Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN SABUN PADAT EKSTRAK BUAH TERONG BELANDA (Solanum betaceum) Ernawaty Ginting; Syarifah Nadia; Siti Muliani Julianty; Jhonyman So’arota Zebua
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1000

Abstract

Paparan sinar matahari yang berlebihan dapat mempercepat proses penuaan kulit seseorang. Antioksidan memperlambat penuaan dengan melindungi kulit dari kerusakan oksidatif akibat paparan sinar matahari. Oleh karena itu, diperlukan zat antioksidan untuk mengatasi masalah ini. Salah satu sumber alami antioksidan yang efektif adalah tanaman terong belanda (Solanum betaceum). Antioksidan ini dapat digunakan dalam produk kosmetik, seperti sabun, sebagai salah satu bahan aktif utama yang membantu menjaga kulit tetap sehat dan terlihat muda, serta mengurangi risiko kerusakan yang disebabkan oleh sinar matahari berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui buah terong belanda (Solanum betacea) dalam bentuk ekstrak sediaan sabun pada perbandingan tertentu memberikan stabilitas yang baik dan tidak mengiritasi kulit. Metode eksperimental digunakan dalam penelitian ini yang diawali dengan metode maserasi menggunakan penyari etanol 96% pada buah terong belanda (Solanum betacea) yang akan diformulasikan pada sediaan sabun yang berkonsentrasi 1%, 1,5% dan 2%.Metode yang digunakan untuk meninjau kualitas fisik sediaan yang dibuat dengan uji organoleptik, uji pH, uji kestabilan busa, uji homogenitas dan uji iritasi. Penentuan IC50 dilakukan pengujian untuk menentukan kategori aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah terong belanda (Solanum betacea) dalam bentuk ekstrak dapat diformulasi menjadi sediaan sabun, merupakan sediaan yang homogen dan stabil, mempunyai kisaran pH 9,2-10,1,, memiliki tinggi busa 4-6 cm. Hasil pengukuran IC50 antioksidan dari ekstrak dan sediaan sabun berkonsentrasi 0%, 1%, 1,5% dan 2% berturut-turut adalah 57,77 ppm, 334,99 ppm, 146,78 ppm, 113,67 ppm dan 53,99 ppm. Sediaan sabun dari ekstrak buah terong belanda (Solanum betacea) aman ketika diaplikasikan pada kulit karena tidak menimbulkan iritasi.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS LIPSTIK EKSTRAK KULIT TERONG BELANDA (Solanum betaceum (Cav.)) DENGAN CARNAUBA-PARAFIN WAX Ernawaty Ginting; Sudewi Sudewi; Syarifah Nadia; Dwinda Dwinda; Putri Rahmadani
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1001

Abstract

Indonesia menjadi negara yang penuh dengan tumbuhan yang unik-unik, dimana keunikan ini menjadi tumbuhan yang khas di Indonesia. Terong belanda (Solanum betaceum (Cav.)) menjadi tanaman yang khas di Indonesia. Pada kulit terong belanda dapat diolah kembali sehingga mengurangi limbah alam ini. Kandungan senyawa flavonoid pada kulit terong belanda memiliki potensi sebagai pelembap alami sehingga dijadikan bahan alami yang diformulasikan ke dalam suatu sediaan seperti lipstik. Kulit terong belanda dikeringkan lalu direndam dengan etanol 96%. Proses perendaman berlangsung selama 3 hari lalu dipekatkan dengan rotary evaporator. Ekstrak etanol kulit terong belanda yang diperoleh, diformulasikan ke dalam sediaan lipstik. Sediaan lipstik tersebut di uji sifat fisik sediaan dan ditentukan antioksidan pada ekstrak etanol kulit terong belanda dan sediaan lipstik. Pengujian yang lakukan pada sediaan lipstik menunjukkan kualitasnya. Setiap sediaan lipstik sudah tercampur merata dan menghasilkan warna yang sesuai. Warna tersebut menempel dengan baik pada permukaan kulit. Pada saat dioleskan, sediaan lipstik tidak menunjukkan tanda-tanda iritasi. Sediaan lipstik memiliki rentang kekerasan sebesar 168,3 g – 158,3 g dan stabil ketika diberikan suhu yang berbeda-beda. Sediaan lipstik memiliki rentang titik lebur sebesar 530C - 560C. Senyawa flavonoid telah terbukti berpotensi sebagai pelembap alami yang efektif, sehingga lebih aman dibandingkan dengan bahan sintetis yang sering digunakan.
KARAKTERISASI SIMPLISIA DAUN SELADA (Lactuca sativa L.) DAN DAUN CINCAU HIJAU (Cyclea barbata Miers.) Syarifah Nadia; Ernawaty Ginting; Nurmala Sari; Nur’azmi Fadhillah Br Siagian; Wanda Octavianti Ahdiansyah
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1028

Abstract

Daun selada memiliki khasiat antara lain dapat memperbaiki organ dalam, mencegah panas dalam, meningkatkan metabolisme, menjaga kesehatan rambut, mencegah kulit kering, dan mengobati insomnia. Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers) sering digunakan oleh masyarakat sebagai penurun panas (demam), panas dalam, radang lambung dan mual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi simplisia daun selada (Lactuca sativa L) dan daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers). Karakterisasi simplisia meliputi kadar abu, kadar abu tidak larut dalam asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan kadar air. Hasil dari peroleh pengujiaan karakterisasi simpilisa daun selada kadar abu 13,21%, kadar abu tidak larut dalam asam 0,60%, kadar sari larut air 33,35%, kadar sari larut etanol 13,7% dan kadar air 6,64%. Hasil skrining fitokimia dari daun selada (Lactuca sativa L.) menunjukkan adanya golongan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, terpenoid, tanin. Karakterisasi simplisia daun cincau hijau kadar abu 5,66%, kadar abu tidak larut dalam asam 0,2%, kadar sari larut air 13,14%, kadar sari larut etanol 13,18% dan kadar air 5,31%. Hasil skrining fitokimia dari daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers) menunjukkan adanya golongan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin.
REVIEW ARTICLE BENEFIT OF VOLATILE ORGANIC COMPOUNDS IN CITRUS SPECIES Nerdy Nerdy; Nilsya Febrika Zebua; Syarifah Nadia; Kharina Tambunan; Fatia Zahra; Tedy Kurniawan Bakri
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1092

Abstract

The volatile organic compounds in Citrus species, such as oranges, limes, and lemons, are crucial for both plant ecology and various human applications. This review article explores the diverse benefits of Citrus volatile organic compounds, highlighting their roles in plant defense mechanisms, pollinator attraction, and intraspecies communication. The chemical composition of Citrus volatile organic compounds includes key compounds like limonene, β-linalool, trans-citral, β-myrcene, α-Pinene, β-Pinene, γ-Terpinene, and Terpineol, which exhibit significant anti-microbial, anti-inflammatory, anti-oxidant, and potential anti-cancer properties. These compounds are integral to human health, utilized in aromatherapy, and enhancing mood and reducing anxiety. Industrially, Citrus volatile organic compounds are indispensable in the food and beverage industry as flavoring agents, in cosmetics and personal care products for their refreshing scents and skin benefits, and in cleaning products for their anti-microbial properties. Furthermore, their therapeutic potential has led to their inclusion in pharmaceutical and nutraceutical products. This review underscores the multifaceted role and economic significance of Citrus volatile organic compounds, advocating for continued research and technological advances to fully harness their benefits in health, industry, and sustainability.
Sosialisasi Pemakaian Sediaan Obat Salep Mata dan Tetes Mata yang baik pada Masyarakat Siti Muliani Julianty; Eva Sartika Dasopang; Yessi Febriani; Ernawaty Ginting; Syarifah Nadia; Fatia Zahra; Ariyanti Kesuma Wardani
ABDIMASKU : Jurnal Pengabdian Masyarakat UTND Vol 2 No 2 (2023): Edisi Juli 2023 - Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/jpmtnd.v2i2.786

Abstract

Salep mata dan obat mata merupakan salah satu obat steril yang digunakan dalam mengatasi gangguan pada mata. Pemakaian obat mata tanpa menggunakan petunjuk dengan benar dapat menimbulkan bahaya pada mata. Sering terkena polusi udara merupakan salah satu penyebab iritasi pada mata. Masyarakat harus mengetahui tata cara dalam penggunaan dan penyimpanan obat mata. Kurangnya pengetahuan dalam menggunakan dan menyimpan obat mata yang benar dapat memperburuk keadaan mata. Tujuan kegiatan ini adalah menambah wawasan pengatahuan masyarakat terkait cara pemakaian sediaan obat salep mata dan tetes mata yang baik. Kegiatan ini dilakukan dengan cara menjelaskan secara langsung dan pemberian leatfet kepada masyarakat. Sosialisasi cara pemakaian obat sediaan salep mata dan tetes mata memperoleh tanggapan yang baik. Mayoritas masyarakat kurang menyadari cara pemakaian obat yang benar. Hasil dari kegiatan terkait dengan cara pemakaian sediaan obat salep mata dan tetes mata dapat memberikan manfaat yang luas untuk masyarakat dan mendapatkan dampak positif yang maksimal dengan cara penggunaan sediaan yang benar.
PEMANFAATAN GLISEROL DARI MINYAK JELANTAH SEBAGAI SEDIAAN SPRAY ANTIBAU KAKI YANG MENGANDUNG EKSTRAK ETANOL BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) Syarifah Nadia; Nurul Karimah; Ernawaty Ernawaty; Supran Hidayat Sihotang; Dea Anggreini; Siti Rahmi Ningrum; Kanne Dachi; Nurmala Sari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8353

Abstract

Used cooking oil is a household waste that has the potential to cause environmental pollution if not properly managed. One of its applications is as a raw material for biodiesel production, which generates glycerol as a by-product. This glycerol can be further utilized as a base material for pharmaceutical formulations. Meanwhile, robusta coffee beans (Coffea canephora) are known to contain secondary metabolites with antibacterial properties. This study aimed to utilize glycerol derived from the transesterification of used cooking oil as a base for a foot deodorant spray containing ethanolic extract of robusta coffee beans and to evaluate its physical characteristics and antibacterial activity. This experimental study included the preparation of ethanolic extract of robusta coffee beans using the maceration method, glycerol production from used cooking oil through transesterification, functional group analysis of glycerol using FTIR spectroscopy, and determination of glycerol density. Foot deodorant spray formulations were prepared with varying concentrations of robusta coffee bean ethanolic extract (1%, 2.5%, and 5%). The spray formulations were evaluated for organoleptic properties, pH, viscosity, stability, hedonic test, skin irritation, and antibacterial activity against Staphylococcus aureus using the disc diffusion method. The results showed that glycerol obtained from used cooking oil exhibited characteristic glycerol functional groups and a density of 1.21 g/mL, with a glycerol content of 99.18%. The ethanolic extract of robusta coffee beans contained alkaloids, flavonoids, tannins, steroids/triterpenoids, glycosides, and anthraquinone glycosides. All spray formulations demonstrated acceptable pH values within the physiological skin range, low viscosity, good stability, and no skin irritation. The formulation containing 5% extract showed the highest antibacterial activity against Staphylococcus aureus, with an inhibition zone diameter of 13.7 mm (strong category), and was the most preferred formulation by panelists. In conclusion, glycerol derived from used cooking oil combined with ethanolic extract of robusta coffee beans has strong potential to be developed as a safe, stable, and effective natural-based foot deodorant spray with antibacterial activity.
Antibacterial Activity of n-Hexane, Ethyl Acetate, and Ethanol Extracts of Kepundung Seeds (Baccaurea racemosa Mull.Arg.) Against Escherichia coli and Staphylococcus aureus: A Comparative Study with Phytochemical Profiling Nilsya Febrika Zebua; Syarifah Nadia; Ika Julianti Tambunan; Marcella Maran Gabean; Imanuel Damanik
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Bacterial infections remain a major global health burden, with antibiotic resistance increasingly limiting treatment options. Natural plant-based compounds represent a promising alternative source of antimicrobial agents. Baccaurea racemosa Mull.Arg. (kepundung), a tropical fruit plant native to Southeast Asia, is traditionally used in folk medicine; however, its seed fractions have not been comprehensively evaluated for antibacterial activity against both Gram-negative and Gram-positive pathogens in a single systematic study. Objectives: This study aimed to characterize the secondary metabolite profile and evaluate the comparative antibacterial activity of n-hexane, ethyl acetate, and ethanol extracts of B. racemosa seeds against Escherichia coli ATCC 25922 and Staphylococcus aureus ATCC 25923. Methods: Seeds were subjected to successive maceration using solvents of increasing polarity (n-hexane, ethyl acetate, ethanol). Phytochemical screening was performed using standard colorimetric assays. Antibacterial activity was assessed by the Kirby–Bauer disk diffusion method at concentrations of 25, 50, 100, and 200 mg/mL, with chloramphenicol as positive control and 1% DMSO as negative control. Results: Phytochemical screening detected alkaloids, flavonoids, tannins, glycosides, saponins, and steroids in all extracts. Against E. coli, the ethanol extract exhibited the largest inhibition zone (44.5 ± 1.7 mm at 200 mg/mL), classified as very strong (>20 mm), compared to ethyl acetate (8.25 ± 3.4 mm) and n-hexane (6.36 ± 1.9 mm). Against S. aureus, the ethanol extract produced an inhibition zone of 13.68 ± 0.33 mm, followed by ethyl acetate (7.46 ± 4.7 mm) and n-hexane (5.08 ± 0.78 mm). The ethanol extract demonstrated significantly higher activity against E. coli than S. aureus (p < 0.05), while n-hexane and ethyl acetate fractions showed comparable moderate activity against both bacteria. Conclusion: Baccaurea racemosa seed ethanol extract demonstrates significant antibacterial activity, particularly against Gram-negative E. coli, attributed to its polar phenolic compounds including flavonoids and tannins. These findings support the potential of B. racemosa seeds as a source of natural antibacterial agents for further pharmaceutical development.
Analisis Fitokimia Berbasis GC-MS dan Evaluasi Aktivitas Antioksidan Metode DPPH dari Ekstrak Etanol dan N-Heksan Daun Bidara (Ziziphus mauritiana Lam.) Maharani Zahra; Rahma Yulia; Syarifah Nadia; Bunga Rimta Barus
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i2.1146

Abstract

Background: The increasing public interest in herbal medicine which is safer and rarely causes side effects has made people use more natural ingredients as a source of bioactive compounds. One promising plant is the bidara leaf (Ziziphus mauritiana Lam.), known for its rich supply of secondary metabolites, including alkaloids, flavonoids, glycosides, and terpenoids, which boast pharmacological benefits, especially in their role as antioxidants. Objective: This research is conducted to determine the phytochemical compounds and examine the antioxidant potential of bidara leaf extracts prepared with ethanol and n-hexane, using experimental method. Methods: The extraction was done through maceration using 96% ethanol and n-hexane as solvents, and then we analyzed the phytochemicals via phytochemical screening and GC-MS. For checking antioxidant activity, we used the DPPH method, which involved figuring out the maximum wavelength, the operating time, measuring absorbance, and calculating the IC50 value. Results: From the phytochemical analysis, it turned out that ethanol extracts of bidara leaves feature a richer array of bioactive compounds, including alkaloids, flavonoids, glycosides, and terpenoids or steroids, in contrast to the n-hexane extracts, which only include alkaloids, glycosides, and terpenoids or steroids. Analysis using GC-MS identified that the ethanol extract was dominated by fatty acid ester compounds, including methyl palmitate and methyl oleate, while the n-hexane extract contained non-polar compounds such as squalene and tetratetracontane. Through the DPPH approach, the antioxidant activity of ethanol and n-hexane extracts was demonstrated by IC₅₀ values of 4.488 µg/mL and 7.54 µg/mL, respectively, both of which are classified as very strong, although still lower than vitamin C, which has an IC₅₀ of 2.47 µg/mL. Conclusion: The analysis indicates that the ethanol extract exhibits stronger antioxidant activity compared to the n-hexane extract.