Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

BAMBU: ALTERNATIF BAHAN BANGUNAN DI DAERAH RAWAN GEMPA Sukawi, Sukawi
TERAS Vol 10
Publisher : TERAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Along time, bamboo has been known by society as a building material. Bamboo, a natural wealth of Indonesian society actually has the advantages are very suitable as an alternative for problem solving to housing in earthquake areas. For Indonesia as a seismic area and the climate is tropical, bamboo has the advantages when used as residential building materials. Bamboo has a high enough power, ever the skin for several species of bamboo has tensile strength then steel. Besides durability, bamboo has a very long level if the true preservation process. When an earthquake occurred, houses are in the fruit of the bamboo will not immediately collapse because it is elastic and lightweight, other than it can give more time for occupants to immediately save himself. The use of bamboo as structural materials building earthquake resistant housing is still the right solution in terms of economy, convenience and adjustments to the force caused by the earthquake compared to the other roof structure material.
REDESAIN GELANGGANG OLAHRAGA SATRIA PURWOKERTO Wulandari, Ai Ratna; Werdiningsih, Hermin; sukawi, sukawi
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1304.773 KB)

Abstract

Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang bermanfaat untuk kesehatan jasmani dan rohani tiapmanusia. Salah satu fasilitas penunjang untuk kegiatan olahraga adalah adanya Gelanggang Olahraga (GOR)pada tiap kota. Gelanggang Olahraga merupakan suatu wilayah dimana di dalamnya tersedia beberapapenunjang kegiatan olahraga seperti lapangan sepak bola, lapangan bulu tangkis, tennis, basket danseterusnya. Untuk di era sekarang Gelanggang Olahraga tidak hanya dijadikan sebagai pusat olahraga namunjuga sebagai sarana rekreasi untuk masyarakat. Fungsi rekreasi yang diwadahi merupakan kegiatan menontonbersama pertandingan olahraga melalui layar lebar dan pertunjukkan musik. Kota Purwokerto merupakan ibukota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang memiliki GelanggangOlahraga yaitu GOR Satria yang terletak di Jl. Prof Dr. Suharso Kelurahan Grendeng Purwokerto. Sebagai PusatKegiatan Olahraga, GOR Satria memiliki banyak fasilitas olahraga antara lain Stadion Sepak Bola, Lintasan Lari,Lapangan Basket-Bulutangkis-Voli Indoor, Tenis Futsal, Wall Climbing, Cross Sirkuit BMX, dll. Selain mendukungfasilitas juga tersedia sebagai tempat parkir yang luas, tempat beribadah, toilet dan tempat bermain anak. Dalam rangka penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah tahun 2013, PemprovJateng selaku penyelenggara telah menetapkan Kabupaten Banyumas sebagai tuan rumah acara Porprov yangakan diselenggarakan di Gelanggang Olahraga (GOR) Satria Purwokerto. Untuk menjadi tuan rumah yang baikPemkab Banyumas berusaha menyiapkan segala sesuatu terkait dengan akomodasi para atlet, juga saranaprasarana (venues) yang dibutuhkan untuk cabang lomba yang akan dipertandingkan. Berdasarkan keadaanGOR Satria saat ini, fasilitas-fasilitas yang ada belum dapat memenuhi kebutuhan acara Porprov tersebut.Maka dibutuhkan penambahan dan pembenahan untuk menjadikan GOR Satria Purwokerto yang sesuaistandar penyelenggaraan Porprov juga menjadi pusat olahraga yang rekreatif untuk masyarakat Banyumas. 
BAMBU: ALTERNATIF BAHAN BANGUNAN DI DAERAH RAWAN GEMPA Sukawi, Sukawi
-
Publisher : TERAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Along time, bamboo has been known by society as a building material. Bamboo, a natural wealth of Indonesian society actually has the advantages are very suitable as an alternative for problem solving to housing in earthquake areas. For Indonesia as a seismic area and the climate is tropical, bamboo has the advantages when used as residential building materials. Bamboo has a high enough power, ever the skin for several species of bamboo has tensile strength then steel. Besides durability, bamboo has a very long level if the true preservation process. When an earthquake occurred, houses are in the fruit of the bamboo will not immediately collapse because it is elastic and lightweight, other than it can give more time for occupants to immediately save himself. The use of bamboo as structural materials building earthquake resistant housing is still the right solution in terms of economy, convenience and adjustments to the force caused by the earthquake compared to the other roof structure material.
DISAIN ASRAMA SEKOLAH SMP ISLAM TERPADU YATAAMA AL-FIRDOUSI GUNUNG PATI - SEMARANG (LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Prianto, Eddy; Sujono, Bambang; Indarto, Eddy; Setyowati, Erni; Hardiman, Gagok; Sukawi, Sukawi; Septana, Septana
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 4 No 2 (2017): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v4i2.424

Abstract

Salah satu bentuk aktifitas Tri Dharma Perguruan Tinggi bagi seorang dosen adalah kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Yayasan Yataama Al-Firdousi merupakan mitra dari kegiatan ini, mereka memiliki lahan yang direncanakan untuk mengembangkan area kampus pendidikan berbasis Islam. Diawal tahun 2016 pengelola yayasan memohon pada dosen Departement Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang untuk mewujudkan sebuah document perencanaan bangunan Asramanya. Teknis pelaksanaan kegiatan ini, diawali dengan survey lapangan dan bimbingan teknis perencanaan arsitektur hingga terwujudnya document disain bangunan Asrama berarsitektur Islam. Pesantren atau bangunan asrama berbasis islam ini ditandai dengan 3 karakter : pewarnaan warna hijau, atap bangunan entrance berbentuk kubah dan lengkungan pada balok diantara pilar-pilarnya. Sedangkan effesiensi ruang diaplikasikan dengan bentuk bangunan bersusun, dimana bagian bawah untuk aktifitas makan dan belajar dan bagian atasnya untuk hunian.
Kayu Kelapa (glugu) sebagai Alternatif Bahan Konstruksi Bangunan Indrosaptono, Djoko; Sukawi, Sukawi; Indraswara, Moh Sahid
MODUL Vol 14, No 1 (2014): MODUL
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.861 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.1.2014.53-58

Abstract

Abstrak kayu glugu sangat baik digunakan sebagai alternative bahan bangunan. Aplikasi pemanfaatan atau penggunaan kayu glugu akan menjadi lebih bagus jika dipadukan dengan bahan bangunan yang lain untuk membentuk struktur utama atau struktur pendukung dalam konstruksi bangunan. Kayu glugu dapat digunakan sebagai struktur atap (kuda-kuda, gording, nock, usuk dan reng), juga dapat dimanfaatkan sebagai kusen pintu-jendela, daun pintu-jendela, dinding, lantai dan gazebo. Bentuk konstruksi kayu glugu sama dengan bentuk konstruksi jenis kayu yang lainnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kayu glugu dalam fungsinya sebagai bahan bangunan. Kata Kunci : kayu kelapa, bahan bangunan,konstruksi bangunan
PENGGUNAAN BAMBU DALAM SENI INSTALASI ARSITEKTURAL Supriyadi, Bambang; Sukawi, Sukawi
MODUL Volume 13, Nomer 2, Tahun 2013
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.217 KB) | DOI: 10.14710/mdl.13.2.2013.65-72

Abstract

Bambu sebagai bahan bangunan telah dikenal oleh sebagian besar masyarakat di nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini dapat difahami mengingat bambu seperti halnya kayu adalah bahan organik/alami yang tentu lazim digunakan pada masyarakat tradisional/kuno, termasuk digunakan sebagai bahan perlengkapan hidup sehari-hari. Sampai saat ini bambu masih banyak digunakan bahkan tidak hanya sebagai bahan bangunan tetapi meluas penggunaannya, antara lain bahan interior dan benda-benda estetika. Di cabang seni rupa, salah satunya yang mulai populer kini adalah seni instalasi atau seni merangkai, menyusun benda-benda menjadi seni visual tiga dimensi yang menyajikan makna tertentu dengan mempertimbangkan ruang dan waktu. Bambu pun acapkali digunakan sebagai bahan dasarnya. Apabila bambu dengan segala kelebihan dan kekurangannya dapat dirangkai dan disusun dalam seni instalasi yang lebih berkonotasi visual, tentu akan sangat mungkin seni instalasi ini diperluas maknanya sebagai seni instalasi arsitektural yang menempatkan ruang sebagai bagian penting yang berkenaan dengan guna ruang dalam khasanah pengetahuan arsitektur. Sementara, dari sisi lain arsitektur sendiri tidak pernah lepas dari seni dalam arti yang luas. Pendalaman kemungkinan pengembangan seni instalasi yang berorientasi pada ruang yang saya sebut sebagai seni instalasi arsitektural inilah tujuan dari penelitian yang akan saya lakukan. Salah satu cara yang paling sesuai antara lain adalah melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan merangkai bambu di beberapa tempat dan mencoba menerapkan seni instalasi arsitektural dalam  wujud nyata. Diharapkan hasil penelitian ini selanjutnya akan memperkaya khasanah perancangan dan penerapannya serta merangsang tumbuhnya inspirasi dan imajinasi baru berarsitektur.
Pengaruh Luas Bukaan Terhadap Kebutuhan Pertukaran Udara Bersih Dalam Rumah Tinggal sukawi, sukawi; Hardiman, Gagoek
MODUL Vol 14, No 2 (2014): MODUL Volume 14 No.2 Tahun 2014
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.194 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.2.2014.79-86

Abstract

Humid tropic climate conditions is not entirely in according with human needs in order to need the physical comfort. The solar radiation is high, people tropic to avoid the tropical sun directly because it can cause thermal discomfort. In the building are also trying to avoid breaking of solar radiation by direct sunlight to heat from the radiation does not cause heat to buildings. A very important factor for the convenience of a room is the existence of cross ventilation. In the humid tropics, the best orientation is a position that allows for cross ventilation as long as possible. Rare good building orientation to the sun as well as both the main wind direction. Character home in humid tropical areas are generally open so it can serve to capture and stream winds. According Boutet (1987) the amount of air flow is happening in the room depending on the area of the opening hole, the wind direction and wind speed. Airflow velocity becomes greater when the hole in the air (inlet) is smaller than the hole exit (outlet). Cross ventilation can be achieved if there is a hole in (inlet) and exit hole (outlet). Dimensions of the window opening is 20% x large wall sufficient minimum requirements. Of the 7 houses on stilts in the study all have large openings that need the minimum requirements for the air exchange  in the house. This is to support the creation of indoor thermal comfort.
ADAPTASI TAMPILAN BANGUNAN KOLONIAL PADA IKLIM TROPIS LEMBAB (Studi Kasus Bangunan Kantor PT KAI Semarang) Hardiman, Gagoek; sukawi, sukawi
MODUL Vol. 13 No. 1 Januari –Juni 2013
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.878 KB) | DOI: 10.14710/mdl.13.1.2013.35-40

Abstract

Arsitektur kolonial Belanda yang diterapkan pada bangunan-bangunan di Indonesia telah mengalami evolusi yang kuat dalam upaya beradaptasi dengan membubuhkan ciri arsitektur yang sesuai dengan kondisi iklim tropis. Hal ini terlihat, pada awal mula masuk ke Indonesia, corak arsitektur ini sempat kehilangan identitas dari arsitektur kolonial itu sendiri, selain itu corak ini belum dapat beradaptasi dengan iklim Indonesia yaitu tropis basah. Proses adaptasinya berlangsung dalam suatu proses yang bertahap dengan beberapa perkembangan corak antara lain: neo klasik (1800-an), neogotik (sesudah 1900-an), vernakular Belanda (sesudah 1900), neuwe bowen (sesudah 1920), neuwe zakelijkheid, ekspresionistik, art deco (sesudah 1920). Dari periodesasi tersebut dapat diidentifikasi bahwa terjadi proses adaptasi bangunan yang masih bercirikan arsitektur Belanda, namun telah disesuaikan dengan kondisi iklim tropis yang ada di Indonesia. Kondisi lingkungan tropis Indonesia yang kaya akan intensitas radiasi matahari apabila tidak ditangkal dengan benar dapat mengakibatkan laju peningkatan suhu udara, baik di dalam maupun di luar ruangan. Pada bidang yang terbayangi, maka panas yang masuk ke dalam ruang hanya konduksi akibat perbedaan suhu luar dan suhu dalam saja. Akan tetapi pada bidang yang terkena sinar matahari (tidak terkena bayangan), maka panas yang masuk ke dalam ruangan juga akibat radiasi balik dari panasnya dinding yang terkena sinar matahari. Panas yang masuk pada dinding yang tersinari ini bisa mencapai 2 sampai 3 kali nya dibanding konduksi. Terlebih apabila ada sinar matahari yang langsung masuk ke dalam ruangan, panas radiasi matahari yang langsung masuk ke dalam ruangan ini bisa mencapai 15 kali dibanding panas akibat konduksi. Hal tersebut memberikan pemahaman bahwa bidang-bidang yang terkena sinar matahari akan menyumbang laju peningkatan suhu ruangan sangat signifikan. Adaptasi bentuk fisik bangunan kolonial pada kantor PT KAI terhadap kondisi klimatologi inilah yang nantinya akan terlihat pada perubahan kondisi fasad bangunan kolonial bersangkutan. Arsitektur Indis yang lahir dari kebudayaan lokal dan pendatang, memilki karakteristik yang khas. Selain dari itu, arsitektur Indis sudah terbukti mampu beradaptasi dengan corak budaya dan iklim lokal (iklim tropis). Hal inilah yang menjadikan orang- orang Belanda bisa beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, pun sebaliknya orang lokal atau pribumi dapat menerima gaya arsitektur tersebut. Oleh sebab itu, dirasa perlu adanya pemahaman dan pelestarian yang lebih baik terhadap gaya arsitektur Indis, khususnya terhadap bangunan berarsitektur Indis yang masih tersisa. Kata Kunci : Pembayangan, Fasade Bangunan, Kota Lama
ADAPTASI TAMPILAN BANGUNAN INDIS AKIBAT PERUBAHAN FUNGSI BANGUNAN Studi Kasus: Resto Diwang dan De Joglo Semarang sukawi, sukawi; Iswanto, Dhanoe
MODUL Volume 11, Nomer 2, Tahun 2011
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1519.403 KB) | DOI: 10.14710/mdl.11.2.2011.%p

Abstract

Arsitektur Indis yang lahir dari kebudayaan lokal dan pendatang, memilki karakteristik yang khas. Selain dari itu, arsitektur Indis sudah terbukti mampu beradaptasi dengan corak budaya dan iklim lokal (iklim tropis). Hal inilah yang menjadikan orang- orang Belanda bisa beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, pun sebaliknya orang lokal atau pribumi dapat menerima gaya arsitektur tersebut. Oleh sebab itu, dirasa perlu adanya pemahaman dan pelestarian yang lebih baik terhadap gaya arsitektur Indis, khususnya terhadap bangunan berarsitektur Indis yang masih tersisa. Saat ini jumlah bangunan Indis yang masih tetap kokoh berdiri di Kota Semarang semakin berkurang dari waktu ke waktu. Di koridor Jl. S. Parman sendiri yang masih merupakan kawasan yang dirancang Thomas Kaarsten hanya tinggal tersisa beberapa bangunan Indis yang terpelihara hingga saat ini. Bangunan Indis yang masih tersisa dan berubah fungsi merupakan bekas rumah tinggal vila,ataupun rumah dinas peninggalan kaum priyayi (pembesar pribumi), pejabat pemerintahan, dan pengusaha. Hal ini dapat diketahui dari gaya arsitekturnya dan massa bangunannya, berikut ragam hias dan detail bangunannya. Fasad kedua bangunan cenderung telah meninggalkan simbol- simbol arsitektur khas Belanda, karena arsitektur Indis tidak hanya mengadaptasi nilai asal dan nilai lokal suatu daerah, namun juga mampu menyesuaikan dengan karakteristik kebutuhannya, sesuai perkembangan jaman. Dari penelitian ini ditemukan telah terjadi perubahan tampilan fasad bangunan akibat alih fungsi bangunan dan renovasi yang mengikuti perkembangan jaman. Perubahan yang terjadi bervariasi satu dengan yang lain. Namun umumnya berupa penambahan kanopi, tritisan, yang disesuaikan dengan tema restorannya.   Kata Kunci : Adaptasi, Arsitektur Indis, Perubahan fungsi
STRUKTUR MEMBRAN DALAM BANGUNAN BENTANG LEBAR sukawi, sukawi
MODUL Volume 11, Nomer 1, Tahun 2011
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.596 KB) | DOI: 10.14710/mdl.11.1.2011.%p

Abstract

Membran adalah struktur permukaan fleksibel tipis yang memikul beban dengan mengalami tegangan tarik. Struktur membran adalah sebuah alternatif untuk struktur bentang lebar yang dapat diterapkan untuk penutup atap bangunan. Dasar mekanisme pikul beban pada struktur membran adalah tarik. Membran yang memikul beban tegak lurus terhadap permukaannya dapat mengalami deformasi secara tiga dimensi (bergantung pada kondisi tumpuan dan pembebanannya). Aksi pikul beban ini serupa dengan yang terjadi pada sistem kabel menyilang. Selain tegangan tarik, terjadi juga tegangan geser tangensial pada struktur membran. Sistem membran pada bangunan bentang lebar biasanya masih harus dibantu oleh struktur lainnya seperti kabel atau space frame, karena sistem membran bila terkena gaya dari angin maka harus ada daya tarik menuju tumpuan(pondasinya). Sistem membran yang dipakai kebanyakan untuk bangunan skala besar harus mempertimbangkan bahan tenda dan arah angin. Tiang-tiang penyangga flaksibel terhadap gaya tekan oleh angin, hal ini menyebabkan tenda dapat terus berdiri. Kata Kunci : Membran, Bangunan , Bentang lebar