Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Analisa Tingkat Kerentanan Banjir Berbasis SIG pada Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember Sonia Nuri Aprilia; Nunung Nuring Hayati; Rindang Alfiah
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 2 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.694 KB) | DOI: 10.19184/matrapolis.v3i2.32095

Abstract

Berdasarkan DIBI, bencana banjir di Kabupaten Jember memiliki persentase tertinggi dibandingkan dengan bencana alam lainnya, yaitu 59,34 %. Menurut BPBD Kabupaten Jember, salah satu kecamatan yang berpotensi tinggi terjadi banjir adalah Kecamatan Sumbersari. Berdasarkan data terbaru, banjir yang terjadi di Kecamatan Sumbersari setinggi 25 – 150 cm yang mengakibatkan rusaknya 13 bangunan rumah, 1 mushallah, dan sarana prasarana umum lainnya. Melihat riwayat terjadinya banjir di Kecamatan Sumbersari yang mengakibatkan kerugian terus meningkat disetiap tahunnya dan didukung dengan tidak adanya peraturan tata ruang yang membahas mengenai penanganan meminimalisir banjir di Kecamatan Sumbersari, bukan tidak mungkin lagi potensi banjir di kecamatan Sumbersari semakin meningngkat. Maka drai itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir menggunakan analisis overlay dan merumuskan prioritas penanganan banjir di Kecamatan Sumbersari dengan menggunakan teknik analisis analisis hierarki proses (AHP). Berdasarkan hasil analisis overlay diketahui kerawanan banjir di Kecamatan Sumbersari terklasifikasi menjadi tiga (3), yaitu tingkat kerentanan rawan (rendah), cukup rawan (sedang), dan sangat rawan (tinggi). Prioritas penanganan banjir di Kecamatan Sumbersari berdasarkan metode struktural dapat dilakukan dengan pengembangan dan normalisasi saluran drainase, pembangunan hutan kota, pembangunan sumur resapan, serta pembuatan waduk retensi. Sedangkan berdasarkan metode non struktural, prioritas penanganan meminimalisir banjir di Kecamatan Sumbersari dapat dilakukan dengan pengelolaan dan penyediaan tempat sampah dan perencanaan pertanian dengan konsep agroforestri.
Penentuan Prioritas Pengembangan Infrastruktur Wilayah Pesisir Kecamatan Muncar Menggunakan Metode Importance – Performance Analysis (IPA) Aurelia Zara Adela; Akhmad Hasanuddin; Rindang Alfiah
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 3 No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.402 KB) | DOI: 10.19184/matrapolis.v3i2.36643

Abstract

Kecamatan Muncar merupakan salah satu kecamatan yang berada di ujung timur Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Selat Bali. Kecamatan Muncar memiliki potensi yang beragam, berdasarkan RTRW Kabupaten Banyuwangi tahun 2012 – 2032 ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan dan Wilayah Pengembangan Pariwisata II dengan image wisata spiritual dan wisata bahari. Akan tetapi pada kondisi eksisting infrastruktur yang ada dinilai masih kurang mendukung kegiatan di Pesisir Muncar, sehingga terdapat permasalahan antara lain: pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, banyaknya sampah di kawasan Pantai Muncar, sering terjadi abrasi pantai, serta kurangnya lampu penerangan. Selain itu, pada infrastruktur perikanan juga belum optimal, antara lain: akses menuju TPI Brak Kalimoro jalannya sempit dan belum beraspal, pengangkut ikan yang rendah, dermaga yang ada di Pelabuhan Perikanan belum berfungsi dan SPBN yang beroperasinya tidak menentu. Sehingga penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui prioritas pengembangan infrastruktur wilayah Pesisir Muncar dan memberikan arahan pengembangan infrastrukturnya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan rasionalistik serta jenis penelitiannya adalah kuantitatif dan kualitatif. Pada penentuan prioritas pengembangan infrastruktur wilayah pesisir Kecamatan Muncar menggunakan teknik Importance-Performance Analysis (IPA) dan untuk menentukan arahan pengembangan infrastruktur menggunakan analisa triangulasi. Berdasar hasil penelitian, dapat diketahui prioritas infrastruktur, ialah: prioritas 1 (sistem pengelolaan limbah dan sanitasi, persampahan, drainase, dan jaringan jalan), prioritas 2 (fasilitas pendukung transportasi, cold storage, pabrik es, Stasiun Pengisian Bahan bakar Nelayan, dan Tempat Pelelangan Ikan), dan prioritas 3 (puskesmas, Koperasi Unit Desa, rumah makan, dan hotel atau homestay).
Prioritas Pengembangan Wisata Pantai Paseban Kecamatan Kencong Kabupaten Jember Berbasis Persepsi Masyarakat Evi Minarsih; Rindang Alfiah; Indra Nurtjahjaningtyas
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/matrapolis.v4i1.32931

Abstract

Paseban Beach is one of the beaches designated as nature tourism in the RTRW of Jember Regency in 2015-2035. In the strategic plan (RENSTRA) of Jember Regency for 2016-2021 Paseban Beach is also designated as nature tourism. Based on the RIPPDA document of Jember Regency in 2015, Paseban beach was designated as a natural tourism area with potential activities in the form of beach tourism. In the existing condition, the allotment of Paseban beach is used as nature tourism with massive tourism development. This is due to several factors, namely the tourism component that has not been fulfilled and human resources that are not ready for the development of Paseban beach tourism. So that many impacts occur on Paseban Beach tourism. One of the most prominent impacts on Paseban beach tourism is the problem of waste caused by tourist activities that are not balanced with the availability of tourism components and public awareness. This study uses primary data in the form of field observations and questionnaires and secondary data, namely literature studies and agency surveys. The research respondents used were sourced from tourist visits to Paseban Beach in 2015 as many as 15,000 people. Then the number of respondents was determined using the slovin technique with the results of 100 respondents. The method used in this study is a descriptive method to identify the characteristics of the tourism component of Paseban Beach and Importance Performance Analysis (IPA) to determine the priority of developing the tourism component of Paseban Beach. Based on the analysis that has been done, the results obtained are development priorities in quadrant A, namely gazebos, sign boards and tourist maps.
Mitigasi dan Analisis Tingkat Risiko Bencana Banjir di Kabupaten Situbondo Irham Zulfi Maulana; Sri Sukmawati; Rindang Alfiah
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/matrapolis.v4i1.37551

Abstract

Kabupaten Situbondo merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi bencana banjir berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan. Kabupaten Situbondo belum memiliki kajian terkait pemetaan tingkat risiko banjir dan perangkat rencana mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat risiko bencana banjir, memetakan tingkat risiko bencana banjir, dan menentukan upaya mitigasi yang dapat dilakukan dalam pengurangan risiko bencana banjir di Kabupaten Situbondo. Penelitian ini dilakukan dengan analisis AHP untuk menentukan faktor yang paling berpengaruh terhadap risiko banjir. Analisis spasial dilakukan untuk memetakan tingkat risiko banjir. Serta analisis SWOT yang digunakan untuk menentukan upaya mitigasi banjir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 2 faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat risiko banjir yaitu penggunaan lahan dan curah hujan. Dari analisis spasial didapat 5 tingkat risiko banjir di Kabupaten Situbondo. Serta terdapat 3 upaya strategi yang dapat diterapkan dalam upaya mitigasi banjir di Kabupaten Situbondo.
Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman Pada Kawasan Perdagangan dan Jasa Di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember Selgi Puspamika; Dewi Junita Koesoemawati; Ratih Novi Listyawati; Rindang Alfiah
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 19, No 3 (2023): JPWK Volume 19 No. 3 September 2023
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v19i3.40322

Abstract

Perkembangan kawasan perekonomian seringkali mengesampingkan aspek – aspek lainnya, terutama aspek lingkungan. Padatnya aktivitas antara kawasan permukiman dan kawasan perdagangan dan jasa menimbulkan beberapa permasalahan terhadap kondisi prasarana lingkungan. Kecamatan Kaliwates, merupakan kawasan perkotaan yang berada di Kabupaten Jember yang memiliki fungsi utama sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.  Fungsi utama tersebut dapat dilihat dengan adanya pasar induk tradisional serta beberapa jenis pusat perbelanjaan terbesar di Kabupaten Jember yang tersebar di Kecamatan Kaliwates. Kawasan perdagangan dan jasa merupakan salah satu kawasan yang memiliki perlakuan khusus dari pemerintah Kabupaten Jember karena kawasan ini memiliki nilai komersial yang tinggi. Dari padatnya aktivitas yang ada pada wilayah Kecamatan Kaliwates, menimbulkan permasalahan lingkungan. Salah satu permasalahan yang sering muncul yaitu munculnya genangan setiap musim hujan karena jaringan drainase permukiman tersumbat oleh limbah pasar. Keadaan tersebut dialami secara periodik serta tidak ada pengawasan yang mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan permukiman dan berdampak pada keberlanjutan kawasan.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan arahan dalam upaya peningkatan kondisi lingkungan permukiman pada kawasan perdangan dan jasa di Kecamatan Kaliwates menggunakan metode skoring. Metode skoring ini digunakan untuk menganalisis upaya penanganan dalam peningkatan kualitas lingkungan permukiman yang berada pada kawasan perdagangan dan jasa di Kecamatan Kaliwates. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini  berjumlah 114KK. Dari hasil penilaian tersebut, diperoleh bahwa kondisi lingkungan permukiman yang berdampingan dengan pusat perdagangan dan jasa masih berada pada kondisi buruk. Sehingga untuk menciptakan lingkungan permukiman yang ideal dan sehat dirumuskan arahan yang didasarkan kondisi potensi dan permasalahan pada wilayah penelitian dengan memperhatikan aspek pelayanan, ekonomi (kesejahteraan), dan ekologi (lingkungan).
Pengembangan Kawasan Minapolitan Berkelanjutan Kecamatan Puger Adiningsih, Teeusa Cahyani; Hasanuddin, Akhmad; Alfiah, Rindang
Jurnal Penataan Ruang Vol 18, No 2 (2023): Jurnal Penataan Ruang 2023
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v18i2.16724

Abstract

Kawasan Minapolitan merupakan suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Kabupaten Jember terkenal akan adanya laut Kabupaten Jember yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011 – 2031 terkait arahan pengembangan kawasan perikanan, diarahkan menjadi salah satu wilayah pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap yaitu di kawasan Puger. Kecamatan Puger berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jember Tahun 2015 – 2035, Kecamatan Puger merupakan kawasan strategis kabupaten sebagai kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan menetapkan Kecamatan Puger sebagai pengembangan kawasan minapolitan. Maka dari itu  dalam penelitian ini membahas mengenai kawasan minapolitan berkelanjutan di Kecamatan Puger, akan tetapi kawasan minapolitan berkelanjutan Kecamatan Puger terdapat permasalahan dalam upaya pengembangan, seperti pemanfaatan sumber daya alam perikanan yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting dari kawasan minapolitan berkelanjutan berdasarkan lima dimensi (ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur dan kelembagaan) serta mengetahui nilai berkelanjutan di Kawasan Minapolitan Kecamatan Puger dan prioritas utama dalam pengembangan kawasan minapolitan berkelanjutan Kecamatan Puger. Terdapat tiga metode analisis yaitu yang pertama menggunakan analisis skoring untuk memberikan gambaran umum dari kawasan minapolitan Kecamatan Puger dari hasil observasi, wawancara. Metode analisis kedua yaitu dengan metode kuantitatif berupa AHP Analythic Hierarchy Process (AHP), untuk mengetahui prioritas utama dari setiap variabel yang diuji. Metode analisis ketiga yaitu SWOT, untuk mengetahui strategi pengembangan dari hasil analisis deskriptif dan analisis AHP. Dengan adanya penelitian ini bahwa Kawasan Minapolitan Berkelanjutan Kecamatan Puger sudah memadai selain itu, terdapat empat strategi pengembangan dari hasil analisis AHP dan SWOT yaitu pada variabel ekonomi dan ekologi yang belum sepenuhnya berkembang.
Social Capital for Access To Clean Water in Rural Area Alfiah, Rindang; Dwi Ari, Ismu Rini; Hariyani, Septiana
International Journal of Social and Local Economic Governance Vol. 6 No. 1 (2020)
Publisher : Institute of Research and Community Service, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijleg.2020.006.01.2

Abstract

Nowadays, access to drinking water services in Indonesia still not on SDG's target where 100% of society should have access to clean water. Based on data from the ministry of public works and public housing (2015), there are only 59,7 percent of Indonesians receiving piped water access through the Indonesian regional water utility company (PDAM) and only 7,474 villages (from 72.944 villages) have been supported to establish community-based organizations (HIPPAM) to manage local water supply services. Sumberrejo village is one of the villages which can manage water by establishing HIPPAM. Therefore, it is necessary to know the social capital through the social structure of Sumberrejo society. The aim of this research is to trace the social capital in Sumberrejo village through the community participation so that HIPPAM Tirta Buana can be formed. This research use SNA (Social Network Analysis) as a method to know the social network of society which is measured by density, centrality and participation level. From the calculation of SNA can be seen that the value of density, centrality, and level of community participation in Sumberrejo village is good. The bonds formed from the HIPPAM community are strong. The result of this research can be concluded that the existing social capital is a bonding social capital which can be developed by utilizing actors with high centrality value in order to deliver information related to clean water.
Kekumuhan Perkotaan Dalam Perspektif Fisik, Sosial, dan Ekonomi: Studi Kasus di Kelurahan Kebon Melati, Jakarta Melsha, Nadila Salsabila; Alfiah, Rindang; Sukmawati, Sri
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 21, No 1 (2025): JPWK Volume 21 No. 1 March 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v21i1.50419

Abstract

Kelurahan Kebon Melati merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Tanah Abang yang termasuk dalam program KOTAKU tahun 2018, namun pada tahun 2022 masih teridentifikasi kumuh. Pemasalahannya yaitu kondisi permukiman padat, tidak teratur, akses jalan sulit dan sempit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kekumuhan permukiman berdasarkan karakteristik fisik bangunan, prasarana dan lingkungan serta karakter sosial-ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method yaitu dengan metode analisis deskriptif dan scoring penilaian berdasarkan perspektif fisik yang disesuaikan dengan standar penilaian permukiman kumuh tingkat kumuh oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14 Tahun 2018, aspek sosial, dan aspek  ekonomi. Berdasarkan penilaian tingkat kekumuhan yang telah dilakukan, terdapat perubahan kualitas permukiman Kelurahan Kebon Melati. Tingkat kekumuhan RW 12 mengalami peningkatan sedangkan RW 15 mengalami penurunan kualitas permukiman selama periode pelaksanana program KOTAKU. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2022, terdapat perbedaan perubahan kualitas permukiman pada kedua RW tersebut. Peningkatan kualitas permukiman terjadi karena program KOTAKU berjalan lancar serta didukung partisipasi masyarakat. Sedangkan, penurunan kualitas permukiman disebabkan oleh masyarakat yang tidak dapat memelihara dan memanfaatkan dengan baik bantuan yang diberikan oleh Pemerintah.
ARAHAN PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI KABUPATEN JEMBER Putri, Aldina Hasti; Koesoemawati, Dewi Junita; Alfiah, Rindang
Jurnal Planoearth Vol 8, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpe.v8i2.12959

Abstract

Abstrak: Keberadaan SK kumuh Kabupaten Jember nomor 188.45/439/1.12/2020 mengalami kenaikan persebaran titik dan luasan yang sangat tinggi, khususnya Kecamatan Sumbersari. Pada SK Kumuh sebelumnya nomor 188.45/1.12/2016 Kecamatan Sumbersari hanya memiliki 7 titik dengan luasan 16,17 Ha, meningkat menjadi 73 titik dengan luasan 399,68 Ha pada SK Kumuh 188.45/439/1.12/2020. Permasalahan ini perlu diperhatikan mengingat Kawasan memiliki perputaran ekonomi tinggi karena karakteristiknya sebagai pusat pendidikan, dan pusat perdagangan jasa yang menarik banyak guna lahan. Penelitihan bertujuan melihat karakteristik kawasan kumuh melalui observasi pada titik kumuh di Kelurahan Sumbersari dan Karangrejo berdasarkan penetapan titik di SK Kumuh nomor 188.45/439/1.12/2020, faktor penyebab terjadinya peningkatan luasan dan titik kumuh di Kecamatan Sumbersari melalui metode Delphi, dan menyusun strategi peningkatan kualitas lingkungan kumuh melalui metode SWOT. Pada Metode Delphi menghasilkan 9 variabel konsensus penyebab peningkatan kekumuhan yaitu Saluran drainase, jaringan persampahan, jaringan jalan, sanitasi, penghasilan rendah, tingkat pendidikan, urbanisasi, kepadatan penduduk, perilaku masyarakat. Penentuan arahan penanganan menghasilkan 4 strategi yaitu (1) Peningkatan kalaborasi program KOTAKU dengan elemen masyarakat dan lembaga pendidikan, (2) Melakukan pengembangan kualitas prasarana kawasan permukiman, (3) Pemeliharaan ketersediaan air bersih pada kecamatan Sumbersari. dan (4) Pemberdayaan kegiatan UMKM lokal pada event lingkup Kecamatan/ Kabupaten.Abstract: The existence of the Decree on Slums in Jember Regency number 188.45/439/1.12/2020 has experienced a very high increase in the distribution of points and areas, especially in the Sumbersari District. In the previous Slum Decree number 188.45/1.12/2016 Sumbersari District only had 7 points with an area of 16.17 Ha, increased to 73 points with an area of 399.68 Ha in Slum Decree 188.45/439/1.12/2020. This problem needs to be considered considering that the area has a high economic turnover because of its characteristics as an education center, and a service trade center that attracts a lot of land uses. The research aims to look at the characteristics of slum areas through observation at slum points in Sumbersari and Karangrejo Subdistricts based on point determination in SK Kumuh number 188.45/439/1.12/2020, factors causing an increase in the area and slum points in Sumbersari District through the Delphi method, and develop a strategy to improve the quality of the slum environment through the SWOT method. The Delphi method produces 9 consensus variables that cause an increase in slums, namely drainage channels, solid waste networks, road networks, sanitation, low income, education level, urbanization, population density, community behavior. Determining the handling directive resulted in 4 strategies, namely (1) Increasing the collaboration of the KOTAKU program with community elements and educational institutions, (2) Developing the quality of residential area infrastructure, (3) Maintaining the availability of clean water in the Sumbersari sub-district. and (4) Empowerment of local UMKM activities at District/Regency scope events.
Mapping the Flood Vulnerability Levels in the Ciliwung River Basin, Bogor City: PEMETAAN TINGKAT KERAWANAN BANJIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG KOTA BOGOR sri, Sri Rejeki O.laoli; Wiwik Yuniarni; Rindang Alfiah
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 5 No. 1 (2025): Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Between 2013 and 2023, floods were Indonesia's most frequent and impactful disasters. In Bogor City, the high intensity of flooding has led to significant economic losses, infrastructure damage, and casualties. Aside from heavy rainfall, one of the main contributing factors is land use change. The area that has undergone the most significant land use transformation is the Ciliwung River Watershed in Bogor City, which has resulted in the watershed functioning suboptimally. Over the past seven years, 160 recorded flood events in Bogor City have been recorded, indicating that this issue has become increasingly complex and requires a strategic and practical management approach. One effort to mitigate the impact of flooding is mapping flood vulnerability within the Ciliwung Watershed. Between 2013 and 2023, floods were the most frequent and impactful disasters in Indonesia. In Bogor City, the high intensity of flooding has resulted in significant economic losses, damage to infrastructure, and casualties. In addition to heavy rainfall, changes in land use have been a major contributing factor. The Ciliwung River Watershed in Bogor City has experienced the most significant land use transformation, which has led to the watershed functioning suboptimally. Over the past seven years, 160 flood events have been recorded in Bogor City, indicating that this issue has grown increasingly complex and requires a strategic and practical management approach. To mitigate the impact of flooding, one initiative has been to map flood vulnerability within the Ciliwung Watershed. This process aims to assess vulnerability levels across the area and identify strategies to reduce the risk of flood disasters. Therefore, this study aims to determine the level of flood vulnerability using scoring and overlay methods and identify priority flood management strategies suitable for implementation in Bogor City. Based on the analysis, vulnerability levels in Bogor City are categorized into four classes. The most appropriate strategy for managing floods in the Ciliwung Watershed is to optimize existing strengths and opportunities to enhance flood resilience.