Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pojok Tumbuh Kembang Anak HIV : Pengukuran Berat Badan, Tinggi Badan, Konsultasi Gizi, Imunisasi dan Edukasi HIV di Poli VCT Rumah Sakit Abdul Moeloek Perdani, Roro Rukmi Windi; Purnama, Dara Marissa Widya; Berawi, Khairun Nisa; Fiana, Dewi Nur; Larasati, TA
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 5 No. 1 (2020): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v5i1.2793

Abstract

Infeksi HIV merupakan salah satu masalah utama dan merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian pada ibu dan anak. Anak dengan HIV-AIDS di Provinsi Lampng saat ini menjalani terapi rutin di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung. Terdapat 24 anak usia 1-14 tahun berjenis kelamin laki-laki dan 18 anak berjenis kelamin perempuan. Semua anak dengan HIV-AIDS mendapatkan layanan kesehatan yang dilakukan di poli VCT (voluntary consulting test) yang dilakukan rutin setiap minggunya. Anak- anak yang terinfeksi HIV dengan mendapatkan pengobatan teratur sejak dini dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan usianya sehingga meningkatkan kualitas hidup anak. Permasalahan yang dihadapai adalah keterjangkauan layanan kesehatan yang berasal dari luar Bandar Lampung dan layanan yang diberikan saat ini terbatas berupa konsultasi singkat. Kurangnya pemahaman orang tua akan pentingnya mengkonsumsi obat dan memperhatikan tumbuh kembang anak dengan infeksi HIV. Salah satu strategi solusi yang ditawarkan adalah dengan membentuk pojok tumbuh kembang anak HIV. Target luaran dari program pengabdian ini adalah terbentukan pojok tumbuh kembang, serta dapat terpantauanya kesehatan anak dengan infeksi HIV melalui buku panduan atau kartu pemantauan kesehatan. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah membentuk pojok tumbuh kembang berupa tempat konsultasi dan pemantauan tumbuh kembang, status gizi, imunisasi dan edukasi HIV. Dari kegiatan yang dilakukan terdapat 10 anak dengan infeksi HIV yang mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dengan konsultasi yang berbeda-beda serta terdapat 1 anak yang mendapatkan imunisasi.Kata kunci : HIV, kualitas hidup, tumbuh kembang
Pemberdayaan Masyarakat untuk Pencegahan Anemia Larasati, Ta; Perdani, Roro Rukmi Windi; Wulan, Anggraini Janar; Ferdiansyah, Ahmad Irzal
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 5 No. 1 (2020): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v5i1.2815

Abstract

Remaja merupakan tahap transisi menuju dewasa dengan pertumbuhan pesat yang terkait dengan pemenuhan zat besi. Asupan zat besi yang kurang dapat menyebabkan anemia. Kejadian anemia nasional pada usia ≥ 1 tahun, 5-11 tahun, dan 15-24 tahun adalah masing-masing sebesar 21,7%, 26,4%, dan 18,4%. Kejadian anemia pada remaja putri di Bandar Lampung khusunya kecamatan Tanjungkarang Pusat mencapai 43,1%. Faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada remaja putri adalah kurangnya kosumsi makanan yang mengandung zat besi, menstruasi, konsumsi tablet tambah darah (TTD), dan konsumsi teh setelah makan. Pemberian TTD merupakan salah satu upaya penting untuk mencegah serta menanggulangi anemia akibat kekurangan zat besi. Tujuan dari pengabdian ini adalah mengatasi masalah anemia remaja putri berdasarkan hasil penelitian kualitatif analisis faktor penyebab masalah rendahnya pemberian tablet Fe di Tanjungkarang Pusat. Kegiatan ini telah dilakukan di Bandar Lampung dengan sasaran siswi-siswi SMP,SMA, dan SMK di Tanjungkarang Pusat sebagai duta pencegahan anemia. Strategi Community empowerment telah dilakukan berupa sosialisasi, FGD kepala sekolah serta pelatihan duta dan pembentukan komunitas penccgahan anemia, hingga akhirnya tercapai : 1) menumbuhkan kesadaran masyarakat, dalam hal ini sekolah dan siswi SMP,SMA, SMK se Tanjungkarang Pusat tentang pentingnya pencegahan anemia, 2) kemudian memotivasi dan memampukan masyarakat dengan proses edukasi dan pelatihan pencegahan anemia pada remaja putri, 3) Untuk menjamin keberlanjutan program, dibentuk komunitas penegahan anemia pada remaja putri yang beranggotakan perwakilan siswi dari tiap sekolah serta dibentuk juga komitmen dari stakeholder terkait, yang dicapai dengan deklarasi komitmen bersama dan Puskesmas Simpur dan Puskesmas Palapa sebagai leader.Kata Kunci: anemia, pemberdayaan masyarakat, pencegahan, remaja putri
Peningkatan Pengetahuan Tenaga Kesehatan Mengenai Penyakit Corona Virus Disease (COVID) 19 pada Pasien Dewasa Darwis, Iswandi; Perdani, Roro Rukmi Windi
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 5 No. 1 (2020): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v5i1.2820

Abstract

Coronavirus Disease (COVID-19) merupakan pandemi global yang mana angka kesakitan dan kematian nya tinggi. Penyakit ini merupakan penyakit baru dengan karakteristik yang masih dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga pedoman tatalaksana nya banyak dilakukan pembaruan. Oleh karena itu diperlukan peningkatan pengetahuan mengenai penyakit COVID-19 pada pasien dewasa bagi tenaga Kesehatan. Kegiatan edukasi ini dilakukan dengan metode seminar dalam jaringan (daring)/ webinar untuk tenaga kesehatan. Pemberian seminar awam dilakukan selama 1 jam dengan 30 menit waktu untuk sesi Tanya jawab. Kegiatan ini berlangsung pada hari Jumat 29 Maret 2019 yang dihadiri oleh 254 orang tenaga kesehatan akan diberikan materi mengenai penyakit COVID-19 pada pasien dewasa. Edukasi mengenai penyakit COVID-19 pada tenaga kesehatan diawali dengan memberikan penialai awal pre test yang berfungsi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan tenaga kesehatan mengetahui penyakit infeksi virus corona dan setelah pemberian materi edukasi dilakukan penilaian post test yang berfungsi untuk menilai sejauh mana capaian pengetahuan yang didapat setelah menerima edukasi. Pengetahuan tenaga kesehatan mengenai COVID-19 meningkat secara bermakna setelah diberikan seminar dari 66,77+7,62 menjadi 87,55+11,93 (p-value 0,034). Pemberian peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan mengenai penyakit COVID-19 pasien dewasa dilakukan selama 1 jam sesi penjelasan dan 30 menit sesi tanya jawab. Selama edukasi, tenaga kesehatan aktif menanyakan perihal penyakit COVID-19. Peningkatan pengetahuan mengenai penyakit COVID-19 sangat diperlukan kepada petugas kesehatan untuk tatalaksana penyakit yang lebih holistik dan komprehensif.Kata kunci: COVID-19, Tenaga Kesehatan
Pelatihan Stimulasi Perkembangan pada Orang Tua dengan Anak Palsi Serebral di Rumah Sakit Abdul Moeloek Provinsi Lampung Perdani, Roro Rukmi Windi; Purnama, Dara Marissa Widya; Berawi, Khairun Nisa; Fiana, Dewi Nur; Theodorus, Emeraldha
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 6 No. 1 (2021): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v6i1.2960

Abstract

Tumbuh kembang anak yang optimal perlu adanya peran orang tua yang selalu memperhatikan, mengawasi , dan merawat anak dengan seksama. Proses tumbuh kembang anak berlangsung secara alamiah, tetapi proses tersebut sangat bergantung kepada orang tua atau orang dewasa. Salah satu terapi medis yang dilakukan pada palsi serebral adalah dilakukannya stimulasi tumbuh kembang untuk mencapai yang optimal. Orang tua yang memiliki anak dengan palsi serebral memiliki pengetahuan yang kurang terhadap stimulasi perkembangan anak sehingga perlu adanya pelatihan stimulasi. Metode edukasi orang tua dilakukan dengan cara pelatihan dengan aplikasi zoom dan whatsapp group. Kelompok sasaran adalah orang tua dengan anak palsi serebral, berjumlah 30 orang yang mengikuti pelatihan di aplikasi zoom dan 20 orang yang mengikuti di aplikasi whats app group. Tahap yang digunakan kegiatan terdiri dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan terdapat promosi kegiatan pelatihan kepada orang tua. Pada kegiatan ini terdapat handout pelatihan bagi orang tua, berisikan materi dasar dan cara stimulasi dan video stimulasi. Tahap evaluasi dilakukan bertujuan memastikan seluruh orang tua dapat melakukan stimulasi mandiri di rumah dengan cara memberikan pretest dan posttest kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat pengetahuan peserta mengenai palsi serebral sudah baik dan siap melakukan stimulasi mandiri.Kata kunci: palsi serebral, perkembangan, stimulasi
Bayi Usia 28 Hari dengan Bronkopneumonia Roro Rukmi Windi Perdani; Noviana Hartika Sari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bronkopneumonia adalah suatu infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus atau bronkiolus dan juga mengenai alveolus di sekitarnya. Etiologi penyakit ini disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda asing. Pada kasus ini kami melaporkan neonatus berusia 28 hari datang dengan keluhan utama sesak nafas. Keluhan tersebut disertai demam dan batuk. Lima hari sebelumnya pasien mengalami demam tinggi. Demam dirasakan terus menerus dan tidak pernah turun. Batuk yang awalnya kering kemudian menjadi produktif dengan dahak yang sulit untuk dikeluarkan. Batuk memberat saat malam hari. Pasien juga dikatakan nafsu makannya menurun. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran komposmentis, frekuensi nadi 153x/menit, laju pernapasan 66x/menit, dan suhu 38,5oC, panjang badan 50 cm, berat badan 4,1 kg, lingkar kepala 39cm, dan saturasi oksigen 86%. Status gizi WAZ 0 s/d 2 SD, HAZ 0 s/d 2 SD, WHZ 1 s/d 2 SD yang memberikan kesan normal. Terdapat retraksi substernal, retraksi interkostal, dan retraksi subcostal, serta ronki basah halus nyaring pada kedua lapang paru. Pada pemeriksaan penunjang darah lengkap didapatkan hasil leukositosis dan pemeriksaan foto toraks didapatkan peningkatan corakan bronkovaskuler bilateral, infiltrat pada suprahiler, perihiler bilateral. Pasien dalam kasus ini didiagnosis bronkopneumonia dan anemia ringan.Kata kunci: bronkopneumoni, demam, leukositosis, ronki, sesak
Pemberdayaan Remaja Putri Melalui Komsi (Komunitas Milenial Sadar Nutrisi) di Desa Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung Berawi, Khairun Nisa; Sowiyah, -; Fiana, Dewi Nur; Perdani, Roro Rukmi Windi; Puspaningrum, Dewi Ayu
Jurnal Sinergi Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal SINERGI
Publisher : LPPM Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsi.v2i1.28

Abstract

Pendekatan intervensi managemen nutrisi menjadi salah satu program utama yang diharapkan mampu menurunkan kasus stunting di seluruh dunia khususnya Indonesia. Pengelolaan gizi ibu juga dapat dimulai sejak remaja karena status kesehatan seorang ibu didapatkan berkaitan dengan status gizinya di masa remaja. Sehingga peningkatan pemahaman dan perilaku remaja putri mengenai gizi seimbang khususnya dalam periode 1000 Hari Pertamaa Kehidupan (HPK) dapat mengoptimalkan penurunan kasus stunting. Model Pemberdayaan Masyarakat pada kelompok remaja putri melalui KOMSI ini dikembangan dengan tahapan pembentukan komunitas dengan kerjasama dengan pamong desa dan karang taruna Desa Negeri Katon, Pesawaran. Dilanjutkan dengan edukasi dan penyuluhan, edukasi dan focus group discussion untuk mengevaluasi pengetahuan, model KOMSI sekaligus menyusun formatur KOMSI. Hasil pretset edukasi dan penyuluhan menunjukkan 37% dengan nilai pengetahuan yang cukup dan 63% pengetahuan kurang dari 35 peserta remaja putri yang berusia antara 14 sampai 21 tahun. Hasil pengamatan post test, diketahui bahwa 11% peserta pengetahuan yanga masih kurang walau secara skoring terjadi peningkatan, 60% telah memiliki pengetahuan yang cukup dan 29% sangat baik. KOMSI dengan formatur ketua, sekeretaris, bendahara dan humas, melakukan koordinasi dengan pamong desa dan pamong Kecamatan Negeri Katon untuk mendapat arahan dan koordinasi bentuk kegiatan terkait kesehatan yang akan melibatkan KOMSI sebagai edukator kesehatan yang membantu berperan meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya di Kecamatan Negeri Katon, Pesawaran.
Therapeutic reassessment of first-line antiepileptic drugs in pediatric patients unresponsive to second-line agents: a randomized trial in Jakarta Perdani, Roro Rukmi Windi; Arozal, Wawaimuli; Mangunatmadja, Irawan; Kaswandani, Nastiti; Handryastuti, Setyo; Medise, Bernie Endyarni; Wardani, Amanda Saphira; Thandavarayan, Rajarajan Amirthalingam; Oswari, Hanifah; Lee, Hee Jae
Paediatrica Indonesiana Vol. 65 No. 6 (2025): November 2025
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Epilepsy has a significant incidence in children, with 20-25% resistance to standard antiepileptic drugs (AEDs). Drug-resistant epilepsy (DRE) refers as the failure of two or more AEDs, either as monotherapies or in combination, to achieve seizure freedom, which includes the absence of all seizure types, even auras. Treatment algorithms for children with epilepsy range from starting with the lowest effective dose to using add-on or substitution therapy of AEDs. It usually started from using first-line AEDs (valproic acid, phenytoin, phenobarbital, carbamazepine) with titrated dose based on the patient condition, if seizure persist, another first-line AEDs may be added or substituted. Second-line AEDs (topiramate, levetiracetam, oxcarbazepine) are introduced when seizure persist despite optimal doses of first-line drugs with good compliance. Epilepsy treatment response is a dynamic process, not a fixed state. In some cases, repeating the medication cycle remains an option, as patient may initially appear drug-resistant but later respond to treatment. Thus, first-line AEDs may also serve as substitution therapy in children unresponsive to second-line agents as studies show comparable effectiveness between the two regimens. Objective To evaluate the efficacy and safety of first-line AEDs as substitution therapy (intentional replacement of patient’s current medication) in children resistant to second-line AEDs. Methods This 12-week, open-label, multicenter, randomized controlled trial was conducted in 91 epileptic children. Children aged 1 – 18 years with DRE, were randomized into the intervention (patients who received substitution therapy:  one AEDs was changed to first-line of AEDs) and control (patients who got standard therapy: one AEDs was changed to second-line of AEDs) groups. The primary outcome was the difference in the proportion of responders between the two groups. Secondary outcomes were analyzing the different improvements in quality of life (QoL), EEG feature, and time to achieve seizure reduction in both groups. The QoL was assessed by Quality of Life in Childhood Epilepsy Questionnaire 55 (QOLCE-55) to assess cognitive, emotional, social, and physical functions. Results There were no significant differences in the proportion of responders between the substitution therapy group (62.5%) and the standard therapy group (68.4%). Both groups experienced substantial reductions in seizure frequency, ranging from 78% to 80%. For further analysis, the average difference of seizure frequency before and after intervention was statistically significant in each group, it was P=0.000 in substitution group and P=0.00 in standard group. The analysis of quality of life showed the mean of total score in both groups was low even though the score was higher in the substitution group. For spesific function of quality of life, the cognitive and social function, was improved significantly in the group p<0.05). However, there were no significant differences of EEG improvement, seizure duration, time to achieve seizure frequency reduction, or adverse effects between the two groups. Conclusions First-line AEDs have comparable efficacy as second-line AEDs with mild to moderate adverse effects in DRE children. Thus, the repeated use of first-line AEDs as substitution therapy might be an option for children who resistant to second line AEDS.
Studi literatur tentang Infeksi Sistem Saraf Pusat pada Populasi Anak (Meningitis, Ensefalitis dan Meningoensefalitis) Natasha, Messya; Roro Rukmi Windi Perdani; Muhammad Maulana; Prambudi Rukmono
Journal of Golden Generation Health Vol. 2 No. 1 (2026): In Progress 2026 : Journal of Golden Generation Health
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggh.v2i1.348

Abstract

Infeksi Sistem Saraf Pusat (SSP) pada anak, seperti meningitis, ensefalitis, dan meningoensefalitis, masih menjadi ancaman serius di dunia dan di Indonesia dengan catatan ribuan kasu di tiap tahun serta risiko kematian dan kecacatan otak yang tinggi. Studi literatur ini menjelaskan data epidemiologi dari WHO dan rumah sakit di Indonesia, etiologi yang berasal dari virus herpes hingga bakteri Streptococcus pneumoniae, faktor risiko seperti usia bayi atau keadaan imun yang lemah, serta patofisiologi yang memicu pembengkakan otak dan tekanan tinggi di kepala. Gejala khas dari infeksi sistem saraf pusat yaitu demam, leher kaku, kejang, dan perubahan sadar dengan penegakkan diagnosis menggunakan analisis cairan otak (CSF) untuk membedakan penyebab dari penyakit tersebut seperti bakteri (peningkatan neutrofil  dan kadar glukosa rendah) dan  viral (yang didominasi limfosit). Pengkbatan empiris dapat diberikan ceftriaxone-vancomycin atau acyclovir agar hasil kondisi pasien anak lebih baik dan mengurangi komplikasi permanen.
Karakteristik Nyeri Kepala pada Anak dan Remaja: A Literature Review Silma Nuraini; Roro Rukmi Windi Perdani; Terza Aflika Happy; Prambudi Rukmono
Journal of Medical Practice and Research Vol 1 No 2 (2025): December: Essentia: Journal of Medical Practice and Research
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/4m94fk43

Abstract

Headache is one of the most common neurological complaints in children and adolescents, with a prevalence that increases with age. Clinical manifestations in this population often differ from those in adults, creating challenges in diagnosis and management. This literature review aims to evaluate the classification, clinical characteristics, triggering factors, and impact of headache in the 6–18-year age group based on the most recent scientific evidence. The review was conducted using a narrative approach by searching the PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect databases for studies published within the past ten years, with priority given to the use of the International Classification of Headache Disorders (ICHD-3) criteria. The literature indicates that tension-type headache (TTH) and migraine are the most predominant subtypes. Pediatric-specific characteristics include shorter attack durations (2–72 hours) and predominantly bilateral pain localization. Triggering factors are multifactorial, encompassing academic stress, excessive screen time, sleep disturbances, and hormonal fluctuations in adolescent girls. Headache has a significant impact on school absenteeism and overall quality of life. Recognizing the unique characteristics of headache in children is essential to avoid misdiagnosis. Management approaches should be holistic, incorporating the identification of red flags, lifestyle modifications, and the management of comorbidities to prevent progression to chronic headache into adulthood.