Claim Missing Document
Check
Articles

MENUNAIKAN HAK DAN SUKA SAMA SUKA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.523 KB)

Abstract

 Hak yang harus ditunaikan oleh seorang pengusaha kepada Allah adalah zakat atas harta mereka, diikuti shodaqoh dan infak. Dalam surat At Taubah ayat 103 : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo?alah untuk mereka. Sesungguhnya do?a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dalam surat Al Baqarah ayat 110 : Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.  Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. Keperuntukan zakat itu sudah diatur oleh Allah yang disebutkan dalam surat At Taubah ayat 60 : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Membelanjakan harta yang sempurna adalah dengan harta yang dicintai. Dalam surat Ali Imran ayat 92 : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Allah memerintahkan untuk berbisnis dengan suka-sama suka. Dalam surat Al Nisaa? ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Rasulullah s.a.w. menganjur untuk memiliki hak khiyar, yang merupakan hak penjual dan pembeli untuk menentukan pilihan antara tetap meneruskan jual beli atau membatalkannya. Dari Ibnu Umar r.a., dari Rasulullah s.a.w., bahwasanya beliau bersabda : ?Apabila dua orang telah melakukan jual beli, maka tiap-tiap orang dari keduanya boleh khiyar selama mereka belum berpisah, dan keduanya masih berkumpul, atau salah satu dari keduanya telah memberi khiyar kepada yang lain, dan keduanya telah melakukan jual beli atas dasar khiyar itu, maka sesungguhnya jual beli itu haruslah dilakukan atas yang demikian. Jika keduanya telah berpisah sesudah melakukan jual beli, sedang yang satu lagi belum meninggalkan (tempat) jual beli. Maka jual beli itu harus berlaku demikian.? (Bukhari dan Muslim). Dari Hakim bin Hizam r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : ?Dua orang yang berjual beli boleh khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah, atau sehingga keduanya berpisah. Jika keduanya berlaku benar, baik dalam tindakan dan ucapan atau keterangan, maka jual beli keduanya diberkati (Allah). Dan jika kedua bersikap menyembunyikan dan dusta, keberkatan jual beli keduanya dihapus (sirna)? (Bukhari dan Muslim).
BERPIKIR MENANG-MENANG Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Kalah-Kalah akan menghasilkan orang yang akan balas dendam, buta terhadap kenyataan bahwa pembunuhan adalah bunuh diri. Balas dendam adalah pedang bermata dua, dapat membunuh musuh sekaligus dapat membunuh diri sendiri. Ada orang yang menjadi berpusat pada musuh, begitu terobsesi sepenuhnya dengan perilaku lawannya sampai-sampai menjadi buta terhadap segalanya kecuali keinginan mereka agar orang itu kalah, konflik bermusuhan, filosofi perang yang sangat melelahkan. Kalah-Kalah juga merupakan filosofi orang yang sangat bergantung, tanpa arahan dari dalam, yang menderita dan berpikir semua orang lain harus menderita pula. Sebaliknya, Menang-Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang-Menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan timbale balik. Dengan solusi Menang-Menang, semua pihak merasa senang dengan keputusannya dan merasa terikat dengan rencana tindakaanya. Menang-Menang melihat kehidupan sebagai arena yang kooperatif, bukan kompetitif. Kebanyakan orang cenderung berpikir secara dikotomi, kuat atau lemah, keras atau lunak, manang atau kalah. Akan tetapi berpikir seperti ini pada dasarnya cacat. Cara berpikir ini didasarkan pada kekuasaan dan posisi dan bukan pada prinsip. Menang-Menang didasarkan pada paradigma bahwa ada banyak untuk setiap orang, bahwa keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain. demikianlah kata. Stephen R. Covey. Berpikir Menang-Menang merupakan kebiasaan kepemimpinan antar pribadi, yang memerlukan latihan pada anugrah manusia yang unik, misalnya hati nurani, kesadaran diri, imajinasi dan kehendak bebas yang dibingkai dengan akhlak yang mulia dan ketaatan kepada Sang Pencipta, Allah SWT.  Akhlak merupakan dasar dari Menang-Menang dan yang lainnya dibangun atas dasar akhlak tersebut. Kelembutan hati, kepemaafan, empati kepada orang lain, berkomunikasi dengan mendengar aktif, bekerja keras dan selalu bersrah diri kepada Allah merupakan akhlak yang mulia.  Komunikasi empatik merupakan komunikasi dengan mendengar aktif, yaitu komunikasi dengan merespon apa yang dikatakan, dimaksudkan dan perasaan lawan bicara. Komunikasi tersebut lawan bicara menyelesaikan masalahnya sendiri. Komunikasi empatik merupakan lingkaran pusat kepemimpinan yang sukses. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib (menantu dan keponakan Rasulullah) bertanya kepada Rasulullah tentang cintanya kepadanya dan Fatimah (putri Rasulullah). ?Ya Rasulullah. mengapa Engkau lebih mencintai Fatimah daripada aku?? Tanya Ali. Rasulullah tersenyum kemudian menjawab ?Ya Ali, aku memang lebih mencintai Fatimah daripada kamu, tetapi aku lebih menyayangimu daripada Fatimah?.
MELAKUKAN PENUMPUKAN DAN PENIMBUNAN HARTA (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.96 KB)

Abstract

Allah dan Rasul-Nya tidak menghendaki untuk menumpuk dan menimbun harta, dan menganjurkan membelanjakannya serta mengancam bagi yang tidak mau membelanjakannya. Dalam Al-Baqarah ayat 254 :?Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (dijalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat.?adalah membelanjakannya. Demikian pula dalam surat Al-Munaafiquun ayat 10, ?Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata, ?Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh??. Rasulullah bersabda,? orang-orang yang memiliki emas dan perak, sementara mereka tidak memberikan hak-haknya, maka baginya di hari kiamat nanti akan dibentangkan batu dari api neraka yang dipanaskan di dalam api neraka Jahannam, dan akan diseterika dengan batu itu dibagian sampingnya, dahi dan punggungnya. Setiap terasa dingin , maka akan diulangi lagi untuk dipanaskan. Yaitu dihari di mana hitungan waktunya lima puluh ribu tahun sampai dua diadili di antara hamba-hamba Allah. Maka, setelah itu baru dia mengetahui jalan yang akan ditujunya, entah itu ke surga atau ke neraka.? (Muslim). Setiap bentuk harta yang dimiliki oleh manusia, akan menjadi azab baginya di hari kiamat-kalau tidak dikeluarkan zakatnya, walaupun dia mengeluarkan zakat untuk jenis barang yang lain. Hadits ini mengandung ancaman yang keras bagi yang tidak menunaikan haknya berupa siksa neraka dengan hitungan waktu yang sangat panjang. Pada suatu saat ada seseorang yang datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata             ?Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?? Rasulullah bersabda,?Kamu sedekah di kala kamu dalam keadaan sehat; dan kamu dalam keadaan kikir karena kamu merasa takut miskin dan selalu berkeinginan untuk kaya. Janganlah kamu menunda-nunda sampai jika maut sudah datang di kerongkongan baru kamu berkata, ? Untuk si Fulan sekian, dan untuk si Fulan sekian, dan untuk si Fulan sudah.? (Bukhari). Dari hadits tersebut, Rasulullah s.a.w. menganjurkan bersedekah dalam keadaan sehat dan dalam keadaan kikir. Hal itu karena banyak dari orang-orang kaya yang kikir untuk mengeluarkan dari apa yang dimilikinya selama mereka dalam keadaan sehat; dan selalu saja berkeinginan untuk kekal selamanya dan mereka merasa takut akan menjadi miskin. Karena itu, barang siapa yang mampu melawan setannya dan mengalahkan jiwanya untuk mendapatkan pahala di akhirat, maka sesungguhnya dia adalah orang yang menang. Rasulullah s.a.w. juga menganjurkan untuk menginfakkan harta semasih hidup, daripada dilakukan ketika datang saat datang kematian. Sebaliknya orang yang memberikan hartanya di jalan Allah akan diberikan balasan berupa surga. Firman Allah :?Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan, hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.? (al-Lail : 10).
PERDAGANGAN ARAB KUNO : KAUM ‘AAD (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaum ?Aad atau ?Ad merupakan suku Arab kuno yang dipimpin oleh ?Ad ibn Kin?ad. Menurut Muhammad bin Ishaq, kaum ?Aad tinggal di daerah Al Ahqaf, daerah sebelah barat Oman dan sebelah timur Yaman, membentang dari Laut Arab sampai Pegunungan Dhofar dan pinggiran Rub` al-Khali. Kaum ?Aad, baik sebagai suku atau kelompok, dengan pemimpin Ad bin Kin?ad hidup dari 2400 SM sampai 1000 SM, Aldan Khuljan yang dikenal dengan kaum Persia dan Hadramaut hidup dari 400 SM sampai 300 SM dan Shaddad yang dikenal dengan kaum Himyar sebagai pemimpin terakhir kaum ?Aad hidup dari abad pertama Masehi sampai abad keenam Masehi. Menurut Ptolomeus, bangsa ?Aad beribukota di Iram, Ubar, Wabar atau Kota Seribu Pilar. Iram merupakan pusat kota perdagangan padang pasir Rub` al-Khali di bagian selatan Semenanjung Arabia. Pusat perdagangan di kota ini berlangsung dari abad ke-3 SM sampai abad pertama Masehi.  Perdagangan yang dilakukan oleh kaum ?Aad bertumpu pada perdagangan kemenyan (frankincense) yang pada waktu merupakan produk yang harganya mahal. Menurut catatan sejarah, hal tersebut menjadi orang-orang ?Aad memperoleh kekayaan yang luar biasa dari perdagangan dengan daerah pesisir dan merupakan pusat penduduk di Timur Tengah yang sejajar dengan Eropa. ?Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia? (Al Mukminun : 33). Hasil perdagangan tersebut mampu membuat membuat bangunan-bangunan tinggi yang menjulang yang belum pernah dibangun oleh kaum lain. Hal ini disebutkan dalam Al Qur?an surat Al Fajr ayat 6-8 : Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhan berbuat terhadap kaum ?Aad?. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun(suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. Kaum ?Aad hidup pada masa Nabi Hud dan kaum ?Aad sebagai penyembah berhala dan kaum yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kemudian Allah SWT mengutus Nabi Hud untuk menyembah Allah kepada mereka. Dalam Al Qur?an surat Al A?raaf ayat 65 : Dan (Kami telah mengutus), kepada kaum ?Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata ?Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya. Dalam surat Huud ayat 50-52 :  Dan kepada kaum ?Aad (Kami telah mengutus) saudara mereka, Hud. Ia berkata ?Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidaklah kamu memikirkan(nya). Dan (dia berkata): ?Hai kaumku mohonlah ampunan pada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.? Kaum ?Aad yang disebutkan dalam Al-Qur?an ini, adalah kaum yang menolak ajakan Nabi Hud untuk menyembah Allah dan tidak mempercayai perkataan Nabi Hud. Bahkan pemimpinnya yang kafir menganggap Nabi Hud adalah kurang akal dan berdusta.  Al-Qur?an surat Al A?raaf ayat 66 : Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ?Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta?. 
BUDAYA BISNIS GAYA SURGA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

            Hofstede (1994:180) medefinisikan budaya organisasi sebagai program pemikiran secara kolektif yang membedakan para anggota suatu organisasi dari organisasi lainnya.  Budaya organisasi mempunyai pengaruh kuat terhadap perilaku karyawan. Tetapi apa yang dapat manajemen kerjakan untuk merancang sebuah budaya yang mmbentuk karyawan sesuai dengan keinginan manajemen?. Ketika organisasi sebuah organisasi telah berdiri kokoh, maka manajemen mempunyai kemampuan besar untuk mempengaruhi karyawan. Tetapi pada organisasi yang belum kokoh atau organisasi yang masih kecil  masih sedikit subbudaya.  Setiap orang tahu bahwa pendiri memberikan sentuhan langsung dengan visinya tentang apa organisasi itu. Tidak mengherankan, di bawah kondisi ini manajemen mempunyai peluang untuk meciptakan sebuah budaya yang akan memberikan fasilitas untuk mencapai prestasi terbaik meraih tujuan organisasi. Meskipun demikian pada saat organisasi telah kokoh, maka dominasi budaya juga telah kokoh.  Budaya yang telah diberikan ini membuat karakteristik relatif stabil dan permanen, yang menjadikan sangat menolak terhadap perubahan. Butuh waktu untuk membentuk dan membuat organisasi tersebut kokoh yang cenderung menjadi budaya tersebut berakar kuat. Budaya yang kuat merupakan bagian dari menolak perubahan, karena karyawan menjadi berkomitmen kepada budaya tersebut. Maka, jika suatu budaya yang diberikan telah usang menjadi tidak sesuai dengan suatu organisasi dan suatu yang merugikan terhadap manajemen, maka kemungkinan kecil, manajemen dapat mengubahnya, khususnya dalam jangka pendek. Budaya berubah harus diukur dalam tahunan, bukan dalam mingguan atau bulanan. Kondisi perubahan budaya yang disukai dapat meningkatkan profitabilitas dan perubahan budaya dapat diimplementasikan dengan sukses pada saat ada krisis yang besar dan keluarnya pemimpin tertinggi. Suatu organisasi yang masih muda dan masik kecil, dominasi budayanya masih lemah, demikian tulis Stephen Robbins dalam buku Essential of Organizational Behavior.           Budaya bisnis dari institusi berdasar pada syariah harus merefleksikan nilai-nilai yang sesuai dengan syariah, baik dalam segi perilaku mulai dari hubungan internal, bertransaksi dengan pelanggan, kebijakan dan prosedur, praktek bisnis, pakaian, dekorasi, maupun citra. Tujuannya adalah untuk menciptakan suatu moralitas dan spiritualitas kolektif yang apabila digabungkan dengan produksi barang dan jasa menopang pertumbuhan dan kemajuan jalan hidup yang syariah.            ?Sesungguhnya pada zaman sebelum kamu sekalian  ada seorang laki-laki yang telah didatangi oleh seorang malaikat untuk mecabut nyawanya. Lalu dia ditanya, Apakah engkau tahu amal kebaikan?. Dia menjawab : Aku tidak tahu. Lalu dikatakan kepadanya : Lihatlah. Dia menjawab : Aku sama sekali tidak mengetahui, hanya aku pernah bertransaksi jual-beli dengan banyak manusia di dunia dan aku memudahkan transaksi tersebut. Aku bersikap baik kepada orang kaya dan aku memudahkan orang yang dalam keadaan kesulitan. Setelah itu Allah memasukkan dia ke dalam surga? sabda Rasulullah (HR. Muttafaqun dalam kitab Al-Misykat).     
BISNIS KAUM NABASIA (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaum Nabasia merupakan anak keturunan dari Nabit, salah satu anak dari Nabi Ismail a.s.. Kaum Nabasia dari abad kesembilan belas sebelum masehi (SM) sampai abad keenam sebelum masehi, kesibukannya adalah berdagang. Kaum Nabasia hidup di Arab Utara, secara umum mendapatkan kekuatan mereka berkat bisnis dan sama sekali bukan karena kekuatan militer, baik saat berdirinya maupun pada masa perkembangannya. Kaum Nabasia berhubungan dengan Arabia, Hajar, Mesopotamia dan Edom. Kaum Nabasia membangun koloni dalam sepuluh komunitas di Arab Tengah, Mesopotamia, Mada?in Saleh dekat Dedan, Jenyson Gaza Selatan, Selah dekat Busheira, ibukota Edomit. Selama periode tersebut rute bisnis dari Arabia Selatan (Yaman) melalui Semenanjung Arabia ke tanah Edom. Dari Edom barang diangkut menuju utara Damaskus atau ke barat menuju Mesir. Rute kedua adalah dari Arabia Selatan (Oman) sepanjang pantai timur dengan kapal oleh orang Gerrha barang diangkut menuju pelabuhan di Mesopotamia. Dari Mesopotamia barang dibawa menuju Babilonia bergabung dengan Jalur Sutra. Barang kemudian diangkut melalui Damaskus menuju Ponesia di Laut Mediterania. Pada paruh pertama abad ke 6 SM, kaum Nabasia (al-Anbat, istilah klasik untuk Nabasia) adalah suku normad dari daerah yang sekarang kita kenal sebagai Transyordan dan tinggal di daerah Edomir (dari kata Idumeans keturunan Esau), dan dari sana mereka kemudian merebut Petra. Orang-orang Nabasia, setelah menguasai kota metropolis Petra, segera menguasai wilayah-wilayah di sekitarnya. Petra yang dalam bahasa Yunani berarti cadas. Al-Raqim adalah sebutan bagi Petra dalam bahasa Arab dan nama modernnya adalah Wadi Musa (lembah Musa). Kota kuno itu, yang terletak pada dataran tandus setinggi 3.000 kaki, kini menyuguhkan pemandangan berupa kuburan besar yang memukau yang dipahat pada baru cadas (Umm al-Biyarah), yang lapisan bebatuannya memancarkan warna-warni pelangi. Kaum Nabasia juga membuat istana yang terletak di di puncak gunung. Menurut Diodorus, pada periode ini kaum Nabasia mulai menggunakan kapal di Laut Merah dan Laut Mediterania. Selama periode empat ratus tahun, yang dimulai dari penghujung abad ke 4 SM, Petra menjadi kota kunci dalam rute perjalanan kafilah antara Saba dan Mediterinia. Menurut Zenon Papyri, kaum Nabasia bersaing dengan kaum Minea dan kaum Gerha (Jarha) dalam bisnis kemenyan. Para pedagang menggunakan rute perjalanan darat. Sejarah awal kaum Nabasia ditulis oleh Diodorus dan Sculus. Sekitar 312 S.M. mereka cukup kuat untuk menangis dua kali serbuan pasukan Antigonus, Raja Suriah yang menjadi penerus Aleksandra, dan kembali dengan penuh kemenangan ke ?tebing karang? itu. Mereka kemudian berada dalam pengaruh Prolemius. Pada 250 SM ? 100 SM, kaum Nabasia menggunakan kapal untuk menangkap kemenyan dari para pedagang Arab Selatan, kemudian dibawa ke utara menuju pelabuhan baru mereka Leuce Come, dari pelabuhan tersebut, barang dibawa ke pantai menuju Aila dan melalui daerah kekuasaan kaum Nabasia dibawa ke Mesir, Damaskus, Mesopotamia, Yunani dan Romawi. Pada periode ini, kaum Nabasia dengan kapalnya mengangkut kargo dari Yaman selatan menuju Leuce Come dan juga pelabuhan Mesir, Berenike merupakan rute mereka.
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (22) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.878 KB)

Abstract

Ketika saya bersama kawan-kawan mendirikan AMIKOM Yogyakarta pun saya menggunakan strategi yang berbeda dengan yang lain. Ketika itu kami sangat menyadari bahwa kami adalah perguruan tinggi kecil, berbentuk Akademi dengan gedung sangat sederhana dan bahkan sewanya belum kami bayar, karena memang tidak punya uang.  Dengan uang yang terbatas dan fasilitas yang sederhana, maka kami hanya dapat melakukan pemasaran yang terbatas dan menerima mahasiswa sisa-sisa dari perguruan tinggi lain yang tidak diterima. Calon mahasiswa yang merasa gagal dari tempat lain dan masuk perguruan tinggi ke tempat kami secara terpaksa, karena tidak ada pilihan lain. Ketika itu kami menerima semua yang mendaftar di perguruan tinggi kami. Input calon mahasiswa yang seperti itu memaksa kita untuk memutar otak untuk mendidik mereka dengan baik agar mereka menjadi orang yang berhasil. Disamping itu, kami juga belum berpengalaman sebagai dosen dan belum berpengalaman mendidik mereka. Kami hanya mempunyai sedikit pengalaman mendidik siswa di Lembaga Kejuruan yang lebih menonjolkan pendidikan ketrampilan, daripada konseptual. Kami berhari-hari berpikir keras untuk mecoba memberikan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Selesai sholat dhuhur, di depan musholla, saya duduk melamun sambil berpikir keras mencari cara terbaik mendidik mahasiswa yang kemampuannya terbatas dan merasa telah gagal, tiba-tiba terbersit sebuah inspirasi dengan mendidik mahasiswa dengan cara berbeda. Biasanya di perguruan tinggi, mahasiswa dididik dengan kemampuan intelektual yang menonjol, karena memang mempunyai dosen yang kemampuan intelektualnya sangat baik. Sebaliknya kami dengan input yang pas-pasan tidak mungkin dididik dengan cara seperti perguruan tinggi lain tersebut. Kami tidak mungkin mendidik mereka dengan pengetahuan yang bagus, karena mereka mahasiswa dengan kemampuan menangkap pengetahuan yang pas-pasan dan dosen yang belum berpengalaman, maka kami tidak mungkin mendidik dengan cara yang sama dengan perguruan tinggi yang sudah baik. Kami mencoba dengan mendidik mereka dengan menonjolkan sikap mental lebih dahulu, setelah itu mengasah ketrampilan mereka dan barulah dipoles sedikit pengetahuannya.  Tahap pertama, kita hanya ingin mereka tidak lagi merasa gagal, putus asa dan kami berharap mereka bangkit kembali serta menjadi mahasiswa yang percaya diri. Untuk mencapai maksud tersebut kami mencoba mendidik  mereka dengan menggunakan Pelatihan Motivasi Berprestasi yang disempurnakan, kami menyebutnya dengan Pelatihan Super Unggul. Pelatihan ini memadukan model Super Camp dari Bobby De Potter, Achievement Motivation Training dan Pelatihan Emotional Intelegence maupun Spiritual Intelegence. Hasil dari pelatihan ini kami berharap mahasiswa tersebut mempunyai kesadaran diri, mengetahui jati dirinya, mampu mengendalikan emosi, termotivasi untuk menggapai cita-citanya, mempunyai empati dan mempunyai ketrampilan sosial serta mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi. Dua hal yang paling penting dalam pendidikan ini adalah mahasiswa mempunyai sikap mental positif dan rasa percaya diri. Untuk menjaga sikap mental positif dan rasa percaya diri ini, ketika kuliah mahasiswa diharuskan untuk memakai dasi, akhirnya memunculkan ?Tempat Kuliah Orang Berdasi?. Bahasa kasar saya agar mereka bangkit dari rasa putus asa dan kegagalan ?Goblok tidak ada apa-apa tetapi percaya diri? itu yang membuat kalian akan berhasil di kemudian hari.  Strategi menggunakan kata yang mudah diingat, yaitu ?Tempat Kuliah Orang Berdasi? ternyata kami baru tahu bahwa itu merupakan strategi positioning.
KAMBING PUTIH Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak orang, ketika mengalami kegagalan dalam membuka dan menjalankan usahanya, ada kecenderungan menyalahkan lingkungannya, menyalahkan bawahannya, menyalahkan pesaingnya, menyalahkan semua yang berhubungan dengan kegagalan tersebut. Kita lebih suka mengkambing hitamkan orang lain daripada melakukan koreksi diri kita dan memperbaiki kesalahan yang kita lakukan, kemudian dengan kerja keras mencoba untuk bangkit kembali. Kegagalan dipakai pelajaran berharga untuk melihat sisi positif dari kegagalan tersebut. Steve Jobs, ketika terdepak dari Chief Executive Officer (CEO) Apple bukan menyalahkan lingkungan perusahaan, yang ia ikut mendirikan. ?Kerahkan segala daya, dirikan perusahaan baru yang lebih canggih ? kata Steve Jobs. Ia mendirikan perusahaan NeXTStep Inc. Lelaki yang hanya lulusan Homestead High School di Cupertino, Kalifornia. Jobs hanya bertahan satu semester di College Oregon. Disamping itu Steve Jobs membeli Pixar dari George Lucas pada 1986. Studio animasi ini setelah di tangan Jobs menghasilkan beberapa perangkat lunak antara lain REYES (Render Everything You Ever Saw), CAPS (bersama Disney), Marionette dan Ringmaster. Dengan Marionette, memungkinkan animator membuat model dan karakter, serta dapat menambahkan efek-efek optis dan pencahayaan. Sedangkan Ringmaster, memungkinkan untuk mengelola produksi proyek animasi computer.  Hampir semua perangkat lunak Pixar itu menyabet Academy Technical Award (Oscar) di bidang pembuatan film. Bekerjasama dengan Disney sukses meluncurkan Toy Story , yang menjadi film terlaris pada 1995. Disusul Bug?s Life (1998), Toy Story 2 (1999), Monster Inc.(2001), dan Finding Nemo (2003). Sukses film-film buatan Pixar ini membuat Steve Jobs membujuk Apple untuk mengakuisisi NeXTStep senilai US$ 400 juta dan mengangkatnya sebagai CEO adinterim. Setelah sukses melakukan bisnis baru iPod untuk konsumen elektronik dan iTunes untuk ritelnya, membuat Apple di Nasdaq melesat dari US$ 13 menjadi US$ 22, dalam tempo 10 bulan sampai awal Februari 2004, yang menjadikan Steve Jobs sebagai CEO dengan gaji tertinggi di Kalifornia. Saham Apple (6,2 %) dan Pixar (55 %) yang dimilikinya menjadikan Steve Jobs mempunyai kekayaan US$ 2,5 milyar. Steve Jobs ketika dilengserkan dari CEO, ia tidak sakit hati terhadap Apple, ia tetap setia terhadap Apple, bahkan dikemudian hari malah membangun Apple bangkit dari keterpurukan. Steve Jobs mengerahkan segala daya, mendirikan perusahaan baru yang lebih canggih, bukan melakukan kambing hitam terhadap lingkungannya.atau dengan kata lain ia melakukan kambing putih terhadap lingkungannya.
TIGA RATUS TINGKAT DI SURGA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam buku Creating Your Own Destiny, Patrick Snow bercerita tetang seorang Indian tua bersama cucunya.   Seorang India tua tersebut memberikan pelajaran hidup kepada cucunya. ?Sebuah pertarungan terus berkecamuk dalam diriku. Pertarungan sengit antara dua ekor serigala? kata Indian tua kepada cucunya. ?Yang satu jahat, dia adalah kemarahan, iri hati, kesedihan, kesombongan, keserakahan, kebohongan, rendah diri, kebanggaan semu, rasa bersalah, tinggi hati dan egoisme. Yang kedua baik, dia adalah kegembiraan, kedamaian, cinta, harapan, rendah hati, ketenangan, keramahan, kedermawanan, empati, kebaikan, kebenaran, memahami perasaan dan iman. Pertarungan serupa berlangsung dalam dirimu, cucuku, juga di dalam diri semua orang? kata India tua. Si cucu berpikir sejenak, lalu bertanya kepada kakeknya ?Kek, serigala mana  yang menang ??. Indian tua itupun menjawab ?Yang kamu beri makan?. Apakah kita memberi makan serigala yang jahat ?. Saya yakin kita akan memberi makan serigala yang baik. Dengan memberi makan serigala yang baik, kita akan dapat menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk persoalan bisnis maupun persoalan bencana yang baru berlalu. Memang benar memberi makan serigala yang jahat lebih mudah daripada memberi makan serigala yang baik. Nafsu jahat berupa kemarahan, iri hati, kesedihan, kesombongan, keserakahan, kebohongan, rendah diri, kebanggaan semu, tinggi hati, egoisme dan menyalahkan orang lain merupakan makanan empuk serigala jahat. Ketika kita tertimpa kegagalan, kesulitan ataupun musibah, seperti saat-saat ini kadangkala kita lebih menyukai makanan serigala jahat. Memang musibah gempa saat ini yang kita rasakan sangatlah berat, tetapi jika mampu untuk memakan makanan tersebut maka makanan tersebut merupakan makanan terbaik yang sangat dicintai oleh Allah. Makanan tersebut adalah sabar.  Sebagian besar sabar adalah keharusan menahan diri dari hawa nafsu yang jahat dan terlepas dari pengaruhnya. Dengan sabar memaksa Anda berpikir dan bertindak lebih cerdas. Sabar adalah makanan pahit yang tidak mudah untuk dimakan. Seperti halnya menuntuk ilmu perlu untuk belajar memakan sabar. Mulai dari menahan marah dengan sungguh-sungguh dan pada akhirnya akan menjadi kebiasaan untuk dapat menahan marah. Jika menahan marah sudah menjadi kebiasaan, maka tidak akan pernah lagi kemarahan itu berkobar dan juga apabila terlanjur marah, maka untuk memadamkan marah tersebut tidak terlalu sulit. Seseorang yang mampu makan makanan seperti ini dikatakan mempunyai tabiat sabar, yang akan menjadi pemenang di dunia maupun di akhirat. Dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Al-Ghazali menuliskan bahwa ?Barang siapa yang bersabar untuk taat kepada Allah, maka Allah akan memberinya tiga ratus tingkat di surga kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak di antara langit dan bumi. Barang siapa yang bersabar dalam menghindari larangan-larangan Allah, maka Allah memberinya enam ratus tingkat di surga kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak antara langit ketujuh dan bumi ketujuh. Dan barang siapa bersabar menghadapi musibab, Allah akan memberinya tujuh ratus tingkat di surga. Setiap tingkat seluas jarak antara Arasy dan bumi?.
LAKSANA SURGA BAGIKU Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

   Dalam bukunya, SQ: Spiritual Intelegence-The Ultimate Intelegence, Danah Zohar dan Ian Marshall menceritakan tentang seorang pengusaha Amerika dan nelayan Meksiko. Pengusaha Amerika itu memuji si nelayan dan bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangkapnya. Nelayan Meksiko itu menjawab, ?Hanya sebentar?.  Pengusaha Amerikaitu bertanya lagi ?Mengapa Anda tidak tinggal di laut lebih lama agar mendapat ikan lebih banyak??. ?Ikan ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya ? jawab si nelayan. ?Tetapi, apa yang Anda lakukan dengan waktu selebihnya?? tanya pengusaha Amerika. Nelayan Meksiko itu menjawab ?Saya tidur larut, memancing sebentar, bermain dengan anak-anak saya, tidur dengan istaya, berjalan-jalan ke desa setiap malam untuk menyesap anggur dan bermain gitar bersama kawan-kawan saya. Saya mempunyai kehidupan yang lengkap dan dan sibuk Senior?. Pengusaha Amerika itu mencemooh, ?Saya seorang MBA lulusan Harvard dan dapat menolong Anda. Anda mestinya menggunakan waktu lebih banyak untuk menangkap ikan. Dengan keuntungan dari situ, Anda dapat membeli perahu yang lebih besar. Dari hasil perahu yang lebih besar Anda dapat membeli beberapa perahu lagi. Pada akhirnya, Anda akan memiliki armada perahu nelayan.  Bukannya menjual tangkapan kepada tengkulak, Anda dapat menjual langsung pada pabrik pengolah ikan, dan akhirnya, Anda bisa membuka usaha pengalengan sendiri. Anda akan mengontrol produk, pemrosesan, dan distribusi. Nantinya, Anda harus meninggalkan desa pantai yang kecil ini dan pindah ke Kota Meksiko, lalu ke Los Angeles, dan akhirnya, ke New York, dan Anda akan menjalankan perusahaan sendiri yang semakin berkembang.? Kemudian nelaya Meksiko itu bertanya ?Tetapi Senior, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk ini??. Pengusaha Amerika itu menjawab ?Lima belas sampai dua puluh lima tahun?. ?Kemudian setelah itu apa, Senior?? tanya si nelayan. Pengusaha Amerika itu tertawa dan berkata bahwa itulah bagian yang paling baik. ?Jika waktunya sudah tepat, Anda akan mensual saham perusahaan lepada masyarakat dan menjadi sangat kaya. Anda akan menghasilkan uang berjuta-juta.? ?Berjuta ?juta Senior. Lalu untuk apa??. Pengusaha Amerika itu berkata ?Lalu, Anda akan pensiun. Pindah ke kota pantai kecil supaya Anda bisa tidur larut, memancing sedikit, bermain dengan anak-anak, menikmati tidur siang bersama istri, berjalan-jalan ke desa di malam hari dan menyesap anggur serta bermain gitar bersama kawan-kawan.? Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, pegusaha Amerika dalam cerita tersebut bodoh secara spiritual, sedangkan nelayan Meksiko itu cerdas secara spiritual. Si nelayan memiliki pemahaman yang cerdas mengenai tujuan hidupnya sendiri yang dianggapnya penting, motivasinya sendiri yang paling dalam. Dia menjalani gaya hidup yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya sendiri maupun keluarganya, dia meluangkan waktu untuk hal-hal yang berarti baginya, dia merasa damai, dia terpusat. Sebaliknya pengusaha Amerika itu, anak dari kebudayaan yang bodoh secara spiritual, ambisius, dia harus mencapai sesuatu demi pencapaian itu sendiri, bersentuhan dengan kehidupan yang memberi motivasi yang mendalam, dia telah menyerap cita-cita yang tak bermakna, hanya cita-cita itu dia pelajari di Harvard. Nabi Muhammad SAW peminpin yang cerdas secara spiritual, membagi waktunya menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk Tuhannya, sepertiga untuk masyarakat dan sepertiga untuk keluarganya. Dalam rumah tangganya Nabi bersabda ?Rumahku laksana surga bagiku?.