Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Minat Masyarakat Menabung Emas pada Unit Pegadaian Syariah Selayo Solok Putra, Muhammad Deni; Ningsih, Gusti Rahayu; Amelia, Frida
Al-bank: Journal of Islamic Banking and Finance Vol 1 No 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/ab.v1i1.2709

Abstract

Tujuan pembahasan ini untuk mengetahui penyebab kurangnya minat masyarakat untuk menabung emas pada Unit Pegadaian Syariah Selayo Solok. Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah jenis penelitian lapangan (field research), di mana dalam penelitian ini penulis akan menggambarkan tentang bagaimana minat masyarakat menabung emas pada Unit Pegadaian Syariah Selayo Solok. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat masyarakat Kabupaten Solok menabung emas pada Unit Pegadaian Syariah Selayo Solok masih kurang, untuk hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang produk Tabungan Emas, kurangnya sosialisasi ke masyarakat, ekonomi yang belum memadai, letak pemukiman masyarakat yang jauh dan Pegadaian tidak memiliki sistim antar jemput tabungan. Upaya yang dilakukan Pegadaian dalam menarik jumlah nasabah untuk transaksi tabungan emas yaitu dengan memberikan potongan harga dan pemberian souvenir. Keunggulan tabungan emas adalah menabung mulai dari jumlah yang rendah sampai jumlah yang tidak ditentukan, bisa dicetak dalam bentuk uang ataupun emas batangan, biaya administrasi yang murah, ditujukan untuk semua jenis kalangan masyarakat, sebagai investasi jangka panjang. Kelemahan tabungan emas adalah harga emas yang berfluktuasi, dikenakan biaya cetak.
When the State Plays “Philanthropist”: Social Aid as an Instrument of Power Legitimacy Putra, Muhammad Deni; Rofiki, Akhmad; Argantara, Zaid Raya; Utami, Sari; Addiarrahman, Addiarrahman; Ondri, Dino
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38327

Abstract

Social assistance, traditionally regarded as a governmental mechanism for advancing public welfare, frequently extends beyond its humanitarian role in practice and encompasses substantial political implications. Rather than exclusively targeting poverty reduction and inequality mitigation, social assistance is often employed strategically to legitimize and perpetuate state authority. This study critically investigates the reconstruction of social assistance policies as instruments of political domination, wherein the state is portrayed as a “benefactor” whose generosity elicits gratitude and loyalty. Utilizing a qualitative, literature-based methodology, the research identifies recurring patterns of politicization of social assistance across diverse contexts. The findings reveal that political legitimacy is constructed through multiple interconnected mechanisms: the selective allocation of aid serving as political patronage; the internalization of the state’s “savior” narrative via symbolic violence that redefines assistance from a citizen’s entitlement to a discretionary favor; limited political literacy that restricts critical public engagement; and the utilization of aid delivery systems to map, monitor, and consolidate grassroots political support. Consequently, social assistance often becomes a transactional tool fostering clientelistic relationships, undermining democratic participation, and exacerbating social inequality. This study highlights the imperative to reform social assistance governance by emphasizing transparency, accountability, and a rights-based framework, alongside efforts to enhance critical political literacy within society. Abstrak: Bantuan sosial yang secara konvensional dipahami sebagai alat negara untuk mensejahterakan masyarakat, dalam praktiknya sering beroperasi melampaui fungsi kemanusiaan dan menyimpan dimensi politik yang signifikan. Alih-alih semata ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan, bantuan sosial kerap diposisikan sebagai instrumen strategis untuk melegitimasi dan mempertahankan kekuasaan negara. Penelitian ini bertujuan menelaah secara kritis bagaimana kebijakan bantuan sosial direkonstruksi untuk menopang dominasi politik dengan membingkai negara sebagai “dermawan” yang kebaikannya menuntut rasa syukur dan loyalitas. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini mengidentifikasi pola politisasi bantuan sosial dalam berbagai konteks. Temuan menunjukkan bahwa legitimasi kekuasaan dibangun melalui beberapa mekanisme yang saling terkait: distribusi bantuan yang selektif sebagai sistem imbalan politik; internalisasi narasi negara sebagai “penyelamat” melalui kekerasan simbolik yang menggeser makna bantuan dari hak warga menjadi pemberian; rendahnya literasi politik yang membatasi kesadaran kritis masyarakat; serta pemanfaatan infrastruktur bantuan untuk memetakan dan mengonsolidasikan dukungan politik di tingkat akar rumput. Akibatnya, bantuan sosial cenderung berubah menjadi instrumen transaksional yang memproduksi relasi klientelistik, melemahkan partisipasi demokratis, dan memperdalam ketimpangan sosial. Studi ini menegaskan urgensi reformasi tata kelola bantuan sosial berbasis transparansi, akuntabilitas, dan pendekatan berbasis hak, disertai penguatan literasi politik kritis masyarakat.
Mediated Compassion: The Role of Influencers and Digital Celebrities in Promoting a Culture of Philanthropy in Indonesia Putra, Muhammad Deni; Bello Ahmad, Aliyu; Shaikh, Sirajuddin
Asian Journal of Media and Culture Vol. 2 No. 1 (2026): Asian Journal of Media and Culture
Publisher : MD Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63919/ajmc.v2i1.69

Abstract

The digital era has transformed philanthropic practices, shifting them onto social media platforms where visibility and performance intersect with traditional values of sincerity. This study aims to analyze the role of influencers and digital celebrities in mediating compassion and shaping a new philanthropic culture in Indonesia. Using a qualitative literature study approach, this research examines scholarly works, reports, and digital campaigns related to philanthropy on platforms like Instagram, TikTok, and YouTube. Findings indicate that influencers act as “new moral actors” who expand the reach of philanthropy but also create tensions between sincerity and digital performativity. Digital media serves as both a communication channel and a cultural arena where religious and social values are negotiated. This study concludes that the success of digital philanthropy depends not on virality alone, but on its ability to deepen social solidarity and ethical awareness, requiring a balance between technological logic and humanistic values.