Claim Missing Document
Check
Articles

VICTIMIZATION OF CHILDREN WITH DISABILITIES: ANALISIS POLA KEKERASAN FISIK DAN EFEKTIVITAS MEKANISME PENDAMPINGAN PADA UNIT PELAYANAN DISABILITAS (UPD) KOTA TANGERANG SELATAN Anton Budi Saputra; Salsa Septiana Jasmin; Chazizah Gusnita
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 2 (2025): JSER, December 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i2.1196

Abstract

Anak penyandang disabilitas adalah sekelompok yang rentan terhadap kekerasan fisik akibat dari ketergantungan pengasuh, stigma social, juga terbatasnya akses terhadap suatu mekanisme perlindungan. Pada penelitian ini, bertujuan untuk melakukan analisis pola kekerasan fisik kepada anak penyandang disabilitas dan melakukan evaluasi peran Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) dalam pendampingan korban di tingkat local. Metode pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam. Hasil dari penelitian adalah jika kekerasan fisik terhadap anak penyandang disabilitas kerap terjadi di lingkungan terdekat, termasuk kepada ranah keluarga. Dalam perspektif viktimologi, kerentanan pada korban diperkuat oleh adanya ketimpangan relasi kuasa dan hambatan komunikasi. UPD memiliki peran penting dalam pendampingan korban melalui dukungan psikososial. Penelitian ini menjabarkan pentingnya pendorongan peran UPD di dalam suatu perlindungan anak penyandang disabilitas di tingkat lokal.
Analisis Flexing sebagai Bentuk Ekspresi Kekerasan Simbolik dalam Media Sosial Instagram Muhammad Elrazy; Chazizah Gusnita
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4644

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, telah mendorong munculnya fenomena “flexing” sebagai praktik menampilkan kekayaan, gaya hidup, dan simbol status sosial guna memperoleh pengakuan publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik flexing sebagai bentuk ekspresi kekerasan simbolik dalam arena media sosial Instagram dengan menggunakan perspektif teori kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengguna Instagram yang melakukan praktik Flexing dan seorang ahli sosiologi, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Flexing tidak lagi sekadar menjadi bentuk hiburan atau ekspresi diri, tetapi telah berkembang menjadi mekanisme kekerasan simbolik yang bekerja secara halus melalui representasi kemewahan, keberhasilan, dan status sosial. Praktik tersebut membentuk standar sosial baru yang mendorong individu untuk mengejar legitimasi dan pengakuan melalui akumulasi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Penelitian ini juga menemukan tiga pola utama Flexing, yaitu komodifikasi modal ekonomi artifisial, pemanfaatan modal budaya, dan eksploitasi modal sosial sebagai strategi untuk memperoleh prestise di ruang digital. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya perilaku konsumtif, tekanan psikologis, serta reproduksi ketimpangan simbolik di masyarakat digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Instagram telah menjadi arena reproduksi kekuasaan simbolik yang menormalisasi dominasi melalui simbol-simbol kemewahan, sehingga diperlukan peningkatan literasi digital agar masyarakat mampu memahami dan mengkritisi praktik flexing secara lebih reflektif.
Discourse of the Toxic Relationship: Violence Against Men from a Victim Precipitation Theory Chazizah Gusnita; Riski Melinda
Soshum: Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 13 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/soshum.v13i3.269-280

Abstract

The phenomenon of dating violence that resulted in teenage guys becoming victims is still tough to track down. Several causes contribute to violence, including social stereotypes, toxic masculinity, the criminal justice system's weakness, ignorance, and so on. This is what makes the individual in the case rude. Some of the crimes committed involved the victim, who in this case was a youngster who became a victim of violence and engaged in the commission of crimes done by his partner. Based on their involvement in a victim precipitation hypothesis, there are five sorts of victims: (1) nonparticipating victims; (2) latent or predisposed victims; (3) provocative victims; (4) participating victims; and (5) false victims. Based on her comments, the victim in this case fits four of the five criteria. The qualitative-descriptive method will be employed in this study to discuss the analysis of violence in dating that occurs against men.
SOSIALISASI ANTI KEKERASAN DAN PEMBENTUKAN KELURAHAN RAMAH PEREMPUAN DAN LAYAK ANAK DI KECAMATAN PESANGGRAHAN JAKARTA SELATAN Umaimah Wahid; Eko Sumardi; Saskia Lydiani; Amin Aminudin; Mulyati Mulyati; Nidya Kusumawardhany; Reni Rosita; Suwarno Suwarno; Prita Andini; Chazizah Gusnita
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 12 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i12.5049-5063

Abstract

Menurut Laporan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) 2020, DKI Jakarta mencatat angka tertinggi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di Indonesia. Kekekerasan yang sering terjadi meliputi kekerasan fisik, psikologis, seksual, serta pengabaian. Diperlukan langkah-langkah preventif yang keras untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan di kota atau desanya. Namun, belum semua kabupaten atau kota di Indonesia bersahabat untuk anak-anak.  Sebuah sistem kesejahteraan sosial yang berhasil bagi anak-anak dan keluarga dan dukungan mekanisme sangatlah penting untuk mendorong perilaku positif dalam masyarakat ini. Diperlukan juga landasan hukum dan kebijakan yang mendukung serta sistem data dan informasi yang memadai untuk melindungi anak-anak. Penyuluhan tentang komunikasi yang efektif dan penggunaan media sosial serta upaya membentuk lingkungan masyarakat yang ramah terhadap perempuan dan aman bagi anak-anak (tanpa kekerasan seksual) di Kecamatan Pesanggrahan di Jakarta Selatan sangatlah penting untuk memberikan informasi penting serta pengetahuan yang diperlukan kepada masyarakat guna melindungi perempuan dan anak-anak sebagai kelompok yang rentan terhadap tindakan kekerasan. Program pembentukan lingkungan masyarakat yang ramah terhadap perempuan dan layak bagi anak-anak tanpa pelecehan dan kekerasan adalah tanggung jawab hukum sekaligus kemanusiaan agar dapat memperkuat hubungan keluarga dan membangun masyarakat yang damai.