Claim Missing Document
Check
Articles

PENGEMBANGAN INVESTASI PADA RASULULLAH (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tujuan khusus perekonomian pada awal perkembangan Islam adalah penginvestasian tabungan yang dimiliki masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan dua cara, yaitu mengembangkan peluang investasi yang legal dan sesuai syariah dan mencegah kebocoran atau  penggunaan tabungan untuk tujuan yang tidak syariah. Pengembangan investasi dapat melalui kerjasama, qardul hasan, infaq dan wakaf. Menurut Sadr (1989) pengembangan peluang investasi yang legal dan sesuai syariah dilakukan dengan mengadopsi sistem investasi konvesional yang kemudian disesuaikan sehingga pihak surplus (pemegang tabungan) dan entrepreneurs dapat bekerja sama dengan ex-ante agreement share yang menghasilkan nilai tambah. Karena kegiatan utama ekonomi adalah jasa, agricultural, perdagangan dan kerajinan tangan, bentuk hokum yang sesuai untuk semua kegiatan ini adalah mudarabah, muzara’ah, musyakat dan musyarakah. Tabungan yang dimiliki masyarakat dialokasikan untuk perdagangan dan kerajinan tangan, sedangkan aset fisik seperti tanah, mesin, dll. Digunakan untuk agricultural. Atas dorongan dan bimbingan Rasulullah kaum Muhajirin dan Al-Anshar siap untuk bekerjasama dengan pembagian kepemilikian 50%-50%. Mengingat kaum Muhajirin yang “kurang” dalam hal modal dan skill yang menyangkut agricultural dan perdagangan, bagian kepemilikan yang mereka terima tidak sesuai dengan nilai pastisipasi yang mereka kontribusikan. Melalui kontrak kerjasama ini, kaum Anshar mengajarkan skill yang dibutuhkan, sehingga produktivitas meningkat. Bagi pemilik modal, bentuk kerjasama seperti ini sangat menguntungkan karena mereka dapat terlibat secara langsung dalam proses investasi. Pengalaman, informasi, serta metode supervisi dan manajemen yang mereka miliki secara langsung dapat diterapkan. Dalam kerjasama ini, resiko usaha ditanggung oleh kedua pihak. Pengalaman dan informasi yang diperoleh peserta kemudian diinformasikan kepada masyarakat luas untuk menarik mereka dalam kerjasama serupa. Lambat laun, informasi yang sempurna dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat akan dapat mengurangi risiko investor dalam menjalankan usahanya. Selain pendapatan yang diterima, informasi dan metode administrasi perdagangan/ekonomi yang mereka dapatkan menjadi daya tarik tersendiri buat masyarakat untuk melakukan investasi. Pada awal masa keislaman, pemerintah dengan berbagai cara menyediakan fasilitas yang berorientasi investasi untuk masyarakat. Pertama, memberikan berbagai kemudahan bagi produsen untuk berproduksi. Kedua, memberikan keuntungan pajak terutama bagi unit produksi baru. Metode perpajakan Islam tidak membahayakan insentif aktivitas ekonomi karena penarikan pajak dilakukan secara proporsional terhadap keuntungan; pendapatan sewa dan quasi-rent yang didapatkan dari kegiatan usaha sehingga tidak mengurangi insentif dan efisiensi produsen. Ketiga, meningkatkan efisiensi produksi sector swasta dan peran serta masyarakat dalam berinvestasi. Hal ini dilakukan dengan memperkenalkan teknik produksi dan keahlian baru kepada kaum muslim. Sains baru keterampilam ditrasfer dari Persia dan Roma yang kemudian diadopsi oleh masyarakat muslim. Dalam kasus ini pembiayaan pengenalan teknologi yang di luar kemampuan keuangan sector swasta digunakanlah dana masyarakat. Teknologi produksi senjata dan ilmu kedokteran diadopsi dari Persia oleh Rasulullah sendiri dengan dana dari kas masyarakat.Investasi infrastruktur dalam upaya peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi dikembangkan pada masa kepemimpinan Umar. Dalam waktu yang bersamaan, akuntansi dan metode administrasi dari Persia, teknik irigasi, dan arsitektur dari Roma diperkenalkan kepada masyarakat. Selama masa kepemimpinan khalifah Ali, teknik percetakan uang logam, seperti halnya dengan kesustraan dan ilmu tentang manusia, berkembang baik. Hal tersebut adalah pertanda baik bagi usaha sector publik untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam menjalankan proses produksi dan peningkatan efisiensi produksi berupa tindakan yang tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga mendorong masyarakat untuk menginvestasikan modal yang dimiliki (Sadr, 1989).
DIIMPOR DARI SYIRIA DAN IRAK : SENJATA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Senjata yang diimpor dari Syria adalah pedang. Orang memproduksi dan menggunakan pedang pedang sejak Zaman Perunggu sampai sekarang.  Pedang dikembangkan dari pisau belati dengan memperpanjang pisau sedemikian rupa sehingga menjadi sesuai, sejak awal milenium kedua Sebelum Masehi (SM). Pedang yang lebih panjang dari 90 cm jarang didapat dan tidak praktis pada Zaman Perunggu, karena panjang tersebut melebihi daya rentang perunggu. Pedang besi ini dikembangkan dengan memberi campuran logam yang lebih kuat, misalnya baja, sehingga dapat dijadikan pedang yang panjang yang dapat dipakai untuk perang. Pedang pada zaman perunggu pisaunya berbentuk daun, ditemukan di dekat Miditerania, Laut Hitam dan Mesopotamia. Tentara Mesir pada zaman perunggu, mengembangkan senjata dari perunggu. Pedang pada zaman perunggu Nordic mempunyai bentuk dengan pola spiral diperkirakan pada 1400 SM. Pedang produksi Cina pada zaman perunggu ditunjukkan pada Dinasti Shang. Pedang besi mengalami perkembangan pada abad ke-13 SM. Orang Hittites, Yunani Mycenaean dan budaya Proto-Celtic Hallstatt pada abad ke-8 SM menggunakan pedang dari besi. Pedang besi dapat diproduksi secara masal, bahan mentahnya tersedia secara luas. Pada awalnya, pedang besi tidak dapat diperbandingkan dengan belati baja, pedang besi lebih mudah rapuh dan untuk kelas bawah, tetapi lebih mudah untuk diproduksi dan bahan bakunya lebih mudah tersedia. Pada masa kekuasaan Persia dan Sasania di Iran, pedang besi dipakai secara umum. Xiphos Yunani dan Gladius Romawi merupakan jenis pedang besi yang ukurannya 60 cm sampai 70 cm. Pada akhir Emperium Romawi dikenalkan pedang yang sebih panjang yang dikenal dengan spatha dan sejak saat itu bentuk pedang panjang dipakai yang relatif lebih panjang dibanding pedang pada masa sebelumnya. Sedangkan pedang baja Cina dibuat oelh Dinasti Qin sejak abad ke-3 SM. Pedang jenis spatha tetap popular secara luas pada periode migrasi dan menjadi lebih terkenal pada Abad Pertengahan. Spatha pada masa Vendel diberi dekorasi dengan tulisan seni bahasa Jerman. Pada masa Viking muncul kembali dengan produksi yang lebih terstandarisasi, tetapi desain dasarnya tetap mengacu pada spatha. Senjata disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Anfaal ayat 7 : Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu mnginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. Golongan yang tidak membawa senjata, yaitu golongan yang membawa dagangan dari Syiria dipimpin Abu Sofyan, sedangkan golongan yang berkekuatan senjata adalah golongan yang datang dari Mekah dibawah pimpinan Uthbah bin Rabi’ah bersama Abu Jahal.
PEMIMPIN CALON PENGHUNI SURGA (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam buku At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Al-Ghazali memberikan nasihat kepada para pemimpin dengan 10 pokok nasihat. Pertama, pemimpin harus mengetahui kedudukan dan pentingnya kekuasaan. Sesungguhnya kekuasaan adalah sebagian nikmat dari Allah. Siapa saja yang menjalankan kekuasaan dengan benar, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang tidak ada bandingannya, dan tidak ada kebahagiaan yang melebihi itu. Siapa yang lalai dan tidak menegakkan kekuasaan dengan benar, maka ia akan mendapat siksa karena kufur kepada Allah. “Keadilan pemimpin satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah tujuh puluh tahun “ sabda Rasulullah. Kedua, senantiasa merindukan petuah para ulama dan gemar mendengarkan nasihat mereka. Hati-hati dengan ulama yang menyukai dunia. Mereka akan memperdayaimu, mencari kerelaanmu untuk mendapatkan apa-apa yang ada di tanganmu berupa hal-hal yang buruk dan haram agar mereka mendapatkan sesuatu dengan maker dan tipu daya. Orang yang berilmu adalah orang yang tidak menginginkan hartamu, dan orang yang senantiasa memberimu wejangan serta petuah.   Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Muhammad bin Ka’ab al-Qurzhi “Terangkanlah kepadaku tentang keadilan”. Dia menjawab “Siap muslim yang usianya lebih tua darimu, jadikanlah sebagai orang tua. Siapa saja yang usianya lebih muda darimu, jadikanlah sebagai anak. Siapa saja yang usianya sama , jadikanlah saudara. Hukumlah setiap orang yang berbuat kesalahan sesuai dengan kadar hukumnya. Satu cambukan kepada orang Muslim karena kebencianmu, akan mengantarkanmu ke dalam neraka.” Ketiga, janganlah merasa puas dengan keadaanmu yang tidak pernah melakukan kezaliman. Lebih dari itu, didiklah para pembantu, sahabat, pegwai dan para wakilmu. Janganlah engkau tinggal diam melihat kezaliman mereka, karsesungguhnya engkau akan ditanya tentang perbuatan zalim mereka sebagana akan ditanya tentang perbuatan zalimmu. Umar bin Kaththab menulis surat kepada bawahannya, yaitu Abu Musa al-Asy’ary sebagai berikut : “Sngguhnya wakil yang paling berbahagia adalah wakil yang rakyatnya merasa bahagia Sesungguhnya wakil yang paling celaka adalah wakil yang rakyatnya dalam keadaan paling sengsara. Oleh karena itu, mudahkanlah karena sesungguhnya bawahanmu akan mengikuti perilakumu. Perumpamaanmu adalah seperti binatang melihat rumput hijau, kemudian memakannya dalam jumlah banyhingga gemuk. Ternyata kegemukannya membawa kemalangan karena hal itu membuat dia disembelih dan dimakan manusia.” Keempat, kebanyakan wakil memiliki sifat sombong. Salah satu bentuk kesombongannya adalah bila marah, ia akan menjatuhkan hukuman. Kemarahan adalah perkara yang membinasakan akal, musuh dan penyakit akal. Kemarahan merupakan Seperempat Kebinasaan. Jika amarah mendominasimu, maka engkau harus condong kepada sifat pemaaf dan kembali kepada sifat mulia. Jika hal itu menjadi kebiasaanmu, maka engkau sudah meneladani para nabi dan para aulia. Jika engkau menjadikan kemarahan sebagai kebiasaan, maka engkau serupa dengan binatang buas.  Dari Abu Darda’ r.a. berkata ” Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatuamalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga. Rasullah bersabda ”Jangan marah, kamu akan masuk surga.” Kelima, sesungguhnya pada setiap kejadian yang menimpa dirimu, engkau mesti membayangkan bahwa engkau adalah salah seorang rakyat, sementara selain dirimu adalah pemimpin. Dengan itu, apa yang tidak engkau ridha bagi dirimu sendiri, tidak pula akan diridhai oleh salah seorang Muslim. Jika engkau meridhai mereka dalam apa yang tidak engkau ridhai untuk dirimu sendiri, berarti engkau mengkhianati dan menipu bawahanmu. ”Siapa yang ingin selamat dari panas api neraka dan masuk surga, ia mesti – ketika datang kepadanya kematian-menemukan kesaksian dengan lisannya. Setiap yang dia tidak ridhai bagi dirinya sendiri, maka tidak seorangpun dari kaum Muslim meridhainya.”
KEBIJAKAN MONETER DI AWAL ISLAM Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa Nabi dan sepanjang masa Khulafaur Rasyidin koin mata uang asing dengan berbagai bobot sudah dikenal di Arabia, seperti dinar, sebuah koin emas dan dirham sebuah koin perak serta fulus koin tembaga. Nilai dinar sama dengan sepuluh dirham. Nilai satu dirham sama dengan 48 fulus. Koin fulus digunakan untuk pembelian barang yang murah. Bobot dinar adalah sama dengan satu mitsqal atau sama dengan dua puluh qirat atau seratus grain barley. Satu mitsqal juga ekuivalen dengan 4,25 gram (Johnson, 1968:547). Bobot dirham tidak seragam. Untuk menghindari kebingungan, Umar menetapkan bahwa dirham perak seberat 14 qirat atau 70 grain barley. Maka rasio antara satu dirham dan satu mithqal adalah tujuh per sepuluh (Sabzwari, 1984). Pada masa khalifah Abu Bakar Assidiq, beliau tidak melakukan perubahan terhadap mata uang yang beredar dinar dan dirham masih menjadi satuan mata uang negara (Al Maqrizy, 1988:129) Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, administrasi keuangan kaum muslim didelegasikan kepada orang-orang Persia. Pada saat itu Umar mempekerjakan ahli pembukuan dan akuntan orang Persia dalam jumlah besar untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran uang di baitul maal (keuangan negara). Mereka juga menggunakan satuan dirham untuk membantu meningkatkan sirkulasi uang. Pada masa kekhilafahan Umar juga diterbitkan surat pembayaran cek yang penggunaannya diterima oleh masyarakat. Menurut Al-Yaqubi, Umar mengintruksikan untuk mengimpor sejumlah barang dagangan dari Mesir ke Madinah. Karena barang yang diimpor jumlahnya cukup besar, pendistribusiannya menjadi terhambat. Oleh karena itu, Khalifah Umar menerbitkan sejumlah cek kepada orang-orang yang berhak dan rumah tangga sehingga secara bertahap setiap orang dapat pergi ke bendahara kaum muslimin dan mengumpulkan hartanya. Penggunaan sejumlah cek oleh Khalifah Umar yang diterima oleh publik menunjukkan penggunaanya sebagai alat pembayaran di periode awal Islam (Sadr, 1989). Ditaklukannya Persia percetakan uang logam terus beroperasi. Pada masa khalifah Usman bin Affan sudah ada mata uang yang bertuliskan Bismillah, Barakah, Bismillah Rabbi, Allah dan Muhammad dengan jenis tulisan Kufi (Al Maqrizy, 1988:60). Bahkan Usman memperlakukan kaum Muhajirin tidak seperti pada masa Umar yang tidak boleh berpindah-pindah. Kaum Muhajirin diperbolehkan berpindah-pindah di segenap imperium yang tadinya dilarang, dan memperoleh kekayaan yang cukup berlimpah dan menikmati kesenangan. Hidup serba mudah daripada di masa Umar yang harus menahan diri (Haikal, 1973:119). Secara alamiah transaksi yang berada di daerah Mesir atau Syam menggunakan dinar sebagai alat tukar, sementara itu di kekaisaran Persia menggunakan dirham. Ekspansi yang dilakukan Islam ke wilayah kekaisaran Persia   (Irak, Iran, Bahrain, Transoxania) dan kekaisaran Romawi (Syam, Mesir, Andalusia) menyebabkan perputaran mata uang ini meningkat. Bahkan pada masa pemerintahan Imam Ali, dinar dan dirham merupakan satu-satunya mata uang yang digunakan (Sadr, 1989). Ketika mata uang masih diimpor, kaum muslimin hanya mengontrol kualitas uang impor itu, namun setelah mencetak sendiri kaum muslimin secara langsung mengawasi penawaran uang yang ada (Sadr, 1989). Khalifah Ali bin Abi Thalib mencetak dirham mengikuti model Khalif Usman bin Affan dan menuliskan di lingkarannya salah satu kalimat Bismillah, Barakah, Bismillah Rabbi dan Rabiyallah dengan jenis tulisan Kufi (Al-Naqsyabandi, 1969:22).
STRATEGI MENGEJAR MIMPI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tulisan terdahulu, untuk mengelola mimpi dapat Anda lakukan dengan menciptakan mimpi dan berusaha mengejarnya. Sedangkan pada tulisan ini, bagaimana strategi mengejar mimpi tersebut ?. Strategi untuk mengejar   Konsep Hammel dan Prahalad strategi untuk mengejar mimpi (visi) disebutnya sebagai Strategic Intent.             Penyusunan strategi mengejar mimpi (visi) dikembangkan secara bertahap serta konsisten merupakan. Strategi ini harus memiliki pandangan yang akan dicapai minimal sepuluh tahun yang akan datang. Untuk menguasai pasar Sony, Wal-Mart, Chrysler, Microsoft, General Electric, Cola-Cola dan perusahaan mengagumkan lainnya menggunakan strategic intent. Pimpinan Sony, Akito Morita memperhatikan bahwa kaum muda suka mendengarkan musik ke manapun mereka pergi. Morita menarik kesimpulan dari fakta-fakta tanpa memerlukan riset, tetapi berfikir jauh ke depan tanpa diketahui masyarakat, yaitu menciptakan Walkman. Desain pasar brilian itu bukan suatu kebetulan. Kesuksesan Morita dan Sony adalah menemukan pasar-pasar masa depan, bukan  pasar saat ini, yaitu dengan mendeskripsikan apa yang disebut “semangat perintis”. Morita berkata “Sony adalah perintis dan tidak pernah bertujuan untuk mengikuti yang lain. Melalui kemajuan, Sony ingin melayani seluruh dunia. Sony akan selalu menjadi penemu hal yang belum diketahui”. Sedangkan Wal-Mart mengejar mimpi dengan discount-nya, Chrysler dengan minivan, Microsoft dengan Windows.             Strategi Intent dirumuskan secara bertahap dan lebih menantang kalau ada penantangnya. Garam, Suzuki menantang honda, Marriot Hotel menohok Hilton dan sebagainya. Dalam strategi mengejar mimpi ini, masa depan bukan hanya dibayangkan, tetapi harus dibangun. Maka dibutuhkan arsitek yang menciptakan hal-hal yang belum tercipta. Gabungan antara pemimpin dan pelaksana. Dalam pelaksanaan strategi berdasarkan mimpi ini membutuhkan Strategic Architecture, yang merupakan gabungan dari antara pengetahuan masa depan (information architecture), perilaku, nilai dan struktur (social architecture) dan financial architecture. Strategic Architecture sebagai cetak-biru tingkat tinggi untuk penyebaran dari fungsionalitas baru, akuisisi dari kompetensi baru, atau migrasi dari kompetensi yang ada dan menyusun kembali perantara dengan pelanggan. Dalam strategic intent, mimpi harus mempunyai obsesi untuk berhasil dan harus dicapai secara bertahap. Dalam pelaksanaan strategi mengejar mimpi ini membutuhkan strategic architecture, yang merupakan gabungan dari antara pengetahuan masa depan (information architecture), perilaku, nilai dan struktur (social architecture) dan financial architecture.
PEMANDU KOMITMEN SUKSES Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Daniel Goleman, kemampuan motivasi terdiri dari dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimisme. Komitmen merupakan penyelarasan diri dengan sasaran kelompok dan institusi atau masyarakat. Orang dengan kemampuan ini akan siap berkorban demi pemenuhan sasaran institusi atau masyarakat yang lebih penting, merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar, menggunakan nilai-nilai kelompok yang dilandasi hati nurani dalam pengambilan keputusan dan penjabaran pilihan-pilihan serta aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok atau masyarakat. Rachel Carson telah berjuang untuk mempertahankan komitmennya, setelah ia menemukan dalam penelitiannya bahwa pestisida dapat merusak lingkungan. Akhirnya ia menerbitkan buku yang berjudul Silent Spring. Carson menyadari bahwa bukunya akan menuai kontroversi, tetapi ia dengan komitmennya untuk menyelamatkan lingkungan tetap kokoh dengan pendiriannya. Dalam buku tersebut Carson menyerukan diselenggarakannya debat umum yang serius mengenai besar kerugian yang harus ditanggung oleh alam yang sangat dicintainya dan bercerita dengan keyakinan yang luar biasa tentang betapa rapuhnya keadaan semua makhluk hidup, termasuk manusia, akibat penggunaan DDT dan bahan-bahan kimia lain yang lebih beracun. Carson ditentang oleh industri pertanian, yang secara besar-besaran mengadakan kampanye untuk mendiskreditkan peringatannya. Meskipun demikian ia tetap memegang komitmennya untuk menyelamatkan lingkungan. Akhirnya Presiden John F Kennedy terkesan oleh bukunya dan memerintahkan penelitian ulang kebijakan pestisida Federal. Pada 1963, badan penasihat Presiden untuk urusan ilmu pengetahuan mendukung pendirian Carson. Sekarang orang mengakui bahwa gagasan pendukung lingkungan modern dengan munculnya Company Social Responsibility, dimulai dengan terbitnya buku Silent Spring. ”Seribu kata darinya, maka dunia menempuh arah yang baru,” kata salah seorang editor buku tersebut. ”Begitu dahsyatnya daya dari tujuan hidup yang didukung oleh komitmen emosi” tulis Cooper dan Sawaf dalam Executive EQ. Apa yang dilakukan Rachel Carson adalah mengerahkan segenap tenaga dengan bakat dan tujuan hidup dengan motivasi yang kuat atau dengan komitmen emosi. ”Tidak ada karya besar di dunia yang pernah terwujud tanpa semangat yang menggelora” kata filsuf Jerman, Hegel. Para pemimpin dan para eksekutif harus menyadari bahwa motivasi terbukti lebih penting daripada intelektual ataupun keterampilan teknis. Bagaimanapun yang menggerakkan motivasi bukan kepala, melainkan hati. ”Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah tubuh itu seluruhnya, dan anggota-anggota tubuh yang lain akan membuatnya baik. Ia adalah hati,” demikian sabda Rasulullah SAW. Hati adalah pemimpin yang harus dipatuhi yang memandu komitmen, sedangkan anggota tubuh lainnya adalah rakyat yang harus patuh pada pemimpinnya.
PASAR PADA MASA RASULULLAH (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar luar negeri yang didatangi didatangi Nabi Muhammad s.a.w. ketika masih berusia 12 tahun terletak di di Bushra atau Bashrah di negara yang bernama Syam. Perjalanan ini dilakukan pada 582 Masehi mengikuti Pamannya Abu Thalib. Negeri Syam merupakan salah satu negeri tetangga yang terpenting bagi daerah Semenanjung Arabia. Negeri ini terkenal subur dan kaya raya sehingga selalu menjadi tujuan utama bagi penduduk Semenanjung Arabia yang ingin mencari penghidupan yang baru. Di negeri ini mereka menetap sambil menggembalakan ternak di padang rumput yang ada atau juga membina hubungan dagang dengan penduduk setempat. Hubungan antara Syam dan Jazirah Arab tidak pernah putus dari waktu kewaktu, yang secara umum terfokus dalam bidang perdagangan serta ekspor impor berbagai bahan makanan dan hasil industri pokok masyarakat. Jalur Hijaz-Syam merupakan jalur terpenting, yang dipadati oleh kafilah-kafilah dagang yang bolak balik membawa barang dagangan mereka dari negeri satu ke negeri lainnya. Perlakuan berbeda yang dilakukan Bahira terhadap rombongan Quraisy saat itu. “Demi Allah wahai Bahira, kami melihat engkau bersikap lain pada hari ini. Pada waktu-waktu sebelumnya, engkau tidak pernah menjamu kami,padahal kami sering lewat tempatmu. Apa yang terjadi denganmu hari ini?” Bahira menjawab, “Apa yang kau katakan benar. Kalian pada saat ini adalah tamuku dan aku ingin memuliakan kalian dengan menyediakan jamuan. Aku berharap agar kalian semua dapat menghadirinya.” Beberapa saat kemudian, semua anggota rombongan sudah berkumpul di pertapaan Bahira, kecuali Nabi Muhammad s.a.w. Ia tetap tinggal di tempatnya dan tidak ikut menghadiri jamuan karena masih kanak-kanak. Karena Bahira tidak melihat di antara yang hadir orang yang sedang ia amati, ia lalu berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, saya tidak ingin ada seorangpun di antara kalian yang tidak menghadiri jamuanku ini.” Rombongan Quraisy tersebut kemudian menjawab, “Tidak seorangpun di antara kami yang tidak hadir di sini, kecuali seorang anak kecil. Ia adalah anggota rombongan yang paling muda sehingga harus tinggal di tempat.” Bahira berkata, “Jangan berbuat begitu. Panggilah dia untuk hadir bersama-sama kalian di tempatku ini.” Salah seorang anggota kafilah Quraisy itu kemudia berkata, “Demi Lata dan Uzza, tidak akan dicela kita karena anak Abdullah bin Abdul Muthallib ikut duduk dan makan bersama kita.” Orang itu kemudian pergi menemui Muhammad dan membawanya ke tempat perjamuan tersebut. Pada saat Muhammad menikmati jamuan, Bahira terus memperhatikan dengan seksama. Bahira juga menatap tubuh beliau dengan tatapan menyelidik seakan-akan tengah mencari sesuatu pada tubuh beliau. Pada saat semua yang hadir telah selesai makan dan mulai meninggalkan tempat duduknya, Bahira lalu menghampiri Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata, “Wahai anak kecil, demi Lata dan Uzza, aku ingin engkau memberitahukan kepadaku apa yang akan aku tanyakan kepadamu.” Bahira mempergunakan nama Lata dan Uzza ini dalam mengawali perkataannya kepada Muhammad dikarenakan dia tadi mendengar orang Quraisy juga bersumpah dengan kedua nama itu. Muhammad kecil lalu berkata, “Janganlah engkau mengjukan pertanyaan kepadaku dengan menyebut, “Demi Lata dan Uzza. Demi Allah, aku sama sekali tidak pernah membenci sesuatu demi keduanya.  
Memulai Usaha dari Bepergian Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DI antara pengusaha-pengusaha sukses, mendapatkan peluang usaha ketika bepergian. Raymond Kroc, pendiri dan pembangun McDonald’s Corporation merupakan salah seorang pengusaha yang mendapatkan peluang, ketika dia pergi dari rumahnya di dekat Chicago ke California selatan menemui dua kliennya terbesar pembeli Prince Castle Multimixer (alat pengocok susu). Kliennya bercerita bahwa di San Bernardino, ada restoran yang menggunakan mesin untuk mencampur empat puluh gelas susu secara bersamaan. Pada hal, restoran lain hanya mampu untuk mencampur lima gelas susu. Kemudian Kroc pergi ke San Bernardino untuk melihat restoran tersebut. Sesampainya di dua gerbang lengkung keemasan restoran yang gemerlapan, yang menerangi langit di senjakala, dan melihat antrian orang-orang yang berkelok-kelok seperti ular di luar restoran yang berbentuk segi delapan. Melalui dinding bangunan yang seluruhnya terbuat dari kaca, Kroc melihat para karyawan pria yang memakai topi kertas dan seragam putih, sibuk di restoran yang sangat bersih, menyajikan burger dalam piring, kentang goreng dan susu kocok kepada keluarga-keluarga kelas pekerja yang berdatangan dengan mobil. “Sesuatu pasti terjadi di sini. Ini pasti operasi bisnis paling menakjubkan yang pernah saya lihat,” kata Kroc dalam hati. Restoran tersebut milik Maurice dan Richard McDonald, yang menawarkan menu sembilan jenis makanan, antara lain burger, kentang goreng, susu kocok, dan pai dengan menyingkirkan tempat duduk dan menggunakan alat makan kertas, bukannya kaca kaca atau porselin. Restoran ini merancang pelayanan yang andal, mampu melayani pesanan kurang dari satu menit. “Ini masa depan saya. Saya merasa seperti Newton zaman modern” katanya dalam hati. Kroc merasa yakin bahwa operasi kakak-beradik McDonald bisa sukses sekali kalau diperluas. Maka pada hari berikutnya, dia mengajukan usul kepada McDonald bersaudara. Kakak-beradik ini berkeberatan, karena sudah menjual waralaba di Phoenix dan Sacramento dengan harga murah dan tidak mendapat keuntungan besar. Tetapi Kroc adalah penjual veteran dengan pengalaman tiga puluh tahun, maka Kroc akhirnya mampu meyakinkan McDonald bersaudara untuk menjual waralabanya dengan harga rendah, yaitu 950 dolar. Sebagai imbalan, McDonald bersaudara akan mendapatkan 1,4 % dari semua penjualan dan mengembalikan 0,5 %. Dengan persetujuan di tangan, Kroc mulai memenuhi mimpinya tentang restoran McDonald yang meledak dari pantai ke pantai. Dia memulai dengan membangun mata rantai pertama kerjasama restoran ini dengan membuah sebuah model di Des Plaines, Illinois, di luar kota Chicago, yang menggunakan strategi harga rendah yang sama, menu terbatas dan pelayanan cepat seperti restoran di San Bernardino. Ini merupakan tonggak awal kesuksesan McDonald Corporation, yang idenya diperoleh ketika Raymond Kroc bepergian.
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (4) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.18 KB)

Abstract

Belum mampu secara penuh dalam mengatasi kesulitan ketika itu, AMIKOM Yogyakarta harus menghadapi lingkungan yang disebut krisis pada 1998. Pengalam saya bersama-sama kawan dalam menghadapi krisis, barangkali meskipun sedikit dapat kita pakai sebagai pelajaran. Pelajaran yang sederhana tersebut mudah-mudahan dapat menambah wawasan dalam menjadikan kita seorang entrepreneur yang sukses. Seorang pemasar dari salah satu Biro Iklan di Yogyakarta mendatangi saya, sambil mengeluh “Kami sekarang kesulitan Pak Yanto untuk dapat iklan dari Perguruan Tinggi”. “Mengapa kesulitan?” saya menanyakan. “Banyak jawaban dari bagian Humasnya kalau iklan atau tidak sama saja. Situasi krisis mahasiswa yang datang ke Yogyakarta sedikit. Begitu kata mereka Pak Yanto” kata pemasar dari Biro Iklan tersebut. “Oh begitu” saya menyahut. “Kalau Pak Yanto pendapatnya bagaimana dalam situasi krisis seperti ini?” dia bertanya kepada saya. Saya mencoba menjawab dengan menggunakan sikap mental positif “Saya mengumpulkan staf-staf saya, kemudian saya jelaskan kepada mereka bahwa jumlah calon mahasiswa itu seperti segitiga, yang dapat kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian atas adalah segitiga kecil adalah calon mahasiswa dari kelas atas, bagian tengah adalah trapesium merupakan kelompok calon mahasiswa  dari kelas menengah dan bagian terbawah trapesium lebih besar yang merupakan calon mahasiswa kelas bawah” saya menjelaskan sambil menggambar di papan tulis ruangan saya. “Apa hubungannya dengan krisis Pak?” dia melanjutkan pertanyaan. Kemudian saya menjelaskan “Kalau krisis, kelas atas sebagian turun menjadi kelas menengah, kelas menengah sebagian turun menjadi kelas bawah, sehingga calon mahasiswa untuk kelas menengah dan kelas bawah menjadi lebih besar”. “Maksudnya bagaimana Pak?” dia melanjutkan pertanyaan. “Karena yang dibidik AMIKOM kelas menengah dan kelas bawah, maka AMIKOM justru akan tambah jumlah mahasiswanya. Itulah yang saya jelaskan kepada staf-staf saya untuk tetap bersemangat mencari calon mahasiswa, karena peluangnya menjadi lebih baik dibandingkan tidak terjadi krisis. Sambil kita kita iringi dengan doa” jawab saya dengan menggunakan sikap mental positif. “Kalau begitu Pak Yanto akan pasang iklan?” dia berharap. “Iya. Saya akan pasang iklan” jawab saya. “Terima kasih Pak Yanto. Akhirnya ada juga yang pasang iklan. Selama ini saya pusing untuk mencari iklan” Keluh dari pemasar tersebut. Pemasar dari salah satu Biro Iklan itu akhirnya membuatkan order iklan yang akan saya pasang, sambil merasa bahagia, karena akhirnya ada yang pasang. Setelah selesai, kemudian order itu saya tanda tangani dan kemudian satu lembar diserahkan saya dan yang satu dibawa pemasar tersebut. Setelah itu, ia berpamitan untuk pulang. Saya antar sampai pintu masuk AMIKOM yang terdepan dan saya tunggu sampai ia mengendarai sepeda motornya. Di depan gedung AMIKOM tersebut, ia melambaikan tangannya dan saya balas dengan lambaian tangan. Ia menuju ke jalan dan sekejap kemudian ia telah meninggalkan gedung AMIKOM tersebut.  Setelah akhir dari penerimaan mahasiswa baru, mahasiswa yang melakukan registrasi di AMIKOM Yogyakarta 779 mahasiswa, yang tahun sebelumnya yang melakukan registrasi 639 mahasiswa atau meningkat lebih dari 20 %. Saya menganggap peningkatan ini cukup luar biasa, tidak saya perkirakan, karena Pergurun Tinggi lain, banyak yang mengalami penurunan. Sikap mental positif dan doa telah terbukti mampu untuk membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan menjadikan ancaman itu menjadi peluang.
MEMBANGUN SIKAP MASA DEPAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap biasanya digunakan dalam menggambarkan orang dan menjelaskan perilakunya. Sikap dapat didefinisikan sebagai kecenderungan terus-menerus untuk merasakan dan berperilaku dalam sebuah cara yang khusus terhadap suatu objek. Sedangkan Edwood Chapman mendefinisikan sikap sebagai cara untuk mengkomunikasikan atau mengekspresikan suasana hati atau watak kepada orang lain. Para manajer hendaknya tertarik pada sikap-sikap karyawan mereka karena sikap memberikan peringatan terhadap problem potensial dan karena sikap mempengaruhi perilaku. Karyawan yang terpuaskan dan komitmen, misalnya mempunyai tingkat keluar dan kemangkiran yang lebih rendah. Bila para manajer menginginkan agar permohonan berhenti dan absensi berkurang - terutama di antara karyawan mereka yang produktif - mereka akan menginginkan melakukan hal-hal yang akan membangkitkan sikap kerja yang positif, demikian tulis Stephen Robbins dalam Organizational Behavior. Sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu emosi, informasi dan perilaku. Komponen emosi merujuk pada kecerdasan emosi yang berpengaruh terhadap perilaku organisasi. Jenis-jenis emosi dalam dunia kerja terdiri dari marah, takut, senang, cinta, sedih dan terkejut. Kecerdasan rasional (IQ) hanya memberikan sumbangan 4% dari keberhasilan dunia nyata, menurut Sternberg dalam bukunya Succesfull Intelligence. Dengan demikian peran kecerdasan emosi ini semakin besar. Humor yang merupakan bagian dari rasa senang. ”Humor sejauh ini merupakan perilaku paling menonjol yang menunjukkan kecerdasan manusia” kata Edward deBono, seorang tokoh kreativitas organisasi. ”Kita menyukai organisasi yang tidak kuna, orang dengan selera humor ” jelas Herb Kelleher, CEO Southwest Airlines. Para staf Macromedia menggunakan humor dengan menyediakan tangga berputar yang memungkinkan karyawan meluncur dari lantai dua ke dapur perusahaan. Komponen informasi menyangkut kepercayaan dan informasi individu mengenai suatu objek. Kepercayaan merupakan kekuatan emosi yang dimulai dengan memiliki harga diri dan makna diri sehingga kita terpanggil untuk memancarkan kepada orang lain, seperti jari-jari sebuah lingkaran, yang akhirnya mengimbas kepada setiap orang dalam tim kita, di departemen kita, di devisi kita atau di seluruh perusahaan, tulis Cooper dan Sawaf dalam buku Executive EQ. ”Percaya pada diri sendiri dan siapapun di sekitar Anda sebegitu besar sehingga Anda memberikan 70% yang Anda miliki dan dalam proses menjadikan ribuan manajer dan karyawan Anda jutawan” kata Bill Gates. ”Jaringan kepercayaan itu sangat berharga” kata Minoru Makihara, Direktur Mitsubishi Corporation. Komponen perilaku terdiri dari kecenderungan orang untuk berperilaku dalam sebuah cara yang khusus terhadap suatu objek. Komponen perilaku terdiri dari motivasi, cara berpikir, cara bertindak dan cara berinteraksi. Teori motivasi Maslow yang lebih mengutamakan kebutuhan bertahan hidup, yaitu fisiologis, yang berakibat krisis makna yang amat dalam, ketiadaan keyakinan pada apa pun, standar moralitas yang rendah, egoisme yang kejam dan harga diri yang rendah yang merupakan konsekuensinya, ketiadaan tujuan dan nilai, rasa jemu yang menjadi ciri dari sebagian besar kehidupan pada abad 20 di dunia Barat yang maju adalah bukti kuat untuk membalikkan prioritas kapitalisme. Pada akhir hidupnya, Abraham Maslow sendiri merasa bahwa sesungguhnya piramida kebutuhannya terbalik, sehingga kebutuhan yang harus diutamakan adalah kebutuhan aktualisasi diri, yang menjunjung tinggi nilai, standar moral, keyakinan dan kebaikan serta bermanfaat bagi manusia lain. ”Sesungguhnya di dalam surga terdapat rumah-rumah bagi orang-orang yang berbuat baik, termasuk orang yang berbuat baik kepada keluarga dan pengikutnya” sabda Rasulullah Saw