Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Revitalisasi Kerajinan Dari Bahan Baku Baion (Pandamus Tectorius) Sebagai Warisan Budaya Lokal Menuju Produk Unggulan Umkm Rosalinda Septiani Sitompul; Talenta Marbun; Nurlinawati Simanjuntak; Niarita Bukit; David Yanto Daniel Mahulae; Rendi Hatorangan Manik
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2929

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk merevitalisasi pemanfaatan baion (Pandanus tectorius) sebagai warisan budaya lokal yang bernilai ekonomi melalui pelatihan kerajinan kepada keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Gurgur Aek Raja, Kabupaten Toba. Baion merupakan tanaman lokal yang sejak lama digunakan sebagai bahan baku pembuatan tikar dan kerajinan tradisional. Namun, seiring perkembangan zaman, pemanfaatannya mulai terabaikan. Oleh karena itu, pelatihan ini diarahkan untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam mengolah baion menjadi produk kerajinan tas yang memiliki nilai jual dan daya saing, sekaligus mendorong terbentuknya UMKM berbasis desa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan peserta secara aktif melalui kegiatan demonstrasi, diskusi, dan praktik langsung yang didampingi oleh dosen dan mahasiswa. Materi pelatihan mencakup pengenalan tanaman baion, teknik pengolahan daun, desain dan produksi tas, serta strategi pemasaran dan branding produk. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa peserta antusias dan mampu menghasilkan produk tas sederhana secara mandiri. Pelatihan ini tidak hanya memperkuat keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan potensi lokal dan peluang ekonomi berbasis kearifan budaya. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam pelestarian budaya lokal serta pemberdayaan ekonomi keluarga penerima PKH. Diharapkan kegiatan ini dapat dilanjutkan melalui kolaborasi lintas sektor dan pendampingan berkelanjutan menuju pengembangan usaha mikro yang mandiri dan berdaya saing.
MODEL MANAJEMEN PENDIDIKAN BERBASIS IWEE (INTEGRATED WOMEN ECONOMIC EMPOWERMEN) UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN DI PUNGUAN PAROMPUAN DISTRIK REGIONAL I DISTRIK XVI HUMBANG HABINSARAN Rosalinda Septiani Sitompul; Talenta Emma Renata Marbun; Niarita Bukti; David Yanto Daniel Mahulae; Risma Nurhaini Munte; Jupeng Sihombing; Palado Silitonga
ALAINA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): ALAINA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Cendekia Citra Gemilang Scholar Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/alaina.v3i2.1060

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini berjudul “Model Manajemen Pendidikan Berbasis IWEE (Integrated Women Economic Empowerment) untuk Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di Punguan Parompuan Distrik Regional I Distrik XVI Humbang Habinsaran”. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi perempuan jemaat yang mayoritas berprofesi sebagai petani cabai dan kerap mengalami kerugian ekonomi saat terjadi panen raya atau penurunan harga cabai, sehingga sebagian hasil panen tidak termanfaatkan secara optimal. Berangkat dari situasi tersebut, program ini menawarkan solusi melalui pengembangan model manajemen pendidikan berbasis IWEE yang mengintegrasikan pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pendampingan usaha pengolahan cabai menjadi saus cabai bernilai jual lebih tinggi. Tujuan utama kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam memanfaatkan cabai sebagai produk olahan, memperkuat literasi keuangan dan manajemen usaha sederhana, serta mendorong terbentuknya kelompok usaha perempuan yang mandiri. Pendekatan IWEE digunakan untuk memastikan bahwa proses pemberdayaan tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi mencakup penguatan kapasitas, partisipasi aktif, dan pengembangan potensi ekonomi berbasis komunitas gerejawi. Metode pelaksanaan meliputi beberapa tahapan: analisis kebutuhan dan potensi perempuan petani cabai; sosialisasi konsep IWEE dan pentingnya nilai tambah komoditas; pelatihan teknis pembuatan saus cabai (seleksi bahan, proses pengolahan, pengemasan, dan standar kebersihan); pelatihan manajemen usaha dan literasi keuangan; serta pendampingan pembentukan kelompok usaha saus cabai. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi praktik, penilaian kualitas produk, dan refleksi kelompok mengenai rencana tindak lanjut. Hasil yang diharapkan dari program ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pengolahan cabai, lahirnya produk saus cabai yang layak konsumsi dan potensial dipasarkan, serta terbentuknya kelompok usaha perempuan yang mengelola produksi secara berkelanjutan. Selain itu, program ini diharapkan menjadi model manajemen pendidikan berbasis IWEE yang dapat direplikasi di komunitas perempuan gerejawi lainnya sebagai strategi pemberdayaan ekonomi yang berbasis potensi lokal, modal sosial, dan penguatan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat
DARI IDE KE AKSI; MANAJEMEN ORGANISASI UNTUK PELAKU EKONOMI KREATIF Rosalinda Septiani Sitompul; Delviana Romauli Wanti Sihombing; Joan Berlin Damanik; Niarita Bukit; Jeriston Habayahan; Yesika Angelina Tamba; Listia Sri Hati Panjaitan
Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpstm.v5i2.5221

Abstract

Abstract: Community service by the Management Study Program of the Faculty of Economics, Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli, in Matiti 2 Village, Dolok Sanggul, which aims to strengthen community-based creative economy through the guidance of the Baion Craftsmen Group 'Setia'. The main issue is the need to strengthen the capacity of artisan groups to face the challenges of a creative economy based on local wisdom, such as access to capital, digitalization, marketing, and product legality. The methods used include continuous training, managerial mentoring, the contextual application of POAC management, as well as strengthening networks and transforming organizational paradigms towards a collaborative and adaptive model. The innovation process is carried out from local inspiration to digital marketing, while continuous evaluation and intellectual property protection serve as key pillars. The results of the activities show increased independence and competitiveness of artisan groups, the emergence of flagship products, and the formation of SME embryos that are oriented toward inclusive growth and cultural preservation. In conclusion, a community-based creative economy approach is effective in driving village economic growth as long as it is supported by adaptive management, technology integration, multi-stakeholder synergy, and continuous innovation cycles. Keywords : baion; creative economy; UMKM Abstrak: Pengabdian kepada masyarakat Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli di Desa Matiti 2 Dolok Sanggul yang bertujuan memperkuat ekonomi kreatif berbasis komunitas melalui pembinaan Kelompok Pengrajin Baion “Setia”. Permasalahan utama adalah perlunya penguatan kapasitas kelompok pengrajin untuk menghadapi tantangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, seperti akses modal, digitalisasi, pemasaran, dan legalitas produk. Metode yang digunakan meliputi pelatihan berkelanjutan, pendampingan manajerial, penerapan manajemen POAC secara kontekstual, serta penguatan jejaring dan transformasi paradigma organisasi menuju model yang kolaboratif dan adaptif. Proses inovasi dilakukan dari inspirasi lokal hingga digitalisasi pemasaran, sementara evaluasi berkelanjutan dan perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi pilar utama. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya kemandirian dan daya saing kelompok pengrajin, lahirnya produk unggulan, serta terbentuknya embrio UMKM yang berorientasi pertumbuhan inklusif dan pelestarian budaya. Kesimpulannya, pendekatan ekonomi kreatif berbasis komunitas efektif mendorong pertumbuhan ekonomi desa asalkan didukung manajemen adaptif, integrasi teknologi, sinergi multi-pihak, dan siklus inovasi berkelanjutan. Kata Kunci : baion; ekonomi kreatif; UMKM