Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat dan Aktivitas Fisik terhadap Kadar Gula Darah Pasien DM Tipe II Tri Wahyuni; Onieqie Ayu Dhea Manto; M. Sobirin Mohtar; Rifa’atul Mahmudah
Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences Vol 6 No 2 (2025): Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences: October 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijnhs.v6i2.7193

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi urin, kerja insulin atau keduanya. Tingkat kepatuhan dalam minum obat sangat berpengaruh terhadap kesuksesan pengobatan diabetes melitus, dengan studi menunjukkan kepatuhan DM tipe 1 berkisar 70-83% dan tipe 2 sekitar 64-78%. Aktivitas fisik dapat menurunkan kadar gula darah, penggunaan glukosa dalam otot yang tidak memerlukan insulin. aktivitas fisik teratur, seperti jalan kaki, adalah salah satu cara efektif untuk mengelola diabetes. Mengetahui Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat dan Aktivitas Fisik Terhadap Kadar Gula Darah Pasien DM tipe II di Poli Penyakit Dalam RSUD Hanau Kalimantan Tengah. Jenis Penelitian adalah Kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini 67 orang dengan purposive sampling. Populasi yang diambil yaitu pasien dengan diabetes mellitus tipe II. Instrumen yang digunakan adalah MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) dengan validitas konstruk MMAS-8 sebesar r = 0,38 (p < 0,001). Uji reliabilitas internal dengan Cronbach’s Alpha = 0,83. Kuesioner GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire) menunjukkan korelasi moderat dengan accelerometer dan IPAQ (r = 0,48–0,65). Nilai Cronbach’s Alpha GPAQ versi Indonesia = 0,76–0,83 menandakan konsistensi internal yang baik. Berdasarkan hasil Penelitian menggunakan uji spearman Rank menunjukan nilai yang signifikan sebesar 0.000 yang lebih kecil dari 0.05 yang artinya ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan minum obat terhadap kadar gula darah pasien Diabetes Mellitus di Poli Penyakit Dalam begitu juga dengan aktivitas fisik nilai yang didapat signifikan sebesar 0.003 yang lebih kecil dari 0.05 sebagai taraf yang telah ditentukan (p value < α) sehingga hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik terhadap kadar gula darah pasien Diabetes Mellitus di Poli Penyakit Dalam.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku dengan Risiko Diabetes Melitus pada Mahasiswa Keperawatan Tingkat I Universitas Sari Mulia Banjarmasin Raiva Auliani; Onieqie Ayu Dhea Manto; Mohammad Basit; Rifa'atul Mahmudah
Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences Vol 7 No 1 (2026): Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences: April 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijnhs.v7i1.7650

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat, termasuk pada usia muda. Rendahnya, pengetahuan dan perilaku berisiko menjadi faktor yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya penyakit ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku dengan risiko diabetes melitus pada mahasiswa Keperawatan Tingkat I Universitas Sari Mulia Banjarmasin. Metode: penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional. Dengan jumlah sampel 48 responden, ditentukan melalui teknik total sampling. Instrumen penelitian meliputi kuesioner Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24), kuesioner perilaku, dan Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Sebanyak 52,1% responden memiliki pengetahuan cukup, 64,6% responden menunjukkan perilaku cukup, dan 81,3% responden memiliki risiko rendah terhadap diabetes melitus. Uji korelasi menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (p=0,000; r=0,623), pengetahuan dengan risiko diabetes melitus (p=0,000; r=-0,492), serta perilaku dengan risiko diabetes melitus (p=0,000; r=-0,720). Simpulan: Pengetahuan dan perilaku yang memadai berperan penting dalam menurunkan risiko diabetes melitus. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan dan pembentukan perilaku sehat sebagai upaya pencegahan, antara lain melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta peningkatan kesadaran melakukan pemeriksaan kesehatan.
Identifikasi Faktor Ekstrinsik pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Ipah Nurjanah; Onieqie Ayu Dhea Manto; Cynthia Eka Fayuning Tjomiadi; Ahmad Syahlani
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.805

Abstract

Diabetes Melitus Tipe II merupakan salah satu penyakit kronis yang mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor termasuk dari luar atau faktor ekstrinsik pada pasien Diabetes Melitus Tipe II. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor ekstrinsik yang berpotensi mempengaruhi angka kejadian pengelolaan Diabetes Melitus Tipe II pada pasien di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Dengan jumlah responden sebanyak 48 pasien Diabetes Melitus Tipe II yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dikumpulkan dan diuji dengan analia univariate. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sebagian besar pasien memiliki akses yang baik terhadap layanan Kesehatan (100%), mendapatkan dukungan sosial dalam kategori sedang (25,0%) hingga baik (75,0%), pola makan dalam kategori sedang (95,8%) hingga kurang baik (4,2%), dan aktivitas fisik dalam kategori sedang (95,8%) hingga rendah (4,2%). Simpulan penelitian ini, ditemukan bahwa terdapat beberapa faktor ekstrinsik yang masih memerlukan perhatian dan pembenahan lebih lanjut, terutama bagi tenaga Kesehatan dipuskesmas. Faktor-faktor tersebut meliputi dukungan sosial, pola makan dan aktivitas fisik pada pasien Diabetes Melitus tipe II.
Hubungan Tingkat Stres dan Emotional Eating (Over Eating) dengan Risiko Diabetes Mellitus pada Mahasiswa Kesehatan Semester Akhir Cindy Maulida; Onieqie Ayu Dhea Manto; Cynthia Eka Fayuning Tjomadi; Subhannur Rahman
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.818

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir seringkali menghadapi stres akademik yang tinggi akibat tuntutan tugas akhir. Kondisi stres ini dapat memicu perubahan pola makan yang dikenal sebagai emotional eating (over eating), yaitu kecenderungan makan sebagai respons terhadap emosi negatif. Perilaku makan ini menjadi salah satu faktor risiko gaya hidup yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya diabetes mellitus di kemudian hari. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan emotional eating (over eating) dengan risiko diabetes mellitus pada mahasiswa kesehatan semester akhir. Penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional, sampel penelitian dipilih dengan purposive sampling, sampel penelitian berjumlah 68 orang. Data dikumpulkan dengan membagikan kuesioner perceived stres scale (PSS-10), dutch eating behavior questionnaire (DEBQ), dan finnish diabetes risk score (FINDRISC). Analisis data menggunakan uji Korelasi Rank Spearman. Penelitian ini menunjukan nilai Sig.(2-tailed) tingkat stres dan emotional eating (0,879 dan 0,382). Nilai ini menunjukan tidak ada hubungan antara tingkat stres dan emotional eating (over eating) dengan risiko diabetes mellitus pada mahasiswa kesehatan semester akhir. Tingkat Stres dan Emotional Eating (Over Eating) tidak memiliki risiko Diabetes Mellitus saat ini akan tetapi hal ini bisa menjadi salah satu faktor penyebab apabila hal tersebut tidak ditangani dengan baik untuk jangka panjang.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG NIFAS HAMBAWANG RSUD SULTAN SURIANSYAH BANJARMASIN Khoirul Khoirul; Onieqie Ayu Dhea Manto; Malisa Ariani; Umi Hanik Fetriyah
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol. 11 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.4805

Abstract

Latar Belakang: ASI pertama keluar (kolostrum) mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit,melindungi dari infeksi, diare,dan ikterus. Survei Kesehatan Nasional Tahun 2023 cakupan pemberian kolostrum masih dibawah target dari target. Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal ibu meliputi tingkat pengetahuan,sikap, parietas, kondisi ibu serta faktor eksternal yaitu dukungan keluarga, petugas kesehatan dan budaya/ lingkungan.Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan  pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di Ruang Nifas Hambawang RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin.Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan survei analitik desain Cross Sectional. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan observasi rekam medik. Sampel seluruh ibu yang baru melahirkan di Ruang Nifas Hambawang RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin bulan November – Desember Tahun 2024 dengan jumlah 34 orang dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling. Analisa data menggunakan uji Kolmogoro Smirnov dan uji Chi- Square Fisher Exact.Hasil: Mayoritas usia responden 20-35 tahun sebanyak 23 orang(67,7%),  berpendidikan SMA 16 orang (47,1%), Paritas ibu multipara 20 orang (58,8%) dan  pekerjaan sebagai ibu rumah tangga  sebanyak 30orang (88,2%). Nilai p-value = 0,049 < ? 0,05  menunjukkan hubungan Tingkat pengetahuan dengan pemberian kolostrum. Nilai p- value = 0,196 > ? 0,05 tidak menunjukkan hubungan dukungan keluarga dengan pemberian kolostrum.Simpulan: Ada hubungan Tingkat pengetahuan dengan pemberian kolostrum dan tidak ada hubungan dukungan keluarga dengan pemberian kolostrum. Bagi tenaga Kesehatan diharapkan dapat mendukung pemberian kolostrum dengan meningkatkan edukasi saat ANC (Antenatal Care) dan melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Kata Kunci: Bayi baru lahir, dukungan keluarga, kolostrum, tingkat pengetahuan