Cut Zuriana
FKIP Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

MOTIF UNTUK PUKULAN RAPAI PASEE PADA PERTUNJUKAN UROEH DI DESA GLUMPANG VII KECAMATAN MATANGKULI KABUPATEN ACEH UTARA Amarlia, Cut; Fitri, Aida; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i1.13128

Abstract

Penelitian berjudul Motif untuk pukulan Rapai Pasee pada pertunjukan Uroeh di Desa Glumpang VII Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Mengangkat masalah (1) Bagaimana motif untuk pukulan Rapai Pasee pada pertunjukan Uroeh dan aturan-aturan yang terkandung pada pertunjukan Uroeh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan motif untuk pukulan Rapai Pasee dan aturan-aturan pada pertunjukan Uroeh di Desa Glumpang VII Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian menganalisis data dengan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam penyajian pertunjukan Uroeh Rapai Pasee terdapat motif pukulan yang berbeda diantara motif satu dan lainnya yang disebut dengan istilah lagu (gaya) yang terdiri dari lagu sa, lagu dua, lagu lhee, lagu limong, laagu tujoh, lagu sikureung dan lagu duablah. Motif pukulan (lagu) juga dapat divariasikan dan dikembangkan oleh syeh (petua) yang konteksnya lebih bersifat hiburan atau untuk menambah variasi lagu-lagu yang dibawakan pada saat pertunjukan Uroeh seperti pukulan ekstra (hot) yang ikuti oleh awak rapai dan dimainkan secara berulang-ulang oleh para awak rapai dalam jangka waktu yang lama menurut kesepakatan yang telah dibuat bersama diantara dua kelompok (kuru). Dalam pertunjukan Uroeh Rapai Pasee ada 10 turan-aturan yang ditetapkan pada pertunjukan Uroeh merupakan kesepakatan diantara kedua kelompok (kuru) sebelum pertunjukan berlangsung atau pada saat proses latihan.Kata Kunci: motif Rapai Pasee, Uroeh dan Kuru.
DINAMIKA DAN SEMIOTIKA KESENIAN RAPAI PULOET GEURIMPHENG DI KECAMATAN KUTA BLANG KABUPATEN BIREUEN Mursalan, Ali; Palawi, Ari; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 3, No 4 (2018): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v3i4.13117

Abstract

Penelitian ini berjudul Dinamika dan Senimotika Rapai Puloet Geurimpheng di Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen. Masalah penelitian ini adalah sejauh mana keberadaan musik tradisional Rapai Puloet Geurimpheng dalam keseharian masyarakat di Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen dan makna syair Rapai Puloet Geurimpheng. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sejauh mana keberadaan musik tradisional Rapai Puloet Geurimpheng dalam keseharian masyarakat di Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen dan makna syair Rapai Puloet Geurimpheng. Pendekatan yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini menggunakan jenis deskriptif. Sumber data dalam penelitian adalah pencipta, penerus generasi ke-3, pelatih, penari, pemusik Rapai Puloet Geurimpheng sanggar Jeumpa Puteh desa Blang Mee serta masyarakat Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Teknik analisis data melalui reduksi data, display data dan verifikasi data. Hasil menunjukkan bahwa dalam keseharian masyarakat, Rapai Puloet Geurimpheng memiliki 7 babak yang menggunakan syair yaitu saleum syech, saleum aneuk syahi, cakrum, tingkah rapai, saman, kisah dan gambus/lanie. Keaslian dari Rapai Puloet Geurimpheng masih terjaga hingga sekarang, Rapai ini hanya ada di desa Blang Mee di sanggar Jeumpa Puteh dan rata-rata masyarakat mengetahui tentang Rapai Puloet Geurimpheng dan ikut ambil andil dalam melestarikan dan mengembangkannya, ditandai dengan adanya penampilan yang sering dipentaskan di acara pernikahan maupun event-event lainnya. Syair yang digunakan dalam bentuk bahasa Aceh yang berisi tentang nasehat, mengisahkan tentang kisah sejarah masa lalu, perintah dan ajaran kebaikan serta syair yang berupa teka-teki. Di dalam syairnya juga terdapat syair terikat dan syair bebas.Kata kunci: dinamika, semiotika, Rapai Puloet Geurimpheng
BERINAI DALAM KONTEKS BUDAYA ACEH Yusnita, Emilia; Zuriana, Cut; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v3i3.13108

Abstract

Penelitian ini berjudul Berinai dalam Konteks Budaya Aceh, dengan rumusan masalah bagaimanakah fungsi berinai dalam konteks budaya Aceh dan bagaimanakah bentuk-bentuk motif inai pada masyarakat Aceh (Teunom). Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan fungsi berinai dalam konteks budaya Aceh (Teunom) dan mendeskripsikan bentuk-bentuk motif inai pada masyarakat Aceh (Teunom). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif dan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif yaitu berupa reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi berinai dalam konteks budaya Aceh (Teunom) yaitu berinai pada upacara perkawinan, berinai pada upacara khitanan dan berinai sebagai trend pada kehidupan masyarakat Aceh, prosesi disetiap upacara berbeda-beda, pada upacara perkawinan berinai dilakukan 3 hari sebelum acara puncak sedangkan pada upacara khitanan dilakukan pada malam acara puncak sedangkan untuk trend dalam sehari-hari berinai dilakukan kapanpun diperlukan. Adapun bentuk-bentuk motif yang digunakan pada inai masyarakat Aceh yaitu motif Hindia, Arab dan Aceh (motif pintoe aceh, pucok reubong, puta taloe, awan meucanek, gigoe darut, pucok paku, bungoeng meulu dan bungoeng seulanga), masyarakat Aceh (Teunom) lebih sering menggunakan motif Hindia dan Arab apalagi untuk upacara perkawinan karna dianggap lebih modern dan kekinian.Kata Kunci: Berinai, Budaya Aceh
BENTUK PENYAJIAN TARI OTEH RODA DI DESA KEBET KECAMATAN BEBESEN KABUPATEN ACEH TENGAH Zuhrah, Elya; Selian, Rida Safuan; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 4 (2017): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i4.8943

Abstract

Penelitian ini berjudul Bentuk Penyajian Tari Oteh Roda di Desa Kebet Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah Bentuk Penyajian Tari Oteh Roda yang meliputi bentuk gerak, pola lantai, tata busana, tata rias, pantas, properti dan syair tari Oteh Roda di Desa Kebet Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah. Data bersumber dari Ibrahim Syah selaku pakar budayawan yang berasal dari Gayo dan pencipta tari Oteh Roda. Pendekatan penelitian adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini, yaitu mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Oteh Roda diciptakan oleh Ibrahim Syah pada tahun 1960. Oteh itu sendiri memiliki arti panggilan atau sebutan anak gadis dan Roda adalah kincir air. Oteh Roda adalah anak gadis yang sedang menumbuk padi di Roda atau kincir air. Tari Oteh Roda ditarikan oleh 6 penari wanita dan fungsi tari Oteh Roda sebagai sarana hiburan yang mencerminkan aktivitas sehari-hari anak gadis pada musim panen, dengan melakukan kegiatan menumbuk padi sehingga menjadi beras.Kata Kunci: bentuk penyajian, tari Oteh Roda.
BENTUK PENYAJIAN TARI LINGGANG MEUGANTOE DI SANGGAR RAMPOE BANDA ACEH Aina, Janurul; Kurnita, Taat; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i2.5749

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Bentuk Penyajian Tari Linggang Meugantoe di Sanggar Rampoe Banda Aceh.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Linggang Meugantoe.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif.Subjek dalam penelitian ini adalah ketua sanggar, koreografer dan penari di sanggar Rampoe Banda Aceh sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah tari Linggang Meugantoe di sanggar Rampoe Banda Aceh.Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.Sedangkan teknik analisis data dengan reduksi, penyajian dan verifikasi data.Lokasi penelitian yaitu di Sanggar Rampoe Banda Aceh.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tari Linggang Meugantoe adalah sebuah tari kreasi yang diciptakan pada tahun 2010.Tari ini diciptakan oleh seorang koreografer bernama Andhika Ujung dalam rangka untuk mengikuti sebuah festival tari kreasi. Dalam kata lain, tari ini dibuat untuk penampilan hiburan. Jumlah penari dalam tari ini yaitu 6 penari perempuan atau disesuaikan dengan keadaan panggung, namun penari pokoknya yaitu 6 penari.Gerakan-gerakan yang terdapat pada tari ini berjumlah 37 gerak yang berangkat dari beberapa gerak tradisional Aceh dan gerakan melayu dan terdapat pula satu properti yang digunakan yaitu ketipung/kopak.Penggunaan pola lantai pada tari Linggang Meugantoe beragam-ragam mulai dari pola lurus, lingkaran dan sebagainya.Tari ini memiliki gerakan-gerakan yang lincah dan energik, begitu pula dengan tempo gerakan, ada yang lambat maupun cepat. Syair yang terdapat dalam tari ini hanya beberapa bait yang dinyanyikan oleh suara vokal dari seorang pemusik dan kemudian di sambut oleh para penari. Sedangkan untuk alat musik yang digunakan yaitu beberapa alat musik tradisional seperti gimbe, rapaI, gendang dan serunee kalee.Busana yang dikenakan dalam tari Linggang Meugantoe tidak lepas dari pakaian tradisional Aceh yaitu baju dan celana, sedangkan untuk songket digunakan songket melayu.Sedangkan untuk pentas yang digunakan untuk penampilan tari Linggang Meugantoe adalah pentas Prosenium.Kata Kunci: bentuk penyajian, tari Linggang Meugantoe.
PENDEKATAN SCIENTIFIC PADA PEMBELAJARAN SENI TARI DI MTSN MEURAXA BANDA ACEH Raihanurrahmi, Raihanurrahmi; Kurnita, Taat; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i1.5611

Abstract

ABSTRAK Penelitian berjudul pendekatan scientific pada pembelajaran seni tari di MTsN Meuraxa Banda Aceh. Mengangkat masalah bagaimana pelaksanaan pendekatan scientific pada pembelajaran seni tari Kelas VIII-1 di MTsN Meuraxa Banda Aceh dan kendala-kendala apa saja yang dihadapi guru dalam pembelajaran dengan pendekatan scientific kelas VIII-1 di MTsN Meuraxa Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pendekatan scientific pada pembelajaran seni tari kelas VIII-1 di MTsN Meuraxa Banda Aceh dan untuk mendeskripsikan kendala-kendala apa saja yang dihadapi guru dalam pembelajaran seni tari dengan pendekatan scientific kelas VIII-1 di MTsN Meuraxa Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penilitian ini kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian ini di MTsN Meuraxa Banda Aceh. Pengumpulan data yang digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data dengan cara mereduksi, display data, serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan scientifik pada pembelajaran seni tari di MTsN Meuraxa Banda Aceh sudah melaksanakan pembelajaran dengan Pendekatan scientific dengan baik, walaupun ada beberapa siswa yang kurang aktif dan terdapat kendala: kesiapan guru dalam pelaksanaan menjalaskan harus secara efektif, siswa kesulitan dalam menalar, dan kurangnya waktu dalam proses belajar mengajar.Kata kunci: pendekatan, scientific, pembelajaran, tari
PROSES PEMBELAJARAN RAPAI PULOET DI SANGGAR ANEUK NANGGROE SAGOE PADANG TIJI KABUPATEN PIDIE Dhalina, Rahma; Kurnita, Taat; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v2i1.5610

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Proses Pembelajaran Rapai Puloet di Sanggar Aneuk Nanggroe Sagoe Padang Tiji Kabupaten Pidie mengangkat masalah Bagaimana proses pembelajaran Rapai Puloet di sanggar Aneuk Nanggroe Sagoe Padang Tiji Kabupaten Pidie. Penelitian ini bertujuan Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran Rapai Puloet di sanggar Aneuk Nanggroe Sagoe Padang Tiji Kabupaten Pidie. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini ialah pelatih musik Rapai Puloet dan pemain musik Rapai Puloet di Sanggar Aneuk Nanggroe Sagoe Padang Tiji Kabupaten Pidie. Objek penelitian ini adalah proses Pembelajaran Rapai Puloet. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, teknik analisis data dengan mereduksi, display, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses Pembelajaran Rapai Puloet Di Sanggar Aneuk Nanggroe Sagoe Padang Tiji Kabupaten Pidie berlangsung melalui beberapa proses yaitu dengan pelatih membuka pelajaran atau latihan, kemudian membahas dan mengulang pelajaran tentang Rapai Puloet, selanjutnya pelatih membimbing peserta didik melakukan pemanasan, kemudian pelatih memasuki pembelajaran Rapai Puloet dalam setiap ragam gerak dan pukulan musik pada setiap pertemuan, dan akhir latihan pelatih melalukan evaluasi pada setiap ragam gerak dan pukulan yang diajarkan kemudian pelatih menutup pertemuan dengan salam. Pada kegiatan pembelajaran, pelatih menggunakan cara latihan dan praktek untuk mempermudah peserta didik menghafal gerak yang diberikan. Karena setelah mengajakan beberapa gerak dan pukulan pada peserta didik, selanjutnya pelatih menyuruh satu persatu untuk mengulangnya, sehingga pelatih dapat lebih mudah memantau peserta didik yang belum mahir. Faktor- faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran Rapai Puloet terdapat dari dalam diri peserta didik yakni kecerdasan, bakat, minat dan perhatian, serta memotivasi. Selanjutnya faktor dari luar diri peserta didik yakni keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.Kata kunci: proses pembelajaran, Rapai Puloet, Faktor.
BENTUK PENYAJIAN TARI TRADISIONAL ANDALAS DI KABUPATEN SIMEULUE Maysarah, Citra Dewi; Kurnita, Taat; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v1i3.5292

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Bentuk Penyajian Tari Tradisional Andalas di Kabupaten Simeulue. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian dan makna apa saja yang terkandung dalam setiap gerak tari tradisional Andalas di Kabupaten Simeulue khususnya tari Siram-siram dan tari Perak-perak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dan mengetahui makna yang terkandung dalam tari tradisional Andalas di Kabupaten Simeulue khususnya tari Siram-siram dan tari Perak-perak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitin ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Agar hasil penelitian dapat dipercaya, peneliti menggunakan alat bantu berupa buku catatan, kamera foto dan kamera video. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian, tari tradisional Andalas khususnya tari Siram-siram dan tari Perak-perak disajikan pada saat malam bainai gadang. Tarian ini ditarikan secara berpasangan. Tari Siram-siram memiliki 5 ragam gerakan, 18 jenis pola lantai dan menggunakan sebuah selendang dan sebotol parfum. Tari Perak-perak terdapat 5 ragam gerakan, 9 jenis pola lantai dan menggunakan sebuah selendang dan sebuah saputangan.Kata kunci: Bentuk penyajian, tari Andalas, tari Perak-perak
PERKEMBANGAN BENTUK DAN MOTIF PADA KERAJINAN TAS DI GAMPONG DAYAH DABOH KECAMATAN MONTASIK ACEH BESAR Annisa, Annisa; Selian, Rida Safuan; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v1i3.5288

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang berjudul perkembangan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar mengangkat masalah apa saja bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar serta bagaimana perkembangan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar serta mendeskripsikan perkembangan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif . Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa: bentuk tas awalnya adalah 3 bentuk yaitu selempang, tas map, dan tas furla, yang kemudian mengalami perkembangan menjadi 18 bentuk seperti tas selempang, tas mini, tas jinjing, tas ririn, tas ransel, tas golf, tas koper, tas Abg, tas setengah lingkaran, tas manik-manik, tas keong, tas mambo, tas labu, tas kipas, tas elizabeth, tas tenun, tas songket, dan tas kain spons. Motif tas di gampong Dayah Daboh awalnya adalah 10 motif puta talo, tapak leman, embun berarak, awan diris, pinto Aceh, pucok rebong, kotoran burung, bungong meulu, awan dong, dan awan keong. Motif yang berkembang menjadi 11 motif seperti pinto Aceh kombinasi motif matahari dan puta talo, pinto Aceh kombinasi bola-bola, awan keong kreasi, batik kacang, bungong meulu kreasi, bak padee, cacing, matahari, bunga timbul, motif Aceh kombinasi bunga timbul, dan bunga sulam.Kata Kunci: perkembangan, bentuk, motif, kerajinan tas
KERAJINAN GERABAH DI DESA ATEUK JAWO KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH Alfazri, Alfazri; Selian, Rida Safuan; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v1i3.5287

Abstract

ABSTRAK Penelitian berjudul Kerajinan Gerabah di Desa Ateuk Jawo dilakukan di desa Ateuk Jawo kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh, ini mengangkat masalah bagaimanakah Eksistensi dan proses pembuatan Gerabah di desa Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh serta bagaimanakah Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam konteks sosialisasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi dan proses pembuatan Gerabah di desa Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh serta mendeskripsikan bagaimanakah Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam konteks sosialisasi masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi non-partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan (mendisplay), dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa beberapa masyarakat masih ada yang memproduksikan kerajinan Gerabah, kerajinan yang dihasilkan berbentuk periuk nasi (kanot bu), belanga (beulangong) dan cobek (capah) sehingga Gerabah di Ateuk Jawo masih exist. Proses pembuatan kerajinan Gerabah di desa Ateuk Jawo melalui beberapa langkah yaitu: pengambilan jenis tanah, pengadukan tanah dengan pasir, pembentukan Gerabah, pengeringan Gerabah, dan proses pembakaran. Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam konteks sosialisasi masyarakat merupakan bentuk penanaman nilai secara turun temurun dengan cara mengamati, berpartisipasi dan berbuat yang dilakukan oleh pengrajin selanjutnya. Kata Kunci: eksistensi, kerajinan, gerabah, konteks sosialisasi masyarakat