Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Aspek Keberlanjutan Rumah Tradisional Suku Kajang di Desa Tana Towa Rofina Akwanul Hikmah; Ema Yunita Titisari
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suku Kajang dinobatkan sebagai komunitas adat yang berhasil mempertahankan kelestarian hutan hujan terbaik di dunia oleh The Washington Post. Selain itu Suku Kajang sampai sekarang masih mempertahankan arsitektur rumah tradisionalnya tanpa ada perubahan dari generasi ke generasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek keberlanjutan Iwamura pada rumah tradisional Suku Kajang di Desa Tana Towa, Kabupaten Bulukumba, sebagai referensi bagi arsitektur berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah rumah tradisional Suku Kajang memenuhi ketiga prinsip keberlanjutan Iwamura yaitu: 1) aspek low impact terpenuhi pada parameter hemat energi, efektif menggunakan sumber daya, dan usaha meminimalisir sampah, 2) aspek high contact terpenuhi pada parameter harmoni dengan budaya, adanya keragaman hayati dan tersedianya tempat berkumpul, dan 3) aspek health and amenity terpenuhi pada elemen rumah yang sehat dan nyaman bagi penghuninya. Kata Kunci : keberlanjutan, Iwamura, rumah, Suku Kajang
Cinema Center dengan Pendekatan Arsitektur Regionalisme Kritis Kawaldi, Rendy Shika; Titisari, Ema Yunita
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Tingginya angka bunuh diri di Surabaya menunjukkan urgensi kehadiran fasilitas hiburan publik seperti Cinema Center, yang dapat menjadi ruang rekreatif sekaligus intervensi sosial. Melalui pendekatan regionalisme kritis, desain Cinema Center memadukan teknologi modern dengan nilai-nilai lokal, menjadikannya bukan tempat hiburan dan sarana penguatan identitas budaya sehingga dapat menurunkan tingkat stress. Penerapan metode desain strukturalisme melalui analisis pola pada bangunan sekitar tapak dan fungsi sejenis menghasilkan tipologi arsitektur yang diterapkan pada aspek tapak, ruang, dan bangunan. kemudian dianalisis serta diintegrasikan, sehingga rancangan menjadi kontekstual dan selaras dengan identitas budaya setempat.  Hasil desain Cinema Center Surabaya menghadirkan ruang publik modern yang fungsional, estetis, dan bermakna, sekaligus memperkuat identitas budaya melalui perpaduan fasad dan interior bergaya kontemporer dengan nuansa lokal.   Kata kunci: Cinema Center, Regionalisme Kritis, Arsitektur Jawa   ABSTRACT   The high suicide rate in Surabaya highlights the urgency of establishing public entertainment facilities such as a Cinema Center, which can serve as both a recreational space and a form of social intervention. Through the application of critical regionalism, the Cinema Center’s design integrates modern technology with local cultural values, positioning it not merely as a venue for entertainment but also as a medium for reinforcing cultural identity and alleviating stress. The implementation of a structuralist design method, through pattern analysis of the surrounding built environment and similar functions, generates an architectural typology applied to the site, spatial organization, and building form. These elements are subsequently analyzed and integrated, resulting in a design that is contextual and aligned with the local cultural identity. The final design of the Surabaya Cinema Center presents a modern public space that is functional, aesthetic, and meaningful, while simultaneously strengthening cultural identity through the interplay of contemporary façade and interior elements infused with local nuances.   Keywords: Cinema Center, Critical Regionalism, Javanese Architecture
Pendopo Sebagai Ruang Multiplicity Dalam Narasi Branding Kota Banyuwangi yang Inklusif Azizah, Alya Lailatul; Kusdiwanggo, Susilo; Titisari, Ema Yunita
Hasta Wiyata Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Pendopo Sabha Swagata Blambangan in Banyuwangi is an architectural space containing overlapping social, political, and cultural roles. These layers of meaning relate to Deleuze and Guattari’s concept of multiplicity, where the pendopo functions not only as the regent’s official residence but also as a public space, tourist destination, and medium for articulating the city’s identity. This study seeks to answer “how is multiplicity in the pendopo used in Banyuwangi’s city branding strategy in the context of culture and urban identity?”. This research applies a qualitative approach using inductive coding. Data were collected through in-depth interviews and field documentation, then analyzed using the theoretical framework of multiplicity. The findings show that the pendopo serves as an arena of becoming, containing layered meanings and multiple functions. It is not reduced to a single symbol but emerges as a network of political space, cultural-historical narratives, and an active public realm. Banyuwangi’s branding strategy through the pendopo is built not on fixed visual representation, but through the involvement of space that is inclusive and relational. In this context, multiplicity becomes a key framework for understanding how urban space is dynamically constructed as part of cultural practice and open identity representation.