Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PEMAHAMAN GURU TERHADAP IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH DASAR Butsi Prihastari, Ema; Widyaningrum, Ratna
Paedagoria : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Vol 15, No 1 (2024): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/paedagoria.v15i1.20220

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) pemahaman guru sekolah dasar terhadap implementasi kurikulum merdeka, 2) hambatan implementasi kurikulum merdeka, 3) faktor pendukung implementasi kurikulum merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui penelitian deskriptif eksploratif. Subjek penelitian dipilih secara purposive sampling yaitu kepala sekolah, guru kelas 1, dan kelas 4 yang sudah menrapkan Kurikulum Merdeka sejumlah 40 guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu angket, wawancara, dan observasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Teknik analisis data menggunakan model interaktif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum merdeka di sekolah dasar Kec. Karangpandan, Kabupaten Karanganyar yaitu 15% memiliki pemahaman yang masih rendah, 77,5% dalam kategori sedang, dan 7,5% dalam kategori tinggi. 2) Kendala dalam implementasi kurikulum merdeka di sekolah dasar antara lain terkait dengan pendanaan, keterbatasan sarana dan prasarana sekolah, buku siswa yang belum terdistribusi secara merata, keterbatasan IT serta masih terbatasnya diklat. 3) Faktor pendukung implementasi kurikulum merdeka antara lain: guru; sarana dan prasarana; kerja sama antara siswa, sekolah, masyarakat, dan orang tua; dan pemanfaatan berbagai sumber belajar. Abstract: The research aims to determine 1) elementary schools teachers' understanding of the implementation of the independent curriculum, 2) barriers to implementing the independent curriculum, and 3) supporting factors for implementing the independent curriculum. This research is exploratory descriptive research with a qualitative approach. The research subjects were selected using purposive sampling, namely principals, and 1st and 4th grade teachers who had implemented the Independent Curriculum, a total of 40 teachers. The data collection techniques used were questionnaires, interviews, and observation. Validity of data using triangulation of sources and techniques. Data analysis using an interactive model includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that: 1) Teachers' understanding of the implementation of the independent curriculum in elementary schools in Karangpandan, Karanganyar Central Java, namely 15% have low understanding, 77.5% are in the medium category, and 7.5% are in the high category. 2) Obstacles in implementing the independent curriculum in elementary schools include, funding, limited school facilities, student books that have not been distributed evenly, limited technology and training. 3) Supporting factors for implementing the independent curriculum include: teachers; facilities and infrastructure; cooperation between students, schools, communities and parents; and utilization of various learning resources.
Islamic Socio-Religious Reflections on Early Marriage, Family Resilience, and Stunting in Sirampog, Brebes Widyaningrum, Ratna; Hernawati, Sari; Nofik, Khoirun; Syifaudin, Ma'ruf; Helmi Kayana Juwita, Dinda
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11874

Abstract

Early marriage and child stunting remain persistent issues in Sirampog District, Brebes, a highland horticultural area characterized by long farming hours and limited service access in its upper hamlets. Although national and local initiatives including Presidential Regulation No. 72/2021, Jo Kawin Bocah, KUA premarital guidance, and posyandu services are available, policy messages often remain at the level of general moral advice and are not sufficiently translated into practical 1,000-day nutrition behaviors. This study aims to: (1) identify the social and religious determinants of early marriage; (2) assess how family resilience spiritual, economic, relational, and parenting dimensions—shapes child nutritional status; and (3) estimate the relationship between early marriage and stunting after accounting for parenting practices, parental education, economic conditions, and access to health services, while examining the roles of Islamic institutions (mosques, Qur’an learning centers/TPQ, majelis taklim, and Muslimat NU). Using a qualitative instrumental case-study design, data were collected through in-depth interviews, FGDs, observations of health and religious activities, and document analysis, and examined using Reflexive Thematic Analysis with a Framework Matrix. Findings show that early marriage is driven by religious norms framed as “protection from zina,” social pressure to formalize relationships, gaps in religious literacy, and strategies involving unregistered marriagedispensation registration. Child nutrition is more strongly shaped by family resilience spiritual motivation, food planning, supportive marital relations, and age-appropriate feeding practices. The direct link between early marriage and stunting weakens after key household factors are controlled. Islamic institutions are effective when religious messages are paired with actionable nutrition guidance. These results reinforce the relevance of ḥifẓ al-nasl and ḥifẓ al-nafs in stunting prevention.   Abstrak Pernikahan dini dan stunting masih menjadi persoalan utama di Kecamatan Sirampog, Brebes, wilayah pegunungan dengan pekerjaan tani yang panjang dan akses layanan terbatas, terutama di dusun lereng. Meskipun telah tersedia Perpres 72/2021, program Jo Kawin Bocah, bimbingan perkawinan KUA, serta layanan posyandu, pesan kebijakan tentang pendewasaan usia kawin belum cukup terhubung dengan praktik gizi 1.000 HPK. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi determinan sosial-keagamaan pernikahan dini; (2) menilai pengaruh ketahanan keluarga (spiritual, ekonomi, relasional, dan pengasuhan) terhadap status gizi anak; dan (3) menganalisis keterkaitan pernikahan dini dan stunting setelah mempertimbangkan pengasuhan, pendidikan orang tua, ekonomi, dan akses kesehatan, serta menilai peran institusi Islam (masjid, TPQ, majelis taklim, Muslimat NU) dalam pencegahan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam, FGD, observasi layanan, dan studi dokumen, dianalisis melalui Reflexive Thematic Analysis dan matriks Framework. Hasil menunjukkan bahwa pernikahan dini dipengaruhi oleh norma religius sebagai “pagar zina”, tekanan sosial, rendahnya literasi keagamaan, dan pola nikah siri–dispensasi–pencatatan. Status gizi anak lebih ditentukan oleh ketahanan keluarga melalui motivasi spiritual, pengaturan makanan anak, relasi suami-istri yang suportif, dan keterampilan pemberian MP-ASI. Hubungan langsung pernikahan dini dengan stunting melemah setelah faktor pengasuhan, pendidikan, ekonomi, dan akses layanan dikendalikan. Institusi Islam terbukti efektif ketika pesan keagamaan dipadukan dengan panduan gizi yang aplikatif. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan pernikahan dini dan stunting merupakan amanah syariah dalam kerangka ḥifẓ al-nasl dan ḥifẓ al-nafs.).
Islamic Socio-Religious Reflections on Early Marriage, Family Resilience, and Stunting in Sirampog, Brebes Widyaningrum, Ratna; Hernawati, Sari; Nofik, Khoirun; Syifaudin, Ma'ruf; Helmi Kayana Juwita, Dinda
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11874

Abstract

Early marriage and child stunting remain persistent issues in Sirampog District, Brebes, a highland horticultural area characterized by long farming hours and limited service access in its upper hamlets. Although national and local initiatives including Presidential Regulation No. 72/2021, Jo Kawin Bocah, KUA premarital guidance, and posyandu services are available, policy messages often remain at the level of general moral advice and are not sufficiently translated into practical 1,000-day nutrition behaviors. This study aims to: (1) identify the social and religious determinants of early marriage; (2) assess how family resilience spiritual, economic, relational, and parenting dimensions—shapes child nutritional status; and (3) estimate the relationship between early marriage and stunting after accounting for parenting practices, parental education, economic conditions, and access to health services, while examining the roles of Islamic institutions (mosques, Qur’an learning centers/TPQ, majelis taklim, and Muslimat NU). Using a qualitative instrumental case-study design, data were collected through in-depth interviews, FGDs, observations of health and religious activities, and document analysis, and examined using Reflexive Thematic Analysis with a Framework Matrix. Findings show that early marriage is driven by religious norms framed as “protection from zina,” social pressure to formalize relationships, gaps in religious literacy, and strategies involving unregistered marriagedispensation registration. Child nutrition is more strongly shaped by family resilience spiritual motivation, food planning, supportive marital relations, and age-appropriate feeding practices. The direct link between early marriage and stunting weakens after key household factors are controlled. Islamic institutions are effective when religious messages are paired with actionable nutrition guidance. These results reinforce the relevance of ḥifẓ al-nasl and ḥifẓ al-nafs in stunting prevention.   Abstrak Pernikahan dini dan stunting masih menjadi persoalan utama di Kecamatan Sirampog, Brebes, wilayah pegunungan dengan pekerjaan tani yang panjang dan akses layanan terbatas, terutama di dusun lereng. Meskipun telah tersedia Perpres 72/2021, program Jo Kawin Bocah, bimbingan perkawinan KUA, serta layanan posyandu, pesan kebijakan tentang pendewasaan usia kawin belum cukup terhubung dengan praktik gizi 1.000 HPK. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi determinan sosial-keagamaan pernikahan dini; (2) menilai pengaruh ketahanan keluarga (spiritual, ekonomi, relasional, dan pengasuhan) terhadap status gizi anak; dan (3) menganalisis keterkaitan pernikahan dini dan stunting setelah mempertimbangkan pengasuhan, pendidikan orang tua, ekonomi, dan akses kesehatan, serta menilai peran institusi Islam (masjid, TPQ, majelis taklim, Muslimat NU) dalam pencegahan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam, FGD, observasi layanan, dan studi dokumen, dianalisis melalui Reflexive Thematic Analysis dan matriks Framework. Hasil menunjukkan bahwa pernikahan dini dipengaruhi oleh norma religius sebagai “pagar zina”, tekanan sosial, rendahnya literasi keagamaan, dan pola nikah siri–dispensasi–pencatatan. Status gizi anak lebih ditentukan oleh ketahanan keluarga melalui motivasi spiritual, pengaturan makanan anak, relasi suami-istri yang suportif, dan keterampilan pemberian MP-ASI. Hubungan langsung pernikahan dini dengan stunting melemah setelah faktor pengasuhan, pendidikan, ekonomi, dan akses layanan dikendalikan. Institusi Islam terbukti efektif ketika pesan keagamaan dipadukan dengan panduan gizi yang aplikatif. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan pernikahan dini dan stunting merupakan amanah syariah dalam kerangka ḥifẓ al-nasl dan ḥifẓ al-nafs.).
The Bacteriocin Potential of Lactic Acid Bacteria from Cincalok as an Antibacterial Against Shigella and Salmonella Aprilia, Ineke; Pribadhi, Adhitya Naufal; Suwanto, Yustiana Arie; Widyaningrum, Ratna; Yana, Dian Rudy; Rofiah, Nurul Ummi
Journal of Biomedical Sciences and Health Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/jbsh.v3.i1.304

Abstract

Background: Lactic Acid Bacteria are a group of bacteria that have the ability to produce antimicrobial compounds called bacteriocins. Antibacterial of lactic acid bacteria proved effective in inhibiting pathogenic bacteria that cause infection in humans such as Shigella sp and Salmonella sp. Lactic acid bacteria can be found in fermented foods, one of which is fermented food typical of West Kalimantan, namely cincalok Aim: This study was to determine the antibacterial potential of cincalok lactic acid bacteria against Shigella sp and Salmonella sp Methods: This study used a true experimental, with the research design using a post test only control group design with data analyzed using SPSS to evaluate inhibition zone differences among three treatment groups: bacteriocin from Weissella sp. at 24 hours, Weissella sp. at 48 hours, and antibiotics (positive control) Results: The results obtained in the bacteriocin test from Weissella showed that there were differences in the inhibition zones formed, in Shigella sp the average values of the inhibition zones formed were W24 (24.4 mm), W48 (13.2 mm) and Cotrimoxazole (42.2 mm). while in Salmonella sp the average value of the inhibition zone formed is W24 (24.2 mm), W48 (12.8 mm) and Chloramphenicol (45 mm). Conclusion: Bacteriocins from LAB cincalok have an antibacterial effect on the growth of Shigella sp and Salmonella sp bacteria.