Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) PADA WARGA ≥50 TAHUN KELURAHAN JATIRASA BEKASI Tarcisia, Twidy; Siswoto, Kevin Pratama Diliano; Wahyuni, Octavia Dwi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.44202

Abstract

Beberapa tahun terakhir angka kejadian obesitas di Indonesia meningkat dari 10,5% (2017) menjadi 21,8% (2018). Obesitas sebagai major modifiable risk factor penyakit kardiovaskuler memegang peranan dalam meningkatkan angka kejadian penyakit kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskular adalah penyakit jantung-pembuluh darah dengan patofisiologi utama penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis). Aterosklerosis adalah deposit lemak, fibrin, platelet, kalsium dan debris seluler pada endotel pembuluh darah yang dapat menyumbat lumen pembuluh darah sehingga menyebabkan kematian. Aterosklerosis merupakan penyebab tersering kematian dengan peningkatan angka kejadian pada usia ≥ 50 tahun. Indikator untuk menilai adanya aterosklerosis pada individu adalah menilai ada tidaknya PAP pada individu tersebut. Pemeriksaan yang digunakan untuk melihat adanya PAP adalah pemeriksaan ABI, sedangkan pemeriksaan untuk menilai status obesitas individu adalah pemeriksaan IMT. Maka dari itu kami ingin meneliti hubungan IMT dan ABI pada warga ≥50 Tahun Kelurahan Jatirasa Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan teknik non-randomized consecutive sampling. Data yang terkumpul di uji normalitas dengan analisis hubungan antar variabel menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian kami menunjukkan tingginya angka kejadian IMT tidak diikuti dengan tingginya angka kejadian ABI tidak normal. Ditemukan hubungan tidak bermakna antara nilai IMT dan ABI (p value 1,84). Hal ini terjadi karena peranan ABI dalam menentukan resiko penyakit kardiovaskular lebih dikaitkan dengan status lemak viseral (CI) dibandingkan status obesitas (IMT).
HUBUNGAN ANTARA DURASI MENGEMUDI TERHADAP KELELAHAN AWAK MOBIL TANGKI BBM PT. PERTAMINA TANJUNG GEREM MERAK BANTEN Mufadhdhal, Raihan Adham; Tirtasari, Silviana; Wahyuni, Octavia Dwi
Ebers Papyrus Vol. 28 No. 1 (2022): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v28i1.19420

Abstract

Lamanya durasi mengemudi akan menyebabkan kelelahan dan menjadi faktor resiko utama dari kecelakaan lalu lintas. Regulasi tersebut sudah diatur dalam UU no.22 Tahun 2009 bahwa durasi mengemudi maksimal 8 jam per hari. Hasil studi sebelumnya, didapatkan durasi mengemudi >8 jam dan rata-rata mencapai 11-12 jam, 68 awak mobil tangki (AMT) sebanyak 47 orang (69,1%) mengalami kelelahan tingkat sedang. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi mengemudi terhadap kelelahan pada awak mobil tangki (AMT) BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten. Studi ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Sample dalam studi ini adalah 151 awak mobil tangki I (sopir) yang bekerja di Terminal Bahan Bakar di Tanjung Gerem Merak Banten yang diambil menggunakan quota population sampling. Tingkat kelelahan dinilai menggunakan kuesioner subjective self rating test dan data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi AMT Terminal BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten mengalami kelelahan sebesar 65,6%, para AMT Terminal BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten mayoritas bekerja >8 jam (79,5%), dan terdapat hubungan yang bermakna antara durasi mengemudi terhadap kelelahan pada AMT BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten dengan nilai p = 0,001 (p<0,05) dan pada asosiasi epidemiologis didapatkan PR 2,58 (1,47-4,52), artinya orang yang bekerja >8 jam memiliki resiko kelelahan 2,58 kali lebih besar dibandingkan yang bekerja ?8 jam.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) TERHADAP FLAT FOOT PADA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA Adiputra, Rana; Wahyuni, Octavia Dwi
Ebers Papyrus Vol. 28 No. 1 (2022): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v28i1.19421

Abstract

Flat foot (Pes planus, latin) yang dikenal sebagai "kaki datar" adalah kelainan bentuk kaki yang relatif umum terjadi. Secara khusus, ini mengacu pada hilangnya lengkung longitudinal medial kaki sehingga sisi medial telapak kaki hampir atau sampai menyentuh tanah. Flat foot dapat menyebabkan efek samping seperti ketidak stabilan pada kaki sebagai penyangga tubuh dan akhirnya berpengaruh pada gerakan berjalan normal yang menimbulkan rasa kelelahan, nyeri, dan keterbatasan gerak. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya flat foot. Berat badan berlebih menyebabkan tekanan yang lebih besar pada kaki sebagai penumpu tubuh ketika berdiri dan mengakibatkan arkus longitudinal medialis kaki menjadi makin rendah (flat foot). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh IMT terhadap kejadian flat foot pada mahasiswa Universitas Tarumanagara. Desain penelitian ini yang dilakukan adalah analitic, dengan metode crossectional dan teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 114 mahasiswa yang dilakukan di Universitas Tarumanagara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna pada Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap Flat foot dengan nilai p = 0,0001 (p<0,05) dan didapatkan PRR 23.116, artinya semakin berlebihnya berat badan memiliki resiko flat foot 23,116 lebih besar dibandingkan berat badan normal atau kurang.
ABSES BEZOLD AKIBAT OTITIS MEDIA DENGAN MASTOIDEKTOMI RADIKAL DAN INSISI DRAINASE : SEBUAH LAPORAN KASUS Tanujaya, Cyntia; Santiago, Ivan; Surya, Guntur; Wahyuni, Octavia Dwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51357

Abstract

Abscess Bezold, pertama kali dijelaskan pada tahun 1881 oleh Dr. Friedrich Bezold, merupakan komplikasi langka namun serius dari otitis media kronis yang terjadi akibat perforasi dan infeksi prosesus mastoideus, umumnya disebabkan oleh bakteri aerob dan anaerob. Kondisi ini ditandai dengan gejala nyeri leher, otalgia, otore, kehilangan pendengaran, dan pembengkakan di sekitar mastoid. Pengenalan dini dan penanganan cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa, seperti mediastinitis dan infeksi intrakranial. Laporan ini memaparkan kasus seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang mengembangkan abses Bezold setelah mengalami riwayat keluarnya cairan telinga kronis dan gangguan pendengaran selama satu tahun akibat trauma dengan cotton bud. Pasien hadir dengan pembengkakan yang membesar dan nyeri di belakang telinga kanan serta leher lateral, disertai otore berbau tidak sedap. Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda peradangan, kerak, nyeri tekan, serta membran timpani yang perforasi. Pemeriksaan computed tomography (CT) menunjukkan destruksi tulang mastoid dengan pembentukan abses yang meluas ke daerah leher. Kasus ini menekankan pentingnya mempertimbangkan abses Bezold sebagai diagnosis diferensial pada pasien otitis media kronis yang disertai pembengkakan dan nyeri leher. Pencitraan, khususnya CT scan, berperan penting dalam memastikan diagnosis dan menilai luasnya infeksi. Drainase bedah dini dikombinasikan dengan terapi antibiotik yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi berat dan mencapai hasil yang baik.
BEDAH FLAP KONJUNGTIVA SEBAGAI TATALAKSANA ALTERNATIF PADA PERFORASI ULKUS KORNEA : LAPORAN KASUS Santiago, Ivan; Tanujaya, Cyntia; Juwita, Oktarina Nila; Wahyuni, Octavia Dwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51363

Abstract

Secara global, sekitar 39 juta orang mengalami kebutaan dan 246 juta mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat, dengan sekitar 80% kasus sebenarnya dapat dicegah. Kelainan kornea menyumbang sekitar 5,1% penyebab kebutaan di dunia, dan salah satu penyebab tersering adalah ulkus kornea infeksius yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius. Prosedur conjunctival flap (Gundersen) merupakan salah satu pilihan bedah untuk ulkus yang tidak responsif terhadap terapi medis karena mampu melindungi permukaan kornea dan mendukung penyembuhan. Seorang laki-laki Jawa berusia 59 tahun datang dengan keluhan nyeri hebat, fotofobia, dan discharge purulen pada mata kiri setelah trauma okular satu bulan sebelumnya, dengan riwayat diabetes melitus tidak terkontrol, hipertensi, serta operasi katarak. Pemeriksaan menunjukkan ulkus kornea perforasi sentral berukuran besar dengan dasar nekrotik dan kekeruhan kornea, sehingga dilakukan total conjunctival flap. Perbaikan awal tampak pascaoperasi, namun pada kontrol lanjutan terjadi pelepasan flap yang menyebabkan kekambuhan gejala dan akhirnya memerlukan tindakan eviserasi karena prognosis visual yang buruk. Ulkus kornea sendiri ditandai oleh defek epitel yang menyebabkan nekrosis stroma, umumnya akibat infeksi bakteri, dan prosedur conjunctival flap diindikasikan pada ulkus yang tidak sembuh atau mengalami perforasi karena dapat memberikan perlindungan permukaan serta mengurangi nyeri, meskipun komplikasi seperti pelepasan flap dapat terjadi. Walaupun penatalaksanaan pada kasus ini tidak berhasil, berbagai studi melaporkan tingkat keberhasilan anatomi lebih dari 70% pada tindakan conjunctival flap. Secara keseluruhan, conjunctival flap tetap menjadi pilihan terapi yang sederhana, efektif, dan ekonomis untuk menangani ulkus kornea refrakter, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya.
Analisis Ergonomi Posisi Duduk dan Desain Kursi terhadap Keluhan Nyeri Punggung Bawah pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Tarumanagara Tia Aura Caroline; Octavia Dwi Wahyuni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i1.9769

Abstract

Low back pain is a musculoskeletal disorder characterized by pain in the lumbar region. The occurrence of low back pain is often associated with improper ergonomics, particularly related to sitting posture and the design of seating used. These conditions may lead to increased static load on the lumbar spine, resulting in excessive stretching of muscles and ligaments, impaired muscle circulation, and decreased strength of the back and abdominal muscles. Over time, these biomechanical changes can contribute to the development of low back pain. The aim of this study was to analyze the relationship between sitting posture ergonomics and chair design with complaints of low back pain among medical students at Tarumanagara University. This study was an observational analytic study with a cross-sectional design conducted from March to August 2025 involving 232 subjects from the Faculty of Medicine, Tarumanagara University, selected using simple random sampling. Data were collected through self-administered questionnaires using Google Forms, anthropometric measurements using a measuring tape, and photographic documentation of sitting posture taken by the researchers. This study obtained ethical clearance and research permission. Data were analyzed using SPSS with the Chi-square test. The results showed a significant association between sitting posture and complaints of low back pain (p-value = 0.042; PRR = 1.68), as well as between chair design and low back pain complaints (p-value = 0.046; PRR = 2.52).In conclusion, there is a significant relationship between sitting posture ergonomics and chair design with complaints of low back pain among medical students at Tarumanagara University.    
The Impact of Physical Activity on Premenstrual Syndrome in Female Students at the Faculty of Medicine, Tarumanagara University Carin, Carin; Wahyuni , Octavia Dwi
Alami Journal (Alauddin Islamic Medical) Journal Vol 10 No 1 (2026): JANUARY
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/alami.v10i1.61813

Abstract

Background: Premenstrual syndrome (PMS) is a common disorder among women of reproductive age that can disrupt daily activities and quality of life. Various factors, including physical activity, may influence the incidence and severity of PMS. However, limited studies focus on medical students, a group with high academic demands and potentially unbalanced physical activity. Objective: To analyze the relationship between physical activity level and the incidence and severity of PMS among female students of the Faculty of Medicine, Universitas Tarumanagara. Methods: This was an analytical observational study with a cross-sectional design conducted at the Faculty of Medicine, Universitas Tarumanagara, from December 2024 to February 2025. A total sampling approach was used, involving 233 female students; after exclusions, 226 respondents (aged 17–24 years) were included. Data on physical activity (IPAQ) and PMS symptoms (SPAF) were collected via questionnaires and analyzed using the chi-square test. Results: Most respondents reported engaging in light physical activity (71.2%). PMS was more frequent and severe among those with light activity (21.7% severe PMS) compared to moderate (14.0% severe) and heavy activity (4.5% severe, majority asymptomatic). Statistical analysis showed a significant relationship between physical activity level and PMS incidence and severity (p=0.004). Conclusion: Higher levels of physical activity (moderate to heavy) are associated with a reduced risk and severity of PMS symptoms among female medical students. Routine physical activity is recommended to support reproductive health.
PARESE NERVUS OCULOMOTOR AKIBAT MASSA PADA AREA INTRASELLA : CASE REPORT Nursalim, Agla Awal; Sasangko, Hari Andang; Wahyuni, Octavia Dwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.56801

Abstract

Parese nervus okulomotor (CN III) merupakan gangguan neurologis yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi intrakranial, termasuk lesi pada area sinus kavernosus dan sella turcica. Salah satu penyebabnya adalah massa pada area intrasella, seperti adenoma pituitari. Adenoma pituitari merupakan tumor intrakranial yang relatif sering ditemukan dan dapat menimbulkan gejala akibat efek massa terhadap struktur di sekitarnya, termasuk gangguan saraf kranial dan gangguan lapang pandang. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis parese nervus okulomotor yang disebabkan oleh massa pada area intrasella. Seorang laki-laki usia 43 tahun datang dengan keluhan kelopak mata sulit terbuka, gangguan pergerakan bola mata, nyeri kepala, dan kebas pada wajah. Pemeriksaan neurologis menunjukkan adanya ptosis serta penurunan lapang pandang. Hasil MRI kepala non kontras menunjukkan gambaran massa intrasella dengan kemungkinan microadenoma pituitari. Pasien mendapatkan terapi simptomatik dan direncanakan evaluasi hormon serta rujukan ke bedah saraf untuk penatalaksanaan lebih lanjut. Massa pada area intrasella, seperti adenoma pituitari, dapat menimbulkan gejala neurologis berupa parese nervus okulomotor dan gangguan lapang pandang akibat efek penekanan struktur sekitarnya. Identifikasi dini melalui evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan menentukan tatalaksana yang tepat.
PERBANDINGAN KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN ANGGOTA MAPALA DAN MAHASISWA KEDOKTERAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN AKTIVITAS FISIK DANIA SAVITRI; Octavia Dwi Wahyuni
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/0151px26

Abstract

Kekuatan genggaman tangan (handgrip Strength/HGS) merupakan indikator penting kekuatan otot secara umum dan berkaitan dengan status kesehatan. Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) melakukan aktivitas fisik intensif di alam bebas, sementara mahasiswa kedokteran cenderung memiliki aktivitas fisik yang lebih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan HGS antara anggota Mapala dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Total 162 responden terdiri dari 81 anggota mapala dan 81 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Pengukuran HGS dilakukan menggunakan dinamometer CAMRY EH101. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questioner-Short From (IPAQ-SF). Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Terdapat perbedaan signifikan pada rerata HGS tangan kanan antara anggota Mapala ((33,91 ± 6,85 kg) dan mahasiswa FK (26,53 ± 7,30 kg) dengan p < 0,0001. Perbedaan signifikan juga ditemukan pada HGS tangan kiri antara anggota Mapala (31,05 ± 6,99 kg) dan mahasiswa FK (25,09 ± 7,37 kg) dengan p < 0,0001. Perbedaan signifikan tersebut konsisten pada analisis berdasarkan jenis kelamin dan tingkat aktivitas fisik. Anggota Mapala memiliki kekuatan genggaman tangan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Perbedaan ini disebabkan oleh jenis aktivitas fisik yang melibatkan penggunaan tangan secara spesifik pada kegiatan Mapala.