Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PENGARUH Colletotrichum coccodes TERHADAP KANDUNGAN ASAM ASKORBAT PADA MEKANISME PATOGENISITAS ANTRAKNOSA TANAMAN CABAI: KAJIAN SECARA IN VITRO DAN IN PLANTA meilasari, fadhila; Muljowati, Juni Safitri; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1918

Abstract

Patogen Colletotrichum coccodes merupakan salah satu patogen yang dapat menginfeksi tanaman cabai dan menyebabkan penyakit antraknosa terutama pada bagian buah dan daun. Tanaman dengan kandungan asam askorbat tinggi memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap serangan patogen. Tanaman cabai yang tahan memiliki kandungan asam askorbat yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman cabai toleran maupun rentan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan tumbuh patogen C. coccodes pada medium yang diberi asam askorbat dan mengetahui pengaruh inokulasi patogen C. coccodes terhadap kandungan asam askorbat pada daun cabai. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi, Laboratorium Lingkungan, & Greenhouse Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan dua uji yaitu uji in vitro dan uji in planta dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL), Uji in vitro menggunakan A) Medium PDA diberi asam askorbat; B) Medium PDB diberi asam askorbat dengan perlakuan penambahan asam askorbat sebanyak 0 mg.L-1 (kontrol); 0,25 mg.L-1; 0,50 mg.L-1; 0,75 mg.L-1; dan 1 mg.L-1, diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan yaitu berbagai dosis asam askorbat, variabel terikatnya adalah pertumbuhan patogen C. coccodes. Parameter utama yaitu diameter koloni dan bobot kering miselium. Uji in planta menggunakan tiga varietas cabai (V1: Cabai merah hot chili; V2 Cabai merah keriting; V3: Cabai merah besar), uji A) Uji intensitas penyakit pada tanaman dan B) Uji kandungan asam askorbat. Masing-masing kelompok uji diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan adalah varietas cabai merah, variabel terikatnya adalah nilai kerusakan tanaman berdasarkan kategori yang diamati pada waktu pengamatan yang ditentukan. Parameter utama yaitu intensitas penyakit, dan parameter pendukung yaitu periode masa inkubasi, kandungan asam askorbat pada daun cabai, temperatur, kelembaban dan pH tanah. Data uji in vitro dan uji in planta yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dan perlakuan yang memberikan perbedaan nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian pada uji in vitro menujukkan bahwa patogen C. coccodes memiliki kemampuan tumbuh yang baik pada medium PDA dan medium PDB dengan penambahan asam askorbat. Hasil penelitian pada uji in planta, inokulasi patogen C. coccodes pada daun cabai merah dapat meningkatkan kandungan asam askorbat pada tanaman cabai merah Kata kunci : Colletotrichum coccodes, Cabai Merah, Antraknosa, Asam askorbat.
Pengaruh Pemberian Inokulum Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Campuran terhadap Kemunculan Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) dan Melon (Cucumis melo L.) Siti Sa'adah, Nadya Sofia; Dwiputranto, Uki; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.2661

Abstract

Mentimun (Cucumis sativus L.) dan Melon (Cucumis melo L.) merupakan contoh dari sayuran dan buah yang banyak di konsumsi oleh masyarakat, serta juga memiliki banyak manfaat. Permintaan pasar untuk mentimun dan melon sangat tinggi, maka produksi harus mengikuti tingginya permintaan pasar. Ada beberapa permasalahan dalam produksi, salah satunya adalah penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium. Secara konvensional, penggunaan fungisida sintetik dianggap sebagai solusi yang tepat untuk mengendalikan penyakit layu fusarium. Namun demikian, dengan mempertimbangkan dampak negatif dari fungisida tersebut, penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) menjadi alternatif pilihan yang dapat diaplikasikan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dosis berbeda dari inokulum FMA campuran (0, 5, 10, 15, 20 g FMA dengan medium pembawa zeolit / tanaman). Parameter utama adalah intensitas penyakit, sedangkan parameter pendukungnya adalah pH tanah, temperatur, kelembapan, masa inkubasi penyakit, dan derajat infeksi FMA terhadap akar tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji ragam (uji F) denganStandar Kesalahan 5%. Berdasarkan hasil penelitian, tanaman yang diinokulasi dengan inokulum mikoriza lebih tahan terhadap penyakit layu fusarium. Dosis optimal FMA campuran untuk mengurangi intensitas penyakit layu fusarium pada tanaman mentimun adalah adalah M3BT (inokulasi FMA campuran 15 g/tanaman) dan melon adalah M2BM (inokulasi FMA campuran 10 g/tanaman)
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Bahan Tambahan Terhadap Pertumbuhan Miselium Jamur Paha Ayam (Coprinuscomatus) Saputra, Wahyu Dwi; Ratnaningtyas, Nuniek Ina; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.3091

Abstract

Abstrak Coprinus comatus merupakan salah satu jamur pangan yang potensial untuk dibudidayakan secara komersial. Jamur C. comatus termasuk ke dalam jamur edible dan medicinal. Tubuh buah C. comatus mengandung antioksidan dan beberapa asam amino esensial. Jamur C. comatus tumbuh optimal pada medium yang mengandung suplemen. penambahan suplemen pada medium tanam jamur bertujuan untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan jamur. Suplemen ditambahkan dengan jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi jenis suplemen dan konsentrasi suplemen yang optimal untuk pertumbuhan jamur C. comatus. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial dengan dua faktor uji yaitu jenis dan konsentrasi suplemen. Suplemen yangdigunakan yaitu dedak padi (bekatul), dedak jagung (ampok), dedak gandum (polar), dan tepung gandum. Konsentrasi suplemen yang digunakan yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu penambahan suplemen dengan Konsentrasi berbeda berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan miselium jamur C. comatus. Suplemen yangbaik untuk menumbuhkan jamur C. comatus adalah ampok jagung dan dedak padi. Konsentrasi yang optimal untuk pertumbuhan miselium jamur C. comatus adalah dedak jagung dengan konsentrasi 5% dan dedak padidengan konsentrasi 15%. KataKunci : Coprinus comatus, kecepatan pertumbuhan miselium, penambahan suplemen
Aplikasi Jamur Pelapuk Putih pada metode Biopulping berbahan dasar Limbah Daun Kayu Putih (Melaleuca leucadendron) Mubarrak, Syifa; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3386

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamur pelapuk putih (JPP) pada kadar lignin dan selulosa dalam proses biopulping limbah daun kayu putih lama dan limbah daun kayu putih baru dan mengetahui JPP terbaik untuk proses biopulping limbah daun kayu putih. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan berupa menginokulasikan JPP (Phanerochaete chrysosporium, Ganoderma lucidum, dan Pleurotus tuberregium), tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas berupa jenis JPP yang berbeda dan umur limbah, variabel terikat berupa kemampuan biodelignifikasi JPP pada limbah daun kayu putih. Parameter utama yang diamati adalah kadar lignin dan kadar selulosa sebelum dan sesudah masa inkubasi daun kayu putih. Parameter pendukung yang diamati adalah berat limbah sebelum dan sesudah inkubasi, pH, dan Berat Media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar lignin dan selulosa pada seluruh perlakuan. Hasil rata-rata penurunan kadar lignin terbesar yakni pada perlakuan jamur P. tuberregium terhadap limbah daun kayu putih lama sebesar 0,014%. Penurunan kadar selulosa akhir tertinggi pada perlakuan jamur terbesar adalah pada jamur G. lucidum terhadap limbah daun kayu putih lama mengalami rata-rata penurunan selulosa terbesar 3,22%.
Persentase Penyakit yang disebabkan oleh Jamur pada Buah Cabai Merah (Capsicum annuum L.) di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Kirana, Bella Ajeng Ayu; Sucianto, Eddy Tri; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3389

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan cabai merah kian hari terus meningkat karena banyaknya yang memanfaatkan sebagai bahan dasar untuk pembuatan berbagai jenis makanan. Cabai merah juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan dan farmasi. Penduduk di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga umumnya berprofesi sebagai petani. Para petani mengalami beberapa kendala dalam meningkatkan produksi tanaman cabai merah karena adanya organisme pengganggu tanaman seperti hama dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur pada buah cabai merah, mengetahui jamur yang menyebabkan penyakit pada buah cabai merah serta mengetahui besarnya nilai persentase penyakit yang disebabkan oleh jamur pada buah cabai merah di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai dengan pengambilan sampel secara random sampling pada 2 lokasi berbeda di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Identifikasi penyakit dilakukan dengan melihat tanda dan gejala. Identifikasi jamur dilakukan dengan melihat karakterisitik secara mikroskopis dan makroskopis, kemudian dihitung persentase penyakit pada buah cabai merah, selanjutnya dilakukan uji Postulat Koch. Hasil penelitian ini diperoleh satu jenis penyakit yang terdapat pada buah cabai merah di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga yaitu penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Persentase penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp sebesar 51,1%.
Identifikasi Jamur Patogen dan Tingkat Persentase Penyakit pada Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) di Sentra Tanaman Sayur Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga Nursanti, Agustina; Sucianto, Eddy Tri; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3396

Abstract

Selada (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman sayuran daun dari family Compositae (Asteraceae) yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selada mengandung banyak mineral dan vitamin yang berguna untuk kesehatan. Tanaman selada memiliki daun yang berombak, bergerigi, berwarna hijau segar dan ada juga yang berwarna merah. Terdapat beberapa kendala dalam budidaya tanaman selada diantarnya adalah gangguan hama dan penyakit seperti siput, nematoda, busuk daun, dan busuk akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis jamur patogen penyebab penyakit dan tingkat persentase penyakit pada tanaman Selada di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pengambilan sampel yang dilakukan secara purposive random sampling di dua lokasi yang berbeda. Proses identifikasi dilakukan dengan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil pengamatan dideterminasi dengan buku identifikasi dan dilanjutkan dengan uji Postulat Koch. Hasil penelitian di Sentra Tanaman Sayur Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, didapatkan jenis penyakit selada adalah penyakit busuk daun (bottom rot) dan bercak daun. Penyakit busuk daun disebabkan oleh jamur Rhizoctonia sp. dan penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Nigrospora sp. Penyakit yang paling banyak muncul pada tanaman selada yaitu penyakit busuk daun oleh Rhizoctonia sp. dengan frekuensi kemunculan sebanyak 206 kali dan rata-rata persentase penyakit sebesar 52,79%.
Detection of Psychotropic Compound in Coprophilous Fungi in District of Baturraden Banyumas Regency Amanda, Safira; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 3 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.4245

Abstract

Coprophilous fungi or dung-loving fungi are fungal group which adapted to life on dung and fecal of herbivorous animals. Coprophilous fungi contain psychotropic compounds, substances or drugs, both natural and synthetic, but not narcotics. This compound comprises psychoactive properties that cause selective influence on the central nervous system and lead distinctive changes in mental activity and behavior. Chemical Spot Test still remain an important method for the preliminary identification of illicit drugs and other psychotropic compound in spite of developments in instrumental technology which enables to use in field. Banyumas Regency, especially Baturraden district is a very potential habitat for coprophilous fungi due to a lot of cattle farms were established there. In addition, the environmental condition also suitable for the fungal growth. This study aim to make an inventory and identify the coprophilous fungi that found in District of Baturraden Banyumas Regency and detect the presence of psychotropic compound in that fungi. The research will be conducted using purposive random sampling and Color Test or Chemical Spot Test analysis. The obtained data is analyzed descriptively by comparing with Atlas of The Munsell Color System. This research obtained seven genera of coprophilous fungi i.e: Coprinellus sp., Coprinopsis sp., Entoloma sp., Gymnopus sp., Lepiota sp., Parasola sp. and Stropharia sp. that discovered in two cattle farms in Baturraden District. Key Words: coprophilous, fungi, psychotropic
Optimasi Pertumbuhan Miselium Jamur Trametes sp. pada Media Membran Dekolorisasi Dengan Komposisi Bahan Organik yang Berbeda Rahma, Salma Aulia; Dewi, Ratna Stia; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 5 No 1 (2023): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2022.4.3.4648

Abstract

Spesies jamur pelapuk putih seperti Trametes sp. telah diketahui mampu mendekolorisasi pewarna azo, heterosiklik dan senyawa reaktif atau polimerik melalui degradasi enzim lignolitik. Membran dekolorisasi merupakan media yang digunakan sebagai sarana untuk mengurangi limbah salah satunya limbah batik. Membran dekolorisasi dibuat dalam suatu bentuk tertentu dengan memfungsikannya sebagai media pertumbuhan miselium jamur yang digunakan sebagai alternatif dalam bioreaktor. Bahan utama pembuatan membran dekolorisasi adalah serbuk kayu. Bahan lain yang diperlukan adalah suplemen seperti kapur (CaCO3), gypsum (CaSO4), dan air. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan dan masing-masing dengan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komposisi media bahan organik mempengaruhi pertumbuhan miselium jamur Trametes sp. Perbedaan komposisi pada masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang signifikan. Data uji lanjut memperlihatkan bahwa komposisi P3 merupakan media membran yang optimum untuk pertumbuhan miselium jamur Trametes sp. dengan komposisi serbuk gergaji 65%, bekatul 15%, kapur 5%, gypsum 5%, dan penambahan jagung giling 10%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa nutrisi yang terdapat didalam media dapat mempengaruhi pertumbuhan miselium. Penambahan komposisi mempunyai pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan miselium sepanjang komposisi berapa pada kalkulasi yang tepat.
Deteksi Senyawa Psikotropika pada Jamur Kotoran Sapi di Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas hasanah, Amanda rohmatun; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 4 No 2 (2022): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2022.4.2.4685

Abstract

Jamur koprofil adalah kelompok jamur yang tumbuh di dalam kotoran hewan herbivora. Beberapa jenis jamur koprofil adalah jamur pangan yang dapat dikembangkan sebagai penyedia protein, dan beberapa di antaranya juga merupakan jamur beracun, terutama yang mengandung senyawa psikotropika yang dapat dimanfaatkan secara positif sebagai bahan pembuatan obat penenang. Penelitian tentang deteksi senyawa psikotropika pada jamur kotoran ternak belum banyak dilakukan. Kondisi lingkungan di Kecamatan Karanglewas ditemukan tumbuhnya jamur koprofil di daerah tersebut. Jamur koprofil berpotensi untuk dimanfaatkan atau disalahgunakan oleh masyarakat, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan untuk mempelajari keberadaan jamur koprofil dan senyawa psikotropika yang terkandung dalam jamur koprofil. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jamur koprofil yang tumbuh pada kotoran sapi di Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, dan mendeteksi adanya senyawa psikotropika pada tubuh buah dan miselium jamur koprofil yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh tujuh genera cendawan koprofil dari kandang sapi di Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas yaituCoprinopsis , Mycena , Panaeolus , Inocybe , Ascobolus , Psilocybe , dan Coprinus . Keberadaan senyawa psikotropika baik pada tubuh buah maupun miselium jamur koprofil terdeteksi pada empat genus, yaitu Coprinopsis , Panaeolus , Inocybe , dan Psilocybe .
Identifikasi dan Uji Potensi Amilolitik Isolat Jamur Pendegradasi Sampah Organik Haqq, Insaaniy Mahdiyatul; Dewi, Ratna Stia; Mumpuni, Aris; Hikam, Arif Rahman; Yulianti, Dwiana Muflihah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 4 No 1 (2022): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2022.4.1.4748

Abstract

Organic waste is composed of organic compounds. The accumulation of organic waste is a serious problem. Fungal have an important role in degrading organic waste in the composting process. Biodegradation of organic waste is closely related to fungal ability to hydrolyze starch. The purpose of this study was to know fungi isolate which hydrolyze starch from organic waste and amylolytic potential of the isolate. This research was conducted by survey and experimental method. Kitchen waste samples consist of food waste and other organic waste taken from homes in Bancarkembar, Bobosan, Grendeng, Karangwangkal, Pabuaran, Purwanegara, and Sumampir village. A screening test with Starch Agar medium was used to know amylolytic potential of the isolates. Result showed there were eight isolates which have potential to hydrolyze starch. Six isolates which have higher amylolitic index were identified as Fusarium sp., Aspergillus sp., and Penicillium sp. Furthermore, to determine the amylolytic activity quantitatively, the DNS method was used to measure glucose levels. Fusarium sp. had the highest starch degradation activity with the average glucose content of the medium Fusarium sp. as much as 3,568.63 ppm.