Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Pembuatan Biokomposit Menggunakan Jamur Pelapuk Putih Auricularia auricula dan Lentinus squarrosulus serta Bahan Lignoselulosik Serbuk Gergaji Kayu dan Tatal Kayu Nugraha, Tiara Hadi; Mumpuni, Aris; Dewi, Ratna Stia
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 3 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.4.6635

Abstract

Abstract Biocomposite is a composite material that uses natural materials that contain lignocellulose. The manufacture of composite boards by utilizing agricultural waste will get added value, namely reducing the impact on the environment. Biocomposites that utilize the mycelium of white rot fungi, namely Auricularia auricula and Lentinus squarrosulus as binders and lignocellulosic materials such as sawdust and wood chips which contain the main components of cellulose, hemicellulose, and lignin which are good for fungal growth. The purpose of this study was to determine the effect of the type of white rot fungus with lignocellulosic material composition and to determine the optimal type of fungus and lignocellulosic material on the manufacture of biocomposites. This study used an experimental method with a completely randomized design with 10 treatments with 3 replications, the treatment was carried out on lignocellulosic materials in the form of sawdust and wood chips with a composition (25%, 50%, 75%, and 100%). The research variables consisted of independent variables in the form of white rot fungi and wood species, while the variable was the quality of the resulting biocomposite material. The parameters measured in this study were the main parameters, namely fungal mycelium growth, composite density, composite air content, composite thickness expansion, modulus of elasticity and modulus of fracture of the composite. The supporting parameters are composite biodegradability. The results showed that the types of fungi and lignocelluloic materials had an effect on the manufacture of composite boards. The best fungus used in the manufacture of biocomposites is L. squarrosulus and the best lignocellulosic material used is a mixture of the two lignocelluloic materials that is 25% sawdust + 75% wood chips. Keywords: biocomposite, lignocellulosic material, white rot fungus
Optimasi Jenis Jamur Pelapuk Putih dan Bahan Lignoselulosik Limbah Pertanian dalam Pembuatan Biokomposit berbasis Miselium Rahmadianti, Maghfira Rizki; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.6636

Abstract

Melimpahnya ketersediaan bahan lignoselulosik berupa limbah ampas tebu dan batang tanaman jagung serta kemampuan jamur pelapuk putih Ceriporia lacerata dan Auricularia auricula mendegradasi lignoselulosik dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan biokomposit berbasis miselium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara jenis jamur pelapuk putih dengan komposisi bahan lignoselulosik limbah pertanian terhadap kualitas produk biokomposit yang dihasilkan serta mendapatkan jenis jamur pelapuk putih dan jenis substrat bahan lignoselulosik limbah pertanian yang optimal dalam pembuatan biokomposit berbasis miselium. Penelitian ini menggunakan metode experimental Rancangan Acak Lengkap dengan 10 perlakuan dan 3 kali ulangan. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas berupa jenis bahan lignoselulosik limbah pertanian dan jenis jamur pelapuk putih, sedangkan variabel terikat yaitu kualitas biokomposit berbasis miselium yang dihasilkan. Parameter yang diukur dalam penelitian ini yaitu parameter utama dan parameter pendukung. Parameter utama yaitu pertumbuhan jamur pada bahan komposit, kerapatan komposit, kadar air, pengembangan tebal komposit, modulus elastisitas dan modulus patah komposit. Parameter pendukungnya berupa biodegradabilitas komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur pelapuk putih dan komposisi bahan lignoselulosik yang berbeda berpengaruh secara nyata terhadap kualitas biokomposit yang dihasilkan kecuali pada parameter kadar air dan modulus patah. Hasil penelitian untuk parameter pertumbuhan miselium, kerapatan komposit, kadar air, pengembangan tebal, modulus elastisitas, dan modulus patah secara berturut-berturut berkisar antara 9,38-18,49 mm/hari, 0,11-0,21 g/cm3, 8,34%-16,19%, 3,01%-10,93%, 1188,33-14873,33 MPa, dan 1,76-25,11 MPa. Berdasarkan hasil skoring biokomposit yang dilakukan, perlakuan C. lacerata dengan komposisi pada ampas tebu 100% menghasilkan kualitas biokomposit terbaik.
Utilization of Pleurotus ostreatus And Lentinus squarrosulus In The Manufacture of Mycelium-Based Biocomposite Using Sugarcane Bagasse And Cornstalk Media Wardaya, Yasenia Sandra; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 2 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2023.5.2.6669

Abstract

Biocomposite is a type of composite consisting of a polymer matrix material and natural fiber reinforcement. Biocomposite technology, especially natural fibers, is currently in demand. The reasons are environmentally friendly, availability of many raw materials, low production costs, biodegradable, and recyclable. Natural fibers used in the form of agricultural waste such as sugarcane bagasse and corn stalks while the mycelium of the fungus Pleurotus ostreatus and Lentinus squarrosulus are used as natural adhesives. The objectives of this research were to determine the effect of the type of white-rot fungus and the composition of the lignocellulosic material of agricultural waste that affects the quality of the resulting biocomposite board and to obtain the optimal type of white-rot fungus and the optimal composition of lignocellulosic material from agricultural waste to manufacture mycelium-based biocomposite board. The research method used a completely randomized design with ten treatments with three replications. The treatments used 2 types of mushroom (P. ostreatus and L. squarrosulus) with 2 types of Lignocellulosic materials (Sugarcane bagasse and Cornstalk) and each lignocellulosic material has 4 types of compositions (100%, 75%, 50%, and 25%). The main parameter was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with an error rate of 5%, then further tested with post hoc Duncan at 95% confidence level to compare the effect between treatments. The results showed that the treatment of the type of fungus and the lignocellulosic material used affects the quality of the resulting biocomposite board. L. squarrosulus in 100% sugarcane bagasse media is the optimal type of white-rot fungus and the optimal composition of lignocellulosic material to manufacture mycelium-based biocomposite board.
Isolasi, Skrining dan Identifikasi Fungi Selulolitik Asal Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Rempoah, Kabupaten Banyumas Hikam , Arif Rahman; Setio, Adinda Eka Murti; Mumpuni, Aris; Yulianti, Dwiana Muflihah; Dewi, Ratna Stia
SCISCITATIO Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Number 2, January 2024 (Online First)
Publisher : Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/sciscitatio.2024.52.175

Abstract

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Rempoah, Kabupaten Banyumas memiliki timbunan sampah organik melimpah yang dikomposkan secara alami. Sampah organik dapat terdegradasi secara alami oleh beberapa mikroba, salah satunya adalah fungi selulolitik yang dapat mendegradasi selulosa dengan mekanisme enzimatis. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan sampah organik yang melimpah adalah mengeksplorasi mikroba yang memiliki potensi dalam menguraikan sampah organik dengan efektif dan cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh isolat fungi yang memiliki potensi selulolitik asal TPST Rempoah. Penelitian ini terdiri dari tahap pengambilan sampel; isolasi dan pemurnian fungi; skrining fungi selulolitik dengan menggunakan media CMC; dan identifikasi isolat fungi secara morfologi. Hasil penelitian didapatkan 6 isolat fungi selulolitik yang berasal dari Genus Aspergillus yang berhasil diisolasi dari TPST Rempoah. Nilai indeks selulolitik tertinggi dimiliki isolat Aspergillus RB1 dengan nilai IS sebesar 1,33.
Deteksi Senyawa Psikotropika pada Jamur Koprofil yang Ditemukan di Wilayah Eks Karesidenan Banyumas Provinsi Jawa Tengah Mumpuni, Aris; Widhiono M.Z., Imam
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 40, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian sebelumnya pada tahun 2018 di wilayah Eks Karesidenan Banyumas (Kabupaten: Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap) mendapatkan adanya 12 genera jamur koprofil yang yaitu Panaeolus, Coprinopsis, Stropharia, Tricholoma, Lycoperdon, Ascobolus, Rhodocybe, Conocybe, Bolbitius, Leucocoprinus, Mycena, dan Hypholoma; Indeks dominansi genera jamur koprofil di wilayah eks Karesidenan Banyumas adalah sebesar 0,329; dan Jamur koprofil yang diperoleh dengan frekuensi kemunculan paling banyak adalah Coprinopsis (34,4%) dan Panaeolus (30,1%). Sebagai langkah awal dari pengenalan potensi psikotropika yang terkandung dalam jamur-jamur koprofil yang diperoleh di lingkungan sekitar, maka telah dilaksanakan penelitian mengenai deteksi keberadaan senyawa tersebut pada jamur-jamur koprofil yang telah didapatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kandungan senyawa psikotropika pada jamur-jamur koprofil yang diperoleh di wilayah Eks Karesidenan Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental-kualitatip dengan teknik analisis Chemical Spot Test/Uji Warna terhadap keberadaan kandungan senyawa psikotropika pada jamur-jamur yang diperoleh menggunakan Reagen Ehrlich dan Reagen Marquis. Data hasil deteksi senyawa psikotropika pada jamur koprofil yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Dari ke 12 genera tersebut, 3 spesies dari masing-masing genus yaitu Panaeolus sp., Conocybe sp., dan Stropharia sp. terdeteksi sebagai spesies jamur psikotropika dengan memberikan reaksi warna yang positip pada kedua maupun salah satu reagen uji.
Potensi Jamur Trametes Versicolor dan Russula Sp. dalam Menghasilhan Β-Glukan Melalui Proses Fermentasi Ekowati, Nuraeni; Ratnaningtyas, ‪Nuniek Ina; Mumpuni, Aris
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.255 KB)

Abstract

Trametes versicolor, dan Russula sp. merupakan jamur liar (wild mushrooms) dari kelompokBasidiomycota. Kedua jamur tersebut dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang memiliki efek terapis.Salah satu senyawa bioaktif yang dihasilkan adalah β-glukan. Tujuan penelitian ini yaitu untukmengetahui potensi T. versicolor dan Russula sp. dalam memproduksi β-glukan, dan untukmendapatkan konsentrasi glukosa yang optimum dalam menghasilkan β-glukan pada mediumfermentasi cair. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi, Fakultas Biologi, Universitas JenderalSoedirman. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan AcakLengkap (RAL). Perlakuan adalah jenis jamur dengan konsentrasi glukosa yang berbeda. Parameterutama adalah bobot kering miselium dan bobot kering β-glukan, sedangkan parameter pendukungnyayaitu pH awal dan pH akhir medium. Data dianalisis menggunakan analisis ragam pada tingkatkesalahan 0,5% dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuanpenggunaan dua jenis jamur yaitu T. versicolor dan Russula sp. dengan konsentrasi glukosa yangberbeda memberikan hasil yang berbeda nyata, baik pada pertumbuhan maupun pada produksi β-glukan. Russula sp. mampu menghasilkan β-glukan tertinggi pada medium cair dengan konsentrasiglukosa 30 g/l, diperoleh bobot β-glukan sebesar 490,00 ± 45,82 mg/100 ml.