Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

The Role of Spiritual Leaders in Building Socio-Cultural Communication Networks in the Buddhayana Community of Lampung Province Rapiadi Rapiadi; Resdhi Wibawa; Ine Yudhawati; Widiyanto Widiyanto; sidharta adi gautama
Journal of Communication, Religious, and Social Sciences (JoCRSS) Vol. 1 No. 2 (2023): JOCRSS December 2023
Publisher : LPPM STIAB JINARAKKHITA LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60046/jocrss.v1i2.42

Abstract

This research aims to explore the role of spiritual leaders in shaping and strengthening socio-cultural communication networks in the Buddhayana community. The research focus involves analyzing the active role of spiritual leaders in facilitating interaction, maintaining cultural values, and forging interpersonal connections among Buddhists. This research method uses a case study with a qualitative approach with in-depth interviews with spiritual leaders, community members, and participatory observations at religious activities. The results showed that spiritual leaders have a crucial role in shaping and maintaining socio-cultural communication networks. Not only acts as a spiritual leader but also as a facilitator of communication between individuals in the community. Spiritual leaders also play a role in transmitting Buddhayana values, promoting collaboration, and building solidarity among community members. The study also identified factors that influence the effectiveness of the role of spiritual leaders in the context of socio-cultural communication, including active involvement in daily activities, adaptability to technological developments, and the ability to understand community needs. These findings have important implications in understanding communication dynamics in the context of Buddhayana and may contribute to practical thinking to support spiritual leaders and Buddhayana communities in strengthening their socio-cultural communication networks. This research can serve as a foundation for the development of more effective strategies to maintain the sustainability of communication and cultural values within the Buddhayana community and may be applicable to other religious and cultural contexts.
The Influence of speech skills on social interaction student STIAB JINARAKKHITA Iin Avitasari; Candra Kusuma; Vike Aprilianin Marwintaria Saputri; Rapiadi; Rina Manggalani
Journal of Communication, Religious, and Social Sciences (JoCRSS) Vol. 1 No. 2 (2023): JOCRSS December 2023
Publisher : LPPM STIAB JINARAKKHITA LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60046/jocrss.v1i2.77

Abstract

This research aims to investigate the influence of self-concept on the quality of interpersonal communication of Jinarakkhita Buddhist Collage of Lampung students. Self-concept is an important factor in understanding how a person interacts with other people. The quality of interpersonal communication also has a key role in establishing healthy and productive relationships in various life contexts. This research uses a survey method by collecting data through questionnaires distributed to Jinarakkhita Buddhist Collage of Lampung students. The questionnaire measures students' self-concept and quality of interpersonal communication. The collected data is then analyzed using appropriate statistical techniques. The results of this research indicate that there is a significant influence between self-concept and the quality of interpersonal communication of Jinarakkhita Buddhist Collage of Lampung students. These results indicate that students who have a positive self-concept tend to have better interpersonal communication quality. This indicates the importance of developing self-concept in the context of higher education to improve the quality of social interaction and interpersonal communication. This research can be a basis for educational institutions to consider programs that can help students develop a more positive self-concept, so that they can become more effective individuals in communicating and establishing healthy interpersonal relationships in the campus environment and outside the campus.
PERAN MAJELIS BUDDHAYANA INDONESIA (MBI) TERHADAP PENANAMAN NILAI INTERSEKTARIAN PADA MASYARAKAT BUDDHA DI LAMPUNG Tejo Ismoyo; Rapiadi Rapiadi; Susanto Susanto
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 3 No. 1 (2021): Juni
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v3i1.12

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan bagaimanakah nilai intersektarian berkembang pada masyarakat Buddha di Lampung dan bagaimanakah peran Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) terhadap penanaman nilai intersektarian pada masyarakat Buddha di Lampung tahun 2018. Belum meratanya penanaman nilai intersektarian pada masyarakat Buddha di Lampung, hal ini terlihat pada saat melaksanakan puja bakti. Umat Buddha di Lampung masih cenderung puja bakti mengunakan paritta (tradisi Theravada). Penanaman nilai intersektarian di provinsi lampung yang belum merata menyebabkan pelaksanakan puja bakti masih difokuskan pada tradisi Theravada. Walaupun masih didominan pada tradisi Theravada, akan tetapi masih ada beberapa masyarakat melaksanakan puja bakti secara khusus menggunakan tradisi Mahayana dan Tantrayana. Nilai intersektarianpun masih belum sepenuhnya diterapkan sehingga terjadi dominasi pengunaan satu mahzab saja yang diangap paling baik, dan terjadi kesenjangan dalam bentuk kurang hormatnya terhadap mahzab lain. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Tempat dilaksanakan penelitian di Provinsi Lampung, waktu yang digunakan adalah 6 bulan, dimulai dari Juli sampai Desember 2018. Adapun Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan membuat gambaran yang dilakukan dengan cara (1) reduksi data atau penyederhanaan (data reduction), (2) paparan/sajian data (data display), dan (3) penarikan kesimpulan. Provinsi Lampung terdiri dari 164 wihara yang berada di bawah naungan Sangha Agung Indonesia (SAGIN). Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) sebagai pembatu tugas Sangha Agung Indonesia (SAGIN) membimbing Umat Buddha dalam menanamkan nilai intersektarian agar berkembang pada masyarakat Buddha di Lampung. Nilai intersektarian berkembang pada masyarakat Buddha di Lampung, tidak terlepas dari peran Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Berkembangnya nilai intersektarian di Provinsi Lampung Melalui Tokoh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), Melalui Ceramah Dhamma dan Melalui Kunjungan Sangha. Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) memiliki peran penting dalam menanamkan nilai intersektarian dalam perkembangan agama Buddha di Provinsi Lampung. Berikut peran penting Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dalam menanamkan nilai intersektarian: Membina Melalui Ceramah Dhamma, Pelayanan Puja Bhakti Keliling, Kunjungan Kasih, dan Pelatihan Pandeta.