Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Perkembangan pabrik gula tanggulangin di Sidoarjo tahun 1835-1933: kajian sejarah ekonomi Alfin Ganendra Albar; Reza Hudiyanto; Ronal Ridhoi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i12023p44-58

Abstract

The Tanggulangin sugar factory was one of the sugar factories that reach its peak production in late nineteenth century. As a production unit that involved many labors and capital, this Sugar Factory significantly has ead to the changin on adjacent people. This study described the growth of the Tanggulangin Sugar Factory which affected the surrounding area in 1835-1933. In order to reconstruct its development, the researcher uses historical research methods. The historical research method is achieved by several stages, namely topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. Based on the sources found and with an economic history study approach, this research shows that the Tanggulangin Sugar Factory was the first Chinese-owned sugar factory in Sidoarjo in 1835. Infrastructure was also built to expedite the process of the Tanggulangin Sugar Factory with the Tanggulangin Railway Station and an irrigation system. adequate. The Open-Door Political Policy gave rapid progress to the Tanggulangin Sugar Factory. Tanggulangin Sugar Factory experienced rapid progress after being acquired by Oei Tiong Ham by updating its machines and expanding its land. Even so, this sugar factory has an impact on population growth and employment opportunities as well as the occurrence of social conflicts that arise from the workers and their surroundings. The existence of the Tanggulangin Sugar Factory also gives impetus to the emergence of local economic passion in the surrounding area. The triumph of this factory ended which was marked by a decline in production and a temporary closure during the Malaise Crisis. This study of the development of the sugar factory provides a wealth of writing about Indonesia's economic history.Pabrik Gula Tanggulangin merupakan salah satu pabrik gula yang pernah berjaya di Sidoarjo pada masa Kolonial. Sebagai sebuah unit produksi yang melibatkan banyak tenaga kerja dan modal, pabrik gula ini sangat mempengaruhi masyarakat yang ada di sekelilingnya. Penelitian ini berusaha untuk melihat perkembangan Pabrik Gula Tanggulangin yang mempengaruhi wilayah sekitar pada tahun 1835-1933. Dalam rangka merekonstruksi perkembangannya, peneliti menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah dicapai dengan beberapa tahapan, yaitu pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan dari sumber-sumber yang ditemukan dan dengan pendekatan kajian sejarah ekonomi, penelitian ini menunjukkan bahwa Pabrik Gula Tanggulangin merupakan pabrik gula pertama milik Tionghoa di Sidoarjo pada tahun 1835. Infrastruktur juga dibangun untuk melancarkan proses Pabrik Gula Tanggulangin dengan Stasiun Kereta Api Tanggulangin dan sistem irigasi yang memadai. Kebijakan Politik Pintu Terbuka memberikan kemajuan pesat terhadap Pabrik Gula Tanggulangin. Pabrik Gula Tanggulangin mengalami kemajuan yang pesat setelah diakuisisi oleh Oei Tiong Ham dengan memperbarui mesin-mesinnya dan meluaskan lahannya. Sekalipun demikian, pabrik gula ini berdampak pada pertumbuhan penduduk dan adanya lapangan pekerjaan serta terjadinya konflik sosial yang muncul dari para pekerja dan sekitarnya. Keberadaan Pabrik Gula Tanggulangin juga memberikan dorongan terhadap munculnya gairah ekonomi lokal di wilayah sekitar. Kejayaan pabrik ini berakhir yang ditandai dengan penurunan produksi dan penutupan sementara ketika terjadi Krisis Malaise. Kajian perkembangan pabrik gula ini memberikan kekayaan terhadap penulisan sejarah ekonomi Indonesia
MENGGAUNGKAN WISATA PEDESAAN MELALUI KULINER YELLOW CHIPS PUMPKIN (YECHIPUM) KHAS DESA PADUSAN, MOJOKERTO Ronal Ridhoi; Rosyida Oktaviani; Jati Saputra Nuriansyah; Dhika Maha Putri
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um032v6i1p18-26

Abstract

ECHOING RURAL TOURISM THROUGH CULINARY YELLOW CHIPS PUMPKIN (YECHIPUM) TYPICAL OF PADUSAN VILLAGE, MOJOKERTOPumpkin can be used as a basic ingredient for making typical village culinary in the form of cookies. However, pumpkin has not been used optimally by rural communities as a traditional regional culinary product, in this case, Padusan Village, Mojokerto Regency. This paper aims to: (1) provide education on the potential utilization of pumpkin as the main raw material for Padusan special culinary; (2) developing an innovative micro business at Padusan Village; (3) provide information on how unique and attractive branding is. By using the training method, this paper tries to help and assist the residents of Padusan Village to take advantage of the opportunity to create a culinary industry made from pumpkin. In this study, pumpkin is processed into dry cookies called Yechipum, an acronym for Yellow Chips Pumpkin. After conducting training and practice with culinary practitioners, it can be concluded that Yechipum can be a typical souvenir of Padusan Village as a culinary support for rural tourism. In addition, the branding that has been made also has a novelty that can produce HKI for Padusan Village and also State University of Malang.Labu kuning dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kuliner khas desa dalam bentuk cookies. Meski demikian, labu kuning belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat pedesaan sebagai produk kuliner tradisional khas daerah, dalam hal ini yaitu Desa Padusan Kabupaten Mojokerto. Tulisan ini bertujuan untuk: (1) memberikan edukasi pemanfaatan potensi labu kuning sebagai bahan baku utama kuliner khas Padusan; (2) mengembangkan bibit-bibit UMKM baru di Desa Padusan yang inovatif; (3) memberikan informasi bagaimana branding yang unik dan menarik. Dengan menggunakan metode pelatihan, tulisan ini berusaha membantu dan mendampingi warga Desa Padusan memanfaatkan peluang untuk membuat industri kuliner berbahan dasar labu kuning. Dalam kajian ini, labu kuning diproses menjadi cookies kering yang diberi nama Yechipum, akronim dari Yellow Chips Pumpkin. Setelah melakukan pelatihan dan praktik bersama praktisi kuliner, dapat disimpulkan bahwa Yechipum bisa menjadi oleh-oleh khas Desa Padusan sebagai kuliner penunjang wisata pedesaan. Selain itu, branding yang telah dibuat juga mempunyai novelty yang dapat menghasilkan HKI untuk Desa Padusan dan Universitas Negeri Malang.
Sistem irigasi Regentschap Nganjoek tahun 1900-1934 Retha Herdian Putri; Ronal Ridhoi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i32023p379-392

Abstract

Regentschap Nganjoek is an area that has experienced drought problems during the dry season and floods during high rainfall since the 20th century. This study attempts to describe the condition of Regentschap Nganjoek prior to the repair or development of irrigation and the irrigation development process in the region. The areas where irrigation is built are located along the Brantas River which has an important role for the community such as agriculture and the plantation industry. The Brantas River has also had an impact on flooding and drought in Nganjuk, so it is necessary to repair and develop irrigation in the form of canals and drainage. This study applies the historical method by utilizing various sources such as written archives such as colonial records, newspapers, and magazines. In addition, photos of irrigation development and other sources were found. This article shows that the repair and development of irrigation in Regentschap Nganjoek aims to maintain water availability and be able to overcome flooding in the early 20th century.Regentschap Nganjoek merupakan daerah yang memiliki masalah kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada saat curah hujan yang tinggi sejak abad ke-20. Kajian ini mencoba menggambarkan kondisi bagaimana Regentschap Nganjoek sebelum adanya perbaikan atau pembangunan irigasi dan proses pembangunan irigasi di wilayah tersebut. Daerah yang dijadikan tempat pembangunan irigasi berada di sepanjang aliran Sungai Brantas yang memiliki peran penting untuk masyarakat seperti pertanian dan industri perkebunan. Sungai Brantas juga menimbulkan dampak banjir dan kekeringan di Nganjuk sehingga diperlukan perbaikan dan pembangunan irigasi berupa kanal dan drainase. Penelitian ini menerapkan metode sejarah dengan memanfaatkan berbagai sumber seperti arsip tertulis seperti catatan kolonial, surat kabar, maupun majalah selain itu ditemukan foto pembangunan irigasi dan sumber lainnya. Artikel ini menunjukkan bahwa adanya perbaikan dan pembangunan irigasi di Regentschap Nganjoek bertujuan untuk menjaga ketersedian air dan dapat menanggulangi banjir di awal abad ke-20.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN MOTIF DAN PELATIHAN BATIK BERBASIS RAGAM HIAS SITUS CANDI SINGOSARI Aditya Nugroho Widiadi; Yuliati Yuliati; Najib Jauhari; Ronal Ridhoi
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um032v6i2p150-161

Abstract

COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH THE DEVELOPMENT OF BATIK MOTIFS AND TRAINING BASED ON THE DECORATIVE VARIETIES OF THE SINGOSARI TEMPLE SITECandirenggo village has extraordinary tourism potential to be developed as a source of community empowerment. One of these potentials is the existence of Singosari Temple. Unfortunately, the existence of Singosari Temple cannot be utilized optimally because it only relies on tourist visits to the temple and surrounding sites. Even though the Singosari Temple site has so many ornamental motifs on some parts of the temple as well as on some artifactual relics located in the temple courtyard. This article aims to explain the development of batik motifs by taking inspiration from the variety of decorations that exist in Singosari Temple and several statues around it. Then, the motif was offered to the people of Candirenggo village through batik training activities. The method of developing batik motifs was through identification studies at the Singosari Temple site. Then continued with focus group discussion activities with archeologist and local community leaders. The result of this development is a form of batik motif named Singhāsana Padma. In the final stage, a community empowerment program is carried out through batik training activities in Singosari village which can be used for iconic merchandise for Singosari Temple tourism.Kelurahan Candirenggo memiliki potensi wisata yang luar biasa untuk bisa dikembangkan sebagai sumber-sumber pemberdayaan masyarakat. Salah satu potensi tersebut adalah keberadaan Candi Singosari. Namun sayangnya, keberadaan Candi Singosari belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena hanya mengandalkan kunjungan wisatawan ke candi dan situs sekitarnya. Padahal situs Candi Singosari memiliki kekayaan motif ragam hias pada beberapa bagian dinding candi maupun pada beberapa peninggalan artefaktual yang terletak di halaman candi. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan pengembangan motif batik dengan mengambil inspirasi dari ragam hias yang ada pada Candi Singosari dan beberapa arca di sekitarnya. Untuk kemudian, motif tersebut ditawarkan kepada masyarakat Kelurahan Candirenggo melalui kegiatan pelatihan membatik. Metode pengembangan motif batik ini melalui studi identifikasi di situs Candi Singosari, lalu dilanjutkan dengan kegiatan focus group discussion dengan para arkeolog dan tokoh masyarakat setempat. Hasil dari pengembangan ini adalah bentuk motif batik yang diberi nama Singhāsana Padma. Pada tahap akhir dilaksanakan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pelatihan membatik di Kelurahan Singosari yang dapat dimanfaatkan untuk merchandise ikonik untuk wisata Candi Singosari.
EDUKASI PEMELIHARAAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN WARGA DESA WATUTULIS KECAMATAN PRAMBON DARI LIMBAH POSPAK Prabawangi, Rani Prita; Fatanti, Megasari Noer; Ridhoi, Ronal; Pramesti, Lilya Windi; Alfianistiawati, Rohmatin
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v7i2.47580

Abstract

Hasil penelitian Ecoton menyatakan sekitar 37% aliran sungai Brantas tercemar oleh bekas popok sekali pakai (pospak). Kondisi tersebut semakin diperparah dengan adanya kepercayaan warga lokal akan penyakit suleten, yang akan menjangkiti bayi dan batita jika pospak tidak dibuang ke sungai. Dengan harga yang jauh lebih murah daripada popok kain, masyarakat cenderung memilih pospak sebagai kebutuhan dasar bayi dan batita mereka. Namun, sebagian besar orang tua masih belum memahami bagaimana cara yang benar dalam membuang dan mengelola sampah pospak bekas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasi kader PKK dan Posyandu Desa Watutulis sebanyak 60 orang terkait (1) cara membuang sampah pospak yang benar dan (2) literasi informasi menangkal hoaks seputar pospak. Metode pelaksanaan terbagi menjadi (1) perencanaan (diskusi dan wawancara dengan mitra); (2) pelaksanaan sosialisasi dan edukasi terkait bahaya membuang popok sekali pakai ke sungai dan hoaks seputas pospak; dan (3) evaluasi kegiatan melalui kuis dan pengisian kuesioner yang dibagikan kepada kader posyandu dan PKK Desa Watutulis Kecamatan Prambon Sidoarjo. Hasil post-test menunjukkan bahwa peserta memahami bahaya membuang sampah pospak  ke sungai, faktor penyebab suleten,  serta tertarik untuk mendaur ulang sampah pospaknya. Oleh karena itu, sebagai bentuk kelanjutan program, pihak mitra meminta untuk mengadakan program sosialisasi serupa dengan target sasaran yang lebih luas agar masyarakat dapat lebih teredukasi khususnya terkait limbah pospak.
Penokohan dalam kesenian Ketoprak Rukun Karya, Sumenep 1976-2020 Rahmadani, Nadia; Yuliati, Yuliati; Ridhoi, Ronal
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i22023p186-204

Abstract

Ketoprak is one of the famous arts in Sumenep. Ketoprak Madura has certain uniqueness, one of which is the male player in its characterization. One of the Ketoprak that has high flying hours in Sumenep Regency is Rukun Karya which was established in 1976. This study aims to explain that Madurese women are highly respected as a symbol of honor for Madurese men so they are not allowed to play in Ketoprak Rukun Karya. This study uses historical methods consisting of topic selection, heuristics, criticism, interpretation, and historiography. This research reveals that the characterizations in Ketoprak Rukun Karya are performed and played by men, for both male and female characters.  This is influenced by the local Madurese culture which considers that women should not be exposed in public performances.Ketoprak adalah salah satu kesenian yang terkenal di wilayah Sumenep. Ketoprak Madura memiliki keunikan tertentu salah satunya, yaitu pemain laki-laki di dalam penokohannya. Salah satu Ketoprak yang memiliki jam terbang tinggi di Kabupaten Sumenep adalah Rukun Karya yang berdiri pada tahun 1976. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bahwa perempuan Madura menjadi sesuatu yang sangat dihormati dan tidak memiliki kebebasan di dalam bidang kesenian sehingga tidak diperkenankan untuk bermain dalam Ketoprak Rukun Karya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa penokohan Ketoprak Rukun Karya dilakukan oleh laki-laki, untuk tokoh laki-laki maupun tokoh perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh budaya lokal Madura yang menganggap bahwa perempuan tidak boleh tampil dalam pertunjukan umum.
Pengembangan website Gasing: Galaxy of Singhasari untuk pembelajaran sejarah kelas X IPA-E SMAN I Singosari Saidah, Nabilatus; Ridhoi, Ronal
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i22023p275-285

Abstract

This study aims to develop digital-based learning media in the form of web programming. This research uses the ADDIE method which consists of five stages, namely Analyze, Design, Development, Implementation and Evaluation. This developed product has passed the process of validating materials and media. The validation results showed an excellent category with a validity score for the material was 95.8 percent and the media validation result was 91.07 percent. Data collection is carried out with the stages of interviews, questionnaires and documentation. Field trials are carried out to test the feasibility of the developed media. The field trial stage consists of two processes, namely small group trials and large groups. In small group trials, results were obtained 91.87 percent while in large group trials, they got results of 90.65 percent with excellent categories. This score shows that the use of the Gasing website for history learning is considered to have been successful and feasible for students X IPA-E SMAN 1 Singosari.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis digital berupa pemrograman web. Adapun penelitian ini menggunakan metode ADDIE yang terdiri dari lima tahap yakni Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Produk yang dikembangkan ini telah melewati proses validasi materi dan media. Hasil validasi menunjukkan kategori sangat baik dengan perolehan skor validitas untuk materi adalah 95.8 persen dan hasil validasi media sebesar 91.07 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan tahapan wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Uji coba lapangan dilakukan untuk menguji kelayakan dari media yang dikembangkan. Tahapan uji coba lapangan terdiri dua proses yakni uji coba kelompok kecil dan kelompok besar. Dalam uji coba kelompok kecil diperoleh hasil 91.87 persen sedangkan dalam uji coba kelompok besar mendapatkan hasil 90.65 persen dengan kategori sangat baik. Skor ini menunjukkan bahwa penggunaan website Gasing untuk pembelajaran sejarah dinilai telah berhasil dan layak digunakan untuk peserta didik kelas X IPA-E SMAN 1 Singosari. 
Potensi materi gerakan modern Islam di Indonesia awal abad ke-20 sebagai literatur penunjang buku teks Nasri'ah, Ayisatun; Ridhoi, Ronal
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i12024p30-39

Abstract

Abstract History learning is the process of understanding, analyzing and interpreting past events by utilizing various historical learning sources such as written documents, images, artifacts and others. The modern Islamic movement is a political and religious movement to fight colonialism and imperialism in Indonesia which emerged at the beginning of the 20th century, marked by the Islamic reform and modernization movement. This research examines the material potential of the modern Islamic movement in Indonesia in the early 20th century using library research methods by evaluating books, literature, notes and various reports related to the problem to be solved. Through literature review, this research reviews material more widely so that it has potential as supporting literature for history textbooks. Abstrak Pembelajaran sejarah merupakan proses memahami, menganalisis dan menginterpretasikan peristiwa masa lampau dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar sejarah seperti dokumen tertulis, gambar, artefak dan lain- lainnya. Gerakan modern Islam merupakan gerakan politik dan keagamaan untuk melawan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia muncul awal abad ke-20 dengan ditandai gerakan reformasi dan modernisasi Islam. Penelitian ini mengkaji potensi materi gerakan modern Islam di Indonesia awal abad ke-20 dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan penilaian terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Melalui kajian kepustakaan, penelitian ini mengulas materi lebih luas sehingga memiliki potensi sebagai literatur penunjang buku teks sejarah.
SEJARAH MITIGASI BENCANA ERUPSI DI LERENG TIMUR GUNUNG KELUD, 2008-2015 Rohmah, Utia binti Yuhanni'ur; Ridhoi, Ronald
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 7, No. 2, June 2024
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v7i2.455

Abstract

The eruption of Mount Kelud in 2014 showed deviations in eruption characteristics and unpredictability of lava flow direction, and the most severely affected locations were due to volcanic materials. The incident led to the analysis of the eruption and disaster mitigation on the eastern slope of Mount Kelud. In the preparatory process, the authors used a material environmental history approach, integrating Bankoff’s concept of co-volcanic societies and the community’s perception of living harmoniously with hazards in Pandansari Village. This study applied historical research methods, including topic selection, heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The data sources were activity reports, newspapers, photos, maps, and interviews. Findings revealed that the 2014 eruption of Gunung Kelud had a significant impact on Pandansari Village, damaging infrastructures and agricultural land. In addition, this study highlighted the subsequent development of a more systematic disaster mitigation approach implemented by the local community and government in response to the threat of volcanic eruptions. 
Sejarah erupsi Semeru 1994 dan upaya penanganannya di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang Ning Tias, Ana Ayu; Ridhoi, Ronal; Lutfi, Ismail
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p26-42

Abstract

This paper aims to discuss 1994’s Semeru eruption and its aftermath, especially the history of eruption and mitigation in Pronojiwo District, Lumajang Regency. Using the history methods, as well as perusing some newspaper archives, government archives, and interviews, this paper tries to explore the new narratives of the Semeru eruption and how the indigenous faced the disaster. This paper finds out that the eruption of Mount Semeru which occurred in 1994 was one of the most devastating eruptions in its history, which caused a major impact on environmental damage, settlements, agricultural land, forestry land, livestock, and dead life. Several mitigation efforts after the disaster were done by the government in the form of building evacuation posts, alert posts, making check dams, transmigration departures, and material reliefs. These efforts were effective because the aid was distributed to the victims. However, the facts show that the community and the government were not ready to face the impact of natural hazards. Tulisan ini bertujuan membahas erupsi Semeru tahun 1994 dan akibatnya, khususnya sejarah erupsi dan penanganannya di Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Dengan menggunakan metode sejarah serta melakukan pembacaan mendalam terhadap beberapa arsip surat kabar, arsip pemerintah, dan wawancara, tulisan ini mencoba menggali narasi baru erupsi Gunung Semeru dan bagaimana masyarakat menghadapi bencana tersebut. Tulisan ini menunjukkan bahwa letusan Gunung Semeru yang terjadi pada Februari 1994 merupakan salah satu letusan yang paling dahsyat dalam sejarahnya, yang menimbulkan dampak besar terhadap kerusakan lingkungan, pemukiman hingga kematian penduduk. Beberapa upaya penanganan pasca bencana yang dilakukan pemerintah yaitu berupa pembangunan posko pengungsian, posko siaga, pembuatan cek dam, pemberangkatan transmigrasi, dan bantuan material. Berbagai upaya tersebut terbukti efektif, karena bantuan bencana disalurkan kepada korban. Meski demikian, fakta menunjukkan bahwa masyarakat dan pemerintah belum siap menghadapi dampak bencana alam yang datang tiba-tiba.