Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Analisa Teknis dan Ekonomis Penggunaan ICCP (Impressed Current Cathodic Protection) Dibandingkan dengan Sacrificial Anode dalam Proses Pencegahan Korosi Afif Wiludin; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.346 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2509

Abstract

Perlindungan badan kapal  terhadap korosi dengan  menggunakan  metode perlindungan katodik pada prinsipnya adalah sel elektrokimia untuk mengendalikan korosi dengan mengkonsentrasikan reaksi oksigen pada sel galvanik dan menekan korosi pada katoda dalam sel yang sama. Pada proteksi katodik, logam yang akan dilindungi dijadikan katoda dan reaksi oksidasi terjadi di anoda. Ada dua macam cathodic protection yaitu Sacrificial Anode Cathodic Protection (SACP) dan Impressed Current Cathodic Protection (ICCP). Dilakukan penelitian tentang analisa teknis dan ekonomis penggunaan ICCP dibandingkan dengan SACP dalam proses pencegahan korosi, kedua sistem dibandingkan dalam jangka 20 tahun, dari segi teknis dengan menggunakan perbandingan perhitungan sesuai standar DnV, yang dibandingkan dari tahap design, tahap instalasi, dan maintenance, dari segi ekonomis perbandingan dibedakan dari tahap pengadaan komponen-komponen sistem, tahap instalasi, dan tahap maintenance. Data perbandingan diperoleh dengan perhitungan sesuai standar, study literature, diskusi dan interview. Hasil perhitungan perbandingan yang diperkirakan selama 20 tahun, dari segi teknis kedua sistem memenuhi standar yang berdasar pada sistem perhitungan standar DnV B-401, sedangkan dari segi ekonomis, biaya untuk sistem ICCP sebesar Rp. 205.405.000,00 dan sistem SACP sebesar Rp. 562.590.000,00, sehingga lebih ekonomis menggunakan sistem ICCP sebesar Rp 357.185.000, 00 atau 63,49% dari biaya untuk sistem SACP
Studi Skema Pembiayaan Pembangunan Kapal Baru Berbasis Multi Vendor menggunakan Fasilitas KUR (Kredit Usaha Rakyat) Bambang Kristanto; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.245 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25233

Abstract

Pembangunan sebuah kapal dibutuhkan modal yang sangat besar sehingga dengan adanya kredit KUR diharapkan dapat membantu memberikan solusi modal awal pembiayaan bagi galangan kapal. Dengan metode multi vendor dapat dijadikan salah satu terobosan baru agar dapat memanfaatkan fasilitas KUR untuk pembiayaan pembangunan kapal baru. Tujuan dari penelitian studi ini adalah untuk melakukan studi penggunaan kredit KUR sebagai modal pembiayaan dalam membangun sebuah kapal. Pertama, dilakukan analisa terhadap sistem pembiayaan yang dilakukan saat ini. Kedua, kebutuhan material yang telah diuraikan di Rencana Anggaran Biaya (RAB) kemudian dibagi ke dalam beberapa vendor/supplier di galangan. Ketiga, penyusunan skema pembiayaan dengan menggunakan fasilitas kredit KUR. Berdasarkan hasil analisa, vendor/supplier yang mempunyai kebutuhan modal melebihi plafon maksimal kredit KUR maka tidak dapat disimulasikan sehingga dihitung menggunakan skema kredit komersial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa: Pembiayaan Skema I dengan variasi bunga efektif menunjukkan bahwa vendor mendapatkan keuntungan sebesar 10.828%. Pembiayaan Skema II dengan variasi bunga flat menunjukkan bahwa vendor mendapatkan keuntungan sebesar 10.545%. Pembiayaan Skema III dengan variasi bunga efektif dan angsuran per tiga bulanan didapatkan keuntungan vendor sebesar 10.617%. Pembiayaan Skema IV dengan variasi bunga flat dan angsuran per tiga bulanan didapatkan keuntungan vendor sebesar 10.513%. Sedangkan pembiayaan Skema V dengan variasi perhitungan kredit secara komersial didapatkan keuntungan vendor sebesar 9.879%. Berdasarkan hasil simulasi pembiayaan pembangunan kapal menggunakan fasilitas kredit KUR yang telah dilakukan, pada simulasi pembiayaan Skema I diperoleh keuntungan vendor paling maksimal.
Analisa Risiko Proses Pengapungan Kembali pada Kapal Tenggelam di Perairan Tanjung Perak Muhammad Wildan Firdaus; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.574 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29701

Abstract

Salah satu penyebab kecelakaan di laut adalah kapal tenggelam. Kapal tenggelam membutuhkan tindakan penyelamatan, baik untuk menyelamatkan kapal ataupun untuk pembersihan alur pelayaran. Pekerjaan pada industri salvage sangatlah berisiko tinggi, hal tersebut dikarenakan kondisi perairan sulit untuk dilewati, faktor keamanan peralatan, hingga risiko yang diakibatkan dari kapal itu sendiri. Untuk mengidentifikasi risiko pada pekerjaan pengapungan kapal tenggelam digunakan framework untuk mengetahui bagian pekerjaan yang berisiko. Pada Framework tersebut digunakan pendekatan Fault Tree Analysis dan Checklist. Akar permasalah dari risiko diberikan penilaian untuk mengetahui tingkat risiko dari masing-masing risiko. Penilaian dilakukan dengan memberikan skala 1 sampai 5 pada dampak yang dihasilkan dan tingkat kemungkinannya pada variasi lama tenggelam kapal. Penilaian dilakukan dengan kuisioner yang diberikan pada ahli yang berpengalaman dibidangnya. Risk Priority Number diberikan untuk mengetahui tingkat risiko kegagalan proses pada lama tenggelamnya kapal di bawah 10 tahun dan di atas 10 tahun. Masing-masing risiko diberikan mitigasi berupa rekomendasi tindakan preventif. Penambahan biaya yang dihasilkan dari tindakan preventif yang diberikan sebesar 4,98% untuk kapal dengan lama tenggelam dibawah 10 tahun dan 5,58% untuk kapal dengan lama tenggelam diatas 10 tahun. Strategi implementasi RBI merupakan cara yang efektif untuk mengidentifikasi biaya tambahan, biaya tak terduga dan risiko yang terlibat dalam pekerjaan pengapungan kapal tenggelam. Oleh karena itu, perencanaan biaya pekerjaan pengapungan kapal dapat dilakukan dengan cara yang lebih akurat.
Analisis Pemodelan Struktur Konstruksi Kapal Ikan Bambu Laminasi Kapasitas 20 GT Ridho Prianggoro; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.358 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29703

Abstract

Penelitian kelayakan laminasi Bambu Betung sebagai material utama membangun kapal ikan terus-menerus dikembangkan di Indonesia. Bambu sebagai material orthotropik mempunyai tiga sumbu arah serat, hal ini dapat mempengaruhi distribusi beban yang diterima oleh konstruksi kapal. Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan untuk mengetahui kekuatan mekanis bambu laminasi, namun hanya arah serat longitudinal. Sehingga penelitian arah serat radial dan tangential perlu dilakukan untuk mengetahui sifat mekanis laminasi Bambu Betung secara keseluruhan dalam segi kekuatan konstruksi kapal ikan. Sifat mekanis laminasi bambu Betung didapatkan dengan melakukan pengujian uji tarik dan tekuk berdasarkan standar ASTM D3500 untuk uji tarik dan ASTM D3043 sebagai standar uji tekuk. Setelah didapatkan nilai kuat tarik dan tekuk maka dilakukan perhitungan ukuran konstruksi berdasarkan rule Biro Klasifikasi Indonesia untuk mendapatkan ukuran konstruksi kapal ikan dengan kapasitas 20GT Pengujian aspek kekuatan konstruksi kapal dilakukan dengan pemodelan struktur menggunakan pendekatan Finite Element Method (FEM). Hasil dari pemodelan struktur menunjukkan distribusi tegangan yang diterima oleh seluruh bagian konstruksi yang terdapat pada kapal Hasil pengujian menunjukkan nilai kuat tarik variasi arah radial sebesar 51,15 MPa, nilai kuat tarik arah tangential sebesar 65,60 MPa, dan nilai kuat tekuk variasi arah tangential sebesar 124,95 MPa., Hasil running pemodelan struktur menunjukkan beban terbesar yang diterima oleh kapal yaitu sebesar 27,60 Mpa. Setelah melakukan analisis hot spot bagian gading kapal yang mendapat stress terbesar yaitu pada bagian bottom buritan kapal.
Analisis Teknis dan Ekonomis Pembangunan Kapal Ikan Menggunakan Laminasi Hybrid Antara Bambu Ori dengan Kayu Sonokembang dengan Variasi Arah Serat Rizqi Dian Permana; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.816 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29724

Abstract

Kelangkaan Kayu Jati sebagai bahan utama pembuatan kapal ikan tradisional menyebabkan harga kapal semakin mahal. Alternatif kayu yang dapat digunakan sebagai material kapal adalah Kayu Sonokembang (Pterocarpus Indicus). Kayu Sonokembang merupakan kayu yang mudah untuk dikembangbiakkan, tergolong dalam Kelas Kuat dan Kelas Awet III, tetapi tidak tercantum dalam daftar kayu untuk konstruksi kapal kayu yang diterbitkan oleh BKI, berdasarkan literatur hasil penelitian didapatkan kuat tarik dan kuat tekuk laminasi Bambu Ori sebesar 160 MPa dan 84 MPa. Melihat potensi dari Kayu Sonokembang dan kekuatan dari Laminasi Bambu Ori, maka akan dilakukan laminasi hybrid terhadap kedua material tersebut. Pengujian tarik dan tekuk akan diaplikasikan pada laminasi hybrid sesuai standard ASTM D3500 (uji tarik) dan ASTM D3043 (uji tekuk) untuk mendapatkan nilai kuat tarik dan kuat tekuk, selanjutnya akan dilakukan perhitungan ukuran konstruksi sesuai dengan BKI 2013 Vol VII dan nilai ekonomisnya dibandingkan dengan penggunaan Kayu Jati KK II. Dari hasil pengujian diketahui hanya spesimen laminasi hybrid dengan variasi susunan serat sejajar yang memenuhi standard minimum dari BKI yaitu dengan nilai kuat tarik 114,636 MPa dan nilai kuat tekuk 111,606 MPa. Ukuran volumetrik konstruksi kapal ikan yang didapatkan adalah 10,27 m3 (laminasi hybrid) dan 13,75 m3 (Kayu Jati Solid), dan nilai ekonomisnya adalah Rp. 460.881.589,- untuk laminasi hybrid dan Rp. 776.676.472,- untuk Kayu Jati Solid.
Desain Aplikasi Website HUB Marketing Berbasis E-Marketplace untuk Pemasaran Produk Kapal dan Komponennya Rizky Armanda; Heri Supomo; Imam Baihaqi
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.848 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.41908

Abstract

Pada Industri maritim Indonesia saat ini, pemasaran kapal dan komponen kapal masih mengandalkan cara pemasaran konvensional. Oleh karena itu dibutuhkan cara alternatif dalam pemasaran kapal dan komponennya dengan cara yang lebih modern dan terintegrasi untuk industri bisnis perkapalan. Tujuan yang ingin dicapai dari pengerjaan tugas akhir ini adalah merancang aplikasi website HUB Marketing berbasis e-marketplace, aplikasi dirancang dimulai dengan membuat konten penjualan dengan membuat kategori dan tipe untuk produk kapal dan komponen kapal. Lalu dilanjutkan dengan merancang sistem website dan dilanjutkan merancang mockup dan membuat sistemnya dengan pengkodingan aplikasi. Aplikasi yang telah dibuat dikembangkan menjadi sebuah website dengan nama Hubmarine dan dirancang agar dapat membantu pemasaran produk kapal dan komponen kapal dengan memberikan fitur penjualan dan pembelian dalam website. Dari hasil pengembangan website dilakukan uji responden untuk mengetahui seberapa membantu dan perlu atau tidaknya aplikasi ini dibuat, hasil responden didapat rata-rata jawaban sebesar 81,3%, dapat disimpulkan website ini membantu sistem pemasaran yang ada saat ini. Lalu dilakukan analisa ekonomis untuk biaya yang dibutuhkan, didapat biaya investasi awal sejumlah Rp2.656.700.000, biaya pengelolaan website per tahun sejumlah Rp3.666.003.760, dan pendapatan pengelola website sejumlah Rp5.595.000.000 setiap tahunnya. Selanjutnya investasi akan mengalami break even point pada tahun ke 6 dengan internal rate of return sebesar 17.06%
Analisis Teknis dan Ekonomis Penerapan Pipe Piece Family Manufacturing (PPFM) pada Instalasi Sistem Perpipaan Kapal Tanker 17.500 DWT Ainun Kunti Zahra; Heri Supomo; Imam Baihaqi
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.855 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.47463

Abstract

Galangan di Indonesia sejauh ini masih menghadapi permasalahan yang sama yaitu keterlambatan pembangunan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Salah satu faktor  yang menyebabkan hal itu terjadi yaitu pergantian mitra kerja yang kerap dilakukan. Salah satu sistem yang memiliki beban kerja cukup besar yaitu sistem pipa. Metode eksisting yang saat ini diterapkan yaitu berdasarkan setiap sistem pipa yang ada. Metode pembangunan eksisting tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap waktu penyelesaian pekerjaan dan tidak mempercepat proses produksi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk  menganalisis secara teknis dan ekonomis penerapan metode Pipe Piece Family Manufacturing (PPFM) pada instalasi sistem perpipaan kapal tanker. Metode tersebut dilakukan dengan mengelompokkan pipa yang memiliki atribut desain dan manufaktur yang cukup mirip. Sistem perpipaan yang menjadi objek penelitian diantaranya cargo oil piping system, fresh water piping system, dan machinery cooling piping system. Teknis pengerjaan sistem perpipaan tersebut dikelompokkan berdasarkan klasifikasi pipa sesuai metode PPFM diantaranya PPFM No. 01 (Straight, ND ≤ 50 mm), PPFM No. 04 (Straight, ND ≥ 200 mm), PPFM No. 07 (Straight, ND ≥ 250 mm), PPFM No. 51 (Assembled, ND ≤ 50 mm), PPFM No. 54 (Assembled, ND ≥ 200 mm), PPFM No. 57 (Assembled, ND ≥ 250 mm), dan PPFM No. 95 (Unit Assembled). Tahap pembangunan (level manufacturing) dalam metode PPFM terdiri dari tujuh tingkat pengerjaan yaitu material receiving, pipe fabrication, pipe piece assembly, pipe piece joining, testing & coating, dan palletizing. Waktu pembanguan yang dibutuhkan dalam penerapan metode tersebut yaitu 32 hari kerja, berkurang hingga 20% apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting. Biaya pekerja yang dibutuhkan dapat berkurang hingga 1.917% apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting. Biaya investasi dalam penerapan metode PPFM sebesar Rp 111,330,000 (Seratus Sebelas Juta Tiga Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah).
Perancangan Aplikasi Berbasis Android untuk Interaksi Juru Las Profesional dengan Kebutuhan Industri Maritim Nurul Hidayati; Heri Supomo
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.51887

Abstract

Setiap pembangunan konstruksi yang menggunakan material utama ferro (besi atau baja) dan juga non-ferro (aluminium, titanium, magnesium) membutuhkan penyambungan berupa pengelasan. Pekerjaan pengelasan yang dilakukan juru las biasanya dipenuhi oleh pihak ketiga yaitu sub kontraktor. Sebagai pihak ketiga, sub kontraktor biasanya tidak memiliki standar yang jelas terhadap juru las yang dipekerjakan. Belum adanya sub kontraktor yang menaungi juru las berdasarkan kemampuan kerja dan sertifikasi yang jelas mendorong adanya pembuatan sistem aplikasi labour supply juru las. Perbedaan kelas setiap juru las disebabkan oleh perbedaan pekerjaan konstruksi yang dilakukan. Tujuan utama dari penelitian studi ini adalah untuk merancang aplikasi komputer berbasis android yang digunakan untuk interaksi pengguna jasa pengelasan dan juru las. Pertama dilakukan klasifikasi dari juru las profesional. Kedua, dilakukan klasifikasi terhadap pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan. Ketiga, dilakukan perancangan aplikasi komputer untuk interaksi pengguna jasa pengelasan dengan juru las menggunakan mock up sebagai alat desain awal. Terakhir, aplikasi yang sudah dirancang diujicobakan kepada beberapa responden. Aplikasi ini memiliki tiga entitas utama yaitu, akun administrator sebagai pengelola data, akun pengguna sebagai pemesan jasa pengelasan dan akun juru las. Aplikasi ini dirancang untuk mempermudah pemesanan juru las oleh pengguna jasa pengelasan melalui aplikasi android sehingga dapat menghemat waktu. Aplikasi berbasis android yang dirancang dapat membantu mempermudah pengguna jasa untuk mencari juru las yang diinginkan sesuai dengan klasifikasi pekerjaan yang akan dikerjakan. Hasil dari perhitungan investasi bisnis pengelasan berbasis aplikasi android didapatkan NPV (Net Present Value) sebesar Rp. 358.020.707,58, IRR (Internal Rate of Return) 19% dan Payback Period selama 7 tahun 9 bulan.
Analisis Teknis dan Ekonomis Perbandingan Laju Korosi Material Baja Galvanis dan Aluminium untuk Memprediksi Umur dan Biaya Reparasi Lambung Kapal M. Rafee Revaldi Marcell; Heri Supomo; Mohammad Sholikhan Arif
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.80372

Abstract

Konstruksi pada lambung kapal memegang peranan penting dalam pembangunan kapal. Diperlukan material dengan karakteristik yang tepat untuk dijadikan sebagai bahan lambung kapal. Ketahanan korosi yang buruk pada material baja menjadi salah satu kekurangan yang menyebabkan banyaknya kerugian. Adapun keunggulan material aluminium yaitu massa jenis yang lebih ringan dan memiliki daya tahan korosi yang tinggi. Namun, salah satu kekurangan aluminium adalah nilai jualnya yang tinggi serta memerlukan biaya yang mahal dalam proses pembangunan, pemeliharaan, dan perbaikan kapal. Galvanisasi pada material baja dapat dilakukan untuk melindungi material baja dan meningkatkan daya tahan korosi yang hampir sama baiknya dengan material aluminium sehingga baja galvanis dapat dijadikan alternatif material lambung kapal. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk menganalisis perbandingan korosi Material Baja ASTM A36 Galvanis dan Aluminium 5083 untuk memprediksi umur material dan biaya reparasi yang dihasilkan pada lambung kapal. Rata-rata nilai laju korosi korosi yang diperoleh dari hasil pengujian laju korosi metode sel tiga elektroda adalah sebesar 0,03726 mmpy pada Material Baja ASTM A36 Galvanis dan 0,02592 mmpy pada Material Aluminium 5083. Berdasarkan rata-rata nilai laju korosi yang telah diperoleh, material baja galvanis berumur 32 tahun pada pelat lunas, 21 tahun pada pelat alas dan bilga, dan 24 tahun pada pelat sisi dengan, sedangkan material aluminium berumur 41 tahun pada pelat lunas, 31 tahun pada pelat alas dan bilga, dan 38 tahun pada pelat sisi. Material baja galvanis berumur lebih singkat jika dibandingkan dengan material aluminium, namun proses galvanisasi dan lapisan galvanis yang melindungi Material Baja ASTM A36 terbukti dapat memperpanjang umur material tersebut. Akumulasi total biaya pembangunan dan reparasi kapal penumpang baja galvanis adalah sebesar Rp9.244.130.509,24 sedangkan pada kapal penumpang aluminium adalah sebesar Rp11.799.608.666,56. Perbedaan akumulasi total biaya memiliki persentase sebesar 21,66%.
Analysis of Shipyard to Meet Fish Ship Procurement Plan for The Ministry of Marine and Fisheries Agus Lubis Fitriansyah; Heri Supomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.706 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v8i2.49689

Abstract

To Improve the national fishing vessels and the welfare of fishermen, the government will provide fishing vessels grant through the KKP. The current capacity of fiberglass shipyards is unclear,so the realization of the procurement of fishing vessels is not accordance with the planned targets. This study aims to analyze shipyard capacity to support the plan for the procurement of KKP fishing vessels grant in 2019. First classify fishing vessels based on their respective GT sizes, which are <5 GT (type A), 5-10 GT (type B), and 20-30 GT (type C). Second, make the minimum shipyard criteria in building fishing vessels. Third, count the number of ships that can be built by the shipyard. The results of the shipyard analysis of the minimum criteria found that 43% of shipyards have the ability to build type A vessels, about 38% of shipyards have the ability to build type B vessels, and around 19% of shipyards have the ability to build type C vessels. which can be built is 1625 units / period. Referring to shipyard capacity, it can be said that the entire shipyard is able to fulfill the plan to procure assistance for KKP fishing vessels in the 2019 budget year.