Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Capacity Building Kewirausahaan Bagi Remaja di Bandarlampung dalam Upaya Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Nomor 8 Indra Jaya Wiranata; Karisma, Gita Karisma; Iwan Sulistyo
Ragom Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Ragom: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNILA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah pengangguran masih menjadi salah satu indikator tingginya tingkat kemiskinan. Populasi terus bertambah, sedangkan inovasi dan lapangan pekerjaan pertumbuhannya tidak beriringan dengan pertumbuhan populasi. Di beberapa daerah, bertambahnya tingkat pengangguran masih menjadi masalah. Bandar Lampung menyumbang sebanyak 15.200 orang usia produktif sebagai pengangguran pada tahun 2020. Kondisi ini bertolak belakang dengan Tujuan Global SDGs nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan dengan hanya mengharapkan lowongan pekerjaan dari perusahaan atau instansi daerah maka laju pengurangan angka tersebut akan sangat lambat, mengingat terdapat regulasi sendiri untuk penerimaan karyawan. Solusi yang bisa menjadi jalan keluar yaitu meningkatkan minat berwirausaha bagi remaja produktif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kewirausahaan remaja di Bandar Lampung, khususnya remaja dengan rentang umur 18 sampai 25 yang merupakan sebagian masyarakat di Bandar Lampung dengan status sedang mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, dan dengan sedang diberlakukannya pembelajaran daring, maka intensitas berada di rumah semakin tinggi, sehingga memiliki waktu yang banyak untuk mengelola wirausaha. Sasaran peserta yang akan diundang merupakan perwakilan dari komunitas dan universitas di Bandar Lampung, dengan langkah awal melakukan pre-test dan diakhiri dengan post-test maka akan terlihat peningkatan kapasitas sebagai target utama dari kegiatan ini. Kata kunci: Capacity Building, Remaja, Wirausaha
China-Venezuela Relations: China Dilemmatic Options towards Venezuela Crisis and the Role of China Community of Common Destiny Principles in Maintaining Cooperation Alamsyah, Mirah Satria; Wiranata, Indra Jaya
JASSP Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : LPPM Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jassp.v1i2.32

Abstract

Oil prices directly impact Venezuela's circumstance due to 95% of their revenue come from oil export. Since 2013, oil prices drop significantly compared to the previous year. Thus, the crisis hits Venezuela severely. The impacts not only feel in domestic level but also in international level. China is Venezuela's bilateral partner that was impacted by the Venezuela crisis. Venezuela failed to fulfill their oil export to China to pay their loan in the oil-for-loan diplomacy scheme. Thus, their cooperation failed to fulfill the economic gain. However, China still shows the action that favorable Venezuela. Backing up non-intervention toward Venezuela in the UN, provide new loan and adjust the payment of the previous loan also diversify their investment in Venezuela. This paper argues that this action is no more for merely material gain. But it is the action that is based on the newly ideational aspect of China's foreign policy, which is the China Community of Common Destiny. Thus, this research will analyze how this rhetoric idea involves China's action towards Venezuela. Also, this research will address their relations and China's diplomatic option toward their relations with Venezuela in crisis circumstances.
STRATEGI PEMERINTAH KOTA BANDARLAMPUNG - INDONESIA TERKAIT PERUBAHAN IKLIM PADA 2015-2020 Sulistyo, Iwan; Karisma, Gita; Wiranata, Indra Jaya
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 4 No. 1 (2022): JHII September 2022
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v4i1.11

Abstract

Perubahan iklim membawa dampak bencana yang tak terhindarkan bagi tiap wilayah di dunia. Lampung menjadi salah satu daerah yang rawan bencana banjir terutama dapat menjadi kian memburuk akibat perubahan iklim. Artikel ini membahas berbagai potensi bencana di Kota Bandar Lampung dan melihat strategi pemerintah kota dalam mengatasi berbagai potensi bencana. Wawancara dan studi pustaka digunakan sebagai Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini. Kota Bandarlampung sudah berupaya melakukan berbagai kebijakan adaptasi terhadap perubahan iklim. Pemerintah kota membuat regulasi dan berinvestasi pada isu perubahan iklim. Kebijakan regulasi relevan misalnya tertuang dalam RPJMD Kota Bandar Lampung 2010-2015 dan Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandar Lampung Tahun 2016-2021 (Perda Kota Bandar Lampung No. 09 Tahun 2018). Berbagai bentuk investasi terkait infrastruktur, pemerintah kota telah melakukan pembuatan peta-peta kepadatan penduduk dan lokasi genangan, pengembangan drainase dan sanitasi kota. Penyulingan air (2010 – masih berjalan) kedua, ada program Kampung Hijau, Rencana Induk Pengelolaan Sampah Terpadu,Pendidikan Bahan Ajar Perubahan Iklim di SD dan SMP, Konservasi Air Tanah Melalui Pembuatan Lubang Resapan Biopori, gerakan tanam pohon dan lain lain.
Perang dan Lingkungan: Menelaah Konsekuensi Ekologis Perang dan Perlindungan Hukum Wiranata, Indra Jaya; Revilia, Regiana
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.59

Abstract

Dalam konflik kekerasan bersenjata, selain penderitaan manusia dan kerusakan infrastruktur, terdapat dampak yang cukup besar terhadap lingkungan. Dampak konflik bersenjata dan perang melampaui pertimbangan sosial-politik dan ekonomi. Dampak ini menyebabkan kerusakan ekosistem yang meliputi kerusakan habitat, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi sumber daya, antara lain, dan ini terus berlanjut lama setelah konflik berakhir. Penelitian ini menyoroti dampak lingkungan dari konflik bersenjata berskala besar, khususnya, perang yang melibatkan Israel-Palestina, perang Irak, atau perang Vietnam. Penelitian ini meneliti bagaimana bencana lingkungan terlibat melalui penggundulan hutan, perang kimia, polusi udara, polusi air, erosi situs selama konflik ini. Penelitian ini berupaya menjawab masalah ini dengan menggunakan pendekatan kualitatif, meninjau literatur dan studi kasus. Data yang digunakan meliputi jurnal akademik, informasi yang diberikan oleh lembaga internasional serta studi kasus yang terkait dengan wilayah yang terkena dampak konflik. Analisis ini didasarkan pada konsep keamanan lingkungan dan perang, yang menyatakan bahwa kerusakan lingkungan menimbulkan bahaya bagi ekosistem dan meningkatkan kekacauan sosial-politik yang berujung pada konflik yang berkepanjangan. Instrumen hukum internasional lain yang diteliti meliputi Konvensi Jenewa, the Environmental Modification Convention (ENMOD), dan Statuta Roma dari the International Criminal Court (ICC), yang diperiksa kapasitasnya untuk memastikan integritas lingkungan selama perang. Selain itu, fungsi UNEP dan berbagai LSM terkait perlindungan lingkungan di wilayah yang terkena dampak perang juga diteliti. Sementara perdebatan gerakan senjata global masih berlangsung, tantangan baru muncul dalam bentuk perlindungan dan rehabilitasi alam setelah perang.
Comparative Study of World Urban Farming Practices: Efforts to Support Food Security and Environmental Conservation Wiranata, Indra Jaya
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025): JHII Desember 2025
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v7i1.119

Abstract

Accelerated urbanization, climate change, and rising food insecurity have led cities to adopt urban agriculture to improve food systems and support environmental sustainability. This study provides a comparative analysis of urban agriculture practices in seven countries: Iran, the United Kingdom, Argentina, South Korea, Singapore, Zimbabwe, and New Zealand. It examines how these practices contribute to food security and environmental conservation. Methods like community gardens, rooftop and vertical farming, permaculture, and community agroecology differ across contexts. They reflect varying levels of government support, ranging from strong policy-driven models in Singapore and South Korea to community-led initiatives in Zimbabwe and Iran. Urban agriculture plays a significant role in food security, especially in regions vulnerable to food shortages and in national food strategies. It also offers environmental benefits, including the creation of green spaces, climate mitigation, urban heat reduction, resource conservation, and improved biodiversity. The findings, based on a literature review of academic studies, policy reports, and case studies, show that the success of urban agriculture hinges on its fit with local conditions, support from policy frameworks, and its integration into broader sustainable development approaches. This positions urban agriculture as an important tool for building resilient urban food systems.
UPAYA PENCEGAHAN PELECEHAN SEKSUAL DI LINGKUNGAN SEKOLAH Karisma, Gita Karisma; Sulistyo, Iwan; Jaya Wiranata, Indra; Revilia, Regiana; Nizar, Moh
Ragom Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): Ragom: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNILA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/ragom.v3i2.33

Abstract

Kekerasan dan Pelecehan seksual sudah merambah ke lingkungan sekolah mengkhawatirkan masa depan pendidikan. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2022 menunjukkan bahwa 34,51% peserta didik berpotensi mengalami kekerasan seksual. Proposal ini mengusulkan kegiatan sosialisasi deteksi modus pelecehan seksual sebagai upaya pencegahan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menargetkan siswa SMU di sekolah Diniyah Bandarlampung. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, diskusi, dan tanya jawab, dengan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Luaran dari kegiatan ini adalah peningkatan pemahaman siswa mengenai modus pelecehan seksual dan cara menghindarinya, serta materi penyuluhan yang informatif.
COMPARATIVE STUDY OF URBAN FARMING PRACTICES AROUND THE WORLD: EFFORTS TO SUPPORT FOOD SECURITY AND ENVIRONMENTAL CONSERVATION Indra Jaya Wiranata
Proceedings International Indonesia Conference on Interdisciplinary Studies Vol. 1 (2025): Proceedings of The International Indonesia Conference on Interdisciplinary Studies (I
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Accelerated urbanization, climate crisis, and increasing food insecurity in various parts of the world have prompted cities to seek innovative strategies to ensure the sustainability of food systems while preserving the environment. One approach that is increasingly being adopted is urban agriculture, which combines food production with ecosystem services. This study conducts a comparative analysis of various urban agriculture practices in seven countries—Iran, the United Kingdom, Argentina, South Korea, Singapore, Zimbabwe, and New Zealand—to assess their impact on food security and environmental conservation. Each region has different forms of practices such as community gardens, rooftop gardens, vertical farming, permaculture, and community agroecology, which are implemented to enhance social solidarity, community empowerment, energy efficiency improvements, and food sovereignty. Government support varies from weak to very strong, with Singapore and South Korea providing comprehensive policy interventions, while Zimbabwe and Iran tend to rely on community-led initiatives. Contributions to food security are particularly notable in regions with high food vulnerability, such as Iran and Zimbabwe, as well as through national-scale food security strategies, such as in Singapore. On the other hand, contributions to environmental conservation include the provision of public green spaces, climate change mitigation, urban heat island cooling, carbon sequestration, water and soil resource conservation, and biodiversity enhancement. This study employs a qualitative approach using a comparative study method based on literature review. Data were collected from various scientific publications, policy reports, and relevant case studies, then analyzed to identify similarities, differences, and success factors of urban agriculture practices in each country. The analysis focused on the relationship between the form of practice, the level of policy support, and its impact on food security and environmental sustainability. The findings of this study confirm that the effectiveness of urban agriculture is determined by the alignment of practice forms with the local context, adequate policy support, and its integration into sustainable development strategies, thereby functioning as a strategic instrument in building a resilient and environmentally friendly urban food system.
Modeling Non-State Actor Interactions in Inclusive Urban Ecology: The Role of Community Gardens in Sustainable City Development Wiranata, Indra Jaya; Simbolon, Khairunnisa
Global and Policy Journal of International Relations Vol 14, No 01 (2026)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v14i01.5641

Abstract

Urban areas are increasingly dealing with connected issues like environmental damage, food insecurity, and the loss of inclusive public spaces, especially in fast-growing cities like Bandar Lampung. These problems require responses that involve the community and go beyond government-led initiatives. This research looks at how community gardens, supported by groups other than the government, like local communities, regional governments, and international networks such as UCLG-ASPAC, that supports local governments in Asia-Pasific through advocacy, capacity building, and promoting inclusive sustainable development. Using examples from around the world, the study examines the urban agriculture program in Singapore, Rosario, Seoul, Seville and Yogyakarta. These cases show how community gardens can boost biodiversity, improve air quality, support food sovereignty, and create inclusive public spaces. Tropical cities, unlike those in temperate climates, can take advantage of year-round growing seasons, which opens up new possibilities for ecological innovation and local food systems. This research emphasizes that community gardens are not just green spaces; they are socio-ecological infrastructures that help strengthen urban resilience and promote justice. The involvement of groups outside the government is key to starting and expanding these initiatives. In line with Sustainable Development Goals (SDG 11, SDG 2, and SDG 13), the study concludes with practical suggestions for integrating community gardening into inclusive urban planning, particularly in tropical areas. This research provides valuable insights for policy-makers, practitioners, and international networks on creating ecologically fair and community-driven urban futures.