Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Pengaruh Komunikasi Persuasif Guru Bimbingan konseling terhadap Kedisiplinan Siswa Kelas 12 IPA : Studi Kasus pada SMA Negeri 02 Buay Bahuga Way Kanan Ayu Finasari; M. Denu Poyo; Wawan Hernawan
Pubmedia Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ptk.v3i4.2859

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh komunikasi persuasif yang diterapkan oleh guru Bimbingan dan Konseling terhadap kedisiplinan siswa kelas XII di SMA Negeri 02 Buay Bahuga Way Kanan. Permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah masih rendahnya tingkat kedisiplinan siswa, sehingga diperlukan penerapan komunikasi yang efektif guna mendorong motivasi dan perilaku disiplin yang lebih baik. Variabel yang diteliti meliputi X: yaitu komunikasi persuasif guru BK, dan Y: yaitu kedisiplinan siswa yang diukur melalui tingkat kepatuhan, tanggung jawab, serta perilaku siswa dalam menaati peraturan sekolah. Fenomena di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa pembentukan kedisiplinan siswa masih menghadapi berbagai kendala, sehingga peran komunikasi persuasif guru BK menjadi sangat penting. Penyampaian pesan yang disertai empati dan penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami mampu meningkatkan motivasi siswa untuk berperilaku disiplin. Kedisiplinan merupakan unsur penting yang mendukung kelancaran proses pendidikan dan menciptakan suasana belajar yang tertib serta kondusif. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa komunikasi persuasif guru BK (X) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan siswa (Y), yang menegaskan bahwa peningkatan kualitas komunikasi persuasif berkontribusi langsung terhadap peningkatan kedisiplinan siswa di sekolah. Temuan ini sejalan dengan pendapat yang menyatakan bahwa komunikasi persuasif memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi dan kedisiplinan peserta didik.
Makna Budaya Sebambangan pada Masyarakat Lampung Pesisir Devy Mulyani; Wawan Hernawan; M. Denu Poyo
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 3 (2026): EduTIK : Juni 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i3.509

Abstract

ABSTRAK Tradisi Sebambangan pada masyarakat Lampung Pesisir di Kecamatan Padang Cermin sering disalahpahami sebagai tindakan kriminal penculikan, padahal merupakan sistem komunikasi ritual yang sah secara adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam makna budaya Sebambangan pada masyarakat Lampung Pesisir. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman hidup (lived experience) para pelaku tradisi dan tokoh adat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap informan kunci (tokoh adat), informan utama (pelaku tradisi), dan informan pendukung (masyarakat Padang Cermin), dengan validitas data dijaga melalui triangulasi dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebambangan berfungsi sebagai sistem komunikasi ritual yang terstruktur, di mana surat pemberitahuan dan tengepik (uang penanda) berperan sebagai instrumen metakomunikasi untuk face-saving dan face-giving bagi keluarga perempuan. Tradisi ini juga berfungsi sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis budaya konteks tinggi (high context culture), arena negosiasi identitas di tengah modernisasi melalui adopsi media yang selektif, serta melibatkan peran krusial komunikasi interpersonal dalam rekonsiliasi pasca-Sebambangan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan Face Negotiation Theory dengan menambahkan dimensi kolektivisme keluarga, serta menegaskan bahwa Sebambangan adalah mekanisme komunikasi yang menjaga harmoni sosial, bukan pelanggaran etika. ABSTRACT The Sebambangan tradition among the Lampung Pesisir community in Padang Cermin District is often misunderstood as a criminal act of kidnapping, when in fact it is a legitimate ritual communication system grounded in customary law. This study aims to gain an in-depth understanding of the cultural meaning of Sebambangan among the Lampung Pesisir community. The research employs a descriptive qualitative method with a phenomenological approach to explore the lived experience of tradition practitioners and customary leaders. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving key informants (customary leaders), main informants (tradition practitioners), and supporting informants (the Padang Cermin community), with data validity maintained through triangulation and member checking. The findings indicate that Sebambangan functions as a structured ritual communication system, in which the notification letter and tengepik (marker money) serve as metacommunication instruments for face-saving and face-giving toward the woman's family. The tradition also functions as a conflict resolution mechanism rooted in high-context culture, an arena for identity negotiation amid modernization through selective media adoption, and involves a crucial role for interpersonal communication in post-Sebambangan reconciliation. This study contributes to the development of Face Negotiation Theory by adding a dimension of family collectivism, and affirms that Sebambangan is a communication mechanism that maintains social harmony rather than an ethical violation.
Makna Warna Oranye pada Logo E-Commerce Shopee dari Perspektif Semiotika Komunikasi Visual Ferdinand de Saussure M. Denu Poyo; M. Haikal Junior; Hanindyalaila Pienrasmi
JUSTICE: Journal of Social and Political Science Vol 5 No 2 (2026): JUSTICE: Journal of Social and Political Science
Publisher : JUSTICE Journal Of Social and Political Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/w5xtj458

Abstract

The rapid development of digital technology has positioned visual communication as a crucial instrument in building brand identity, particularly within the highly competitive e-commerce industry. As one of the largest ecommerce platforms in Indonesia, Shopee utilizes orange as the dominant element of its visual identity, serving as a medium for conveying messages and shaping brand image. This study aims to analyze the meaning of the orange color in the Shopee logo from the perspective of Ferdinand de Saussure’s visual communication semiotics. The theoretical framework employed includes visual communication theory, Ferdinand de Saussure’s semiotic theory focusing on the relationship between the signifier and the signified, as well as visual color theory and color psychology. This research adopts an interpretive paradigm with a qualitative descriptive approach and semiotic analysis as its primary method. Data were collected through visual document observation of the official Shopee logo, in-depth interviews with informants consisting of graphic design practitioners, branding practitioners, visual communication academics, and active Shopee users, and were supported by relevant literature studies. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, with validity ensured through source triangulation, technique triangulation, and member checking. The findings indicate that the orange color in the Shopee logo functions as a signifier representing energy, enthusiasm, warmth, creativity, optimism, and closeness to users. These meanings contribute to establishing a strong visual identity, enhancing brand recall, and reinforcing Shopee’s image as a modern, dynamic, accessible, and consumer-oriented e-commerce platform. 
Strategi Komunikasi Sekolah dalam Mengedukasi Siswa tentang Konten Video Manipulatif Berbasis Kecerdasan Buatan: Studi Kasus di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Bandar Lampung Heni Apriyani; M. Denu Poyo; Wawan Hernawan
JUSTICE: Journal of Social and Political Science Vol 5 No 2 (2026): JUSTICE: Journal of Social and Political Science
Publisher : JUSTICE Journal Of Social and Political Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/8cn6ec70

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang diterapkan SMK Negeri 4 Bandar Lampung dalam mengedukasi siswa mengenai konten video manipulatif berbasis kecerdasan buatan (AI), serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap informan kunci (pihak struktural sekolah dan fasilitator pembelajaran), informan utama (guru mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial), serta informan pendukung (siswa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah menerapkan empat strategi komunikasi yang saling melengkapi, yaitu kampanye edukasi melalui kegiatan sekolah (MPLS dan upacara bendera), penyampaian materi melalui mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial, pemanfaatan media pembelajaran seperti laboratorium komputer, telepon pintar, berbagai platform kecerdasan buatan, dan pohon literasi berbasis QR Code, serta penguatan kompetensi guru melalui pendampingan fasilitator. Melalui keempat strategi tersebut, sekolah tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan teknis mengenai AI, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis dan sikap bertanggung jawab dalam memverifikasi informasi digital. Pelaksanaan strategi tersebut masih menghadapi dua hambatan utama, yaitu pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang menuntut pembaruan materi secara berkelanjutan, serta perbedaan latar belakang dan kemampuan guru dalam mengikuti perkembangan teknologi tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi sekolah sudah terintegrasi dan bersifat multistrategi, namun perlu penguatan pembaruan materi serta pemerataan kompetensi guru agar edukasi digital bagi siswa dapat berlangsung secara berkelanjutan.
The Process of Nonverbal Communication by Volunteers in Assisting Persons with Disabilities at Sahabat Difabel Lampung Fieska Rusmeri; M. Denu Poyo; Wawan Hernawan
Interaction Communication Studies Journal Vol. 3 No. 1 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/interaction.v3i1.6179

Abstract

Volunteers who assist persons with disabilities must adapt their communication because spoken messages are not always sufficient. This study examines the process of nonverbal communication used by volunteers at Sahabat Difabel Lampung. The study employed a qualitative case-study approach within a constructivist paradigm. Data were collected through participant observation on two occasions, semi-structured interviews with nine informants, and document review. The informants consisted of one key informant, seven volunteer informants, and one supporting informant. Data were analyzed through reduction, display, and conclusion drawing, while source and technique triangulation were used to assess credibility. The findings show that volunteers begin by gaining attention and creating comfort through friendly facial expressions, eye contact, a calm approach, and appropriate physical distance. They then deliver messages through gestures, supportive touch, vocal cues, body position, sign language, writing, and digital media. Volunteers observe participants' responses and adapt the message to the individual and the situation. Instructions may be shortened, demonstrated, repeated, or transferred to a visual channel. When meaning remains unclear, volunteers check it again or seek assistance from another volunteer. These actions are interconnected rather than fixed in a linear sequence. Nonverbal communication therefore supports message delivery, mutual understanding, and the relationship between volunteers and persons with disabilities.
Pengalaman Komunikasi Orang Tua dalam Memilih SLB Pelita Kasih Bandar Lampung untuk Anak Disabilitas Birgitta Helencia Dinda Yuliani; M. Denu Poyo; Noning Verawati
CONVERSE Journal Communication Science Vol. 3 No. 1 (2026): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/converse.v3i1.6213

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman komunikasi orang tua dalam memilih SLB Pelita Kasih Bandar Lampung bagi anak disabilitas, serta mengidentifikasi bentuk komunikasi persuasif yang dilakukan pihak sekolah dalam meyakinkan orang tua. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya proses komunikasi dalam membantu orang tua memperoleh informasi, membangun keyakinan, dan mengambil keputusan mengenai pendidikan yang tepat bagi anak disabilitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan empat orang tua sebagai informan kunci, satu kepala sekolah sebagai informan utama, dan tiga guru sebagai informan pendukung di SLB Pelita Kasih Bandar Lampung. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman komunikasi orang tua berlangsung melalui beberapa tahapan: kesadaran terhadap kondisi anak; komunikasi dengan lingkungan sosial dan tenaga profesional; komunikasi langsung dengan pihak sekolah; menghadapi berbagai hambatan komunikasi; dan memaknai pengalaman tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini juga menemukan bahwa komunikasi persuasif SLB Pelita Kasih diwujudkan melalui penyampaian informasi program dan layanan sekolah, pendekatan personal yang empatik, pemanfaatan media komunikasi, dan pembuktian kualitas layanan melalui perkembangan nyata peserta didik. Keempat bentuk komunikasi ini saling melengkapi dalam membangun kepercayaan orang tua. Penelitian menyimpulkan bahwa pengalaman komunikasi dan komunikasi persuasif berperan krusial dalam membangun kepercayaan, mengurangi keraguan, dan mendukung proses pengambilan keputusan orang tua dalam menentukan pendidikan anak disabilitas.