Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

URGENSI PENDAFTARAN KEKAYAAN INTELEKTUAL KOMUNAL SEBAGAI UPAYA PREVENTIF TERHADAP KLAIM PIHAK ASING ATAS BUDAYA LOKAL Hendar, Jejen; sri imaniyati, neni; Weishaguna; Faizal Adha, Ahmad; Trimelawati, Reni; Anugrah, Dikha
JIPRO: Journal of Intellectual Property JIPRO, Vol. 8, No.1, 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jipro.vol8.iss1.art3

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan budaya yang sangat melimpah, baik dalam bentuk ekspresi budaya tradisional, pengetahuan tradisional, maupun sumber daya genetik. Namun, belum optimalnya pendaftaran Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) telah membuka celah bagi pihak asing untuk mengklaim budaya lokal sebagai milik mereka. Fenomena ini menimbulkan kerugian secara identitas nasional, ekonomi, maupun kedaulatan budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji urgensi pendaftaran KIK sebagai upaya preventif terhadap klaim budaya oleh pihak asing. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, menggunakan bahan hukum primer dan sekunder yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Indonesia telah memiliki kerangka hukum terkait KIK, implementasinya masih lemah, terutama dalam aspek pendataan, sosialisasi, dan fasilitasi pendaftaran oleh negara. Pendaftaran KIK tidak hanya memberikan perlindungan hukum secara formil, tetapi juga berperan strategis dalam menjaga kedaulatan budaya nasional di tengah dinamika globalisasi dan perdagangan bebas. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta masyarakat adat untuk mempercepat proses pendaftaran dan perlindungan hukum atas kekayaan budaya komunal. Artikel ini merekomendasikan penguatan regulasi teknis, pembentukan sistem inventarisasi nasional, dan peningkatan kesadaran hukum masyarakat adat sebagai strategi konkret dalam mencegah klaim budaya oleh pihak asing.
Pseudo Spiritual Experience Religious and Cultural Tourism in West Java Rohman, Muhamad Iqbal Budi; Nurrohman, Aif Nanang; Putri, Liska Ananda; Weishaguna, Weishaguna; Kurniasari, Nia
Poltanesa Vol 25 No 1 (2024): June 2024
Publisher : P3KM Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/tanesa.v25i1.3035

Abstract

This research focuses on the issue of the lack of spiritual experience gained by visitors to religious and cultural tourism in Indonesiatourism cases for the Al Jabbar Grand Mosque, the Mount Padang Site, and the Sagati Cultural Park in West Java.The aim of this research is to identify the spiritual level of visitors to religious and cultural tourism objects in West Java.This problem is solved based on theories of the spiritual experiences of religious and cultural tourism visitors with variablesworship, science, da'wah, tadabur, diversity, self-reflection, and the search for meaning.This research uses two approaches, namely qualitative and quantitative. A qualitative approach was carried out using the Maudhu'i Al Qur'an and Hadith analysis method to identify the main ideas for the development of religious and cultural tourism as a whole.based on visitors' spiritual experiences. The quantitative approach in this research uses a descriptive statistical analysis method of respondents' answers regarding the level of spiritual experience of visitors. The results of this research conclude the classification of the spiritual level of tourist objects through an analysis of the differences between the reality of respondents' satisfaction answers in the field and the theoretical conception of the spiritual experience that visitors should have. This research also provides recommendations for improving the quality of spiritual experiences at religious and cultural tourism objects.
Pemberdayaan Komunitas Arsitek Desa melalui Rancang Taman Bermain Anak Usia Dini untuk Meningkatkan Ekonomi Kreatif Desa Citaman Nagreg Kabupaten Bandung intan Nurrachmi; Weishaguna Weishaguna; Erhamwilda Erhamwilda; Saeful Hidayat; Asti Fitriyanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 6, No 5 (2026): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v6i4.3118

Abstract

ABSTRACTCitaman Village, Nagreg District, Bandung Regency, is home to the Al Munawar Design Village Architect Community, consisting of 10 members with basic graphic design skills but no marketable design-service products. At the same time, the village has 213 early childhood learners who require educational play spaces. This community engagement program aimed to strengthen the community’s capacity to produce safe, educational, gamification-based playground designs with creative-economic potential. The program adopted an Asset-Based Community Development (ABCD) approach through asset identification, socialization, education, training, mentoring, implementation, monitoring, and evaluation. Data were collected through observation, interviews, focus group discussions, documentation, and pre-test/post-test questionnaires. The knowledge instrument comprised 10 indicators covering program orientation, local assets, child safety, community empowerment, the role of village architects, playground zoning, educational benefits, sketching stages, budget prioritization, and sustainability. Eleven participants completed the knowledge evaluation. The mean score increased from 97.33 at pre-test to 98.82 at post-test, representing an absolute gain of 1.49 percentage points. Eight of ten indicators reached 100% correct responses at post-test. The findings indicate that the intervention strengthened basic understanding, particularly regarding child safety, empowerment, budget prioritization, and sustainability. Digital design and visualization training also produced a playground site plan and visualizations that can be developed into the community’s design-service portfolio. The program suggests that integrating ABCD, participatory design, and digital visualization can transform local skills into service-production capacity; however, actual economic impact cannot yet be concluded because marketing and service transactions remain at the development stage. ABSTRAKDesa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung memiliki Komunitas Arsitek Desa Al Munawar Design yang terdiri atas 10 anggota dengan kemampuan dasar desain grafis, tetapi belum memiliki produk jasa desain yang layak jual. Di sisi lain, terdapat 213 anak usia dini yang membutuhkan ruang bermain edukatif. Program pengabdian ini bertujuan memperkuat kapasitas komunitas agar mampu menghasilkan desain taman bermain yang aman, edukatif, berbasis gamifikasi, dan berpotensi menjadi produk jasa kreatif. Program menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) melalui identifikasi aset, sosialisasi, edukasi, pelatihan, pendampingan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, FGD, dokumentasi, dan kuesioner pre-test/post-test. Instrumen pengetahuan memuat 10 indikator yang menilai pemahaman tentang fungsi program, aset lokal, keamanan anak, pemberdayaan, peran arsitek desa, zonasi, manfaat taman bermain, tahapan sketsa, prioritas anggaran, dan keberlanjutan. Sebanyak 11 peserta mengikuti evaluasi pengetahuan. Nilai rata-rata meningkat dari 97,33 pada pre-test menjadi 98,82 pada post-test, atau naik 1,49 poin persentase. Delapan dari sepuluh indikator mencapai 100% jawaban benar pada post-test. Temuan menunjukkan bahwa intervensi efektif memperkuat pemahaman dasar, terutama pada aspek keamanan, pemberdayaan, prioritas anggaran, dan orientasi keberlanjutan. Pelatihan desain dan visualisasi digital juga menghasilkan site plan dan visualisasi taman bermain yang dapat dikembangkan sebagai portofolio jasa komunitas. Program menunjukkan bahwa integrasi ABCD, desain partisipatif, dan teknologi visualisasi dapat mengubah aset keterampilan lokal menjadi kapasitas produksi jasa; namun, dampak ekonomi aktual belum dapat disimpulkan karena pemasaran dan transaksi jasa masih berada pada tahap pengembangan.