Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : JURNAL PANGAN

Karakteristik Sensori Nasi dari Beberapa Varietas Padi Aromatik Lokal Indonesia Wijaya, C. Hanny; Kusumaningrum, Hafida; Kusbiantoro, Bram; Handoko, Dody D.
JURNAL PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i1.13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik sensori beberapa padi aromatik dengan pendekatan uji hedonik, uji ranking dan uji deskriptif. Uji deskriptif dilakukan dengan diskusi dalam fokus grup (focus group discussion) dan Quantitative Descriptive Analysis (QDA). Rojolele, Sintanur, Situ Patenggang, Pandan Wangi Garut dan Pandan Wangi Cianjur digunakan sebagai sampel padi aromatik asli Indonesia dan beras Basmati digunakan sebagai pembanding. Berdasarkan uji hedonik, pada atribut aroma, semua nasi tidak berbeda nyata, sedangkan pada atribut rasa nasi Rojolele memiliki skor kesukaan tertinggi. Pada uji ranking nasi Rojolele menempati urutan pertama, diikuti Sintanur, Pandan Wangi Garut, Pandan Wangi Cianjur, dan Basmati. Hasil diskusi focus group menunjukkan bahwa untuk atribut aroma semua sampel nasi memiliki aroma pandan, creamy, buttery, sweet, dan cereal, sedangkan untuk atribut rasa, semua sampel nasi mempunyai rasa manis dan asin. Berdasarkan intepretasi dari biplot Principal Component 1 (PC 1) dan PC 2 hasil QDA, nasi Pandan Wangi Garut dapat dicirikan oleh aroma pandan. Nasi Rojolele, Sintanur, dan Situ Patenggang berada dalam kelompok yang sama dan dapat dicirikan oleh aroma creamy. Nasi Pandan Wangi Cianjur dan Basmati dapat dicirikan oleh aroma buttery, cereal dan sweet. Namun, rasa manis dan asin tidak bisa mencirikan atau mendiskripsikan rasa sampel nasi.This research is aimed to determine sensory characteristics of several varieties of Indonesian aromatic paddy using the approaches of hedonic test, ranking test, and descriptive analysis. Descriptive analysis is conducted using focused group discussion (FGD) and quantitative descriptive analysis (QDA). Rojolele, Sintanur, Situ Patenggang, Pandan Wangi Garut and Pandan Wangi Cianjur are used as samples of Indonesian aromatic paddy, whereas Basmati rice is used as the comparator. Based on hedonic test, the results show that all cooked rice does not have significant differences in aroma, but cooked rice of Rojolele has the highest score in taste attribute. In the ranking test, cooked rice of Rojolele gains the first rank, followed by Sintanur, Pandan Wangi Garut, Pandan Wangi Cianjur, and Basmati. The result of FGD shows that in term of aroma attributes, all samples of cooked rice have the aromas of pandan, creamy, buttery, sweet, and cereal, whilst in term of taste attributes, they contain sweet and salty tastes. Based on the biplot Principal Component 1 (PC 1) and PC 2, cooked rice of Pandan-Wangi Garut could be distinguished by its pandan aroma. Cooked rice of Rojolele, Sintanur, and Situ Patenggang is clustered in one or the same group and could be distinguished by its creamy aroma. Cooked rice of Pandan Wangi Cianjur and Basmati could be described by its buttery, cereal and sweet aromas. However, the taste of the cooked rice samples could not be distinguished or described by their sweet and saltytastes. 
Modifikasi Manggulu dengan Subtitusi Kacang Tunggak dan Santan Kelapa sebagai Produk Pangan Darurat Manggulu Modification with Cowpea and Coconut Milk Substitution as Emergency Food Product Yaputra, Elviana; Wijaya, Hanny; M. Halima, Jeremia
JURNAL PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.819 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i3.14

Abstract

Manggulu merupakan produk pangan tradisional yang terbuat dari pisang dan kacang tanah yang berpotensi sebagai produk pangan darurat (Emergency Food Product, EFP) karena kandungan karbohidratnya yang tinggi dengan nilai aktivitas air dan kadar air yang rendah. Akan tetapi manggulu masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya kandungan protein dan lemak yang belum memenuhi persyaratan serta kandungan kacang tanah di dalamnya yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi produk modifikasi manggulu yang memenuhi kriteria EFP dan memiliki tingkat penerimaan sensori panelis yang baik, dengan menggunakan kacang tunggak dan santan sebagai ingredien substitusi. Mixture experimental design digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan proporsi pisang, kacang tunggak, dan santan kelapa yang tepat. Formula produk dengankomposisi 104,06 gram pisang; 12,00 gram kacang tunggak dan 43,94 gram santan merupakan produk yang memiliki karakterteristik sensori panelis optimum dan memberikan tingkat penerimaan yang paling tinggi. Kontribusi kalori dari produk yang terpilih, terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak sebesar 254,94;76,62; dan 400,68 kkal secara berturut-turut hampir dapat memenuhi persyaratan gizi EFP. Jumlah kalori dari 150 gram produk manggulu termodifikasi adalah 731,04 kkal dengan kadar air 12,32±0,12 persen danaktivitas air 0,566±0,003.kata kunci: produk pangan darurat, manggulu, mixture experiment, kacang tunggak, santanManggulu, made with banana and peanuts, has high potency becoming EFP (Emergency Food Product) due to its high carbohydrate content, and low in water activity and moisture content. However, it contains peanuts that might cause allergic reaction, in addition to its low in protein and fat content as anEFP. This research is aimed to modify manggulu formulation by using cowpea and coconut milk substitution, to fulfill the criteria of EFP, and to deliver high sensory acceptance. Mixture experimental design is used in this research to find the appropriate proportion of banana, cowpea and coconut milk in a manggulu-based product. It is found that utilization of 104.06 g of banana, 12.00 g of cowpea and 43.94 g of coconut milk is able to produce a product with optimum sensory properties and with the highest desirability. Calorie contributions of manggulu-based product from carbohydrate, protein and fat are 254.94, 76.62, and 400.68 kcal respectively; these almost fulfill the nutritional requirement of EFP. Total calorie of 150 g of manggulubased product is 731.04 kcal. The moisture content of manggulu-based product is 12.32±0.12 percent withwater activity of 0.566±0.003.
Manggulu, Pangan Lokal Berkalori Tinggi yang Kaya Serat Alami (Manggulu, Local Food with High Calorie and Rich Natural Fiber) Mardhiyyah, Yunita Siti; Wijaya, Hanny
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1774.465 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i3.173

Abstract

Diversifikasi pangan menjadi hal yang penting dalam mencapai ketahanan pangan. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah pemanfaatan pangan lokal. Manggulu merupakan sejenis dodol yang dibuat dari pisang kepok dan kacang tanah, suatu pangan khas dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pisang kepok {Musa paradisiaca L.) masak pohon dikeringkan sehingga berwarna kecoklatan, dikukus dan dihaluskan. Kacang tanah digoreng dan dihaluskan. Kedua bahan ini dicampur, kemudian dibentuk silinder dan dibungkus dengan daun pisang kering. Berdasarkan perhitungan kadar gizi bahan bakunya, manggulu dengan berat 30 g memiliki nilai kalori 147,6 kkal sehingga dapat dikategorikan sebagai pangan berkalori tinggi. Kandungan serat manggulu sebesar 2,2 g/30 g memenuhi aturan Codex alimentarius sebagai produk pangan yang baik untuk sumber serat dan dapat diarahkan sebagai pangan fungsional. Manggulu dibuat dari bahan alami dan dapat dikategorikan sebagai pangan alami atau natural food menurut Canadian Food Inspection. Manggulu juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai pangan darurat. Eksplorasi dan dokumentasi pangan lokal diharapkan melestarikan kearifan lokal dan menunjang upaya diversifikasi pangan.Food diversification becomes an important issue in order to achieve national food security. The utilization of potential local food should be one of the alternatives. Manggulu is a local food of Sumba, East NusaTenggara (NTT), a kind of intermediate moisture content food that is made from kapok plantain (Musa paradisiaca L.) and peanut The ripe plantain is steamed and mashed. The peanut is fried and crushed. Both of these ingredients are mixed together, and then the dough is formed into cylindrical shape and wrapped with dried banana leaves. Based on the calculated nutritive value of the raw materials, one piece of manggulu (30g in) has calorie about 147.6 kcal which can be categorized as high-calorie food. The fiber content of manggulu, which is 2.2 g/piece, is also fulfilled the Codex alimentarius regulation as a good source for dietary fiber and can be developed as a functional food. Manggulu can also be categorized as natural food according to Canadian Food Inspection Agency because it is made from 100 percent natural ingredients. Moreover, its product shows great potency to be utilized as an emergency food. The exploration and documentation oflocal food might both conserve the local wisdom and support the food diversification effort. 
pada Pembuatan “Quick Tempe” Skala Industri Rumah Tangga Implementation and Profit Analysis of Back-slopping Technology at “Quick Tempe” Making Process in Household Industry Wijaya, C. Hanny; Nurjanah, Siti
JURNAL PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1966.625 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i1.42

Abstract

”Quick Tempe” merupakan tempe yang dibuat dengan pengasaman secara kimiawi menggunakan Glucono Delta Lactone (GDL). Implementasi “Quick Tempe” masih terkendala oleh harga GDL yang relatif mahal. Salah satu upaya efisiensi penggunaan GDL adalah dengan penggunaan kembali sisa larutan pengasam GDL untuk proses pembuatan tempe selanjutnya, atau dikenal sebagai teknologi back-slopping. Penelitian bertujuan mengoptimasi penambahan GDL pada larutan back-slopping ke 1, mengevaluasi karakteristik tempe yang dihasilkan dengan teknik larutan back-slopping ke 2, sertamenganalisis keuntungan ekonomi dalam pembuatan “Quick Tempe” pada industri rumah tangga. Optimasi dilakukan dengan menggunakan Response Surface Methodology dengan variabel yang dioptimasi adalah konsentrasi GDL yang ditambahkan. Respon yang diukur antara lain pH larutan backslopping, pH kedelai prafermentasi, dan kekompakan tempe. Penambahan GDL dengan konsentrasi optimum menghasilkan pH larutan back-slopping 4,5, pH kedelai prafermentasi 5,3, kekompakan tempe 12,9 dari 15 skala. Karakteristik tempe yang dihasilkan dengan back-slopping ke 2 tidak berbeda nyata dengan tempe hasil pengasaman alami. Analisis keuntungan menunjukkan penerapan teknologi backslopping dapat menurunkan total biaya produksi “Quick Tempe” sebesar 4,8 persen/hari. Penggunaan GDL dan penerapan teknologi back-slopping dapat berpotensi meningkatkan total keuntungan produksi “Quick Tempe” dibandingkan tempe hasil pengasaman alami (tempe kontrol) sebesar 49,9 persen. Proses pembuatan “Quick Tempe” dengan back-slopping berpotensi juga diimplementasikan pada industri kecil. “Quick Tempe” is a modified Tempe produced by utilizing Glucono Delta Lactone (GDL) as acidulant. The implementation of Quick Tempe process in small-medium industries faces hurdles due to the high price of GDL. Efficiency of GDL utilization might be improved by reutilizing GDL solution into the next production batch, called back-slopping technique. This study is aimed to optimize the GDL addition into the back-slopping solution, to evaluate the quality characteristics of Tempe obtained by the technique, and to calculate the financial benefit of implementing it. Optimization is conducted by using Response surface Methodology, including the pH of back-slopping solution, pre-fermented soybean, and the compactness of Tempe with the addition concentration of GDL as variable. The pH of back-slopping solution and of pre-fermented soybean with optimized GDL concentration is 4.5 and 5.3, respectively. The Compactness value is 12.9 of 15 scales. There is no significant quality difference between Tempe produced by 2nd backslopping and by traditional method (natural acidification). The use of GDL and back-slopping technique are able to reduce the total cost by 4.8 percent and to increase the total profit by up to 49.9 percent. Quick Tempe process shows potency to be implemented in the household industries. 
Karakteristik Sensori Nasi dari Beberapa Varietas Padi Aromatik Lokal Indonesia C. Hanny Wijaya; Hafida Kusumaningrum; Bram Kusbiantoro; Dody D. Handoko
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i1.13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik sensori beberapa padi aromatik dengan pendekatan uji hedonik, uji ranking dan uji deskriptif. Uji deskriptif dilakukan dengan diskusi dalam fokus grup (focus group discussion) dan Quantitative Descriptive Analysis (QDA). Rojolele, Sintanur, Situ Patenggang, Pandan Wangi Garut dan Pandan Wangi Cianjur digunakan sebagai sampel padi aromatik asli Indonesia dan beras Basmati digunakan sebagai pembanding. Berdasarkan uji hedonik, pada atribut aroma, semua nasi tidak berbeda nyata, sedangkan pada atribut rasa nasi Rojolele memiliki skor kesukaan tertinggi. Pada uji ranking nasi Rojolele menempati urutan pertama, diikuti Sintanur, Pandan Wangi Garut, Pandan Wangi Cianjur, dan Basmati. Hasil diskusi focus group menunjukkan bahwa untuk atribut aroma semua sampel nasi memiliki aroma pandan, creamy, buttery, sweet, dan cereal, sedangkan untuk atribut rasa, semua sampel nasi mempunyai rasa manis dan asin. Berdasarkan intepretasi dari biplot Principal Component 1 (PC 1) dan PC 2 hasil QDA, nasi Pandan Wangi Garut dapat dicirikan oleh aroma pandan. Nasi Rojolele, Sintanur, dan Situ Patenggang berada dalam kelompok yang sama dan dapat dicirikan oleh aroma creamy. Nasi Pandan Wangi Cianjur dan Basmati dapat dicirikan oleh aroma buttery, cereal dan sweet. Namun, rasa manis dan asin tidak bisa mencirikan atau mendiskripsikan rasa sampel nasi.This research is aimed to determine sensory characteristics of several varieties of Indonesian aromatic paddy using the approaches of hedonic test, ranking test, and descriptive analysis. Descriptive analysis is conducted using focused group discussion (FGD) and quantitative descriptive analysis (QDA). Rojolele, Sintanur, Situ Patenggang, Pandan Wangi Garut and Pandan Wangi Cianjur are used as samples of Indonesian aromatic paddy, whereas Basmati rice is used as the comparator. Based on hedonic test, the results show that all cooked rice does not have significant differences in aroma, but cooked rice of Rojolele has the highest score in taste attribute. In the ranking test, cooked rice of Rojolele gains the first rank, followed by Sintanur, Pandan Wangi Garut, Pandan Wangi Cianjur, and Basmati. The result of FGD shows that in term of aroma attributes, all samples of cooked rice have the aromas of pandan, creamy, buttery, sweet, and cereal, whilst in term of taste attributes, they contain sweet and salty tastes. Based on the biplot Principal Component 1 (PC 1) and PC 2, cooked rice of Pandan-Wangi Garut could be distinguished by its pandan aroma. Cooked rice of Rojolele, Sintanur, and Situ Patenggang is clustered in one or the same group and could be distinguished by its creamy aroma. Cooked rice of Pandan Wangi Cianjur and Basmati could be described by its buttery, cereal and sweet aromas. However, the taste of the cooked rice samples could not be distinguished or described by their sweet and saltytastes. 
Modifikasi Manggulu dengan Subtitusi Kacang Tunggak dan Santan Kelapa sebagai Produk Pangan Darurat Manggulu Modification with Cowpea and Coconut Milk Substitution as Emergency Food Product Elviana Yaputra; Hanny Wijaya; Jeremia M. Halima
JURNAL PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i3.14

Abstract

Manggulu merupakan produk pangan tradisional yang terbuat dari pisang dan kacang tanah yang berpotensi sebagai produk pangan darurat (Emergency Food Product, EFP) karena kandungan karbohidratnya yang tinggi dengan nilai aktivitas air dan kadar air yang rendah. Akan tetapi manggulu masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya kandungan protein dan lemak yang belum memenuhi persyaratan serta kandungan kacang tanah di dalamnya yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi produk modifikasi manggulu yang memenuhi kriteria EFP dan memiliki tingkat penerimaan sensori panelis yang baik, dengan menggunakan kacang tunggak dan santan sebagai ingredien substitusi. Mixture experimental design digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan proporsi pisang, kacang tunggak, dan santan kelapa yang tepat. Formula produk dengankomposisi 104,06 gram pisang; 12,00 gram kacang tunggak dan 43,94 gram santan merupakan produk yang memiliki karakterteristik sensori panelis optimum dan memberikan tingkat penerimaan yang paling tinggi. Kontribusi kalori dari produk yang terpilih, terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak sebesar 254,94;76,62; dan 400,68 kkal secara berturut-turut hampir dapat memenuhi persyaratan gizi EFP. Jumlah kalori dari 150 gram produk manggulu termodifikasi adalah 731,04 kkal dengan kadar air 12,32±0,12 persen danaktivitas air 0,566±0,003.kata kunci: produk pangan darurat, manggulu, mixture experiment, kacang tunggak, santanManggulu, made with banana and peanuts, has high potency becoming EFP (Emergency Food Product) due to its high carbohydrate content, and low in water activity and moisture content. However, it contains peanuts that might cause allergic reaction, in addition to its low in protein and fat content as anEFP. This research is aimed to modify manggulu formulation by using cowpea and coconut milk substitution, to fulfill the criteria of EFP, and to deliver high sensory acceptance. Mixture experimental design is used in this research to find the appropriate proportion of banana, cowpea and coconut milk in a manggulu-based product. It is found that utilization of 104.06 g of banana, 12.00 g of cowpea and 43.94 g of coconut milk is able to produce a product with optimum sensory properties and with the highest desirability. Calorie contributions of manggulu-based product from carbohydrate, protein and fat are 254.94, 76.62, and 400.68 kcal respectively; these almost fulfill the nutritional requirement of EFP. Total calorie of 150 g of manggulubased product is 731.04 kcal. The moisture content of manggulu-based product is 12.32±0.12 percent withwater activity of 0.566±0.003.
pada Pembuatan “Quick Tempe” Skala Industri Rumah Tangga Implementation and Profit Analysis of Back-slopping Technology at “Quick Tempe” Making Process in Household Industry C. Hanny Wijaya; Siti Nurjanah
JURNAL PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i1.42

Abstract

”Quick Tempe” merupakan tempe yang dibuat dengan pengasaman secara kimiawi menggunakan Glucono Delta Lactone (GDL). Implementasi “Quick Tempe” masih terkendala oleh harga GDL yang relatif mahal. Salah satu upaya efisiensi penggunaan GDL adalah dengan penggunaan kembali sisa larutan pengasam GDL untuk proses pembuatan tempe selanjutnya, atau dikenal sebagai teknologi back-slopping. Penelitian bertujuan mengoptimasi penambahan GDL pada larutan back-slopping ke 1, mengevaluasi karakteristik tempe yang dihasilkan dengan teknik larutan back-slopping ke 2, sertamenganalisis keuntungan ekonomi dalam pembuatan “Quick Tempe” pada industri rumah tangga. Optimasi dilakukan dengan menggunakan Response Surface Methodology dengan variabel yang dioptimasi adalah konsentrasi GDL yang ditambahkan. Respon yang diukur antara lain pH larutan backslopping, pH kedelai prafermentasi, dan kekompakan tempe. Penambahan GDL dengan konsentrasi optimum menghasilkan pH larutan back-slopping 4,5, pH kedelai prafermentasi 5,3, kekompakan tempe 12,9 dari 15 skala. Karakteristik tempe yang dihasilkan dengan back-slopping ke 2 tidak berbeda nyata dengan tempe hasil pengasaman alami. Analisis keuntungan menunjukkan penerapan teknologi backslopping dapat menurunkan total biaya produksi “Quick Tempe” sebesar 4,8 persen/hari. Penggunaan GDL dan penerapan teknologi back-slopping dapat berpotensi meningkatkan total keuntungan produksi “Quick Tempe” dibandingkan tempe hasil pengasaman alami (tempe kontrol) sebesar 49,9 persen. Proses pembuatan “Quick Tempe” dengan back-slopping berpotensi juga diimplementasikan pada industri kecil. “Quick Tempe” is a modified Tempe produced by utilizing Glucono Delta Lactone (GDL) as acidulant. The implementation of Quick Tempe process in small-medium industries faces hurdles due to the high price of GDL. Efficiency of GDL utilization might be improved by reutilizing GDL solution into the next production batch, called back-slopping technique. This study is aimed to optimize the GDL addition into the back-slopping solution, to evaluate the quality characteristics of Tempe obtained by the technique, and to calculate the financial benefit of implementing it. Optimization is conducted by using Response surface Methodology, including the pH of back-slopping solution, pre-fermented soybean, and the compactness of Tempe with the addition concentration of GDL as variable. The pH of back-slopping solution and of pre-fermented soybean with optimized GDL concentration is 4.5 and 5.3, respectively. The Compactness value is 12.9 of 15 scales. There is no significant quality difference between Tempe produced by 2nd backslopping and by traditional method (natural acidification). The use of GDL and back-slopping technique are able to reduce the total cost by 4.8 percent and to increase the total profit by up to 49.9 percent. Quick Tempe process shows potency to be implemented in the household industries. 
Manggulu, Pangan Lokal Berkalori Tinggi yang Kaya Serat Alami (Manggulu, Local Food with High Calorie and Rich Natural Fiber) Yunita Siti Mardhiyyah; Hanny Wijaya
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i3.173

Abstract

Diversifikasi pangan menjadi hal yang penting dalam mencapai ketahanan pangan. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah pemanfaatan pangan lokal. Manggulu merupakan sejenis dodol yang dibuat dari pisang kepok dan kacang tanah, suatu pangan khas dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pisang kepok {Musa paradisiaca L.) masak pohon dikeringkan sehingga berwarna kecoklatan, dikukus dan dihaluskan. Kacang tanah digoreng dan dihaluskan. Kedua bahan ini dicampur, kemudian dibentuk silinder dan dibungkus dengan daun pisang kering. Berdasarkan perhitungan kadar gizi bahan bakunya, manggulu dengan berat 30 g memiliki nilai kalori 147,6 kkal sehingga dapat dikategorikan sebagai pangan berkalori tinggi. Kandungan serat manggulu sebesar 2,2 g/30 g memenuhi aturan Codex alimentarius sebagai produk pangan yang baik untuk sumber serat dan dapat diarahkan sebagai pangan fungsional. Manggulu dibuat dari bahan alami dan dapat dikategorikan sebagai pangan alami atau natural food menurut Canadian Food Inspection. Manggulu juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai pangan darurat. Eksplorasi dan dokumentasi pangan lokal diharapkan melestarikan kearifan lokal dan menunjang upaya diversifikasi pangan.Food diversification becomes an important issue in order to achieve national food security. The utilization of potential local food should be one of the alternatives. Manggulu is a local food of Sumba, East NusaTenggara (NTT), a kind of intermediate moisture content food that is made from kapok plantain (Musa paradisiaca L.) and peanut The ripe plantain is steamed and mashed. The peanut is fried and crushed. Both of these ingredients are mixed together, and then the dough is formed into cylindrical shape and wrapped with dried banana leaves. Based on the calculated nutritive value of the raw materials, one piece of manggulu (30g in) has calorie about 147.6 kcal which can be categorized as high-calorie food. The fiber content of manggulu, which is 2.2 g/piece, is also fulfilled the Codex alimentarius regulation as a good source for dietary fiber and can be developed as a functional food. Manggulu can also be categorized as natural food according to Canadian Food Inspection Agency because it is made from 100 percent natural ingredients. Moreover, its product shows great potency to be utilized as an emergency food. The exploration and documentation oflocal food might both conserve the local wisdom and support the food diversification effort. 
Co-Authors ,, Lune ,, Lune ,, Sumarlan ,, Sumarlan - Misnawi A'yuni, Qurrata A. Fieki Rachmatillah Aditya Prayoga Ahmad Ibrahim Akyla, Clarissa Alfi Khatib Anggraini Barlian Anton Apriyantono Antonius Suwanto Aris Tri Wahyudi Ariza Budi Tunjung Sari Azis Boing Sitanggang A’yuni, Qurrata Boy M Bachtiar Bram Kusbiantoro Bram Kusbiantoro Budi Nurtama Cindy Carolina Cindy Caroline Clarissa Akyla Daisy Irawan Darwati Susilastuti Dede R. Adawiyah Dede Robiatul Adawiyah Dedi Fardiaz Desianto Budi Utomo Diah Ratnadewi Djaya, Adrianson Agus Djaya, Adrianson Agus Djoko Said Damardjati Dody D. Handoko Dondin Sajuthi Eddie Gurnadi Efendi, Darda Elis Dihansih Elisabeth Kartika Prabawati Elviana Yaputra Endang Prangdimurti Ervizal AMZU Evy Damayanti Faisal, Andrian Ibnu Ferdiansyah Ferdiansyah Feri Kusnandar Firdaus Syafi'i Florensia Irena R. Napitupulu FRANSISKA RUNGKAT ZAKARIA Hafida Kusumaningrum Handoko, Dody D. Hanifah Nuryani Lioe Heriyanto Heriyanto Herwint Simbolon Herwint Simbolon, Herwint Hidayat Syarief Hunaefi, Dase Hunaefi, Dase I Kadek Putra Yudha Prawira I Komang Gede Wiryawan I Made Putrawan Ika Dewi Ana Indriyani, Susi Intan Kusumaningrum Irene Triyanti Hadiprodjo Jeremia M. Halima Juliani - Kadie, Evi Marlia Kadie, Evi Marlia Kusumaningrum, Hafida Leenawaty Limantara Lisa Amanda Yakhin M. Halima, Jeremia MADE ASTAWAN Mardhiyyah, Yunita Siti Maria Dewi Puspitasari Tirtaningtyas Gunawan-Puteri Maryati Maryati Maya Saputri Mega Safithri Mitsuru Osaki Mitsuru Osaki Monita Rekasih Mutiara Utami Nancy D. Yuliana Napitupulu, F. Irena Napitupulu, Florensia Irena R. Nasution, Zuraidah Natania, Natania Noryawati Mulyono Nuri Andarwulan Nuri Arum Anugrahati Olivia Yofananda, Olivia Paini Sri Widyati Peni Harjosworo PENI SUPRAPTI HARDJOSWORO Pipi Puspita Sari Purwiyatno Hariyadi Puspita Sari Raffi Paramawati Rasyidi, Mohammad Arif Rizka Musdalifah Amsar Rizqi Sofi Nur Fitriyah Rudy Priyanto Rukmi, Paramita Sadha Dayinta S. Sulistiyani Safir Abadi Salindri Prawitasari Sari, Bernadeta RE Sigit Suharta Siti Nurjanah SITI NURJANAH Slamet Budijanto Sobir Sobir Sonatha, Mei Diana Stefani Djunaidi Sukarno Suliantari Suliantari Sulistiyani, S. Suminar S. Achmadi SUMINAR SETIATI ACHMADI Susi Indriyani Syahrir Akil Tati Barus Tensiska, Tensiska Tesy Pratami Titri S. Mastuti Tjahja Muhandri Triati Dewi Kencana Wungu Unang Supratman Winiati Pudji Rahayu Wiranda Gentini Piliang Wuryaningsih Sri Rahayu Yadi Haryadi Yakhin, Lisa Amanda Yanetri Asi Nion, Yanetri Asi Yaputra, Elviana Yasuyuki Hashidoko