Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Analisis Kesesuaian Lahan Kawasan Permukiman Terhadap Daerah Rawan Bencana Banjir di Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Karmila Dewi; Nini Apriani Rumata; Soemitro Emin Praja
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/ace4ez68

Abstract

ABSTRAK: Lahan permukiman merupakan kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan mendukung kehidupan masyarakat. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan akan lahan permukiman juga meningkat, sementara ketersediaan lahan yang sesuai terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan dalam perencanaan tata ruang yang aman dan berkelanjutan, terutama di kawasan rawan bencana seperti banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan permukiman terhadap daerah rawan bencana banjir di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah Mix Method, dengan pendekatan spasial melalui teknik overlay untuk menganalisis data keruangan, serta metode deskriptif untuk menjelaskan hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian lahan permukiman di Kecamatan Biringkanaya terbagi ke dalam empat kategori: kategori Cukup Sesuai paling luas seluas 2.026,85 Ha (54,30%), diikuti Sesuai Marginal seluas 1.324,45 Ha (35,48%), Tidak Sesuai seluas 305,10 Ha (8,17%), dan Sangat Sesuai seluas 76,27 Ha (2,04%). KATA KUNCI Kesesuaian Lahan, Permukiman, Banjir, Mix Method, Overlay, ArcGIS.   ABSTRACT: Residential land is a basic human need that serves as a place to live and supports community life. With the increasing population, the need for residential land is also increasing, while the availability of suitable land is limited. This condition poses a challenge in planning safe and sustainable spatial planning, especially in disaster-prone areas such as floods. This study aims to analyze the suitability of residential land in flood-prone areas in Biringkanaya District, Makassar City. The method used is a mixed method, with a spatial approach using overlay techniques to analyze spatial data, as well as a descriptive method to explain the analysis results. The results of the study show that the suitability of residential land in Biringkanaya District is divided into four categories: the Most Suitable category covers the largest area of 2,026.85 Ha (54.30%), followed by Marginally Suitable covering 1,324.45 Ha (35.48%), Unsuitable covering an area of 305.10 Ha (8.17%), and Very Suitable covering an area of 76.27 Ha (2.04%). Keywords: Land Suitability, Settlements, Floods, Mix Method, Overlay, ArcGIS.
Pengaruh Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Kelurahan Tamangapa Kecamatan Manggala Kota Makassar Muh. Aidil Zulfitra; Nini Apriani Rumata; Fathurrahman Burhanuddin
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/5cw0yr24

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang serta mengidentifikasi dampak keberadaan TPA terhadap kehidupan sosial ekonomi warga Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada 391 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Analisis data dilakukan dengan Analisis Deskriptif untuk menggambarkan karakteristik dan kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel sosial dan ekonomi dengan keberadaan TPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial masyarakat dipengaruhi oleh faktor kesehatan, kenyamanan lingkungan, dan interaksi sosial, sementara kondisi ekonomi didominasi oleh pekerjaan sektor informal yang berkaitan dengan aktivitas TPA. Uji Chi-Square mengonfirmasi bahwa beberapa variabel sosial dan ekonomi memiliki hubungan signifikan dengan keberadaan TPA Antang. Secara keseluruhan, TPA memberikan dampak ganda: menimbulkan gangguan lingkungan namun juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. KATA KUNCITPA Antang, Kondisi Sosial Ekonomi, Masyarakat, Sampah, Chi-Square. ABSTRACT: This study aims to analyze the social and economic conditions of communities living around the Antang Final Disposal Site (TPA Antang) and to identify the impacts of the facility on the social and economic aspects of residents in Tamangapa Urban Village, Manggala District, Makassar City. A quantitative research approach was employed using a survey questionnaire distributed to 391 respondents determined through the Slovin formula. Data were analyzed using descriptive statistics to describe the demographic profile and socio-economic conditions, as well as the Chi-Square test to examine the relationship between social and economic variables and the existence of the TPA. The results indicate that social conditions are influenced by health factors, environmental comfort, and social interactions, while economic conditions are dominated by informal sector jobs related to TPA activities. The Chi-Square test confirmed that several social and economic variables have a significant relationship with the presence of TPA Antang. Overall, the TPA generates dual impacts: environmental disturbances and socio-economic opportunities for surrounding communities.Keywords:Antang landfill, socio-economic conditions, community, waste management, Chi-Square.
Perubahan Luas Area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Antang Kota Makassar Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh Agustia Nengsih; Fathurrahman Burhanuddin; Nini Apriani Rumata
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/4eyaj761

Abstract

ABSTRAKPerkembangan penduduk dan meningkatnya aktivitas perkotaan di Kota Makassar berkontribusi terhadap peningkatan timbulan sampah yang berdampak pada keterbatasan daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Antang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan luas area TPA Antang pada tahun 2015, 2020, dan 2024 serta memproyeksikan timbulan sampah, kebutuhan lahan, dan masa pakai TPA untuk 20 tahun ke depan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial melalui pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis spasial dilakukan menggunakan teknik overlay citra satelit untuk mengidentifikasi perubahan luas area TPA, sedangkan proyeksi timbulan sampah dihitung berdasarkan pertumbuhan penduduk, faktor kompaksi, dan penutupan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas TPA Antang meningkat dari 16,8 hektar pada tahun 2015 menjadi 19,1 hektar pada tahun 2024. Proyeksi menunjukkan peningkatan timbulan sampah yang signifikan, dengan kebutuhan lahan kumulatif hingga tahun 2044 mencapai 38,11 hektar. Kondisi ini menunjukkan bahwa TPA Antang berada pada tahap kritis sehingga diperlukan strategi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kata Kunci: TPA Antang, timbulan sampah, penginderaan jauh, SIG, kebutuhan lahan. ABSTRACTPopulation growth and increasing urban activities in Makassar City have directly contributed to a rise in municipal solid waste generation, resulting in limited capacity at the Antang Final Disposal Site (TPA Antang). This study aims to identify changes in the area of TPA Antang in 2015, 2020, and 2024, as well as to predict waste generation, land requirements, and the remaining service life of the landfill over the next 20 years. The research employs a descriptive quantitative method with a spatial approach through the use of remote sensing technology and Geographic Information Systems (GIS). Spatial analysis was conducted using satellite image overlay techniques to assess changes in the landfill area, while waste generation projections were calculated based on population growth projections, compaction factors, and soil cover. The results indicate that the area of TPA Antang increased from 16.8 hectares in 2015 to 19.1 hectares in 2024. Waste generation projections show a significant upward trend, suggesting that the landfill capacity will become insufficient in the coming years. The cumulative land requirement up to 2044 is estimated at 38.11 hectares. This study concludes that TPA Antang is currently in a critical condition, highlighting the need for sustainable waste management strategies through source reduction, optimization of landfill operations, and the use of spatial technology as a basis for policymaking. Keyworsds: TPA Antang, waste generation, remote sensing, GIS, area change, land requirement.
Integrasi Principal Component Analysis dan DBSCAN untuk Klasterisasi Tingkat Keparahan Stunting pada Balita Azzah Aulia Syarif; Rizki Yusliana Bakti; Muhammad Faisal; Nini Apriani Rumata; Titik Khawa Abd Rahman; Andi Makbul Syamsuri; M. Agusalim
Buletin Sistem Informasi dan Teknologi Islam (BUSITI) Vol 7, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/busiti.v7i3.3512

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Variasi karakteristik antropometri pada balita stunting membuat satu kategori klasterisasi tidak cukup merepresentasikan kondisi pertumbuhan secara menyeluruh. Penelitian ini mengusulkan integrasi Principal Component Analysis (PCA) dan DBSCAN untuk mengidentifikasi subkelompok keparahan stunting pada balita di Puskesmas Turikale (Agustus 2025; n = 406). Setelah pembersihan dan standardisasi usia, PCA diterapkan pada HAZ, WAZ, WHZ, dan usia saat  pengukuran, menghasilkan tiga komponen utama (PC1–PC3) yang menjelaskan 99.35% variasi data. DBSCAN pada ruang PCA (ε = 0.60; MinPts = 5; Euclidean) menghasilkan tiga klaster dengan 12.56% noise yang direalokasi menggunakan nearest-centroid agar seluruh sampel berlabel. Hasil menunjukkan tiga subkelompok: stunting sedang dengan underweight pada usia lebih tua (n = 357), stunting sedang disertai risiko gizi lebih pada usia lebih muda (n = 24), dan stunting berat pada usia dini (n = 25). Dibandingkan K-medoids dan Fuzzy C-Means, PCA–DBSCAN memberikan validasi internal terbaik (Silhouette = 0.277; DBI = 1.062; Dunn = 0.0765). Pendekatan ini menghasilkan profil antropometri yang dapat digunakan sebagai alat bantu penentuan prioritas pemantauan dan penilaian gizi di layanan kesehatan primer, tanpa menggantikan klasifikasi WHO.