Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Cooperative Learning Tipe TPSQ untuk Mengoptimalkan Kemampuan Membuat Peta Konsep dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII pada Materi Optik Nia Kurniasih; Purwanto Purwanto; Parsaoran Siahaan
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.852 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20158

Abstract

Pemahaman konsep siswa merupakan bagian penting dalam pembelajaran, pemahaman konsep dapat ditingkatkan melalui penggunaan peta konsep dalam pembelajaran. Hasil studi pendahuluan menunjukkan persentase siswa yang dapat menentukan konsep hanya 63,89% konsep utama, 55,56% konsep inklusif, 36,11% konsep kurang inklusif dan 25% konsep spesifik. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat peta konsep. Model pembelajaran cooperative learning tipe think pair square (TPSq) diprediksi dapat meningkatkan kemampuan membuat peta konsep. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan dalam membuat peta konsep dan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya model cooperative learning tipe Think Pair Square (TPSq). Jenis penelitian ini adalah pre-experimental dengan desain one-group pretest-posttest design. Sampel penelitian dilakukan kepada 27 siswa kelas VIII salah satu SMP di Kota Bandung. Data dikumpulkan melalui tes, peta konsep siswa, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Hasil menunjukan bahwa adanya pengaruh dari penerapan cooperative learning tipe TPSq terhadap kemampuan membuat peta konsep dengan nilai rata-rata peta konsep untuk setiap pertemuan adalah 68,13 kategori sedang, prestasi belajar siswa pada materi optik meningkat dengan nilai n-gain sebesar 0,5 kategori sedang dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,50 kategori cukup. Kata Kunci: Cooperatie learning; Peta konsep; Prestasi belajar. ABSTRACT Understanding student’s concepts is an important part of learning, conceptual understanding can be improve through the use of concept maps in learning. Preliminary study results show the percentage of students who can determine the concept only 63.89% of the main concept, 55.56% inclusive concept, 36.11% less inclusive concept and 25% specific concepts. This shows that need a learning model that can improve students' ability in making concept maps. Cooperative learning model type think pair square (TPSq) is predicted to improve the ability to create concept maps. The purpose of this study is to determine the ability to create concept maps and student achievement after the implementation of cooperative learning model Think Pair Square (TPSq). This type of research is pre-experimental with one-group pretest-posttest design. The sample of the research was done to 27 students of class VIII one of junior high school in Bandung. Data were collected through by test, student concept maps, and instructional learning observation sheets. The result shows that the influence of the implementation of cooperative learning TPSq type on the ability to create concept map with average value of concept map for each meeting is 68,13 medium category, student achievement on optical material increases with n-gain value equal to 0.5 medium category and value of correlation coefficient of 0,50 enough category. Keywords: Cooperative Learning; Concept Maps; Learning Achievement.
Penerapan Model Virtual Conceptual Change Laboratory (VCCLAB) Untuk Meremediasi Miskonsepsi Siswa Pada Materi Tekanan Hidrostatik Yunina Surtiana; Andi Suhandi; KL Putri; Wawan Setiawan; Parsaoran Siahaan; Achmad Samsudin
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 6, No 1 (2021): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Februari 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.685 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v6i1.32451

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penerapan model Virtual Conceptual Change Laboratory (VCCLab) dalam memfasilitasi terjadinya perubahan konsepsi pada pengajaran remedial terkait konsep tekanan hidrostatik. Model VCCLab ini bisa juga dijadikan solusi untuk mengatasi kendala praktikum di era pandemi ini. Keadaan konsepsi peserta didik SMA sebelum dan setelah penerapan model VCCLab didiagnosis dengan menggunakan tes konsepsi format four-tier test. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pre-experiment dengan desain one group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri dari 36 siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 2 Lembang, dimana subjek penelitian merupakan peserta didik yang telah mendapatkan pembelajaran dan yang masih mengalami miskonsepsinya sebanyak 32 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah peserta didik yang mengalami perubahan konsepsi setelah mengikuti tahapan-tahapan model VCCLab adalah 90% (29 orang) yang mengalami remediasi miskonsepsi dan 10% (3 orang) lainnya masih mengalami miskonsepsi. Berdasarkan hasil tersebut penerapan model VCCLab mampu meremediasi miskonsepsi peserta didik terkait konsep tekanan hidrostatik. Kata kunci : Kegiatan laboratorium, Miskonsepsi, Model VCCLab, Pembelajaran remedial   ABSTRACT This study aims to obtain an overview of the application of the Virtual Conceptual Change Laboratory (VCCLab) model in facilitating a change in conception in remedial teaching related to the concept of hydrostatic pressure. This VCCLab model can also be used as a solution to overcome practical problems in this pandemic era. High school students' conception conditions before and after the application of the VCCLab model were diagnosed using a four-tier test format conception test. This research was conducted using a pre-experimental method with a one group pretest-posttest design. The research subjects consisted of 36 students of class XI MIPA SMA Negeri 2 Lembang, where the research subjects were 32 students who had learned and who still experienced misconceptions. The results showed that the number of students who experienced a change in conception after following the stages of the VCCLab model was 90% (29 people) who experienced misconception remediation and 10% (3 people) still experienced misconceptions. Based on these results, the application of the VCCLab model was able to remediate students' misconceptions regarding the concept of hydrostatic pressure. Keywords : Laboratory activities, Misconception, VCCLab Model, Remedial teaching
SELF DIAGNOSIS SEBAGAI UPAYA UNTUK MENDUKUNG PEMAHAMAN KONSEP PESERTA DIDIK KELAS X PADA MATERI MOMENTUM DAN IMPULS Vina Rilantinawati; Parsaoran Siahaan; Unang Purwana
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 5, No 2 (2020): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.836 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v5i2.25687

Abstract

Peserta didik memiliki tingkat pemahaman konsep yang berbeda setelah pembelajaran dilakukan. Pemahaman konsep peserta didik dibedakan menjadi empat tipe, mulai dari yang paham konsep sampai tidak paham konsep. Self-diagnosis dapat membantu peserta didik yang memiliki pemahaman konsep rendah dengan segera melalui proses penerimaan feedback secara mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran self-diagnosis dalam mendukung pemahaman konsep peserta didik kelas X pada materi momentum dan impuls. Penelitian ini menggunakan metode penelitian mixed method dengan desain embedded experimental model dan partisipan yang terlibat terdiri dari 26 peserta didik kelas X salah satu SMA di Kota Cimahi. Hasil temuan menunjukkan bahwa self-diagnosis memberikan dampak yang besar terhadap perubahan pemahaman konsep peserta didik dari test 1 ke test 2. Kategori perubahan pemahaman konsep ke arah positif memiliki persentase terbesar yaitu 70%. Self-diagnosis berperan dalam memberikan berbagai feedback yang masing-masing peserta didik butuhkan ketika mereka melalui serangkaian proses dari kriteria tahapan mengenali, mengakui, termasuk self-score sehingga mereka menerima berbagai feedback yang digunakan untuk mencapai tahap memperbaiki setiap pemahaman konsep nya dari berbagai perbaikan kesalahannya dan memicu perubahan pemahaman konsep ke arah yang positif. Sehingga, self-diagnosis dapat mendukung pemahaman konsep peserta didik kelas X pada materi momentum dan impuls ke tingkat yang lebih baik. Kata Kunci: Self-Diagnosis, Pemahaman Konsep, Momentum dan Impuls
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MERUMUSKAN DAN MENGUJI HIPOTESIS MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN METODE PRAKTIKUM Eka Liandari; Parsaoran Siahaan; Ida Kaniawati; Isnaini Isnaini
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 1 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.302 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i1.4904

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta rendahnya kemampuan siswa kelas XI MIPA 5, SMAN 1 Lembang dalam merumuskan hipotesis. Hasil tes awal menunjukkan bahwa siswa belum mampu mengidentifikasi variabel dan mengajukan hipotesis. Selain itu, kegiatan bersifat ilmiah yang dapat meningkatkan kemampuan merumuskan dan menguji hipotesis siswa seperti kegiatan praktikum jarang dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan merumuskan dan menguji hipotesis siswa melalui pendekatan keterampilan proses sains dengan metode praktikum. Merumuskan dan menguji hipotesis adalah salah satu cara untuk melatih siswa berpikir ilmiah dan membantu siswa menjawab berbagai persoalan fisika menggunakan metode ilmiah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi kemudian dibuat perencanaan perbaikan yang digunakan dalam siklus selanjutnya. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA 5, SMAN 1 Lembang yang berjumlah 36 siswa. Aspek yang diukur pada penelitian ini adalah kemampuan merumuskan hipotesis dengan indikator menentukan variabel, mengajukan hipotesis, dan memberikan teori pendukung hipotesis, serta kemampuan menguji hipotesis dengan indikator merancang percobaan, melaksanakan percobaan, menganalisis data dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil siklus I dan siklus II, profil kinerja merumuskan hipotesis siswa meningkat dari 76% menjadi 89% dan kinerja menguji hipotesis meningkat dari 75% menjadi 83%. Hal tersebut tercermin dari hasil pengamatan kinerja dan analisis lembar kerja siswa yang dikerjakan siswa selama pembelajaran. Selain itu, hasil tes kemampuan merumuskan hipotesis juga mengalami peningkatan dari 73% menjadi 96% dan menguji dari 72% menjadi 81%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan keterampilan proses sains dengan metode praktikum dapat meningkatkan kemampuan merumuskan dan menguji hipotesis siswa.
PROFIL HAMBATAN BALAJAR EPISTIMOLOGIS SISWA PADA MATERI SUHU DAN KALOR KELAS XI SMA BERBASIS ANALISIS TES KEMAMPUAN RESPONDEN Restina Septiani; Heni Rusnayati; Parsaoran Siahaan; A.F.C. Wijaya
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 3, No 1 (2018): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.898 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v3i1.10935

Abstract

 ABSTRAK Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah rendahnya kemampuan  siswa dalam memahami konsep pada materi suhu dan kalor. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui angket dan tes di salah satu SMAN di Kota Garut. Hasil studi pendahuluan menunjukan bahwa siswa tidak dapat mengejarkan tes pada materi suhu dan kalor. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui profil hambatan epistimologis siswa pada materi suhu dan kalor kelas XI SMA berbasis analisis Tes Kemampuan Responden. Hambatan belajar epistimologis yaitu hambatan yang terjadi karena ketidaksesuaian materi ajar dengan tingkat pengetahuan siswa atau siswa hanya memahami konten tertentu sehingga siswa  mengalami keterbatasan pola pikir dalam konsep ilmu pengetahuan. Metode yang digunakan adalah anilisis deskriptif melalui Tes Kemampuan Responden berupa tiga soal uraian yang mencangkup konsep Suhu dan Kalor yang diberikan kepada siswa di salah satu SMAN di Kota Garut. Dari hasil analisis Tes Kemampuan Responden, teridentifikasi beberapa hal yang menjadi hambatan belajar epistimologis siswa yaitu sebagai berikut: Pertama, siswa tidak dapat menjelaskan konsep suhu dan menyebutkan satuan suhu dengan tepat. Kedua, siswa  tidak dapat menjelaskan konsep kesetimbangan termal yang ditunjukan pada termometer. Ketiga, siswa tidak dapat menentukan nilai besaran yang dinyatakan dalam soal mengenai konversi termometer. Keempat, siswa tidak dapat menjelaskan prinsip Asas Black pada kasus pencampuran air panas dan air dingin. Kelima, siswa tidak dapat menentukan nilai kalor jenis suatu bahan  yang dinyatakan dalam soal pada prinsip Asas Black. Keenam, siswa tidak dapat menjelaskan konsep konduksi, konveksi dan radiasi pada serta penerapannya dalam kehidupan. Dapat disimpulkan bahwa masih terdapat hambatan belajar epistimologis pada materi Suhu dan Kalor, sehingga harus ada upaya untuk memperkecil hambatan belajarnya.   Kata Kunci:  Hambatan Belajar; Suhu dan Kalor; Tes Kemampuan Responden ABSTRACT The background problem of this study is the low ability of students to understand the concept on temperature and heat materials. This is shown the results of preliminary studies conducted by questionnaires and test in one of senior high school in Garut. The result of  preliminary show that students can not pursue tests on temperature and heat matter. The study aims to find out the student epistemological learning obstacle profile on temperature material of eleventh grade of senior high school based on analysis respondent’s ability test. The obstacles of epistemological learning are obstacles that happen because of the mismatch of teaching materials with the level of knowledge of students or students understand certain content, as a result the students have experienced of limitation mindset in the concept of knowledge. The method used is descriptive analysis through respondent ability test consists three of essay questions which describes the concept of temperature and heat that is given to students in one of senior high school in Garut. From the results of responder apability test, identified some things that become obstacles to epistimological leraning students are as follows: First, students can’t explain the concept of temperature and the exact unit temperature. Second, students can’t explain the concept of thermal equilibrium shown in the thermometer. Third, students can’t determine the value of the amount stated in the matter of thermometer conversion. Fourth, students can’t explain the principle of Black Principle in the case of hot and cold water mixing. Fifth, students can’t determine the heat type of a kind of material expressed in the matter on the principle of Black Principle. Sixth, students can’t explain the concepts of conduction, convection and radiation on and its application in life In conclusion, there is a lot of epistemological learning obstacle on temperature and heat material therefore there should be effort to minimize learning obstacles. Keywords: Learning Obstacles; Temperature and Heat; Respondent Ability Test
PENERAPAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN IPA DENGAN METODE INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PERPINDAHAN KALOR SISWA KELAS VII Tri Endro Pranowo; Parsaoran Siahaan; Wawan Setiawan
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 1 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.306 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i1.4848

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatanpemahaman konsep perpindahan kalor siswa kelas VII SMP melalui pembelajaran metode inkuiri terbimbing berbantuan multimedia dengan tanpa bantuan multimedia. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan desain “pretest-posttest control group design. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII sebanyak 66 orang di salah satu SMPN di Kabupaten Cianjur, yang dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 33 siswa. Kelompok pertama (kelompok eksperimen) menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan multimedia, sedangkan kelompok kedua (kelompok kontrol) menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan multimedia. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes pemahaman konsep. Hasil gain yang dinormalisasi pada kelompok eksperimen sebesar 0,54, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 0,45, keduanya berada pada klasifikasi sedang. Hasil uji hipotesis menggunakan uji t dua sampel independen menggunakan SPSS 16menunjukkan bahwa nilai sig (2-tailed) = 0,04. Hasil ini lebih kecil dibandingkan dengan nilai p= 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman konsep siswa pada materi perpindahan kalor yang mendapatkan pembelajaran menggunakan metode inkuiri terbimbing berbantuan multimedia dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan metode inkuiri terbimbing tanpa bantuan multimedia.
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik melalui Discovery Learning Berbantuan Media Simulasi pada Materi Teori Kinetik Gas Badri Rahmatulloh; Parsaoran Siahaan; Ida Kaniawati; Isnaini Isnaini
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 4, No 2 (2019): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.156 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v4i2.20184

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui discovery learning berbantuan media simulasi pada materi teori kinetik gas kelas. Penelitian dilaksanakan pada tahun ajaran 2018/2019 pada kelas XI MIPA 2 semester ganjil dengan jumlah peserta didik 36 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan angket. Pada siklus I untuk indikator keterlaksanaan pembelajaran discovery learning diperoleh 75% tercapai dengan katagori sedang, untuk indikator hasil belajar secara individual 69% peserta didik dinyatakan tuntas dan 31% belum tuntas, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 77. Berdasarkan data tersebut, pembelajaran discovery learning berbantuan media simulasi dinyatakan belum tuntas yaitu masih berada pada katagori sedang (61% - 80%). Pada siklus II untuk indikator keterlaksanaan pembelajaran discovery learning diperoleh 93% tercapai dengan katagori tinggi, untuk indikator hasil belajar secara individual 94% peserta didik dinyatakan tuntas dan 6% belum tuntas. Dengan nilai rata-rata kelas sebesar 91. Berdasarkan data tersebut telah diperoleh ketercapaian dengan katagori tinggi 80%. Kesimpulan pada siklus I indikator belum tercapai dan dilanjutkan pada sikluas II. Pada siklus II indikator tercapai dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui Discovery Learning berbantuan media simulasi pada materi teori kinetik gas. Kata Kunci       : Hasil Belajar; Discovery Learning; Media Simulasi; Teori Kinetik Gas ABSTRACT The research was action research. This research aimed to increase students’ result by using Discovery Learning strategy through simulation media on material kinetic theory of gas. The sample selection was done toward Thirty-six students at The Second Science class grade XI Senior High School in West Bandung regency in 2018/2019 academic year. There were three instruments developed, such as observation, interview and questionnaire. On First cycle, for implementation indicator on discovery learning strategy was done 75% with sufficient category, for individual learning result 69% passed and 31% not passed. The class average value was 77. Based on that data, discovery learning strategy through simulation media stated not passed with sufficient category (61%-80%). On Second cycle, for implementation indicator on discovery learning strategy was done 93% gained with high category, for individual learning result 94% students passed, and 6% not passed. The class average value was 91. Based on the data, it got accomplishment with high category 80%. The conclusion on cycle I was not passed and was continued on cycle II. On cycle II, indicators were reached and increased. The students’ learning result is stated passed by using Discovery Learning strategy through simulation media on material kinetic theory of gas. Keywords         : Learning Result; Discovery Learning; Simulation; Kinetic Theory of Gases.
DESAIN INTRUMEN TES KREATIVITAS ILMIAH BERBASIS HU DAN ADEY DALAM MATERI KEBUMIAN Anggi Hanif Setyadin; Parsaoran Siahaan; Achmad Samsudin
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 2, No 1 (2017): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.839 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v2i1.4905

Abstract

Kreativitas adalah salah satu kompetensi penting abad ke-21. Kreativitas umumnya hanya memandang aspek fluency, flexibility dan originality, sedangkan kreativitas ilmiah memadukan aspek kreativitas dansains, sehingga diperlukan tes khusus untuk mengukurnya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen tes kreativitas ilmiah pada siswa SMP terkait materi kebumian. Instrumen tes disusun berdasarkan adaptasi dan modifikasi tes kreativitas ilmiah Hu dan Adey (2002). Metode penelitian yangdigunakan adalah metode penelitian dan pengembangan model instruksional 4D (define, design, develop, and disseminate) yang dibatasi hanya sampai tahap 2D(define and design). Sebanyak tujuh soal dimodifikasi dengan menyisipkan materi kebumian. Soal dikembangkan ke dalam bentuk semi-openquestion yang memungkinkan siswa dapat memilih pilihan jawaban/tidak memilih/menuliskan jawaban alternatif pada kolom kosong.Melalui tahap define dan design yang dilakukan, telah dikembangkan instrumen tes kreativitas ilmiah untuk siswa SMP dalam materi kebumian berbasis instrumen tes kreativitasilmiah oleh Hu dan Adey.
PROFIL HAMBATAN BELAJAR EPISTIMOLOGIS SISWA PADA MATERI FLUIDA STATIS KELAS XI SMA BERBASIS ANALISIS TES KEMAMPUAN RESPONDEN Gadis Argi Kiranti; Heni Rusnayati; A.F.C Wijaya; Parsaoran Siahaan
WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) Vol 3, No 2 (2018): WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika) 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.561 KB) | DOI: 10.17509/wapfi.v3i2.13724

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti melalui angket dan tes di salah satu SMA di Kota Bandung menunjukan bahwa 62,96% siswa mengalami hambatan belajar pada materi fluida statis diantaranya yaitu tekanan hidrostatis, Hukum Pascal, Hukum Archimedes dan 66,63% siswa tidak dapat mengerjakan tes pada materi fluida statis (tekanan hidrostatis, Hukum Pascal dan Hukum Archimedes). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi profil hambatan belajar epistimologis siswa pada materi fluida statis (tekanan hidrostatis, Hukum Pascal dan Hukum Archimedes) kelas XI SMA berbasis analisis Tes Kemampuan Responden. Hambatan Epistimologi yaitu hambatan yang terjadi karena keterbatasan seseorang hanya pada suatu konteks tertentu, Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif melalui tes kemampuan responden. Tes kemampuan responden berupa soal uraian yang diberikan kepada siswa yang mencakup konsep esensial tekanan hidrostatis, Hukum Pascal, dan Hukum Archimedes. di salah satu SMA di Kota Bandung. Hasil yang didapatkan yaitu 68,32% siswa mengalami hambatan pada materi tekanan hidrostatis, 72,49% siswa mengalami hambatan pada materi Hukum Pascal, 70,69% siswa mengalami hambatan pada materi Hukum Archimedes. Dapat disimpulkan bahwa masih terdapat hambatan belajar epistimologis pada materi Fluida Statis (tekanan hidrostatis, Hukum Pascal dan Hukum Archimedes), sehingga diperlukan adanya upaya untuk memperkecil hambatan belajarnya.Kata Kunci: Hambatan Belajar; Fluida Statis ; Tes Kemampuan RespondenABSTRACTThe study, in which the data collection is in the forms of questionnaire and test in a senior high school in Bandung, shows that 62,96% of the students have obstacles in learning fluid statics such as hydrostatic pressure, Pascal’s law, and Archimedes’s and 66,63% students couldn’t answer the test about Fluid Statics (hydrostatic pressure, Pascal’s law, and Archimedes’s). This study aims at identifying the profile of the eleventh grade’s epistemological obstacles in learning fluid statics -e.g. hydrostatic pressure, Pascal’s law, and Archimedes’s based on the analysis of the respondent’s skill. Epistemological learning obstacle occurs due to limitation of knowledge to a certain concept. The method is qualitative descriptive through the responden’s skill test. The respondent’s skill test is in the forms of essay questions covering essential concept of hydrostatic pressure, Pascal’s law, and Archimedes’s. The result shows that 68.32% of the students have the obstacles in learning hydrostatic pressure, 72.49% in learning Pascal’s law, and 70.69% in learning Archimedes’s. This study concludes that the epistemological obstacles in learning fluid statics (especially hydrostatic pressure, Pascal’s law, and Archimedes’s) is evident so that the effort to reduce the obstacles is necessary.Keywords: Learning Obstacle; Fluid statics; the respondent’s skill test
Interaction Studies Between Cyclic Peptide ADT-C3 (Ac-CADTPC-NH2) with E-Cadherin Protein using the Molecular Docking Method Simulated on 120ns Parsaoran Siahaan; Vivitri Dewi Prasasty; Atiatul Manna; Dwi Hudiyanti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 2 (2018): Volume 21 Issue 2 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.917 KB) | DOI: 10.14710/jksa.21.2.85-91

Abstract

The treatment of diseases that attack the brain is very difficult, because the delivery of drug molecules to the brain is often hindered by the blood-brain barrier (BBB). So that the drug delivery is not right on the target cell. Thus, was developed a method in modulation of intercellular junctions using ADTC3 cadherin peptide, Where the cadherin peptide is derived from the cadherin sequence itself. The method used in this research is molecular dynamics (DM) and molecular docking. In this study have been evaluated some peptide conformation in modulating intercellular junction. The results show that cyclic peptide ADT-C3 (Ac-CADTPC-NH2) was conducted DM for 120 ns (120000 ps), which has considerable activity in modulating intercellular junctions with binding energies of -33.10 kJ.mol-1 and Ki of 1.58 μM at the 79187 ps conformation. The binding site on residues Asp1, Trp2, Ile4, Lys25, Ser26, Asn27, Met92 in the adhesion arm-acceptor pocket region.
Co-Authors A. Suhandi A.F.C Wijaya A.F.C. Wijaya Achmad Samsudin Ade Rahmani ADI YULANDI Agus Subagio Amsor, Amsor Anam, M. Khairul Anggi Hanif Setyadin Anugrah Ricky Wijaya Anugrah, Daru Seto Bagus ARIF HIDAYAT Asep Saefullah Atiatul Manna Ayub Indra Badri Rahmatulloh Bambang Cahyono Bani Amanullah Prasojo Bungaran David Simanjuntak Choiril Azmiyawati Cynthia L. Radiman Cynthia L. Radiman Desita Triana Dieter Ziessow Dieter Ziessow Diky Yopianto Dwi Hudiyanti Dwi Hudiyanti E. Suhendi Efendi, Ridwan Eka Liandari Endang Sawitri Endi Suhendi Ermawati Dewi Ermawati Dewi, Ermawati Farach, Nurul Febriani Sinambela Friska, Reski Ivon Fungky Iqlima Nasyidiah Gadis Argi Kiranti Hendri Widiyandari Heni Rusnayati Heny Ekawati Haryono Hildayani, Suci I Gusti Bagus Wiksuana Ida Kaniawati Ika Mustika Sari Imelda F. Saragih Isnaini Isnaini Isnaini Isnaini Khafidhoh Nurul Aini, Khafidhoh Nurul Khairul Anam KL Putri Laura Virdy Darmalim Liana Dewi Nuratikah Marchelia Dwi Yanthi Marlyn Dian Laksitorini Marlyn Dian Laksitorini Marta J. Sipangkar Mohd Hafiz Dzarfan Othman Mr Sumar Hendayana Muhamad A. Martoprawiro Muhamad A. Martoprawiro Muhammad Cholid Djunaidi Nadira Cahyaning Mentari Nanik Wijayanti Nastiti Nastiti Nia Kurniasih Nor Basid Adiwibawa Prasetya Nurbani, Anggita Repsi Nurwarrohman Andre Sasongko Parlindungan Sinaga Permono Adi Putro Purwanto, Purwanto Putra Habib Dhitareka Redemtus Heru Tjahjana Restina Septiani Retno Ariadi Lusiana Rikno Budiyanto Risda Destari Royhanshah, Moch Freskha Fauzi Sasmita, Dedi Sekar Kusuma Dewi Simanjuntak, Bungaran David Sri Haryanti Suci Hildayani Suci Zulaikha Hildayani Suhartana Suhartana Susanto Imam Rahayu Susanto Imam Rahayu Tantri Nevi Astuti Taufik Rahman Tri Endro Pranowo Tri Windarti Unang Purwana Ustera Octovindra Wiedyanto Vina Rilantinawati Vivitri Dewi Prasasty Wahyu Setiabudi Wawan Setiawan Wempie Gressangga Yanthi, Marchelia Dwi Yenni, Rozi Prima Yunina Surtiana