Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Kecernaan dan Produksi Gas In Vitro Silase Pelepah Kelapa Sawit dengan Penambahan Inokulan Bakteri Purwanta Purwanta; Bangkit Lutfiaji Syaefullah; Okti Widayati; Hotmauli Febriana Pardosi
JURNAL TRITON Vol 16 No 2 (2025): JURNAL TRITON (Issue in Progress)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v16i2.1311

Abstract

Pelepah kelapa sawit berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia karena tersedia melimpah, akan tetapi perlu pengolahan untuk meningkatan kualitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh rasio penggunaan jenis bakteri dan komposisi hijauan silase pelepah kelapa sawit dengan menggunakan teknik produksi gas secara in vitro. Rancangan percobaan penelitian menggunakan pola faktorial 3x3, dengan menggunakan 3 jenis bakteri asam laktat (EM4, Bacillus sp., dan Lactobacillus sp.) dan 3 formulasi hijauan yang berbeda (28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteata; 39,17% pelepah sawit + 39,17% Mucuna bracteata; dan 50% pelepah sawit + 28,35% Mucuna bracteata). Adapun bahan pakan lain penyusun silase adalah 20% dedak, 1% molases, 0,3 % premix, 0,3% garam serta 0,05 % bakteri asam laktat. Silase dievaluasi menggunakan in vitro gas tes yang diinkubasi selama 48 jam. Produksi gas dari hasil pengamatan mulai dari jam ke 0, 2, 4, 6, 12, 24, 36, dan 48 jam yang akan digunakan untuk dianalisis menggunakan program fit curve. Berdasarkan hasil penelitian, tidak terdapat interaksi yang nyata antara perbedaan penggunaan jenis bakteri asam laktat dengan proporsi hijauan silase terhadap produksi gas dan kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Perlakuan jenis bakteri memberikan pengaruh nyata pada fraksi b, fraksi a+b, nilai pH, dan NH3 cairan rumen, sedangkan perlakuan proporsi pelepah sawit dan Mucuna bracteate memberikan pengaruh pada fraksi a, fraksi b, dan fraksi a+b. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa interaksi penggunaan bakteri Lactobacillus sp. dan penggunaan 28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteate menghasilkan produksi gas dan kecernaan yang paling tinggi.
Kelayakan Usaha Ternak Kelinci dengan Pemberian Pelet Limbah Pertanian Lutfiaji Syaefullah, Bangkit; Purwanta; Okti Widayati; Poppy Latifah
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 1 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i1.800

Abstract

Latar belakang: Potensi usaha kelinci saat ini cukup besar sebagai ternak hias maupun ternak konsumsi. Akan tetapi, kurangnya pengetahuan peternak dalam pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber pakan kelinci pengganti hijauan. Usaha yang dijalankan perlu memperhitungkan kelayakan usahanya, sehingga dalam penelitian ini akan melihat kelayakan usaha ternak kelinci yang diberikan pelet dari limbah pertanian. Metode: Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental sebanyak 24 (dua puluh empat) ekor. Penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan pemeliharaan kelinci dengan 4 (empat) perlakuan dan 3 (tiga) ulangan, selanjutnya hasil pemeliharaan dianalisis ekonominya. Hasil: Hasil penelitian analisis analisis kelayakan usaha pada setiap perlakuan menunjukan nilai yang tidak berbeda pada biaya, penerimaan, pendapatan, break even point, R/C, rentabilitas, IOFC dan Harga Pokok Produksi. Kesimpulan: Pemberian pelet dari limbah pertanian sebagai pakan ternak yang berbeda komposisi pada kelinci tidak berbeda akan tetapi dinyatakan layak.
Evaluasi Penyuluhan Pemanfaatan Rumput Laut Cokelat sebagai Pupuk Organik Padat untuk Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans poir) Carolina Diana Mual; Okti Widayati; Wahyuni
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 1 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i1.806

Abstract

Latar belakang: Rumput laut coklat (Sargassum sp) sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Kelimpahan rumput laut jenis tersebut banyak terdapat di pantai dan karena pengetahuan yang kurang mengenai pemanfaatan rumput laut cokelat, sehingga menjadi limbah pantai. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah diatas yaitu dengan mensosialisasikan pemanfaatan rumput laut coklat dengan tambahan bahan limbah ikan tongkol dan sisa nasi menjadi pupuk organik padat guna mengurangi penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan pada tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans poir). Metode: Pelaksanaan penyuluhan diikuti oleh 18 responden. Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan demonstrasi cara. Metode ini bertujuan untuk merangsang responden penyuluhan agar bisa aktif bertanya selama kegiatan berlangsung, dengan menggunakan alat bantu media yaitu folder dan peta singkap. Hasil evaluasi penyuluhan dianalisis menggunakan aplikasi MS Excel dan SPSS versi 16.0. Hasil: Pengukuran peningkatan pengetahuan dengan membandingkan nilai tes awal dan tes akhir, evaluasi penyuluhan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 4.89. Berdasarkan uji t berpasangan (paired t test) penyuluhan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat, maka dari itu efektivitas penyuluhan pada aspek pengetahuan sebesar 64,7%. Kesimpulan: Penyuluhan pengolahan rumput laut cokelat untuk dijadikan pupuk organik padat di Kampung Sau Abas Distrik Manokwari Timur Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat memiliki efektivitas penyuluhan pada kategori cukup efektif dengan ditunjukkan adanya peningkatan pengetahuan berdasarkan hasil pre-test dan post-test.
Respon Petani Sayur di Pettuadae terhadap Penyuluhan Pemanfaatan Feses Sapi menjadi Pupuk Kompos Okti Widayati; Wian Sarira; Bangkit Lutfiaji Syaefullah
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 2 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i2.1039

Abstract

Latar belakang: Mata pencaharian masyarakat Pettuadae sebagian besar adalah petani sayur. Mereka sangat tergantung dengan penggunaan pupuk kimia untuk produksi tanaman. Di sisi lain, para petani juga memlihara ternak sapi yang dapat menghasilkan kotoran dan limbah peternakan yang memiliki potensi sebagai pupuk organik. Petani belum memanfaatkan potensi tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi dan pelatihan cara pembuatan pupuk dari limbah peternakan khususnya feses sapi. Metode: Pelaksanaan penyuluhan diikuti oleh 30 responden. Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan demonstrasi cara. Metode ini bertujuan untuk merangsang responden penyuluhan agar bisa aktif bertanya selama kegiatan berlangsung, dengan menggunakan alat bantu media yaitu folder dan tayangan dari power point. Hasil evaluasi penyuluhan dianalisis menggunakan aplikasi MS Excel dan SPSS versi 15.0. Hasil: Respon petani terhadap penyuluhan pada penelitian ini dilihat dari peningkatan pengetahuan. Pengukuran peningkatan pengetahuan dengan membandingkan nilai tes awal dan tes akhir, evaluasi penyuluhan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 29,3. Berdasarkan uji t berpasangan (paired t test) penyuluhan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat, maka dari itu efektivitas penyuluhan pada aspek pengetahuan sebesar 81,48%. Kesimpulan: Penyuluhan pemanfaatan feses sapi menjadi pupuk kompos di Kelurahan Pettuadae memiliki efektivitas penyuluhan pada kategori efektif dengan ditunjukkan adanya peningkatan pengetahuan berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Penyuluhan mendapatkan respon positif dari petani yang ditunjukkan dengan adanya adopsi pengolahan feses sapi menjadi pupuk kompos dan aplikasinya di tanaman pertanian.
Nilai Ekonomis Pakan Kelinci dari Limbah Pertanian Berbasis Hay Multinutrient Waffle Lutfiaji Syaefullah, Bangkit; Muhammad Fachry Hidayat; Susan Carolina Labatar; Okti Widayati; Gallusia Marhaeny Nur Isty
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 2 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i2.1066

Abstract

Latar belakang: Limbah pertanian memiliki potensi yang baik untuk dijadikan pakan ternak kelinci. Karena beberapa limbah pertanian masih memiliki kandungan nutrisi yang cukup bagus, sehingga bagus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak kelinci. Metode: Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, dan menggunakan 4 parameter penelitian, yaitu, BEP Produksi, BEP harga, R/C, dan Rentabilitas rasio. Hasil: Hasil dari BEP produksi P1, P2, P3, berturut-turut 5,64, 5,66, 5,67. BEP produksi yang paling menguntungkan terdapat pada P1 dengan berat 5,64 kg. Hasil dari BEP harga P1, P2, P3, berturut turut Rp. 4.702, Rp. 4.713, Rp. 4.726. BEP harga yang paling menguntungkan terdapat pada P1 dengan harga Rp. 4.702. Hasil dari R/C rasio P1, P2, P3, berturut-turut 3,77, 3,74, 3,71. Nilai R/C rasio paling layak diusahakan terdapat pada P1 yaitu 3,77. Hasil Rentabilitas P1, P2, P3 berturut-turut 2,77, 2,74, 2,71. Nilai Rentabilitas paling layak diusahakan terdapat pada P1 yaitu 2,77. Dari 3 percobaan analisis ekonomi hay multinutrient waffle, menunjukan semua percobaan menguntungkan dan layak diusahakan, namun dari 3 komposisi percobaan, ada percobaan yang paling ekonomis yaitu terdapat di P1 karena BEP produksi menunjukan produksi paling rendah yaitu 5,64 kg, kemudian untuk BEP harga mempunyai nominal harga lebih rendah dari percobaan lainnya yaitu Rp.4.702/kg, sehingga lebih cepat untuk mencapai titik impas, kemudian mempunyai nilai R/C rasio 3,77 maka usaha tersebut layak di usahakan, dan Rentabilitas memiliki nilai 2,77 sehingga layak untuk diusahakan. Kesimpulan: Penggunaan limbah pertanian kacang tanah bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan baku pembuatan pakan hay.
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Padat Rumput Laut Coklat terhadap Pertumbuhan Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir) di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat Carolina Diana Mual; Wahyuni Wahyuni; Okti Widayati
JURNAL TRITON Vol 15 No 1 (2024): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v15i1.603

Abstract

Kangkung darat (Ipomoea reptans poir) merupakan jenis sayuran yang terkenal dan banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena memiliki citra rasa yang enak dan gurih ketika dimasak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik padat rumput laut coklat terhadap pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans poir). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga bulan Mei 2023 di Kompleks Pasar Ikan Sanggeng, Manokwari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan diantaranya meliputi perlakuantanpa pupuk (kontrol), penambahan 200 gram pupuk rumput laut coklat, penambahan 300 gram pupuk rumput laut coklat dan penambahan 400 gram pupuk rumput laut coklat. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, lebar daun tanaman, panjang daun tanaman dan berat segar tanaman kangkung darat. Data dianalisis menggunakan analisis of varians (ANOVA) dan diuji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ). Penambahan 300 gram pupuk rumput laut coklat memberikan peningkatan yang paling besar di antara perlakuan yang lain, yang meliputi peningkatan tinggi tanaman 45,05%, lebar daun 32,78%, panjang daun 20,87%, dan berat segar sebesar 17,49% dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa perlakuan 300 gram pupuk rumput laut coklat berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, lebar daun tanaman, panjang daun tanaman dan berat segar tanaman kangkung darat.
Utilization of Agricultural Waste as a Total Mixed Ratio Pellet Material for Rex Rabbit Feed Syaefullah, Bangkit Lutfiaji; Widayati, Okti; Purwanta, Purwanta; Abdillah, Labib
Jurnal Agripet Vol 24, No 2 (2024): Volume 24, No. 2, October 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i2.37082

Abstract

This study aimed to evaluate the quality of Total Mixed Ration (TMR) pellets derived from agricultural waste and assess their potential as feed for Rex rabbits. The research employed an experimental approach, utilizing agricultural and plantation waste to produce TMR pellets. The study was conducted in two stages: pellet production and rabbit feeding trials. Three formulations of TMR pellets were developed with varying concentrations of oil palm empty fruit bunches (EFB): P1 (5% EFB), P2 (10% EFB), and P3 (15% EFB). The optimal formulation was subsequently used for the feeding trials. Rabbit feed treatments included T0 (60% commercial pellet + 40% forage), T1 (40% commercial pellet + 20% TMR pellet + 40% forage), T2 (30% commercial pellet + 30% TMR pellet + 40% forage), and T3 (60% TMR pellet + 40% forage). Results from the pellet analysis indicated no significant differences in organoleptic properties among the formulations. The durability test yielded the highest value of 98.77%, while the proximate analysis of the P1 formulation showed a dry matter content of 85.67%, ash content of 10.35%, organic matter of 89.65%, crude protein of 18.65%, crude fat of 18.72%, and crude fiber of 19.18%. In the rabbit feeding trials, there were no significant differences in rabbit performance when compared to those fed with commercial pellets. Based on these findings, it can be concluded that agricultural waste can be effectively utilized as a raw material for rabbit feed pellets, offering comparable quality to commercial alternatives. This research highlights the potential of agricultural waste in reducing environmental pollution while providing an economically viable alternative for animal feed.
Kecernaan dan Produksi Gas In Vitro Silase Pelepah Kelapa Sawit dengan Penambahan Inokulan Bakteri Purwanta Purwanta; Bangkit Lutfiaji Syaefullah; Okti Widayati; Hotmauli Febriana Pardosi
JURNAL TRITON Vol 16 No 2 (2025): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v16i2.1311

Abstract

Pelepah kelapa sawit berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia karena tersedia melimpah, akan tetapi perlu pengolahan untuk meningkatan kualitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh rasio penggunaan jenis bakteri dan komposisi hijauan silase pelepah kelapa sawit dengan menggunakan teknik produksi gas secara in vitro. Rancangan percobaan penelitian menggunakan pola faktorial 3x3, dengan menggunakan 3 jenis bakteri asam laktat (EM4, Bacillus sp., dan Lactobacillus sp.) dan 3 formulasi hijauan yang berbeda (28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteata; 39,17% pelepah sawit + 39,17% Mucuna bracteata; dan 50% pelepah sawit + 28,35% Mucuna bracteata). Adapun bahan pakan lain penyusun silase adalah 20% dedak, 1% molases, 0,3 % premix, 0,3% garam serta 0,05 % bakteri asam laktat. Silase dievaluasi menggunakan in vitro gas tes yang diinkubasi selama 48 jam. Produksi gas dari hasil pengamatan mulai dari jam ke 0, 2, 4, 6, 12, 24, 36, dan 48 jam yang akan digunakan untuk dianalisis menggunakan program fit curve. Berdasarkan hasil penelitian, tidak terdapat interaksi yang nyata antara perbedaan penggunaan jenis bakteri asam laktat dengan proporsi hijauan silase terhadap produksi gas dan kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Perlakuan jenis bakteri memberikan pengaruh nyata pada fraksi b, fraksi a+b, nilai pH, dan NH3 cairan rumen, sedangkan perlakuan proporsi pelepah sawit dan Mucuna bracteate memberikan pengaruh pada fraksi a, fraksi b, dan fraksi a+b. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa interaksi penggunaan bakteri Lactobacillus sp. dan penggunaan 28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteate menghasilkan produksi gas dan kecernaan yang paling tinggi.