Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Risiko Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Pedesaan Daerah Perbatasan Kabupaten Nunukan Waris, Lukman; Rahayu, Nita; Indriyati, Liestiana
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.109 KB)

Abstract

High prevalence of worm infection in Indonesia (70-80%) partially identified as Soil Transmitted Helminthes (STH) from Nematodes, but Cestodes and Trematodes is also found in Indonesia. Worm infection named as neglected diseases because it doesn’t cause mortality although reduced the quality of human resources. It will be important to do research to get the worm infection database for the effective planning action in worm infection fighting. It was an observational research by cross sectional design; research had been done in March-December 2010 in Nunukan, one of border areas, at 9 public health center areas. Population were all students of primary school in Nunukan, samples were primary school students chosen by purposive sampling. The research had been done by explain informed consent, distribution and collection of feces pot and microscopic analysis by direct method. Data were analyzed by Chi square in SPSS-13.0 program.The microscopic analysis found 20.8% positive worm infection of 1126 samples. The highest is caused by STH that is Ascaris lumbricoides and the highest proportion is found in village areas that the environment modification and infrastructure development doesn’t work well. Students of primary school in the village areas have almost five fold risk to get worm infection than city areas. Worm infection tends to be higher in village areas compare to that of city areas because the environment modification and infrastructure development in city areas is better than village areas.Keywords: eggs worm, Nunukan, proportion AbstrakPrevalensi cacing usus di Indonesia masih tinggi (70-80%) sebagian besar diidentifikasi sebagai Soil Transmitted Helmintes (STH) dari golongan Nematoda, tetapi cacing yang berasal dari golongan Cestoda dan Trematoda juga ditemukan di Indonesia. Kecacingan disebut sebagai penyakit yang terabaikan (Neglected Disease) karena dianggap penyakit yang tidak menyebabkan kematian, meskipun mengurangi kualitas sumber daya manusia. Penelitian Ini penting dilakukan untuk memperoleh database kecacingan, untuk tindakan perencanaan yang efektif dalam pemberantasan kecacingan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan Desain Cross Sectional; Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Desember 2010 di Nunukan, salah satu wilayah perbatasan, pada 9 wilayah puskesmas. Populasi adalah semua siswa sekolah dasar di Nunukan, sampel adalah siswa sekolah dasar yang dipilih secara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menjelaskan informed consent, distribusi dan mengumpulkani kotoran pada pot dan analisis mikroskopis dengan metode langsung. Data dianalisis dengan Chi-Kuadrat dalam program SPSS-13.0. Pada analisis mikroskopis ditemukan positif kecacingan 20,8% dari 1126 sampel. Penyebab tertinggi adalah STH yang Ascaris lumbricoides dan proporsi tertinggi ditemukan di daerah pedesaan yang penataan lingkungan dan pembangunan infrastruktur tidak dilaksanakan dengan baik. Siswa sekolah dasar di daerah pedesaan hampir lima kali beresiko untuk mendapatkan kecacingan daripada daerah kota. Kecacingan cenderung lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan dengan di daerah perkotaan, karena penataan lingkungan dan pembangunan infrastruktur di daerah kota lebih baik daripada daerah pedesaan.Kata kunci: Telur Cacing, Nunukan, Proporsi
Determinan Kepatuhan Berobat Pasien Hipertensi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat I Liberty, Iche A.; Pariyana, Pariyana; Roflin, Eddy; Waris, Lukman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.8048

Abstract

Puskesmas is a First Level Health Facility Until now, the management of non-communicable diseases which is still a big challenge in Puskesmas is hypertension. One effort that can be done to reduce the morbidity rate of hypertension is the consumption of antihypertensive, but still few patients who adhere to this treatment. This study aims to analyze the determinants of adherence in patients undergoing treatment of hypertension and how it affects blood pressure control of hypertensive patients. This research is an observational analytic research with cross sectional approach. This research was conducted in Palembang city from August to October 2017. The samples were patients who went to Puskesmas Karyajaya, Kenten, Plaju, Sei Baung, and Campus which fulfilled the inclusion criteria with a total sample of 90 patients. Data analysis in this research was univariate and bivariate analysis with Chi Square Test. Determinant which influence to adherence in this research was duration of hypertension with POR 0,11 with CI 95% 0,02-0,52 (p value = 0,04). While other determinants of gender, age, education level, occupation, Body Mass Index, BPJS participation, and family history of hypertension have no significant effect on hypertension patient’s treatment compliance. Compliance of patients in undergoing treatment of hypertension is also a determinant that affects the control of blood pressure of respondents. The determinants that affect the adherence in this study are duration of hypertension, thus health workers at first-level facility is very necessary attention to a history of hypertension patients in order to improve therapeutic efficacy.Keyword: Determinan, Adherence, High Blood Pressure
Implementasi Pelayanan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumahsakit PONEK di Indonesia Herdarwan, Harimat; Waris, Lukman; Siswati, Tri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.8099

Abstract

Angka kematian neonatal dan angka kematian balita di Indonesia masih tinggi. Kasus kegawatdaruratan merupakan penyebab tingginya angka kematian tersebut. Rumahsakit Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam merupakan rumahsakit rujukan dengan visi mempercepat penurunan angka kematian neonatus dan angka kematian balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pelayanan neonatal emergensi pada rumahsakit PONEK 24 jamdiIndonesia.Penelitian didesain dengan  pendekatan mixmethod yaitu pembauran antara studi kuantitatif dan kualitatif. Studi kuantitatif adalah cross sectional dan studi kualitatif adalah Rapid Assesment Procedure yang dilakukan pada tahun 2014. Penelitian dilakukan di rumahsakit di Indonesia dengan kriteria rumahsakit PONEK 24 jam, telah menerima sosialisasi tentang PONEK, dipilih secara random di 7 provinsi di Indonesia masing-masing 2 rumahsakit tiap provinsi. Berdasarkan kriteria tersebut sebanyak 14 rumahsakit diobservasi dalam penelitian ini. Data kuantitatif yang dikumpulkan meliputi pelayanan klinis, manajemen, sarana dan prasarana, ketenagaan dan pendanaan. Data dikumpulkan dengan cara observasi, telaah dokumen dan wawancara. Data kualitatif yang dikumpulkan meliputi proses, hambatan, dan keberhasilan PONEK dengan cara indepth interview dengan informan kunci direktur rumahsakit, ketua komite medik dan dokter spesialis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumahsakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi 24 jam, KMC dan   aksesibilitas darah yang memadai. Pelayanan neonatal emergensi telah didukung dengan jenis tenaga profesional, komitmen direktur rumahsakit yang tinggi, MoU dengan IDI, kerjasama dengan NGO serta ruangan, sarana dan prasarana yang memadai. Keberhasilan rumahsakit PONEK 24 jam didukung oleh kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan rumahsakit. Namun di beberapa rumahsakit kurangnya tenaga terlatih, jumlah tenaga, tidak ada tim, sarana dan prasarana serta ruangan menjadi alasan rumahsakit tidak melaksanakan PONEK. Kesimpulan: beberapa rumahsakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi komprehensif 24 jam, namun masih perlu mendapat perhatian dalam hal pelatihan dan jumlah tenaga, biaya, sarana dan prasarana serta ruangan yang memadai.Kata Kunci : neonatal, emergensi, rumahsakit, rujukan.
Penganggaran dan Penerimaan Dana Kapitasi Program JKN di Daerah Terpencil Kabupaten Kepulauan Mentawai Fitrianeti, Desi; Waris, Lukman; Yulianti, Anni
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.8105

Abstract

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dilaksanakan atas hak setiap warga negara memperoleh layanan kesehatan, baik yang bertempat tinggal di perkotaan maupun di perdesaan termasuk di daerah terpencil perbatasan kepualauan. Pelaksana program JKN dilaksanakan oleh unit pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan kesehatan di puskesmas sampai dengan pelayanan kesehatan rujukan di rumahsakit dengan pembayaran yangdilakukanolehBadan Pelaksana Jaminan Sosial Kesehatan(BPJS) kepada unit pelaksana pelayanan kesehatan dengan mekanisme transfer berdasarkan sistem dana kapitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan penganggaran dan penerimaan dana kapitasi tenaga kesehatan program jaminan kesehatan nasional di daerah terpencil Puskesmas Mapaddegat Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan mengunakan metode kualitatif. Pengumpulan informasi melalui observasi wawancara mendalam terhadap informan dan informan kunci dan Dokumentasi. Penelitian dilaksanakan bulan Januari s/d juni 2017. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pelaksanaan penganggaran dan penerima dana kapitasi tenaga kesehatan pada tahun 2014-2015 belum berjalan sesuai ketentuan pembayaran, tahun 2016 masih ditemukan permasalahan pembayaran norma kapitasi oleh BPJS Kesehatan sudah normatif namun belum sesuai den- gan jumlah peserta yang terdaftar. Tahun 2017 penerimaan dana kapitasi sudah berjalan lebih baik dibuktikan dengan telah teradministrasi dan terdokumentasi semua bentuk pemanfaatan dan realisasi belanja pencairan dana kapitasi untuk seluruh petugas di puskesmas dan  jaringannya.Kata kunci:Tenaga kesehatan, penganggaran, penerimaan dana kapitasi dan program JKN
Faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil Memilih Penolong Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai Desi Fitria Neti; Lukman Waris; Aris Yulianto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.584 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.126

Abstract

Abstrak Kematian ibu dan anak masih menjadi masalah kesehatan. Risiko mengalami kematian ibu atau bayi bagi ibu melahirkan sangat dipengaruhi di mana seorang ibu hamil memilih penolong persalinan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam memilih penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai. Metode penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan pada Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatrera Barat bulan Maret 2017. Teknik pengambilan sampel secara random sampling, data dianalisis dengan menggunakan SPSS. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Hasil penelitian Ibu hamil di wilayah Puskesmas Malakopa yang memilih bersalin dengan tenaga kesehatan sebesar 62,9%, persalinan ditolong oleh tenaga non kesehatan sebesar 37,1%. Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara faktor internal dan eksternal pada kelompok ibu hamil terhadap pemilihan penolong persalinan. Untuk itu disarankan dalam meningkatkan cakupan persalinan nakes di wilayah kerja Puskesmas Malakopa Kabupaten Kepulauan Mentawai diperlukan perhatian kusus bagi tenaga kesehatan terhadap faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam memilih penolong persalinan. Kata kunci: Ibu Hamil, Penolong Persalinan Abstract Maternal and child mortality is still becoming health problem. The risk of having a mother or baby’s death for the mother of childbirth is strongly influenced where a pregnant woman chooses a birth attendant. This study aimed to determine the factors that influence pregnant women in choosing birth attendants in the working area of Malakopa Health Center, Mentawai Islands District. This research is quantitative method with cross- sectional design. Data was collected at Malakopa Health Center, Mentawai Islands District, West Sumatera Province, in March 2017. The sampling technique was random sampling. Data was analyzed using SPSS. Collecting data through observation, interviews, and document review. The results of the study of pregnant women in the Malakopa Health Center area who chose to give birth with health workers were 62.9%, deliveries were assisted by non-health workers by 37.1%. The statistic test showed no significant relationship between internal and external factors in the group of pregnant women on the selection of birth attendants. It is recommended that in increasing coverage of health workers in the working area of the Malakopa Health Center, Mentawai District need special attention for health workers on factors that affect pregnant women in choosing birth attendants. Keywords: Pregnant Women, Birth attendants
Determinan Kepatuhan Berobat Pasien Hipertensi Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat I Iche Andriyani Liberty; Pariyana Pariyana; Eddy Roflin; Lukman Waris
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.833 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.428

Abstract

Abstrak Puskesmas merupakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang berfungsi menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan secara paripurna. Hingga saat ini penyakit tidak menular yang masih merupakan tantangan besar di Puskesmas dalam menurunkan angka morbiditas hipertensi adalah adalah tatalaksana hipertensi salah satunya adalah tingkat kepatuhan mengkonsumsi obat antihipertensi bagi penderita masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kepatuhan pasien menjalani pengobatan hipertensi dan pengaruhnya terhadap kendali tekanan darah pasien hipertensi. Metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di kota Palembang pada bulan Agustus sampai Oktober 2017. Sampel adalah pasien yang berobat ke Puskesmas Karyajaya, Kenten, Plaju, Sei Baung, dan Kampus. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 90 pasien. Analisis data dengan analisis univariat dan bivariat dengan Chi Square Test. Determinan yang berpengaruh terhadap kepatuhan pasien hipertensi dalam mengkonsumsi obat adalah lama menderita hipertensi: POR: 0,11, nilai p =0,04 (CI 95% 0,02-0,52).Determinan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, Indeks Massa Tubuh, keikutansertaan BPJS, dan riwayat hipertensi dalam keluarga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan berobat pasien hipertensi. Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hipertensi juga merupakan determinan yang berpengaruh terhadap kendali tekanan darah responden. Keberhasilan terapi hipertensi di tingkat pelayanan pertama bisa meningkat, maka disarankan bagi tenaga kesehatan memperhatikan lama atau riwayat menderita hipertensi pasien dalam memberikan pelayanan. Abstract Puskesmas is a First Level Health Facility Until now, the management of non-communicable diseases which is still a big challenge in Puskesmas is hypertension. One effort that can be done to reduce the morbidity rate of hypertension is the consumption of antihypertensive, but still few patients who adhere to this treatment.This study aims to analyze the determinants of adherence in patients undergoing treatment of hypertension and how it affects blood pressure control of hypertensive patients. This research is an observational analytic research with cross sectional approach. This research was conducted in Palembang city from August to October 2017. The samples were patients who went to Puskesmas Karyajaya, Kenten, Plaju, Sei Baung, and Campus which fulfilled the inclusion criteria with a total sample of 90 patients. Data analysis in this research was univariate and bivariate analysis with Chi Square Test. Determinant which influence to adherence in this research was duration of hypertension with POR 0,11 with CI 95% 0,02-0,52 (p value = 0,04). While other determinants of gender, age, education level, occupation, Body Mass Index, BPJS participation, and family history of hypertension have no significant effect on hypertension patient’s treatment compliance. Compliance of patients in undergoing treatment of hypertension is also a determinant that affects the control of blood pressure of respondents. The determinants that affect the adherence in this study are duration of hypertension, thus health workers at first-level facility is very necessary attention to a history of hypertension patients in order to improve therapeutic efficacy.
Implementasi Pelayanan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumah Sakit PONEK di Indonesia Harimat Hendarwan; Lukman Waris; Tri Siswati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.453 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.502

Abstract

Abstrak Angka kematian neonatal dan angka kematian balita di Indonesia masih tinggi. Kasus kegawatdaruratan merupakan penyebab tingginya angka kematian tersebut. Rumah sakit Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam merupakan rumah sakit rujukan dengan visi mempercepat penurunan angka kematian neonatus dan angka kematian balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pelayanan neonatal emergensi pada rumah sakit PONEK 24 jam di Indonesia. Penelitian didesain dengan pendekatan mix method yaitu pembauran antara studi kuantitatif dan kualitatif. Studi kuantitatif adalah cross sectional dan studi kualitatif adalah Rapid Assesment Procedure yang dilakukan pada tahun 2014. Penelitian dilakukan di rumah sakit di Indonesia dengan kriteria rumah sakit PONEK 24 jam, telah menerima sosialisasi tentang PONEK, dipilih secara random di 7 provinsi di Indonesia masing-masing 2 rumah sakit tiap provinsi. Berdasarkan kriteria tersebut sebanyak 14 rumah sakit diobservasi dalam penelitian ini. Data kuantitatif yang dikumpulkan meliputi pelayanan klinis, manajemen, sarana dan prasarana, ketenagaan dan pendanaan. Data dikumpulkan dengan cara observasi, telaah dokumen dan wawancara. Data kualitatif yang dikumpulkan meliputi proses, hambatan, dan keberhasilan PONEK dengan cara indepth interview dengan informan kunci direktur rumah sakit, ketua komite medik dan dokter spesialis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah sakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi 24 jam, KMC dan aksesibilitas darah yang memadai. Pelayanan neonatal emergensi telah didukung dengan jenis tenaga profesional, komitmen direktur rumah sakit yang tinggi, MoU dengan IDI, kerjasama dengan NGO serta ruangan, sarana dan prasarana yang memadai. Keberhasilan rumah sakit PONEK 24 jam didukung oleh kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan rumahsakit. Namun di beberapa rumah sakit kurangnya tenaga terlatih, jumlah tenaga, tidak ada tim, sarana dan prasarana serta ruangan menjadi alasan rumah sakit tidak melaksanakan PONEK. Kesimpulan: beberapa rumah sakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi komprehensif 24 jam, namun masih perlu mendapat perhatian dalam hal pelatihan dan jumlah tenaga, biaya, sarana dan prasarana serta ruangan yang memadai. Kata kunci: neonatal, emergensi, rumah sakit, rujukan Abstract Neonatal under-five mortality rate in Indonesia was still high, while the emergency cases were the most of its causes. Emergency neonatal care (EmNC) hospital was a referral provider to accelerate decline in neonatal and under-five mortality. This research aimed to observe the implementation of emergency neonatal services at referal hospitals in Indonesia. This study was a cross sectional study with quantitative and qualitative design. The study was conducted in all of referal hospital in Indonesia with criterian socialized emergency neonatal care. Based on these criteria as many as 14 hospitals in 7 provinces were observed in this study. The quantitative data collected includes clinical services, management, facilities and infrastructure, manpower and funding. Data were collected by observation, document review and interview. The qualitative were collected including the process, constraints, and attainment of emergencies services by indepth interviews to directors, medical committee heads, and specialists as informants. The results show that most hospitals provided 24-hour emergency neonatal services, KMC and adequate blood accessibility. Emergency neonatal care has been supported by professionals (i.e doctor, obsgyn, anaesthetician, etc), commitment of hospital director, MoU with IDI and NGOs. The attainment of emergency neonatal care was supported by public awareness to utilize hospital services. Skilled physician, room, essensial supplies and equipment for performing certain emergency neonatal care functions were not available in several surveyed hospital. Some hospitals have implemented comprehensive emergency neonatal care, but still need number of skilled pshycisian, budget facilities, supplies and equipment. Keywords: neonatal, emergency, hospital, referal system
Penganggaran dan Penerimaan Dana Kapitasi Program JKN di Daerah Terpencil Kabupaten Kepulauan Mentawai Desi Fitria Neti; Lukman Waris; Anni Yulianti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.143 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.503

Abstract

Abstrak Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dilaksanakan atas hak setiap warga negara memperoleh layanan kesehatan, baik yang bertempat tinggal di perkotaan maupun di perdesaan termasuk di daerah terpencil perbatasan kepulauan. Pelaksana program JKN dilaksanakan oleh unit pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan kesehatan di puskesmas sampai dengan pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit dengan pembayaran yang dilakukan oleh Badan Pelaksana Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) kepada unit pelaksana pelayanan kesehatan dengan mekanisme transfer berdasarkan sistem dana kapitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan penganggaran dan penerimaan dana kapitasi tenaga kesehatan program jaminan kesehatan nasional di daerah terpencil Puskesmas Mapaddegat Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan mengunakan metode kualitatif. Pengumpulan informasi melalui observasi wawancara mendalam terhadap informan dan informan kunci dan Dokumentasi. Penelitian dilaksanakan bulan januari s/d juni 2017. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pelaksanaan penganggaran dan penerima dana kapitasi tenaga kesehatan pada tahun 2014-2015 belum berjalan sesuai ketentuan pembayaran, tahun 2016 masih ditemukan permasalahan pembayaran norma kapitasi oleh BPJS Kesehatan sudah normatif namun belum sesuai dengan jumlah peserta yang terdaftar. Tahun 2017 penerimaan dana kapitasi sudah berjalan lebih baik dibuktikan dengan telah teradministrasi dan terdokumentasi semua bentuk pemanfaatan dan realisasi belanja pencairan dana kapitasi untuk seluruh petugas di puskesmas dan jaringannya. Kata kunci: Tenaga kesehatan, penganggaran, penerimaan dana kapitasi dan program JKN. Abstract The National Health Insurance Program (JKN) is implemented on the right of every citizen to receive health services in both urban and rural areas, including in remote border areas of the island. Implementing the JKN program is implemented by health care unit starting from health service at puskesmas to referral health service in hospital with payment made by BPJS to health service implementation unit with transfer mechanism based on capitation fund system. This study aims to describe and analyze the implementation of budgeting and receiving capitation funds health workers national health insurance program in remote areas Mapaddegat Puskesmas Mentawai Islands by using qualitative methods. Information gathering through in-depth interview observation of key informants and informants and Documentation. The study was conducted from January to June 2017. The results of this study illustrate that the implementation of budgeting and recipients of capitation funds of health personnel in 2014-2015 has not run according to payment terms, in 2016 still found the problem of payment of capitation norms by BPJS Health has been normative but not in accordance with number of registered participants according to the provisions. In 2017, the capitation of the capitation funds has been better implemented as proven by the administration and documentation of all forms of utilization and realization of capitation fund disbursement expenditure for all officers at the puskesmas and its network. Keywords: Health Manpower, policy, budgeting, admission of capitation funds and Health Insurance Program.
IMPLEMENTASI INTERPROFESIONAL EDUCATION LITERASI REMAJA SEHAT PADA MASA PANDEMI COVID-19 Tri Siswati; Lukman Waris; Yustiana Olfah
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 10: Maret 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v1i10.1590

Abstract

Remaja adalah generasi penerus bangsa. Beberapa masalah kesehatan remaja meliputi kebiasaan konsumsi fast-food, asupan gizi tidak seimbang, kecukupan konsumsi harian buah dan sayur kurang, sedentary lifestyle, kesehatan mental, dan kurangnya PHBS. Masalah tersebut berpotensi semakin meningkat pada masa pandemic covid-19. Intervensi literasi kesehatan merupakan upaya yang penting untuk memberikan wawasan. Mitra kegiatan adalah SMP N 1 Sleman dengan partisipan seluruh siswa kelas VII sebanyak 224 siswa. Kegiatan dilakukan secara virtual dengan google-meet, tele health counselling melalui whatsapp dan kampanye melalui media social pada bulan Juli-Agustus 2020. Materi literasi meliputi gizi, kesehatan remaja, kesehatan mental, pertumbuhan dan perkembangan, kenakalan remaja, PHBS, serta produktivitas remaja di era pandemic covid-19. Pemateri terdiri dari keahlian bidang gizi, keperawatan, BKKBN, psikolog. Keberhasilan kegiatan diukur melalui rata-rata kehadiran siswa 75%, peningkatan pengetahuan 40% dan kampanye remaja sehat melalui media sosial. Hasil kegiatan menyatakan bahwa rata-rata kehadiran siswa adalah 80%, peningkatan pengetahuan sebesar 47%, dan pelaksanaan kampanye remaja sehat melalui media sosial.
A POOLED DATA ANALYSIS TO DETERMINE RISK FACTORS OF CHILDHOOD STUNTING IN INDONESIA Tri Siswati; Bunga Astria Paramashanti; Nova Pramestuti; Lukman Waris
Journal of Nutrition College Vol 12, No 1 (2023): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i1.35413

Abstract

Background: Stunting among children remains a public health concern in Indonesia, where the prevalence of stunting in rural areas is higher than in urban areas.Objectives: This study aimed to analyze risk factors for stunting and severe stunting among children aged 0-59 months in rural and urban Indonesia.Method: This cross-sectional study used pooled datasets from Indonesia’s Basic Health Research in 2007, 2010, and 2013. Our study samples included 38,246 children aged 0-59 months whose height-for-age Z-score (HAZ) was between -5.99 and 5.99 standard deviations. The primary outcomes were stunting and severe stunting, whereas dependent variables included factors at the child, household, and community levels. We apply Stata 13 for univariate, bivariate, and multivariate analysis.The prevalence of stunting and severe stunting was higher in rural than urban areas. On one hand, risk factors significantly associated with stunting and severe stunting in urban areas were low birth weight, maternal height, informal father’s occupation, low economic level, and children from East Indonesia and Sumatra. Furthermore, the father’s height was only associated with stunting, while the number of children >3 was only associated with severe stunting. On the other hand, risk factors age, low birth weight, maternal height, father’s height, household member 5-9 people, middle and low economic level were significantly associated with stunting and severe stunting in rural areas. Moreover, poor WASH was only associated with stunting, while informal mother occupation, low father education, number of household members > 9 people, and living in Sumatra and East Indonesia were associated with severe stunting in rural areas.Conclusion: Low birth weight, short parents, and economic income were risk factors for stunting and severe stunting children in urban and rural areas. Keywords: Children; Pooled data; Risk factors; Stunting