Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pembentukan Niat Beli pada Live Streaming Commerce: Kajian Literatur Miftahul Jannah; Gatot Wijayanto
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9597

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong munculnya live streaming commerce sebagai salah satu strategi pemasaran yang mengintegrasikan komunikasi pemasaran secara real-time dengan transaksi online. Model perdagangan ini menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih interaktif, informatif, dan personal dibandingkan e-commerce konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan niat beli konsumen dalam konteks live streaming commerce, khususnya peran live streamer, interaktivitas, media richness, dan kepercayaan konsumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan Narrative Literature Review dengan menelaah berbagai artikel jurnal nasional dan internasional yang relevan, kemudian disintesis secara tematik untuk memperoleh pola hubungan antarvariabel. Hasil kajian menunjukkan bahwa live streamer berperan dalam membangun kredibilitas, daya tarik, serta efektivitas komunikasi pemasaran. Interaktivitas terbukti meningkatkan keterlibatan, rasa keterhubungan, serta partisipasi konsumen selama siaran berlangsung. Media richness membantu konsumen memperoleh informasi produk yang lebih lengkap, jelas, dan meyakinkan sehingga dapat mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan pembelian. Selain itu, kepercayaan konsumen menjadi faktor kunci yang memperkuat pengaruh berbagai stimulus pemasaran terhadap niat beli, sekaligus menjadi mediasi penting dalam proses pembentukan keputusan. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam memperkaya kajian perilaku konsumen pada lingkungan live streaming commerce serta memberikan implikasi praktis bagi pelaku usaha dalam merancang strategi pemasaran digital yang lebih efektif. Selanjutnya, penelitian ini juga merekomendasikan perlunya kajian empiris lanjutan untuk menguji model konseptual secara kuantitatif pada berbagai platform dan kategori produk.
Technology Integration Challenges among Junior High School English Teachers in Riau Province: A Descriptive Study Miftahul Jannah; Mahdum Adnan; Supriusman Supriusman; Jismulatif Jismulatif
ELT-Lectura Vol. 13 No. 2 (2026): ELT-Lectura Studies and Perspective in English Language Teaching
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/58qbpd09

Abstract

This study examines the challenges faced by junior high school (SMP) English teachers in integrating technology into English language teaching in Riau Province, Indonesia. Employing a descriptive quantitative design supported by qualitative interview data, this research surveyed 96 SMP English teachers selected through purposive sampling from 12 districts and municipalities across Riau Province. Data were collected using a 64-item questionnaire, of which 19 items measured technology integration challenges. In this study, five challenge indicators were employed: teachers' preparedness, infrastructure limitations, curriculum design, students' access, and professional development. The instrument demonstrated excellent reliability (Cronbach's α = 0.917). Findings reveal that the overall challenge level was categorized as High (M = 3.47, SD = 0.85). Students' access emerged as the most critical challenge (M = 3.52), followed by teachers' preparedness (M = 3.45) and professional development (M = 3.44). Infrastructure limitations (M = 3.25) and curriculum design (M = 2.90) were categorized at medium. Demographic analysis revealed that private school teachers and urban teachers reported higher challenge scores. The study argues that these challenges are structural and systemic in nature, and require coordinated policy responses focused on equitable digital access, context-sensitive professional development, and pedagogically grounded curriculum reform. The findings contribute to the limited empirical literature on technology integration challenges in provincial Indonesian EFL contexts.