Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ENHANCING FARMER’S WELL BEING THROUGH THE AGRICULTURE LAND PROVISIONS IN WEST NUSA TENGGARA Baiq Rindang Aprildahani; Chrisna Trie Hadi Permana; Surya Tri Esthi Wira Hutama
GeoEco Vol 7, No 2 (2021): GeoEco July 2021
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ge.v7i2.45324

Abstract

While carrying out its essential duties to provide adequate foods for people, the agriculture sector is facing sustainability issues. The study presents a case study of West Nusa Tenggara (NTB), whereby an increase of urban expansion activities has begun to create a centrifugal force to the province that is popularly called as the granary of Indonesia. Urban settlements slowly leapfrogged to the outskirts and reduced the size of prime agricultural lands. Moreover, existing planning policies were unable to control the situation and many farmers leave their jobs because the setback of farmers wellbeing. The size of agricultural land is highly influential towards farmer motivation to stay engaged in the farming sector. Applying qualitative methods, this study examined the minimum area of agriculture land (focusing on paddy field) to promote farmer’s well-being following three steps of the analytical framework: total agricultural production estimation, the average well-being estimation, and the prediction of minimum land provision for the average well-being. After all, one of the key important findings reveals that the average of minimum agricultural land to ensure famers wellbeing for the whole NTB Province is 0.74 Ha.
Exploring the Pattern of Happiness in Indonesia Based on Public Green Spaces Aprildahani, Baiq Rindang; Kurnianingsih, Nela Agustin; Hutama, Surya Tri Esthi Wira; Permana, Chrisna Trie Hadi
Jurnal Planologi Vol 22, No 2 (2025): October 2025
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v22i2.44525

Abstract

ABSTRACTHappiness may be one of the most important pillars of life for people. The recent Indonesia’s happiness index has been measured by The Indonesia’s National Statistics Bureau (BPS) in 2021. The happiness index is composed by 19 indicators, which grouped into 3 dimensions, namely the dimensions of life satisfaction, feelings, and meaning of life. However, the presence of green spaces is not related to one of them. Meanwhile, there are three broad areas of research on happy cities: social determinants of well-being, economic determinants of well-being, and environmental determinants of well-being. One of the environmental determinants of well-being is the presence of green spaces. Many studies have shown that people who live in areas with more green spaces have less stress and emotional pressure, as well as a greater sense of happiness and satisfaction. This study aims to examine the relationship between the happiness index and the amount of public green spaces in Indonesia even though the happiness index measurement does not involve green spaces indicators. This study contributes by integrating spatial analysis with subjective well-being metrics in Indonesia’s urban policy context. The method used is simple linear regression analysis to determine the direction of influence and its magnitude. Data and information were collected from secondary sources. The results show that the area of public green spaces has positive effect to the happiness index even in Indonesia. It is suggest the need for integrating green infrastructure in happiness indicators and spatial planning programs.Keywords: Happy City, Urban Happiness, Green Spaces, Happiness Index, Indonesia ABSTRAKKebahagiaan mungkin merupakan salah satu pilar terpenting dalam hidup manusia. Indeks kebahagiaan Indonesia yang terbaru diukur oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021. Indeks kebahagiaan disusun berdasarkan 19 indikator yang dikelompokkan ke dalam 3 dimensi, yaitu dimensi kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup. Namun, keberadaan ruang terbuka hijau tidak terkait dengan salah satunya. Sementara itu, ada tiga area besar penelitian tentang kota bahagia: determinan sosial dari kesejahteraan, determinan ekonomi dari kesejahteraan, dan determinan lingkungan dari kesejahteraan. Salah satu faktor lingkungan yang memengaruhi kesejahteraan adalah keberadaan ruang hijau. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang tinggal di daerah dengan lebih banyak ruang hijau memiliki lebih sedikit stres dan tekanan emosional, serta rasa bahagia dan kepuasan yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil indeks kebahagiaan yang diukur oleh BPS Indonesia berhubungan dengan keberadaan RTH meskipun pengukuran indeks kebahagiaan tidak melibatkan indikator RTH. Studi ini memberikan kontribusi dengan mengintegrasikan analisis spasial dengan indikator kebahagiaan yang subjektif dalam konteks kebijakan perkotaan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana untuk mengetahui arah pengaruh dan besarannya. Data dan informasi dikumpulkan dari sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang benar luas RTH publik berpengaruh terhadap indeks kebahagiaan bahkan di Indonesia dan berpengaruh positif. Oalh karena itu, disarankan untuk mengintegrasikan infrastruktur hijau ke dalam indikator pengukuran kebahagiaan dan program perencanaan ruang.Kata kunci: Kota Bahagia, Ruang Terbuka Hijau, Indeks Kebahagiaan, Indonesia
Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kawasan Perkotaan Karangplsoso, Kabupaten Malang sebagai Dampak dari Urban Sprawl Aprildahani, Baiq Rindang; Hasyim, Abdul Wahid; Rachmawati, Turniningtyas Ayu
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari
Publisher : Postgraduate School of Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan ruang untuk aktivitas perkotaan yang semakin besar menyebabkan pertumbuhan Kota Malang mulai bergerak menjauh dari pusat kota (urban sprawl)dengan menyebar ke wilayah pinggiran, salah satunya adalah Kawasan Perkotaan Karangploso (KPK), Kabupaten Malang.Urban sprawlditandai dengan alih fungsi lahan pertanian di wilayah pinggiran kota karena peningkatan penduduk dan pertumbuhan kegiatan. Alih fungsi lahan pertaniandapat diketahui dengan analisis perkembangan guna lahan, yaitumelakukan overlaypada satu area dalam waktu yang berbeda dengan menggunakan ArcGISv.10.0. Oleh karena itu, dilakukan tinjauan spasial di wilayah studi pada tahun 2010 dan 2013 dengan bantuan media peta.Hasilnya,KPK adalah wilayah pingggiran Kota Malang yang diidentifikasi terkena perluasan kegiatan perkotaan dari Kota Malang dengan ditandai tingginya alih fungsi lahan pertaniandi KPK. Dari tahun 2010 hingga tahun 2013, luas sawah irigasi berkurang 60,7 Ha dan luas tanah ladang berkurang 0,93 Ha. Lahan pertanian dialihfungsikan menjadi lahan terbangun, seperti kawasan perumahan, perdagangan dan jasa serta industri, sehingga disimpulkan kebijakan larangan alih fungsi lahan pertanian irigasi di KPK tidak memberikan dampak bagi implementasi di lapangan.Alih fungsi lahan tidak mungkin dapat dicegah karena kebutuhan akan lahan yang meningkat, namun alih fungsi lahan harus tetap direncanakan agar tidak menimbulkan dampak negatif. Kata kunci:Urban sprawl, Alih fungsi lahan pertanian, Wilayah pinggiran kota
Motivasi Petani Mempertahankan Lahan Pertanian Tanaman Padi Studi Kasus Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Aprildahani, Baiq Rindang; Abdiaty, Ardhea Millenia
Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Vol. 5 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jppk.v5i2.1976

Abstract

The conversion of agricultural land into non-agricultural uses can significantly reduce the area available for food crop cultivation, posing serious risks to both local and national food security. In Sukoharjo Subdistrict, rice fields have increasingly been transformed into residential zones. Since rice is the primary staple food and a major crop cultivated by local farmers, it is essential to strengthen their motivation to preserve rice farming land. This study aims to investigate the factors that influence farmers' willingness to maintain rice cultivation in Sukoharjo. A deductive approach was employed, using quantitative methods and multiple line-ar regression analysis to identify key variables affecting farmer motivation. From the farmers’ viewpoint, several elements play a role, including age, farming experience, education level, land size, income, access to production inputs, market prices, agricultural extension services, farmer group activities, and land value. Understanding these factors is crucial for designing effective programs that support farmers in sustaining rice farming and enhancing agricultural productivity. By identifying what drives farmers to continue culti-vating rice, stakeholders can implement targeted interventions that not only protect agricultural land but also ensure long-term food supply stability in the region.
Kepemimpinan Pemuda Dalam Mendorong Inovasi Sosial di Desa: Sebuah Pengalaman Dari Desa Rejo Katon, Lampung Timur, Indonesia Rahman, Mas Bobby; Joyodiningrat, Muhammad Henry; Aprildahani, Baiq Rindang
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 21, No 3 (2025): JPWK Volume 21 No. 3 September 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v21i3.63776

Abstract

Peran pemuda sangat strategis di dalam menciptakan inisiatif yang berdampak terhadap perubahan di wilayah perdesaan. Namun usaha yang dilakukan pemuda untuk melakukan perubahan bukan hal yang mudah. Banyak hambatan yang sering dihadapi. Artikel ini membahas tentang upaya membangun inisiatif sosial inovatif yang dilakukan oleh pemuda desa Rejo Katon untuk mencari jalan keluar terhadap beragam tantangan dan menjelaskan proses yang dilalui dari kerangka kerja analisis inovasi sosial. Riset ini menempatkan inisiatif sosial inovatif ditinjau dari konteks pembangunan wilayah untuk menjawab pertanyaan penelitian bagaimana upaya sosial kreatif pemuda desa meningkatkan kesejahteraan di wilayah berbasis pertanian singkong. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara semi terstruktur dan melibatkan diri dengan kegiatan kelompok pemuda desa penghasil singkong Rejo Katon di Kabupaten Lampung Timur. Kerangka kerja analisis yang dibangun berasal dari tradisi inovasi sosial yang disusun untuk membantu proses analisis naratif yang dilakukan. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa setidaknya ada lima fase kunci yang dilakukan oleh pemuda Rejo Katon dalam proses penciptaan inovasi sosial: Membangun, merawat visi serta kreativitas melalui keikutsertaan di dalam kegiatan kompetisi ilmiah, membangun relasi dan solidaritas, dampak sosial ekonomi dan kepemimpinan.
ANALISIS PREDIKSI ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DI KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN PRINGSEWU Izhar, Ryansyah; Qoyyum Kamil, Muhammad Ibnu; Aprildahani, Baiq Rindang
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol. 6 No. 2 (2025): VOLUME 6 NOMOR 2 OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v6i2.12111

Abstract

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pringsewu Tahun 2023–2043, Kecamatan Ambarawa ditetapkan sebagai kawasan strategis agropolitan untuk mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan pertanian. Namun, alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman telah menyebabkan penurunan luas lahan pertanian secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan pertanian, memproyeksikan kondisi tutupan lahan pertanian pada tahun 2043, serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan dengan metode klasifikasi terawasi menggunakan citra Landsat 8 tahun 2013 dan 2023. Proyeksi tutupan lahan pertanian tahun 2043 dilakukan melalui pemodelan Cellular Automata–Artificial Neural Network (CA-ANN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2013–2023, terjadi penurunan lahan pertanian seluas 198,51 hektare. Luas lahan pertanian diproyeksikan terus menyusut menjadi 1.873,77 hektare pada tahun 2043. Temuan ini mengindikasikan bahwa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali dapat mengganggu keberlanjutan rencana tata ruang, khususnya dalam perlindungan lahan pertanian.
Pengembangan Ekonomi Lokal Desa Tulung Kakan Melalui Rebranding Produk dan Peningkatan Kapasitas Pembukuan Keuangan Sinamo, Hediyati Anisia; Aprildahani, Baiq Rindang; Rilansari, Valendya; Yunira, Eka Nur’azmi; Julianty, Dila Tirta
Rengganis Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/rengganis.v5i2.741

Abstract

Desa Tulung Kakan di Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah, memiliki potensi ekonomi, sosial, dan SDM yang dapat dikembangkan, terutama di sektor Industri Kecil dan Menengahsalah satunya adalah produk jamu. Selain itu, pembukuan keuangan yang terstruktur diperlukan untuk memisahkan transaksi serta memantau modal, aset, pendapatan, dan kewajiban, guna mendukung efisiensi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Saat ini, permasalahan yang terjadi pada masyarakat desa ini ialah dalam hal daya tahan dan pengemasan produk, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya pembukuan keuangan untuk mengelola secara efisien modal, aset, pendapatan, dan kewajiban usaha mereka. Sehingga perlu adanya kegiatan penyuluhan Digitalisasi Produk dan Pembukuan Keuangan UMKM untuk meningkatkan pemahaman dan akses terhadap teknologi digital serta memberikan pelatihan dan dukungan dalam pembukuan keuangan. Metode yang digunakan adalah observasi, sosialisasi serta pelatihan pengemasan produk dan proses pembukuan keuangan. Pelaku usaha dan juga perangkat desa sangat antusias, dilhat dari brand TULAKAN merupakan hasil pembaharuan branding untuk produk jamu. Tambahan pengetahuan tentang proses pembukuan keuangan yang efisien telah diberikan. Ini akan membantu meningkatkan visibilitas produk mereka dan memungkinkan pengelolaan keuangan yang lebih efisien, memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat serta pemerintah desa.