Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PERAN ARSITEK DALAM FACILITY MANAGEMENT (FM) DI LEVEL BANGUNAN GEDUNG: PERSPEKTIF DAN KONTEKS INDONESIA Prabowo, Bintang Noor; Sukawi, Sukawi; Hasan, M. Ismail
MODUL Vol 24, No 1 (2024): MODUL vol 24 nomor 1 tahun 2024 (5 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi dan memperkenalkan peran arsitek yang terus berkembang dalam Facility Management (FM), melalui implementasi integrasi desain arsitektur terhadap layanan hard FM dan soft FM untuk meningkatkan kinerja bangunan dan kepuasan klien. Perspektif ke-Indonesia-an digunakan sebagai konteks untuk menyikapi FM sebagai cabang ilmu yang relatif baru di dalam industry AEC (Architecture, Engineering, and Construction) di Indonesia. Profesi arsitek yang secara umum dikenal cenderung berfokus pada desain estetika dan fungsional saja kini memainkan peran penting dalam pengelolaan berkelanjutan dan optimalisasi lingkungan binaan pasca fase perencanaan dan konstruksi dalam daur-hidup (life-cycle) suatu bangunan. Melalui perannya dalam proses rancang bangun di industri jasa konsultan dan konstruksi, arsitek berperan penting untuk memastikan bangunan yang didesainnya menjadi tahan lama, mudah dirawat, hemat energi, dan dapat beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan di masa mendatang. Pendekatan komprehensif ini bermanfaat bagi bangunan karena memperpanjang masa pakai bangunan, mengurangi biaya operasional dan dampak bangunan tersebut terhadap lingkungan. Metode utama penulisan artikel ini adalah desk review terhadap praktek proses mendesain bangunan terkini dalam kaitannya dengan facility management pada level bangunan sebagai salah satu pertimbangan utamanya. Hasil studi menunjukkan bahwa arsitek memiliki peran dan kontribusi yang cukup signifikan dalam FM dengan cara memaksimalkan peran integral perancang bangunan dalam melaksanakan proses desain atau rancang bangun di tahap awal daur-hidup bangunan terhadap lingkungan binaan sehingga dapat hasil rancangannya dapat berkelanjutan, efisien, dan ramah pengguna, di sepanjang daur-hidupnya..
Cultural Acculturation in the Landlord Family Residence in Kampung Kulitan Semarang Sukawi, Sukawi; Hardiman, Gagoek; Rukayah, Raden Siti
MODUL Vol 23, No 1 (2023): MODUL vol 23 nomor 1 tahun 2023 ( 7 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mdl.23.1.2023.30-36

Abstract

Kampung Kulitan is located in the Jagalan area, Central Semarang. This village is the forerunner of the Tasripin Kingdom which holds high historical value. The historical value is the Tasripin family home that has not been changed or renovated since its inception. Formerly Tasripin was the one who controlled the land in the Kampung Kulitan area. These houses are historical evidence of the glory of Semarang in the past. To protect the historical value of Kampung Kulitan, Semarang City Government has established the village as a tourist village with the theme of the old village with the Tasripin family house which became the cultural heritage asset in Kampung Kulitan. This study aims to determine how much influence the indis architecture has on the facade appearance of buildings in Kampung Kulitan. This study used descriptive qualitative method. Data collection is done using observations in the field. Observations on objects are supported by interviews with homeowners or other sources who are aware of the development of Kampung Kulitan residential area. The results of data collection are analyzed with the theories concerned about the indis architecture and the appearance of the building. The results of this study indicate that cultural acculturation has occurred, especially the Indis architecture in the form of building facades in Kampung Kulitan. This makes housing in Kampung Kulitan very unique and requires accuracy in its rehabilitation.
MERAWAT KAMPUNG KULITAN SEMARANG SEBAGAI KAMPUNG TEMATIK TEMPO DOELOE Sukawi, Sukawi
MODUL Vol 23, No 2 (2023): MODUL vol 23 nomor 2 tahun 2023 ( 5 articles )
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Kulitan telah dikenal sebagai "Kerajaan Taripin”, hal ini dikarenakan Kampung Kulitan merupakan kediaman salah satu orang terkaya di Semarang pada zamannya. Satu kampung ini awalnya dimiliki oleh Tasripin untuk tempat tinggal kerabat dan keturunannya serta pabrik industri pengolahan kulit di belakangnya. Tasripin merupakan seorang pedagang kulit yang hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang mewarisi bisnis kulit ayahnya, Tasimin. Selain bergerak dalam bisnis kerajinan kulit, Tasripin mengembangkan usahanya di usaha kopra dan properti. Dalam mengelola usahanya, Tasripin melakukan hal yang tidak biasa bagi pengusaha lokal saat itu: ia menyewa seorang ahli hukum asal Belanda. Aset yang diperoleh dari berbagai usahanya kemudian diinvestasikan dalam bentuk tanah dan bangunan. Oleh karena itu, ia juga terkenal sebagai tuan tanah. Tasripin meninggal dunia pada tanggal 9 Agustus 1919. Tasripin juga menyediakan rumah bagi para pekerjanya yang berasal dari luar kota Semarang. Para pekerja migran ini dikenal dengan sebutan kaum boro. Salah satunya terletak di pinggir Kali Semarang (Kali Kuping) yang berada dibelakang hunian keluarga Tasripin..
Creativity and Local Wisdom: Community Empowerment in Developing Traditions, Arts, and Culture in the Giyanti Wonosobo Hills Area in Central Java Haryanto, Sri; Sukawi, Sukawi; Rozi, Fathur
Abdimas Indonesian Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/aij.v4i2.563

Abstract

The community service program "Community Empowerment in Developing Traditions, Arts, and Culture in the Giyanti Wonosobo Hilly Area" is a strategic initiative that aims to increase community awareness and active participation in efforts to preserve and develop rich local cultural heritage. The Giyanti Hills region, known for its unique diversity of traditions, arts, and cultures, is now facing serious challenges due to the negative impact of rapid modernization. This program focuses on preservation and empowering the community to act as agents of change in maintaining and developing existing cultural values. Through a series of activities involving education, training, and cross-sector collaboration, it is hoped that people can understand the importance of their cultural identity and integrate it into their daily lives. This service is expected to create a strong collective awareness, encourage active participation in arts and cultural activities, and strengthen social cohesion among community members. The success of this initiative will have a significant positive impact not only on the local community but also on the development of sustainable tourism that respects and uplifts local cultural values.
Uniting Tradition and Modernity: Scientific Paradigms of Pesantren-Based Universities Haryanto, Sri; Sukawi, Sukawi; Muslih, Mohammad
Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 7 No. 3 (2024): Transformative Islamic Education in Pesantren and Madrasah
Publisher : Universitas Pesantren Kh abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/nzh.v7i3.48

Abstract

This study investigates the process of internalizing pesantren values in the implementation of Islamic higher education at Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings reveal that UNSIQ's scientific paradigm is rooted in the values of Ahlus Sunnah wal Jamaah and Pesantren principles, such as the Panca Jiwa Pesantren. This paradigm emphasizes the integration of knowledge and religion, rejects the dichotomy between the worldly and the hereafter, and directs knowledge toward achieving syar'i (Sharia-compliant) goals. The internalization of Pesantren values at UNSIQ includes principles such as al-Amanah (trustworthiness), al-Tawadlu' (humility), al-Istiqamah (steadfastness), al-Uswah al-Hasanah (good role model), al-Tawashshuth (moderation), at-Tasamuh (tolerance), at-Tawazun (balance), simplicity, al-Barakah (blessing), and Tawasul Ilmi (knowledge-seeking). Efforts to internalize these values are carried out through both academic and non-academic activities. As a result, UNSIQ aims to produce graduates who are not only intellectually capable but also possess spiritual resilience and noble character. This study contributes to the development of an Islamic higher education model that integrates pesantren values and aligns with societal needs.
NAVIGATING TRANSITIONS IN GREEN ARCHITECTURE: A MULTI-LEVEL PERSPECTIVE ON PHOTOBIOREACTOR-INTEGRATED FAÇADES IN INDONESIA Bramiana, Chely Novia; Setyawan, Budi; Ismail, Muhammad Azzam; Entrop, Alexis Gerardus; Sukawi, Sukawi
MODUL Vol 25, No 2 (2025): MODUL vol 25 nomor 2 tahun 2025 (5 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mdl.25.2.2025.79-87

Abstract

In tropical countries like Indonesia, architectural design faces the pressing challenge of mitigating excessive heat, humidity, and solar exposure, yet many buildings continue to adopt imported, non-contextual design models. This study explores the implementation and transitional trajectory of a novel microalgae-based photobioreactor (PBR) window façade—an innovation that integrates biological systems into building envelopes for thermal shading, light modulation, and ecological performance. Using the Multi-Level Perspective (MLP) framework, this research examines the interplay between niche experimentation, regime-level constraints, and landscape drivers shaping the adoption of green building technologies in Indonesia. The PBR façade, developed through a university–industry collaboration and installed in Semarang, demonstrates how architectural innovation can evolve through iterative learning, cross-sector collaboration, and real-environment testing. However, its broader uptake is constrained by entrenched design norms, lack of regulatory standards, and limited institutional mechanisms for certification. Landscape pressures such as ESG imperatives and climate adaptation goals offer promising opportunities, but systemic change requires alignment across policy, professional practice, and cultural narratives. The study contributes a process-oriented roadmap for embedding biologically integrated façades into the sustainability transition of tropical urban architecture. 
Integrasi Data Lanskap Kota dan Façade Bangunan di Jalan Merak Situs Kota Lama Semarang dalam Perencanaan Bangunan dan Lingkungan Diliawan, Yudha Bhakti; Sari, Suzanna Ratih; Sukawi, Sukawi
TATALOKA Vol 28, No 1 (2026): Volume 28 No 1, February 2026
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.28.1.72-88

Abstract

Kawasan Kota Lama Semarang merupakan situs cagar budaya yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan estetika tinggi, namun menghadapi tantangan dalam menjaga keselarasan antara pelestarian warisan kolonial dan perkembangan fungsi modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengintegrasikan data lanskap perkotaan serta fasade bangunan di ruas Jalan Merak sebagai dasar pengelolaan dan perencanaan kawasan heritage. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, dan analisis tipologi fasade, yang dikaitkan dengan arahan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Situs Kota Lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen lanskap di kawasan ini telah merepresentasikan karakter kolonial, seperti penggunaan trotoar bata merah, lampu bergaya klasik, dan vegetasi peneduh, meskipun penyebarannya belum merata dan sebagian memerlukan revitalisasi. Sementara itu, tipologi fasade bangunan memperlihatkan variasi gaya Indische hingga Empire Style, yang sebagian besar masih mempertahankan orisinalitas bentuk, ornamen, dan materil yang terdapat modifikasi modern yang berpotensi mengurangi keaslian visual. Integrasi data lanskap dan fasade ke dalam basis data spasial mendukung pengendalian pembangunan, penetapan zona konservasi, dan penyusunan pedoman desain yang selaras dengan identitas kawasan. Integrasi data lanskap dan fasade ke dalam basis data spasial terbukti menjadi instrumen efektif dalam mendukung pengendalian pembangunan, pelestarian karakter visual, serta penguatan identitas kawasan heritage secara berkelanjutan.