Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PERAN ARSITEK DALAM FACILITY MANAGEMENT (FM) DI LEVEL BANGUNAN GEDUNG: PERSPEKTIF DAN KONTEKS INDONESIA Prabowo, Bintang Noor; Sukawi, Sukawi; Hasan, M. Ismail
MODUL Vol 24, No 1 (2024): MODUL vol 24 nomor 1 tahun 2024 (5 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi dan memperkenalkan peran arsitek yang terus berkembang dalam Facility Management (FM), melalui implementasi integrasi desain arsitektur terhadap layanan hard FM dan soft FM untuk meningkatkan kinerja bangunan dan kepuasan klien. Perspektif ke-Indonesia-an digunakan sebagai konteks untuk menyikapi FM sebagai cabang ilmu yang relatif baru di dalam industry AEC (Architecture, Engineering, and Construction) di Indonesia. Profesi arsitek yang secara umum dikenal cenderung berfokus pada desain estetika dan fungsional saja kini memainkan peran penting dalam pengelolaan berkelanjutan dan optimalisasi lingkungan binaan pasca fase perencanaan dan konstruksi dalam daur-hidup (life-cycle) suatu bangunan. Melalui perannya dalam proses rancang bangun di industri jasa konsultan dan konstruksi, arsitek berperan penting untuk memastikan bangunan yang didesainnya menjadi tahan lama, mudah dirawat, hemat energi, dan dapat beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan di masa mendatang. Pendekatan komprehensif ini bermanfaat bagi bangunan karena memperpanjang masa pakai bangunan, mengurangi biaya operasional dan dampak bangunan tersebut terhadap lingkungan. Metode utama penulisan artikel ini adalah desk review terhadap praktek proses mendesain bangunan terkini dalam kaitannya dengan facility management pada level bangunan sebagai salah satu pertimbangan utamanya. Hasil studi menunjukkan bahwa arsitek memiliki peran dan kontribusi yang cukup signifikan dalam FM dengan cara memaksimalkan peran integral perancang bangunan dalam melaksanakan proses desain atau rancang bangun di tahap awal daur-hidup bangunan terhadap lingkungan binaan sehingga dapat hasil rancangannya dapat berkelanjutan, efisien, dan ramah pengguna, di sepanjang daur-hidupnya..
Cultural Acculturation in the Landlord Family Residence in Kampung Kulitan Semarang Sukawi, Sukawi; Hardiman, Gagoek; Rukayah, Raden Siti
MODUL Vol 23, No 1 (2023): MODUL vol 23 nomor 1 tahun 2023 ( 7 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mdl.23.1.2023.30-36

Abstract

Kampung Kulitan is located in the Jagalan area, Central Semarang. This village is the forerunner of the Tasripin Kingdom which holds high historical value. The historical value is the Tasripin family home that has not been changed or renovated since its inception. Formerly Tasripin was the one who controlled the land in the Kampung Kulitan area. These houses are historical evidence of the glory of Semarang in the past. To protect the historical value of Kampung Kulitan, Semarang City Government has established the village as a tourist village with the theme of the old village with the Tasripin family house which became the cultural heritage asset in Kampung Kulitan. This study aims to determine how much influence the indis architecture has on the facade appearance of buildings in Kampung Kulitan. This study used descriptive qualitative method. Data collection is done using observations in the field. Observations on objects are supported by interviews with homeowners or other sources who are aware of the development of Kampung Kulitan residential area. The results of data collection are analyzed with the theories concerned about the indis architecture and the appearance of the building. The results of this study indicate that cultural acculturation has occurred, especially the Indis architecture in the form of building facades in Kampung Kulitan. This makes housing in Kampung Kulitan very unique and requires accuracy in its rehabilitation.
MERAWAT KAMPUNG KULITAN SEMARANG SEBAGAI KAMPUNG TEMATIK TEMPO DOELOE Sukawi, Sukawi
MODUL Vol 23, No 2 (2023): MODUL vol 23 nomor 2 tahun 2023 ( 5 articles )
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Kulitan telah dikenal sebagai "Kerajaan Taripin”, hal ini dikarenakan Kampung Kulitan merupakan kediaman salah satu orang terkaya di Semarang pada zamannya. Satu kampung ini awalnya dimiliki oleh Tasripin untuk tempat tinggal kerabat dan keturunannya serta pabrik industri pengolahan kulit di belakangnya. Tasripin merupakan seorang pedagang kulit yang hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang mewarisi bisnis kulit ayahnya, Tasimin. Selain bergerak dalam bisnis kerajinan kulit, Tasripin mengembangkan usahanya di usaha kopra dan properti. Dalam mengelola usahanya, Tasripin melakukan hal yang tidak biasa bagi pengusaha lokal saat itu: ia menyewa seorang ahli hukum asal Belanda. Aset yang diperoleh dari berbagai usahanya kemudian diinvestasikan dalam bentuk tanah dan bangunan. Oleh karena itu, ia juga terkenal sebagai tuan tanah. Tasripin meninggal dunia pada tanggal 9 Agustus 1919. Tasripin juga menyediakan rumah bagi para pekerjanya yang berasal dari luar kota Semarang. Para pekerja migran ini dikenal dengan sebutan kaum boro. Salah satunya terletak di pinggir Kali Semarang (Kali Kuping) yang berada dibelakang hunian keluarga Tasripin..
Creativity and Local Wisdom: Community Empowerment in Developing Traditions, Arts, and Culture in the Giyanti Wonosobo Hills Area in Central Java Haryanto, Sri; Sukawi, Sukawi; Rozi, Fathur
Abdimas Indonesian Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/aij.v4i2.563

Abstract

The community service program "Community Empowerment in Developing Traditions, Arts, and Culture in the Giyanti Wonosobo Hilly Area" is a strategic initiative that aims to increase community awareness and active participation in efforts to preserve and develop rich local cultural heritage. The Giyanti Hills region, known for its unique diversity of traditions, arts, and cultures, is now facing serious challenges due to the negative impact of rapid modernization. This program focuses on preservation and empowering the community to act as agents of change in maintaining and developing existing cultural values. Through a series of activities involving education, training, and cross-sector collaboration, it is hoped that people can understand the importance of their cultural identity and integrate it into their daily lives. This service is expected to create a strong collective awareness, encourage active participation in arts and cultural activities, and strengthen social cohesion among community members. The success of this initiative will have a significant positive impact not only on the local community but also on the development of sustainable tourism that respects and uplifts local cultural values.