratives, and interactions with audiences. In this context, personal branding is no longer limited to public figures but has increasingly developed among individual content creators. One notable phenomenon is the emergence of turbaned women who consistently build their personal branding on social media. The Instagram account @rossafarahadiba, known as Ocha, is widely recognized through the identity of “the turbaned woman,” which is continuously displayed across her content. The turban functions not only as a personal style but also as a distinguishing symbol that shapes followers’ perceptions of her identity. However, previous studies have predominantly examined personal branding from the creator’s perspective, while research focusing on followers’ perceptions particularly toward turbaned women remains limited. This study aims to understand how followers interpret the personal branding of a turbaned woman on Instagram. The research employs a qualitative approach using a phenomenological method. The research subjects are followers of @rossafarahadiba who have followed the account for at least 5–7 months and actively engage through comments, likes, or story replies. Data were collected through in-depth interviews, documentation, and literature review, with data validity ensured through source triangulation. Data analysis is based on four dimensions of personal branding: clarity, consistency, credibility, and visibility. Media sosial telah menjadi ruang strategis bagi individu untuk membangun dan mengomunikasikan identitas diri secara publik. Instagram, sebagai platform visual yang dominan, memungkinkan pengguna menampilkan citra personal melalui visual, narasi, dan interaksi dengan audiens. Dalam konteks ini, personal branding tidak hanya dimiliki oleh figur publik, tetapi juga berkembang di kalangan konten kreator individu. Salah satu fenomena yang menarik adalah kemunculan perempuan berturban yang membangun personal branding secara konsisten di media sosial. Akun Instagram @rossafarahadiba atau Ocha dikenal melalui identitas “si cewek berturban” yang ditampilkan secara berkelanjutan dalam kontennya. Turban tidak hanya berfungsi sebagai gaya personal, tetapi juga menjadi simbol pembeda yang membentuk persepsi followers terhadap dirinya. Namun, penelitian terdahulu lebih banyak membahas personal branding dari sudut pandang kreator, sementara kajian yang menempatkan persepsi followers khususnya terhadap perempuan berturban masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana followers memaknai personal branding perempuan berturban di Instagram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek penelitian adalah followers @rossafarahadiba yang telah mengikuti akun tersebut selama minimal 5–7 bulan dan aktif berinteraksi melalui komentar, likes, atau reply story. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Analisis data menggunakan teori empat dimensi personal branding: clarity, consistency, credibility, dan visibility.
Peran TikTok sebagai Ruang Interaksi Sosial Mahasiswa Gen Z Jakarta Cindy Aldora Cahyadi; Muhammad Adi Pribadi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37614

Abstract

TikTok has become one of the most dominant digital platforms among Generation Z in Indonesia, especially in Jakarta. This study examines how TikTok functions as a space for social interaction, focusing on the symbolic meanings constructed by its users. Using George Herbert Mead’s theory of symbolic interactionism, this research analyzes how significant symbols, role-taking, and generalized others shape users’ communication patterns. This qualitative study involved six informants who are active TikTok users and residents of West Jakarta. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that TikTok serves not only as a platform for entertainment but also as a symbolic space where meanings, identities, and social interactions are negotiated. Users interpret various digital symbols such as viral sounds, content formats, and visual expressions to shape their online behavior. Additionally, TikTok facilitates identity expression while reinforcing social norms through community responses and viral trends. The study concludes that TikTok functions as a modern social arena that significantly influences Gen Z’s communication behavior and identity construction. TikTok menjadi salah satu platform digital yang paling dominan di kalangan Generasi Z di Indonesia, khususnya di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana TikTok berfungsi sebagai ruang interaksi sosial bagi mahasiswa Gen Z. Pendekatan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead digunakan untuk menjelaskan proses pembentukan makna melalui significant symbols, role-taking, dan generalized others. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan enam informan yang merupakan pengguna aktif TikTok dan berdomisili di Jakarta Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai ruang simbolik tempat mahasiswa Gen Z menegosiasikan identitas, makna sosial, dan perilaku komunikasi. Pengguna menafsirkan berbagai simbol digital seperti audio viral, gaya konten, hingga ekspresi visual sebagai acuan dalam berinteraksi. Selain itu, respons audiens dan tren yang berkembang berperan sebagai generalized others yang memengaruhi pembentukan identitas dan perilaku digital mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa TikTok merupakan arena sosial modern yang memengaruhi proses komunikasi dan konstruksi identitas mahasiswa Gen Z.
PENYULUHAN PERSIAPAN UJI KOMPETENSI HUMAS BAGI KEMENTERIAN DAN BUMN Muhammad Adi Pribadi; Marilyn Alexander; Brindawan Suraj Murti
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v9i1.36905

Abstract

The Community Service Program (PKM) conducted by the Untar Team (Universitas Tarumanagara) at Lembaga Sertifikasi Profesi Public Relations Indonesia (LSPPRI) aims to provide guidance to prospective participants of the Public Relations (PR) competency test regarding the necessary preparations prior to undertaking the examination. This PKM initiative is important to be implemented as part of efforts to support the government in encouraging skilled individuals to obtain professional certification from the Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). The PKM Untar plays a significant role in motivating public relations practitioners to acquire professional certification in the field. The existence of Untar’s PKM provides opportunities for the public to learn about and participate in the professional certification program for Public Relations. The workshop participants consisted of public relations personnel from one of the Ministries and several State-Owned Enterprises (BUMN), who registered themselves to take the PR competency test at LSPPRI. As a Professional Certification Institute (LSP), LSPPRI has received authorization from BNSP to conduct competency tests, issue PR professional certificates, and prepare competency test materials on behalf of BNSP. The Untar PKM Team contributed by providing education on the implementation process of the PR competency test, determining the appropriate scheme, and developing portfolio preparation strategies. The Head of the Untar PKM Team was invited by the leader of LSPPRI to serve as a facilitator due to his competence and experience as an assessor in the field of public relations. One of the challenges faced by LSPPRI was finding experienced speakers for the workshop, as other assessors were unwilling to take on the role, except for the Head of the Untar PKM Team. Another issue was that many prospective participants lacked knowledge and experience regarding the PR competency test, thus requiring guidance during the workshop to increase their chances of obtaining a “Competent” (K) score from the assessors. The workshop was conducted online on August 22, 2025. The methodology applied in the PKM was qualitative, in which the PKM leader delivered the material using PowerPoint via Zoom, employing a symbolic interaction approach. After one hour of presentation, participants were given the opportunity to freely ask questions to the presenter. The prospective assessees who have attended the counseling sessions obtained a Competent score during the competency test. This demonstrates that the activities conducted by the PKM Untar Team were successful in delivering the quality information required by the community. Keywords: Untar, PKM, LSPPRI, PR, Humas ABSTRAK Program PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) yang dilaksanakan oleh Tim Untar (Universitas Tarumanagara) di Lembaga Sertifikasi Profesi Public Relations Indonesia (LSPPRI) bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada calon peserta uji kompetensi PR (Public Relations) terkait persiapan yang perlu dilakukan sebelum mengikuti uji kompetensi. PKM dengan tema ini penting untuk dilaksanakan sebagai bagian dari upaya membantu pemerintah dalam mendorong Masyarakat yang memiliki keterampilan bekerja untuk mendapatkan sertifikat profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kegiatan PKM Untar menjadi bagian penting mendorong para profesi humas memiliki sertifikat profesi Humas. Keberadaan PKM Untar memberikan kesempatan pada Masyarakat untuk mengetahui dan mengikuti program sertifikat profesi Humas. Para peserta workshop adalah personil humas dari salah satu Kementerian dan beberapa BUMN (Badan Usaha Milik Negara), yang mendaftarkan diri mereka untuk mengikuti uji kompetensi PR di LSPPRI. Sebagai LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi), LSPPRI mendapatkan ijin dari BNSP (Badan Nasional Sertifkasi Profesi) untuk menyelenggarakan uji kompetensi, membuat sertifikat profesi PR dan membuat materi uji kompetensi atas nama BNSP. Tim PKM Untar berperan memberikan edukasi terkait proses pelaksanaan uji kompetensi PR, menentukan skema yang tepat, dan strategi penyusunan portofolio. Ketua Tim PKM Untar mendapatkan undangan dari pimpinan dari LSPPRI untuk menjadi penyuluh karena memiliki kompetensi dan pengalaman sebagai asesor di bidang humas. Permasalahan LSPPRI adalah mencari pembicara yang berpengalaman dalam workshop karena asesor lain tidak bersedia untuk jadi pembicara, kecuali ketua tim PKM Untar. Permasalahan lainnya adalah para calon peserta tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam uji kompetensi PR sehingga mereka perlu dibimbing dalam workshop, agar mereka memiliki kesempatan yang besar dalam memperoleh nilai K (Kompeten) dari asesor. Pelaksanaan workshop dilakukan secara daring, pada tanggal 22 Agustus 2025. Metodologi pelaksanaan PKM adalah dengan pendekata kualitatif dimana ketua PKM menyampaikan materi menggunakan ppt melalui media zoom dengan pendekatan interaksi simbolik. Setelah satu jam presentasi, para peserta diberikan keleluasaan untuk bertanya kepada pemateri. Para calon asesi yang telah mengikuti penyuluhan mendapatkan nilai Kompeten saat mengikuti uji kompetensi. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan Tim PKM Untar sukses dalam memberikan kualitas informasi yang di perlukan Masyarakat. Kata kunci: Untar, PKM, LSPPRI, PR, Humas
Penerapan Agenda Setting dalam Komunikasi Pemasaran di Lacku Cafe pada Instagram Evelyn Halim; Muhammad Adi Pribadi
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.33399

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Agenda Setting strategies in marketing communications carried out by Lacku Cafe through the Instagram social media platform. Amid the rapid development of technology and information, social media has become a primary promotional tool, including the Indoneia’s growing coffee shop industry. Lacku cafe utilizes Instagram to build interactions with customers, strengthen brand image, and increase customer appeal. This research employs a qualitative method with a case study approach. Data is collected through in depth interviews, observations, and documentation, supported by secondary data from relevant books, journlas, and articles. The results of the study indicate that the agenda setting strategy successfully fosters customer engagement through informative, interactive, and consistent content. Moreover, the use of Instagram is proven to be more cost efficient compared to tradisional promotional media. This research is expected to contribute to the development of marketing communication studies, particularly in the utilization of sosial media. The findings of this study may also serve asa a practical reference for business actors to enchance competitiveness and build more effective relationships with customers through social media based communication strategies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan strategi agenda setting dalam komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Lacku Cafe melalui platform media sosial Instagram. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan juga informasi, media sosial telah menjadi sarana promosi yang utama, termasuk dalam industri kedai kopi yang terus berkembang di Indonesia. Lacku Cafe memanfaatkan Instagram untuk membangun interaksi dengan pelanggan, memperkuat citra merek, dan meningkatkan daya tarik konsumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan penedekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta didukung oleh data sekunder seperti buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi agenda setting yang diterapkan berhasil menciptakan keterlibatan konsumen melalui konten yang informatif, interaktif, dan konsisten. Selain itu, penggunaan Instagram terbukti lebih efisien secara biaya dibandingkan dengan media promosi tradisional. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan kajian komunikasi pemasaran, khususnya dalam pemanfaatan media sosial. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi referensi praktis bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan daya saing dan membangun hubungan yang lebih efektif dengan pelanggan melalui strategi komunikasi berbasis media sosial.
Analisis Brand Image Franchise Kopi di Kalangan Mahasiswa Jakarta Barat Febrina Hanaka; Muhammad Adi Pribadi
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.36460

Abstract

This research aims to analyze how students perceive the brand image of Tomoro Coffee as a coffee shop franchise in Jakarta. The background of this research is the proliferation of coffee shop franchises in Jakarta, one of which is Tomoro Coffee. Using a qualitative approach with a case study method, data were obtained thru in-depth interviews with ten students from five different universities in West Jakarta, and direct field observation. Data analysis includes data collection, data reduction, data presentation, and concludes with drawing conclusions. The author will use data source triangulation as one method to test data validity. The research results indicate that the brand image of Tomoro Coffee among students is trending toward positive. This is evidenced by the fulfillment of the three dimensions of brand image used as a reference in analyzing the data results, namely brand strength, brand favorability, and brand uniqueness. These three dimensions contain aspects such as logo, facilities, service, taste, price, and uniqueness. Tomoro Coffee significantly demonstrates its influence by fulfilling all of these aspects.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mahasiswa/i melihat brand image Tomoro Coffee sebagai franchise kedai kopi di Jakarta. Latar belakang dari penelitian ini adalah menjamurnya franchise kedai kopi di Jakarta, salah satunya adalah Tomoro Coffee. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan sepuluh mahasiswa/i dari lima universitas berbeda di Jakarta Barat, dan observasi langsung ke lapangan. Analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan berakhir dengan penarikan kesimpulan, Penulis akan menggunakan triangulasi sumber data sebagai salah satu metode untuk menguji validitas data. Hasil penelitian menunjukkan citra merek Tomoro Coffee di kalangan mahasiswa/i menuju ke arah positif. Hal itu dibuktikan dengan terpenuhinya ketiga dimensi dari brand image yang dijadikan acuan dalam melakukan analisis hasil data, yaitu brand strength, brand favorability, dan brand uniqueness. Ketiga dimensi tersebut memuat aspek-aspek seperti logo, fasilitas, pelayanan, rasa, harga, dan keunikan. Tomoro Coffee secara signifikan menunjukkan pengaruhnya melalui pemenuhan keseluruhan aspek tersebut.
Interaksi Parasosial Penggemar Indonesia terhadap Boygroup Korea Selatan Imelda Aimar Fitrah; Muhammad Adi Pribadi
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36493

Abstract

Parasocial relationships have become increasingly prominent in the social media era, especially among K-Pop fans in Indonesia. This study explores how parasocial interactions between Indonesian fans and NCT Dream are formed and experienced through digital activities on Twitter (X). A qualitative phenomenological approach was used to examine the experiences of seven active fans and regular Twitter users. Data were collected via in-depth interviews and digital documentation, then analyzed using Miles and Huberman’s model through data reduction, display, and conclusion drawing. Findings reveal that parasocial interactions develop across three dimensions. The knowledge dimension arises from repeated exposure to digital content, fostering familiarity with NCT Dream members. The affective dimension reflects emotional attachment, including comfort, enthusiasm, and loss when idols are inactive. The behavioral dimension appears in fandom participation through trending topics, voting, streaming, and donations. The study concludes that Twitter (X) creates an ecosystem that enhances parasocial closeness through information exposure, real-time presence, and coordinated fan activities, highlighting multidimensional psychological and social dynamics in digital fandom.   Hubungan parasosial semakin menonjol di era media sosial, terutama di kalangan penggemar K-Pop di Indonesia. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana interaksi parasosial antara penggemar Indonesia dan NCT Dream terbentuk dan dialami melalui aktivitas digital di X. Pendekatan kualitatif fenomenologis digunakan untuk menelaah pengalaman tujuh penggemar aktif dan pengguna rutin X. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi digital, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi parasosial berkembang melalui tiga dimensi. Dimensi pengetahuan muncul dari paparan berulang terhadap konten digital, menumbuhkan rasa familiar dengan anggota NCT Dream. Dimensi afektif tercermin dari keterikatan emosional, termasuk kenyamanan, antusiasme, dan rasa kehilangan ketika idol tidak aktif. Dimensi perilaku terlihat dalam partisipasi fandom melalui topik trending, voting, streaming, dan donasi. Penelitian menyimpulkan bahwa X menciptakan ekosistem yang memperkuat kedekatan parasosial melalui paparan informasi, kehadiran secara real-time, dan koordinasi aktivitas penggemar, menyoroti dinamika psikologis dan sosial multidimensional dalam fandom digital.
Co-Authors Abdul Malik Adi Satria Alanwari Bulan Putra Alessandro Angelo Tedjo Alfari Josita Andre Wijaya Angelia Febricha Angeline, Daniella Anggraini, Yofani Anthony Chandra Aprianto Tantra Aprila, Velissa Arnelia Lie Augustina Ika Widyani Bagus Susila, Anwen Bella Putri Wijaya Bella Sisyadi Bianca Michelle William Brindawan Suraj Murti Budi Utami Cahyadi, James Calvin NG Catherina Siena Christopher, Ervinn Cindy Aldora Cahyadi Clinton Nadeak Daniel Christofer Darmadi, Rifanny Devin Tjong Devita Agustin Santoso Devita Lusiana Djuan Tandy Dyah Ajeng Rayi Pangestuti Eko Harry Susanto Eric Gautama Evelyn Halim Fahlevy, Erlangga Putra Farid Rusdi Febridianti, Dayang Gasani Aqila Febrina Hanaka Febriyanto Febriyanto Flegon Gamaliel Friska, Sella Gabriela Emanuella Hendra Gerry Hadi Putra Ginting, Geby Enzelica Br Halim, Regina Aurelia Hardianto, Aldi Ilhan Noor Hafizh Adijaya Imelda Aimar Fitrah Ivan Sebastian Jason Harley Hartono Jessia, Sharon Jordan Liunardi Sugiarto Justine, Sheane Karl Vincent Kelly Meliana Kendi Wikasa Tikta Kevin Kevin Kevin Kurniawan Hari Siswoko Kurniawan Hari Siswoko Lianny Lianny Lukmanto, Silvia Marcella Riady, Fransisca Marilyn Alexander Martin, Helice Melse, Melse Meydhita Stevanny Mutiara, Maitri Widya Nada, Naquita Natalia Natalia Nisrina Rahmanita Novi Tandriawan Nurfiyadi, Indra Sim Ori Bagaskara, Hieronimus Patricia Michelle Wijaya Pranata, Yogi Vernando Pratama, Cindy Angelina Ramadhan, Daffananda Okto Ramadhanti, Azizah Ayu Renwarin, Angie Veronica Rezi Erdiansyah Riady, Aldo Ricardo Silenzie Ricky Susanto Rizki Tanto Wijaya Sampras Nugroho Shafa Shabryna Gunadi Sherly Margaretha Siregar, Dewi Mega Lestari Siswoko, Kurniawan Hari Siswoko, Kurniawan Hari Steven Steven Sumbaha, Wahyu Asmaraman Suzy Azeharie, Suzy Tan, Audrey Kirsten Tasya Fitriyani Thommy Timotius Sema Teguh Tiovannie, Angelline Vincent Vincent Widayatmoko, Widayatmoko Widyatmoko widyatmoko Wijaya, Endrio Chandra Winarso, Sebastian Raynaldi Wundira, Trisha Yoedtadi, M. Gafar Yoedtadi, Muhammad Gafar Yoedtadi, Muhammad Gafar Yolanda, Vania Yuliana Yuliana Zakiya, Ryza Nur