Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pembuatan Polymer Inclusion Membrane (PIM) Teremban 2,4,5-Trimetoksikalkon dan Uji Kompatibilitasnya Reinner Ishaq Lerrick; Darius Toge Kore; Philiphi de Rozari; Febri Odel Nitbani; Fidelis Nitti; Johnson N Naat
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 21, No 2 (2025): September
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.21.2.96111.305-314

Abstract

Polymer Inclusion Membrane (PIM) telah menjadi perangkat baru untuk mengekstraksi ion logam terutama dari larutan, karena selektivitas dan sensitivitasnya yang mudah disesuaikan melalui pembuatannya yang mudah. Ragam senyawa ekstraktan telah banyak dikembangkan dalam studi ekstraksi logam berbasis PIM. Namun, senyawa kalkon dan turunannya yang umum diketahui sebagai ekstraktan dan sensor logam, belum ditemukan penggunaannya dalam studi terkait PIM. Pada riset ini, senyawa 2,4,5-trimetoksikalkon, disintesis dari oksidasi minyak asaron asal Timor menggunakan ozon dan diikuti oleh reaksi kondensasi aldol dengan asetofenon, akan diembankan ke dalam matriks PIM PVC/D2EHPA. PIM yang disiapkan tersebut kemudian dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM), serta dipelajari kompatibilitasnya. PIM yang mengandung 60% PVC, 40% D2EHPA dan berbagai konsentrasi 2,4,5-trimetoksikalkon (25, 20, 15, 10, dan 5 ppm) mempunyai sudut kontak air masing-masing sebesar 51,939º, 51,665º, 51,318º, 51,151º, dan 50,863º; serta nilai penyerapan air masing-masing sebesar 9,80%; 9,82%; 9,54%; 9,68%; dan 9,76% yang menunjukkan bahwa PIM yang dihasilkan bersifat hidrofilik. Sementara itu, hasil pengukuran kuat tarik dan persentase perpanjangan menunjukkan bahwa PIM tersebut bersifat fleksibel dengan nilai yang diperoleh masing-masing 12,15; 11,96; 11,91; 10,95; 10,22 MPa dan 32,7; 86,6; 127; 156,7; 166,7%.Preparation of Polymer Inclusion Membrane (PIM)-Embedded 2,4,5-Trimethoxychalcone and Its Compatibility Study. Polymer Inclusion Membrane (PIM) has become an emerging device for extracting metal ions, especially from solution, due to its selectivity and sensitivity fine-tuned through facile preparation. Chalcones, as well as their derivatives, which are known as metal extractants and sensors, have not been employed in PIM-related studies. In this research, the compound 2,4,5-trimethoxychalcone, synthesized sequentially over Timor’s asarone oil oxidation using ozone, followed by Aldol condensation reaction with acetophenone, was embedded into the PVC/D2EHPA PIM matrices. The prepared PIM was then characterized using Fourier transform infrared (FTIR) and Scanning electron microscopy (SEM), and was studied for its compatibility. PIM contained 60% PVC, 40% D2EHPA and varied 2,4,5-trimethoxychalcone (25, 20, 15, 10, and 5 ppm) had water contact angles values of 51.939º, 51.665º, 51.318º, 51.151º, 50.863º, and water uptake of 9.80%, 9.82%, 9.54%, 9.68%, 9.76% respectively, which indicated that the resulting PIM was hydrophilic. Meanwhile, the tensile strength and elongation percentage showed that those PIM were flexible with the obtained values of 12.15, 11.96, 11.91, 10.95, 10.22 MPa and 32.7, 86.6, 127, 156.7, 166.7%, respectively.
IDENTIFIKASI MIKROPLASTIK PADA IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) SEBAGAI BIOINDIKATOR DI PERAIRAN TELUK KOTA KUPANG Nitti, Fidelis; Nalle, Tamara Baba; Boymau, Benyamin; Anait, Johanes R.; Kadang, Luther; Ola, Antonius R.B.; Baunsele, Since D.; Naat, Johnson N.
Chemistry Notes Vol 7 No 2 (2025): Chem. Notes, 7(2), 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/cn.v7i2.23042

Abstract

Microplastic pollution in coastal areas has become a serious concern due to its impact on marine environments and human health. This study examined the presence of microplastics in the digestive tracts of the tongkol fish (Euthynnus affinis) collected from two locations in Kupang Bay, namely PPI Oeba and Pasar Oesapa. A total of 16 fish samples were analyzed visually using a microscope, followed by polymer identification using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Results showed that fish from PPI Oeba contained 25 microplastic particles, while those from Pasar Oesapa had 20 particles. Film-type microplastics dominated, accounting for 68% in PPI Oeba and 75% in Pasar Oesapa, followed by fibers (20% and 25%, respectively), and fragments were only found in PPI Oeba (12%). Detected polymers included polyethylene (PE), polypropylene (PP), and polyvinyl chloride (PVC). This study confirms that tongkol fish can serve as effective bioindicators for monitoring microplastic pollution in the coastal waters of Kupang City.
PENGEMBANGAN SENSOR BERBASIS KERTAS DENGAN DETEKTOR SMARTPHONE UNTUK ANALISIS BORAKS DALAM MATRIKS MIE BASAH Tambaru, David; Kusmawan, Zipora A.; Nauledo, Gregorius; Nitti, Fidelis
Chemistry Notes Vol 7 No 2 (2025): Chem. Notes, 7(2), 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/cn.v7i2.26342

Abstract

Mie adalah salah satu makanan yang sangat umum di masyarakat termasuk Indonesia. Namun, mie kadang mengandung boraks, suatu zat kimia yang bersifat racun sehingga sangat berbahaya. Oleh karena itu, pengujian kandungan boraks pada mie, khususnya mie basah, perlu dilakukan secara rutin. Metode analisis boraks yang ada selama ini, biasanya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Namun mentode tersebut membutuhkan biaya mahal, dan kurang praktis untuk digunakan di lapangan. Sementara itu, sensor berbasis kertas telah menjadi alternatif dalam deteksi berbagai analit karena murah, praktis, tidak membutuhkan peralatan canggih, serta penggunaan sampel dan pereaksi yang sedikit. Selain itu metode ini dapat dibuat lebih praktis lagi dengan menggunakan smartphone sebagai detektor yang dapat dibawa ke mana-mana. Sistem deteksi boraks dengan metode ini didasarkan pada reaksi antara boraks dengan kurkumin dalam suasana asam untuk membentuk senyawa rososianin yang berwarna merah. Pereaksi terlebih dahulu diimobilisasi pada kertas kertas saring yang telah dipotong membentuk lingkaran berdiameter 0.6 mm, dan setelah kering, siap digunakan sebagai sensor boraks dengan meneteskan sampel di atas kertas yang telah mengandung pereaksi. Reaksi dengan boraks akan menyebabkan terbentuknya warna merah pada sensor, yang kemudian difoto dengan kamera smartphone. Dengan pencitraan digital, foto dianalisis dan intensitas warnanya. Pada kondisi optimum, hasil penelitian menunjukan bahwa intensitas merah hasil reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi boraks pada rentang 0,05-1,0 ppm dan 30 – 100 ppm, dengan persamaan regresi linear masing-masing adalah y = 13,24x + 11,63 dan y = 0,196x + 45,45 dan koefisien korelasi (R2) berturut-turut adalah 0,995 dan 0,992.