Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Proses Pack Carburizing dengan Media Arang sebagai Alternatif Pembuatan Grip Mesin Uji Tarik Kurniyanto, Hendri Budi; Widodo, Eriek; Wahyudi, Mohammad Thoriq; Amri, Moh. Syaiful; Masyhuri Prasetyo, Mohamad Fanni
Jurnal Teknologi Maritim Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi Maritim
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35991/jtm.v8i1.57

Abstract

Mesin uji Tarik di Laboratorium Uji Bahan, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, dalam penggunaannya selalu digunakan secara kontinyu. Kondisi ini, komponen pencekamnya (grip) sangat diperhitungkan dan harus memiliki kekerasan permukaan dan nilai ketahanan keausan yang tinggi agar grip ini bisa digunakan berkali-kali. Apabila grip ini sudah terjadi keausan pada permukaannya, maka perlu dilakukan pergantian dengan grip baru. Grip ini dibeli secara import dari Jepang dan memiliki harganya cukup mahal. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian sebagai alternatif pembuatan grip baru. Penelitian ini menggunakan material SA 572 Gr 50 dengan proses pack carburizing waktu tahan 120 menit dengan variasi media arang kayu jati, arang tempurung kelapa, dan arang bambu menggunakan campuran katalisator barium karbonat (BaCO3) sebesar 20% dari berat arang pada temperatur 950 dilanjutkan quenching dengan media air. Pengujian pada penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh terhadap struktur mikro dan nilai kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan terbentuknya fasa martensit setelah perlakuan proses pack carburizing dengan variasi media arang kayu jati, arang tempurung kelapa, dan arang bambu, fasa martensit yang terbentuk lebih dominan pada variasi media arang tempurung kelapa daripada variasi media arang kayu jati dan arang bambu. Nilai kekerasan tertinggi dari penelitian ini adalah variasi media tempurung kelapa sebesar 856.7 HVN dan yang terendah adalah media arang kayu jati sebesar 806.8 HVN sedangkan media arang bambu sebesar 819.6 HVN.
Analisis Metode Temper Bead Welding sebagai Alternatif Pengganti PWHT pada Pembuatan Sulphuric Acid Storage Tank Miftachul Munir, Moh; Syaiful Amri, M.; Khoirul Rahmat, Imam; Bachtiar, Bachtiar; Victoria, Jaka
Jurnal Teknologi Maritim Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Maritim
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35991/jtm.v7i1.6

Abstract

Pada proyek EPC Smelter Manyar yang digunakan untuk pengolahan konsentrat tembaga, dilakukan pembuatan Sulfuric Acid Storage Tank yang menggunakan material SA 283 Grade C. Storage tank tersebut dilakukan proses heat treatment(PWHT, post weld heat treatment) yang bertujuan untuk mengurangi residual stress atau tegangan sisa pada material setelah dilakukan pengelasan. Proses pemanasan dan pendinginan saat pengelasan dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur mikro dan properties material sehingga menimbulkan residual stress setelah pengelasan selesai. Pada proyek EPC Manyar Smelter ini, pelat dengan thickness diatas 25 mm harus dilakukan PWHT atau stress relievingmelalui pemanasan pada temperatur dan jangka waktu tertentu. PWHT yang dilakukan di industri, memiliki kekurangan dalam pengerjaannya seperti terbatasnya furnace, biaya yang cukup besar dan membutuhkan waktu relatif lama. Oleh karena itu, perlu adanya solusi baru untuk meminimalisir kekurangan tersebut yaitu dengan metode temper bead welding(TBW). Temper bead welding (TBW) merupakan teknik pengelasan dengan menempatkan manik las (bead) pada lokasi tertentu pada proses pengelasan untuk merubah struktur mikro dan sifat mekanik pada material yang diharapkan memiliki sifat mekanik yang sama dengan metode PWHT. Teknik ini dalam perkembangannya, sangat efektif dan efisien dalam pengerjaan suatu proyek dan dapat mengurangi biaya yang besar. Hasil pengujian hardness pada teknik Temper Bead Welding menunjukkan nilai rata-rata hardness lebih tinggi daripada teknik PWHT, namun masih memenuhi syarat keberterimaan material SA 283 Grade C, pada standard NACE 0294 yaitu maksimal 248 HV. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa teknik Temper Bead Welding ini dapat digunakan sebagai alternatif pengganti PWHT.
Analisis Kuat Arus Dissimilar Welding Terhadap Metalografi, Nilai Kekerasan dan Uji Torsi Proses Arc Stud Welding Pada Produk Hopper Amri, Moh. Syaiful; Mukhlis; Bachtiar; Ari, Muhammad; Hamzah, Faiz; Wibowo, Alvalo Toto
Jurnal Teknologi Maritim Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Teknologi Maritim
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35991/jtm.v7i2.35

Abstract

Industri manufaktur memainkan peran penting dalam meningkatkan perekonomian nasional. Salah satu metode penyambungan logam yang saat ini digunakan adalah pengelasan arc stud welding. Pengelasan stud sendiri digunakan untuk pengelasan baut yang berguna untuk menyambung bagian pada suatu kontruksi baja. Penelitian ini dilakukan dengan variasi parameter kuat arus 200A, 400A, dan 600A dengan waktu pengelasan 1 detik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan parameter terbaik untuk mengetahui kedalaman penetrasi, heat affected zone dan zona fusi sambungan pengelasan pada material A36, tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan parameter yang ideal. Hasil pengujian makro menunjukkan bahwa tidak ada cacat seperti retak pada dasar logam, HAZ atau weld metal, atau cacat lainnya seperti persyaratan penerimaan ASME sec. IX. Selain itu, karena tidak ada masukan panas yang maksimal pada area dasar logam A36 dan SS 304, hasil pengujian mikro tidak menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Pada pengujian hardness daerah weld metal memperoleh nilai tertinggi, dengan nilai rata-rata terendah 192,85 HVN pada spesimen stud 1, dan nilai rata-rata tertinggi pada spesimen stud 3 adalah 201,59 HVN. Pada pengujian torsi menujukan bahwa variasi kuat arus dan waktu pengelasan mempengaruhi besar nilainya uji torsi, pada spesimen 9 menunjukan mencapai kekuatan hingga 80 Nm.
Pemanfaatan Teknologi Las untuk Meningkatkan Keterampilan Masyarakat dalam Mendukung Wisata Religi Desa Al Amin, Mochammad Karim; Kurniyanto, Hendri Budi; Amri, Moh Syaiful; Wibowo, Alvalo Toto; Anggara, Dika; Kusminah, Imah Luluk; Rohmat, Imam Khoirul; Nisazarifa, Adristi; Sasongko, Kukilo Edy; Mustain, Eko
Qardhul Hasan: Media Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 2 (2025): Qardhul Hasan: Media Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/qh.v11i2.20925

Abstract

Warga Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, saat ini masih minim pengetahuan dan keahlian dasar pengelasan. Di sisi lain, dunia industry menuntut tenaga kerja yang semakin terspesialisasi, terutama dalam proses dan mutu hasil las. Agar desa mampu bersaing, peningkatan kompetensi serta profesionalisme penduduk mutlak diperlukan-salah satunya lewat program pelatihan pengelasan dasar. Kegiatan pengabdian ini dirancang mendukung pengembangan Desa Balun sebagai destinasi wisata religi sekaligus “Desa Pancasila yang dikenal karena toleransi nya yang tinggi berkat keberadaan enam rumah ibadah (Hindu, Buddha, Islam, Kristen, Katolik, dan Konghucu). Pelatihan pengelasan ditargetkan membantu memperbaiki serta membangun sarana-prasarana penunjang pariwisata tersebut. Riset dilakukan memakai pendekatan kualitatif-partisipatif melalui observasi lapangan, dan penyebaran angket. Hasilnya memperlihatkan bahwa pendampingan terstruktur mampu meningkatkan keterampilan warga memproduksi kerajinan berbahan logam, berdampak langsung pada kenaikan pendapatan. Penguasaan teknik pengelasan juga mempercepat pembangunan dan pemeliharaan fasilitas wisata, sehingga daya tarik kawasan religi kian tumbuh. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi dan pelatihan pengelasan terbukti efektif menumbuhkan partisipasi masyarakat serta meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur wisata di Desa Balun.
Analisis Kuat Arus Pengelasan Sambungan Tube to Tubesheet Stainless Steel Type 316L Terhadap Struktur Mikro, dan Kekerasan di Heat Exchanger Moh. Syaiful Amri; Bachtiar; Moh. Miftachul Munir; Mukhlis; Muhammad Ari; Mohammad Thoriq Wahyudi; Kurniawan, Ilham; Haruri, Rikko Harli
Jurnal Teknologi Maritim Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Maritim
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35991/jtm.v8i2.78

Abstract

Sambungan tube to tubesheet pada heat exchanger berperan penting dalam menjamin kinerja dan keandalan operasi. Variasi kuat arus pengelasan Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) memengaruhi heat input yang berdampak pada struktur mikro, struktur makro, dan sifat mekanik sambungan. Penelitian ini menganalisis pengaruh arus 110 A, 130 A, dan 150 A pada sambungan tube SA-213 TP316L ke tubesheet SA-240 TP316L setelah tube expansion sebesar 8% sesuai standar TEMA edisi ke-11. Pengujian meliputi uji mikro, makro, dan kekerasan metode Vickers pada enam zona. Hasil menunjukkan bahwa kenaikan arus meningkatkan heat input, memengaruhi lebar Heat Affected Zone (HAZ) dan morfologi butir. Arus 150 A menghasilkan fusi sempurna tanpa cacat makro, memperhalus butir pada zona las, serta memberikan kekerasan tertinggi 357,4 Kgf/mm2 pada area of expand, sedangkan kekerasan terendah 182,0 Kgf/mm2 tercatat pada base metal tube (110 A). Peningkatan kekerasan weld metal dari 200,8 Kgf/mm2 menjadi 225,8 Kgf/mm2 menandakan kontribusi heat input optimal dalam pembentukan butir halus. Nilai tinggi pada area of expand disebabkan strain hardening akibat proses ekspansi. Pemilihan arus optimal terbukti penting untuk integritas sambungan dan sifat mekanik yang baik.
Analisis Variasi Jenis Elektroda Buffer Layer Pada Proses Hardfacing Material ASTM A216 WCB Terhadap Uji Visual, Uji Penetran Dan Makro Toto, Alvalo; Al Amin, Mochammad Karim; Wahyudi, M. Thoriq; Budi Kurniyanto, Hendri; Amri, Moh. Syaiful; Firmansyah, Moch. Aria; Leonard, Rikky
Jurnal Teknologi Maritim Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Maritim (In Press)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35991/jtm.v9i1.76

Abstract

ASTM A216 WCB is a cast carbon steel material commonly used in valve components due to its good mechanical properties and resistance to high temperatures. One of the major issues encountered in its application is surface wear. To enhance surface hardness and wear resistance, a hardfacing process was conducted using the GTAW welding method. This involved the application of buffer layers using ER308 and ER309 filler metals, followed by hardfacing layers of Stellite 12. A total of four specimens were prepared with varying combinations of buffer and hardfacing layer numbers. The visual inspection results indicated the absence of surface defects in all specimens, demonstrating good welding quality. Dye penetrant testing revealed a non-relevant indication on specimen 3 with a size of 1.3 mm, which remains within the acceptable limits as per ASME Section IX standards. Macroscopic examination showed sound fusion between layers, free from defects such as porosity or cracks. The deepest weld penetration was observed in specimen 4, which used the ER309 buffer layer, achieving a depth of 1.5 mm. Overall, the use of ER308 and ER309 buffer layers significantly influenced the quality of the hardfacing welds, contributing to the formation of homogeneous and defect-free layers. This study provides valuable insight into material selection and welding parameters to improve wear resistance in ASTM A216 WCB-based valve components within industrial environments.
Analysis of variations in the number of layers of hardfacing overlay ABREX 500 material on hardness,impact strength and microstructure with the SMAW process Amri, Moh. Syaiful; Anggara, Dika; rohmat, Imam Khoirul; Kurniyanto, Hendri Budi; Pradana, Dika Septya
Journal of Welding Technology Vol 5, No 2 (2023): December
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jowt.v5i2.4286

Abstract

Hardfacing is a welding technique that functions to increase the surface hardness value of a material. Generally, hardfacing is done on low-carbon steel materials because low-carbon steel cannot be increased in hardness by heat treatment. For this reason, research will be carried out on the multilayer hardfacing process with the aim of obtaining optimal layer hardness. The methodology in this research is that multilayer hardfacing welding will be carried out consisting of 3 layers, 4 layers, and 5 layers, and each specimen has 2 buffer layer layers with E 309 electrodes for the hardfacing layer using HV 600 electrodes. This research reveals the influence of the number of layers of hardfacing on the hardness and toughness values. ABREX 500 material with a size of 150x150x10 mm was welded using the SMAW process using a current of 130 A. In this research, hardness and toughness tests were carried out. On test results. The base metal microstructure is dominated by a tempered martensite structure with a small amount of bainite and pearlite. In the structural area of the support layer, austenite and vermicular ferrite dominate. In the hardfacing layer area, austenite and vermicular ferrite, which are in dendritic form, dominate. The increase in hardness will occur significantly after hardfacing is carried out on the base metal. In a specimen, the more layers of hardfacing are added, the harder the material will be. The hardness of the specimen in 5 layers gets the most optimal value (higher) when compared with the hardness in 3 layers and 4 layers. In the 5-layer specimen, the resulting hardness value was 482.13 kgf/mm2, for the 4-layer specimen, the average value was 464.83 kgf/mm2, and in the 3-layer specimen, the hardness value was 444.13 kgf/mm2. For toughness testing, the highest toughness value was obtained, namely 1.32 (J/mm2) for the 3 layers specimen, compared to 4 layers with a toughness value of 1.25 (J/mm2) and 5 layer with a toughness value of 1.19 (J/mm2). The toughness value decreases as the hardness value increases.
Analysis of quenching temperature variations in the heat straightening processFor multiple ripair FCAW welding HSLA SM490YA material Wahyudi, Mohammad Thoriq; Amri, Moh Syaiful Amri; Ari, Muhamad; Adam, Mukhlis; Hamzah, Fais; Novaldi, Azriel Harsha
Journal of Welding Technology Vol 5, No 2 (2023): December
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jowt.v5i2.4633

Abstract

In the steel structure fabrication industry, girders play a crucial role as supporting beams during construction. The girder's components include end plates and beams, with the end plate serving as a critical connection point for the beam to the column. Welding at this juncture demands careful consideration. This analytical research focuses on the impact of multiple repair welding and quenching temperatures during the heat straightening process on the toughness and microstructure of HSLA SM490YA material, utilizing FCAW welding. To assess the effects of multiple repair welding, the study compares different repair scenarios—welding without repair, two repairs, and three repairs, all performed at a 50% depth. Subsequently, the heat straightening process occurs at a temperature of 650ºC on the repaired material. Post-heat straightening, quenching is carried out with temperature variations of 650ºC, 475ºC, and 300ºC. The findings indicate that the repair process during welding and subsequent quenching after the heat straightening process leads to a decrease in toughness values. This results in a finer grain size, with the material phase predominantly composed of pearlite. These research outcomes should be carefully considered by industry professionals, particularly in critical connections, when determining quenching temperatures after the heat straightening process in repair procedures.
Analysis of Tube Expansion Percentage on Microstructure and Hardness of 316L Stainless Steel Tube-to-Tubesheet Connections with GTAW Process Syaiful Amri, Moh.; Bachtiar, Bachtiar; Miftachul Munir, Moh.; Mukhlis, Mukhlis; Ari, Muhammad; Kurniawan, Ilham
Journal of Mechanical Engineering, Science, and Innovation Vol 5, No 2 (2025): (October)
Publisher : Mechanical Engineering Department - Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jmesi.2025.v5i2.8161

Abstract

This study analyzes the effect of varying tube expansion percentages on the mechanical properties, microstructure, and hardness of SA-213 TP316L tubes joined to SA-240 TP316L tubesheets in a shell-and-tube type heat exchanger. The tube expansion process was carried out using a roller expander with three expansion levels: 4%, 8%, and 12%, followed by Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) at 150 A. Microstructural observations revealed that all joint zones were dominated by austenite with small amounts of delta ferrite, where increasing expansion percentages induced significant changes in the expand area: slight deformation at 4%, grain elongation at 8%, and pronounced grain distortion at 12%. Macrostructural observations showed perfect fusion between the tube and tubesheet for all variations, with no macro defects such as lack of fusion or porosity. Vickers hardness testing indicated the highest values in the expand area for all variations, with a maximum of 377 Kgf/mm², exceeding the standard limit of 250 Kgf/mm² for stainless steel. The hardness of the base metal was around 180 Kgf/mm², while the weld metal ranged from 220–230 Kgf/mm² due to delta ferrite formation. The increase in hardness in the expand area was attributed to cold working effects, indicating that post-tube expansion heat treatment is necessary to reduce residual stresses and restore the optimal mechanical properties of the material.