Claim Missing Document
Check
Articles

Integrated Social Media Knowledge Capture in Medical Domain of Indonesia Kridanto Surendro; Dicky Prima Satya; Farrell Yodihartomo
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 16, No 4: August 2018
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v16i4.8320

Abstract

The Social Media Platforms, as the one of largest part of today data traffic on the Internet, disseminate a vast volume of information, including medical information in it. Knowledge management system (KMS) approach is applied with purpose to capture, maintain, and manage tacit or explicit knowledge available and collected within the social media platforms, organization’s database, knowledge base, or document repository. By adding Indonesian Natural Language Processing (InaNLP), Machine Learning and Data Mining approach, our research has proposed a framework which is theoretically designed to improve the previous research related to social media knowledge capture model and enhance its accuracy and reliability of knowledge retrieved compared to previous knowledge capture model. This system mainly aimed for medical practitioner to give a quick suggestion of the diseases regarding to the early diagnose which has been taken in the first place. On this current research state, the pre-processing phase of the framework implementation and knowledge presentation is our main concernto maximize the information value for the knowledge users and also to reduce the language issues in texts such as ambiguity, inconsistency, use of slang vocabulary, etc.According to this research’s goal, we have designed an algorithm to extract feature from dataset.
Computing Game and Learning State in Serious Game for Learning Ririn Dwi Agustin; Ayu Purwarianti; Kridanto Surendro; Iping S Suwardi
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 13, No 4: December 2015
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v13i4.2248

Abstract

In order to support the adaptive SGfL, teaching materials must be represented in game component that becomes the target of adaptivity. If adaptive architecture of the game only use game state (GS) to recognize player's state, SGfL require another indicator -learning state (LS)- to identify the learning progress. It is a necessary to formulate computational framework for both states in SGfL.The computational framework was divided into two moduls, macro-strategy and micro-strategy. Macro-strategy control the learning path based on learning map in AND-OR Graph data stucture. This paper focus on the Macro-strategy modul, that using online, direct, and centralized adaptivity method. The adaptivity in game has five components as its target. Based on those targets, eight development models of SGfL concept was enumerated. With similarity and difference analysis toward possibility of united LS and GS in computational framework to implement the nine SGfL concept into design and application, there are three groups of the development models i.e. (1) better united GS and LS, (2) must manage LS and GS as different entity, and (3) can choose whether to be united or not. In the model which is united LS with GS, computing model at the macro-strategy modul use and-or graph and forward chaining. However, in the opposite case, macro-strategy requires two intelligent computing solutions, those are and-or graph with forward chaining to manage LS collaborated with Finite State Automata to manage GS. The proposed computational framework of SGfL was resulted from the similarity and difference analysis toward all possible representations of teaching materials into the adaptive components of the game. It was not dependent of type of learning domain and also of the game genre.
Self-adaptive Software Modeling Based on Contextual Requirements Aradea Aradea; Iping Supriana; Kridanto Surendro
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 16, No 3: June 2018
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v16i3.7032

Abstract

The ability of self-adaptive software in responding to change is determined by contextual requirements, i.e. a requirement in capturing relevant context-atributes and modeling behavior for system adaptation. However, in most cases, modeling for self-adaptive software is does not take into consider the requirements evolution based on contextual requirements. This paper introduces an approach through requirements modeling languages directed to adaptation patterns to support requirements evolution. The model is prepared through contextual requirements approach that is integrated into MAPE-K (monitor, anayze, plan, execute - knowledge) patterns in goal-oriented requirements engineering. As an evaluation, the adaptation process is modeled for cleaner robot. The experimental results show that the requirements modeling process has been able to direct software into self-adaptive capability and meet the requirements evolution.
Perancangan Model Enterprise Architecture dengan Togaf Architecture Development Method Roni Yunis; Kridanto Surendro
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2009
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tujuan dari penerapan arsitektur enterprise adalah menciptakan keselarasan antara bisnis danteknologi informasi bagi kebutuhan organisasi, penerapan arsitektur enterprise tidak terlepas dari bagaimanasebuah organisasi merencanakan dan merancang arsitektur enterprise tersebut. Untuk melakukan perancanganarsitektur enterpise diperlukan suatu metodologi yang lengkap serta mudah digunakan, TOGAF ADMmerupakan metodologi yang lengkap, banyak organisasi yang tidak memahami secara jelas bagaimanatahapan-tahapan dari metodologi tersebut diterjemahkan kedalam aktivitas perancangan arsitektur enterprise.Tahapan dalam perancangan arsitektur enterprise sangatlah penting dan akan berlanjut pada tahapanberikutnya yaitu rencana implementasi. Luaran dari tahapan ini akan menghasilkan sebuah arsitekturenterprise yang pada nantinya bisa dijadikan oleh organisasi untuk mencapai tujuan strategisnya.Kata Kunci: arsitektur enterprise, TOGAF ADM, arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi, arsitekturteknologi
Usulan Model Information Technology Governance untuk Sistem Informasi Sumber Daya Manusia R. Djunaedy Sakam; Surendro Kridanto
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2005
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Universitas Pasundan salah satu tempat untuk melaksanakan studi kasus, selanjutnya disebut UNPASberlokasi di Kota Bandung. Pada saat ini sedang upaya merencanakan integrasi dan memaksimalkanpemantauan SDM (Sumber Daya Manusia) yang dimiliki di setiap program studi menjadi suatu unggulankompetensi dalam melaksanakan proses bisnis. Masalah yang dihadapi, secara komprehensip belum terdefinisiadanya prosedur baku tertulis yang mencerminkan link kompetensi SDM antar program studi di LingkunganUNPAS. Pengembangan SISDM (Sistem Informasi SDM) masih berfokus pada masing-masing program studi.Pengelolaan IT (Information Technology) tidak lepas dari pengawasan kendala-kendala yang mungkinmuncul, meliputi: keterlambatan penyajian atau ketidaklengkapan data yang akan diproses, informasi tidak sah,resiko layanan antar unit organisasi, resiko pengawasan, dan keadilan pemenuhan kebutuhan IT belummenyeluruh.Suatu penelitian telah diusulkan model IT Governance untuk SISDM, guna mengendalikanketidaksesuaian antara program yang direncanakan dan pencapaian tujuan aktivitas SDM. Disini ingin melihatkeseimbangan antara pengelolaan sumber daya IT dan pencapaian tujuan organisasi melalui pengawasan SIdan resiko yang terkait dengan IT, untuk stabilisasi keseuaian SISDM dilakukan penyusunan COBIT frameworkpada domain Delivery & Support (DS) untuk dilakukan evaluasi dengan pendekatan CSF (Critical SuccessFactors).Kata kunci: COBIT framework, Delivery & Support, IT Governance, SISDM
Usulan Model Audit Sistem Informasi (Studi Kasus: Sistem Informasi Perawatan Pesawat Terbang) Maniah Maniah; Kridanto Surendro
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2005
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem Informasi merupakan asset bagi suatu perusahaan yang bila diterapkan dengan baik akanmemberikan kelebihan untuk berkompetensi sekaligus meningkatkan kemungkinan bagi kesuksesan suatu usaha.Dalam mengimplementasikan sistem informasi tersebut harus adanya suatu tolok ukur untuk mencegahterjadinya hal-hal di luar rencana organisasi, dan pengoperasian sistem informasi yang dilakukan secara efektifdan efisien. Tujuan pengukuran terhadap sistem informasi tersebut adalah untuk meyakinkan manajemen bahwaapakah kinerja sistem informasi yang ada pada organisasi nya sesuai dengan perencanaan dan tujuan usahayang dimilikinya.Audit SI merupakan wujud dari pengukuran tersebut. COBIT merupakan salah satu metodology yangmemberikan kerangka dasar dalam menciptakan sebuah Teknologi Informasi yang sesuai dengan kebutuhanorganisasi dengan tetap memperhatikan faktor–faktor lain yang berpengaruh. Sebagai model untuk organisasisistem informasi, maka COBIT memuat kendali yang sifatnya generik.Usulan Model Audit yang dibuat dapat digunakan khusus untuk menilai proses penyampaian dukunganpelayanan informasi di dalam industri pesawat terbang. Penilaian tersebut dilakukan melalui kendali danindikator kinerja yang merupakan hasil ekstraksi dari COBIT. Berdasarkan model tersebut, sebuah kuesionerakan dibentuk untuk mengidentifikasi tingkat maturity Sistem Informasi Perawatan Pesawat Terbang.Kata kunci: pengukuran, kendali & indikator kinerja, Audit SI
Kajian Teoritis: Model E-Government Readiness Pemerintah Kabupaten/Kotamadya dan Keberhasilan E-Government Stevanus Wisnu Wijaya; Kridanto Surendro
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2006
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

E-government dapat dipahami sebagai upaya pemerintah untuk menyediakan layanan publik yang efisien dan efektif dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan maka diperlukan kondisi atau keadaan tertentu yang mendukung.Kondisi ini dapat diartikan sebagai kesiapan atau readiness. Terkait dengan e-government maka readiness merupakan kondisi atau keadaan kesiapan dari pemerintah dan masyarakat pengguna terkait dengan pelayanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Tingkat kesiapan yang dicapai memiliki korelasi positif dengan keberhasilan dalam mencapai tahap pengembangan e-government suatu kabupaten atau kotamadya. Makalah ini akan memaparkan kajian secara teoritis tentang model pendekatan e-government readiness sebuah kabupaten atau kotamadya di Indonesia.Kata kunci: Clustering, partitional, incremental, distance.
Budaya Organisasi sebagai Indikator Pengukuran Kesiapan Pemerintah dalam Menerapkan E-Government Kridanto Surendro
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2006
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

E-Government didefinisikan sebagai penerapan teknologi informasi dan komunikasi oleh pemerintah sehingga terjadi proses pemerintahan yang efisien. Salah satu tujuannya adalah menyediakan informasi kepada masyarakat, memberikan pelayanan yang lebih baik, dan memberdayakan masyarakat melalui ketersediaan akses. Untuk menilai kemungkinan berhasilnya penerapan e-government digunakan indikator E-Readiness. Dalam makalah ini akan dibahas tentang budaya organisasi sebagai salah satu dugaan parameter untuk pengukuran e-readiness penerapan e-government oleh pemerintah kota / kabupaten di Indonesia.Kata Kunci: budaya organisasi,e-readiness,e-government.
Kajian Terhadap UN Global E-Government Readiness Report 2005 dalam Upaya Meningkatkan E-Government Readiness Indonesia Basuki Sugiharto; Kridanto Surendro
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2006
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam laporan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang Global E-Government Readiness Report 2005 [1], disebutkan bahwa dari 191 negara anggotanya terdapat 179 negara yang sudah online. Dalam penjelasan berikutnya dinyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat 96 dari 179 negara, turun 11 dari tahun sebelumnya yaitu peringkat 85 pada tahun 2004. Penurunan peringkat ini menimbulkan tanda tanya besar ditengah semangat nasional untuk membangun dan menerapkan e-Goverment sebagai upaya pemerintah dan seluruh masyarakat untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien [2]. Makalah ini memaparkan kajian terhadap laporan PBB tersebut, khususnya terhadap pola penilaian yang digunakan dan menyampaikan dugaan tentang penyebab kurang berhasilnya e-Goverment di Indonesia yaitu pengaruh dari kesiapan pemerintah dan budaya nasional. Untuk memantapkan kesiapan pemerintah dalam memberikan layanan yang baik melalui website, diusulkan adanya kajian terhadap beberapa website best practise dari negara-negara dengan ranking tertinggi yang mungkin bisa diterapkan di Indonesia. Sedangkan dari kesiapan masyarakat dalam kaitannya dengan budaya nasional perlu diketahui bagaimana pengaruh budaya di Indonesia terhadapa E-Government Readiness. Dua hal ini perlu dilakukan sebagai langkah strategis untuk mengejar ketinggalan serta sekaligus memantapkan langkah dalam menerapkan E-Government di Indonesia.Kata kunci: e-Government, readiness
Perencanaan Arsitektur Enterprise Penyelengaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Usulan: Dinas Perijinan) Sri Agustina Rumapea; Kridanto Surendro
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2007
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi dan sistem informasi di Indonesia saaat ini tidak hanya dimanfaatkan olehdunia industri tetapi juga dimanfaatkan oleh pemerintah dalam melakukan perannya menjalankanpemerintahan. Tetapi sayang fenomena yang terjadi adalah investasi yang besar di bidang TI dan SI seringkalitidak dibarengi dengan manfaat yang diperoleh oleh pemerintah (enterprise). Salah satu penyebabnya adalahpembangunan sistem informasi dilakukan tanpa membuat cetak biru enterprise terlebih dahulu sebagailandasan bagi pengembangan sistem informasi. Sehingga dengan perkembangan enterprise yang semakinkomplek mengharuskan enterprise tersebut melakukan kustomisasi terus-menerus terhadap sistem informasiyang telah dibangun yang tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Duplikasi sistem informasi, tidakadanya integrasi sistem informasi yang satu dengan yang lain, plaftform yang berbeda antar tiap sisteminformasi juga menjadi faktor penyebab kegagalan suatu enterprise mendapatkan manfaat yang optimal daripengunaan TI dan SI.Suatu enterprise yang tumbuh dan menjadi lebih kompleks membuat management melakukan permintaanyang semakin besar terhadap fungsi sistem informasi. Mereka membutuhkan untuk dapat melakukan aksesterhadap data kapanpun dan dimanapun dengan mudah, akurat dan konsisten di seluruh departemen, sisteminformasi yang cepat mengikuti perubahan kondisi bisnis, dan dapat melakukan sharing data antar tiapdepartemen. Karena itu suatu cetak biru dari enterprise menjadi hal yang sangat penting untuk dibangunsebagai landasan dalam memanfaatkan IT dan SI yang digunakan untuk mencapai tujuan bisnis enterprisedengan menghasilkan informasi yang berkualitas. Kualitas ini harus direncanakan.Perencanaan Arsitektur Enterprise merupakan pendekatan yang modern untuk melakukan perencanaanterhadap kualitas data dan mencapai misi SI dan merupakan proses dalam mendefinisikan sejumlah arsitekturuntuk mengunakan informasi dalam mendukung bisnis dan rencana untuk mengimplementasikan arsitekturtersebut. Dari definisi diatas ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam Perencanaan ArsitekturEnterprise adalah, yang pertama adalah sejumlah arsitektur yang ditetapkan adalah arsitektur data, arsitekturaplikasi dan arsitektur teknologi. Arsitektur dalam kontesks ini adalah sebuah cetak biru, gambaran ataupunmodel.Enterprise dalam penelitian ini adalah penyelengara pelayanan perijinan satu pintu. PenyelenggaraanPelayanan Terpadu Satu Pintu adalah kegiatan penyelenggaraan perizinan dan non perizinan yang prosespengelolaannya mulai dari tahap permohonan sarnpai ke tahap terbitnya dokumen dilakukan dalam satutempat. Perubahan sistem penyelengaraan membutuhkan proses penyesuaian diantaranya adalah pembentukanorganisasi, proses bisnis, perumusan peraturan daerah, perancangan infrastruktur dan teknologi informasi,perancangan sistem informasi, dan pembentukan unit dan fasilitas organisasi. Pengembangan sistem informasidiharapkan dapat menjadi alat yang dapat membantu percepatan pencapaian tujuan Penyelengaraan PTSP.Cetak biru yang dihasilkan dengan Perencanaan Arsitektur Enterprise selanjutnya dapat digunakansebagai landasan dalam pengembangan Sistem Informasi sehingga diharapkan Sistem Informasi yang dibangundapat align, support dan fit dengan enterprise yang dalam hal ini adalah Dinas Perijinan sebagaipenyelenggara PTSP.Kata kunci: Perencanaan Arsitektur Enterprise, Arsitetur Data, Asitektur Aplikasi, Arsitektur Teknologi, CetakBiru, Sistem Informasi