Claim Missing Document
Check
Articles

Development of Synthetic Unit Hydrograph Model in Java Island with Morphometric Parameters Maulida Hayati; Limantara, Lily Montarcih; Prasetyorini, Linda
Rekayasa Sipil Vol. 19 No. 3 (2025): Rekayasa Sipil Vol. 19 No. 3
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2025.019.03.1

Abstract

The synthetic unit hydrograph (HSS) is used as a predictive tool in hydrological studies, particularly to estimate the peak discharge due to design rainfall, which is very useful in water infrastructure planning and flood control. This study aims to develop more accurate HSS parameters by considering the influence of morphometry, namely, the watershed form factor and the watershed area. The study involved 10 watersheds located on the island of Java, which were selected as study sites to provide a broader and more representative context for the variation in characteristics in the study area. The methods used include watershed morphometric analysis to determine the location and shape factor of the watershed, hydrograph analysis to produce unit hydrographs per watershed/sub-watersheds, and hydrograph analysis to determine the size of the sub-watershed and explicit modeling technique with multiple linear regression, which is the writing of a mathematical model that shows the relationship between the dependent variables (Qp and Tp) and the independent variables (A and FD, respectively). The result of the study is a HSS model on Java Island with parameters FD and A obtained the following equation: peak discharge (Qp) = 18.465 - 25.730 (FD) + 0.039 (A), and peak time (Tp) = 2.962 - 0.766 (FD) + 0.001 (A), where FD is the watershed form factor and A is the watershed area. Correlation coefficient (R) for peak discharge (R = 0.962) and peak time (R = 0.974). Coefficient of determination (R2) for peak discharge (R2 = 0.926) and peak time (R2 = 0.948).
Studi Perubahan Karakteristik Hidrologi (Debit Puncak dan Waktu Puncak) Akibat Perubahan Tata Guna Lahan di DAS Lesti dan DAS Gadang Kabupaten Malang Fathia, Ayasha; Limantara, Lily Montarcih; Wahyuni, Sri
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.10

Abstract

Greater Malang, East Java Province is one of a region with fastest growing population. The increasing amount of residential area in a limited area can occur ecosystem damage in a watershed, caused by decreasing catchment area. One of the affected hydrological characteristics was the increasing peak discharge at the watershed outlet. Therefore, the objective of this study is to understand the correlation between changes in land use and hydrological characteristics in Lesti and Gadang Watershed. Sets of hourly rainfall and discharge (2014-2018), topographic maps, watershed maps, and land use maps are used in this study. Calculations analysis are operated by Microsoft Excel and ArcGIS 10.3 software. The results of land use are classified into dry forest, industrial forest, shrubs, farm, settlement, dryland farming, paddy field, savanna, and airport. It has been mentioned that the final result of this study were the decreasing area of dry forest and the increasing amount of settlement, accordant with increment average discharge.
Analisis Debit Limpasan dan Indeks Erosivitas Hujan pada Metode USLE Akibat Variasi Intensitas Hujan dengan Alat Rainfall Simulator Respatiningrum, Amalia Wara; Limantara, Lily Montarcih; Andawayanti, Ussy
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.11

Abstract

The occurrence of rain causes many things, such as surface runoff and rainfall erosivity. The energy of rainfall can make soil eroded. This study aims to determine the effect of rainfall intensity variations on the resulting runoff discharge, rain erosivity index, and erosion rate using the USLE method on a rainfall simulator. A sampling of soil in Pandesari, Pujon, Malang. This study was conducted with rainfall variations, namely 0.5 liter/minute, 1.0 liter/minute, 1.5 liter/minute, and 2.0 liter/minute with a rainfall simulator slope of 5%. As a result, the rainfall intensity significantly affects the runoff discharge in the rainfall simulator, with a coefficient of determination R2 = 0.981. Rainfall intensity also affects the rainfall erosivity in the rainfall simulator with a coefficient of determination R2 = 0.999. And in the USLE method, the rate of erosion is generated by the rainfall intensity with a coefficient of determination R2 = 0.999.Terjadinya hujan mengakibatkan banyak sekali hal, misalnya aliran permukaan dan juga erosivitas hujan. Energi hujan tersebut bisa membuat suatu lahan tererosi. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi intensitas hujan terhadap debit limpasan yang dihasilkan, indeks erosivitas hujan, dan besar laju erosi dengan metode USLE pada alat rainfall simulator. Pengambilan sampel tanah di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Studi ini dilakukan dengan variasi hujan yaitu 0,5 liter/menit, 1,0 liter/menit, 1,5 liter/menit, dan 2,0 liter/menit dengan kemiringan alat rainfall simulator sebesar 5%. Hasilnya, intensitas hujan sangat memengaruhi debit limpasan pada alat rainfall simulator, dengan koefisien determinasi R2 = 0,981. Intensitas hujan juga memengaruhi erosivitas hujan pada rainfall simulator dengan koefisien determinasi R2 = 0,999. Dan pada metode USLE, laju erosi yang dihasilkan dipengaruhi juga oleh intensitas hujan dengan koefisien determinasi R2 = 0,999.
Studi Optimasi Pemanfaatan Air Irigasi pada Daerah Irigasi Gumbasa Kabupaten Sigi Menggunakan Program Linier Shihab, Muhammad Qurais; Limantara, Lily Montarcih; Suhartanto, Ery
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.22

Abstract

Daerah Irigasi Gumbasa memiliki luas baku sawah sebesar 1737 hektar. ditemukan beberapa permasalahan seperti pola tata tanam yang dibuat oleh Dinas Pengairan tidak sejalan dengan kondisi lapangan serta air yang tersedia di Bendung Gumbasa tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air irigasi pada musim kemarau. Agar ketersediaan air dapat mencukupi kebutuhan diperlukan pengoptimalan luas areal yang dapat terairi dari ketersediaan air irigasi yang ada dengan menggunakan program linier agar dapat diperoleh manfaat maksimal dengan keterbatasan sumber daya yang ada. Studi ini mempunyai masalah kekeringan pada rata – rata dalam setahun dapat teratasi berawal dari 33,3% periode tercukupi menjadi 100%, intensitas tanam 40,97% menjadi 165,177% serta keuntungan bersih yang meningkat dari Rp. 7.815.404,895 Per tahun menjadi Rp. 32.969.542,295 dengan kondisi debit andalan 97%. Sedangkan pada kondisi debit andalan 80% berawal dari 79,17% periode tercukupi menjadi 100%, intensitas tanam dari 106,94% menjadi 262,5% serta keuntungan bersih yang meningkat dari  Rp. 20.399.617,696 per tahun menjadi Rp. 49.682.562,315. Untuk kondisi debit andalan 75% berawal dari 91,68% periode terpenuhi menjadi 100%, intensitas tanam 124,58% menjadi 247,44% serta keuntungan bersih yang meningkat dari Rp. 23.765.038,614 menjadi keuntungan maksimum yaitu Rp. 50.135.817,479. Untuk kondisi debit andalan 50% dan 30% tidak di optimasi dikarenakan ketersediaan airnya memenuhi kebutuhan air irigasi.
Analisis Curah Hujan Serial Terhadap Debit Maksimum di Sub DAS Kampili, DAS Jeneberang, Sulawesi Selatan Salsabila, Nadia; Limantara, Lily Montarcih; Fidari, Jadfan Sidqi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.33

Abstract

Curah hujan serial yang terjadi di Sulawesi Selatan dengan keadaan curah hujan lebat hingga curah hujan sangat lebat berpotensi menimbulkan bencana hidrometerologi seperti genangan, banjir, tanah longsor, dan banjir bandang. Bencana banjir akibat curah hujan tinggi ini terjadi di beberapa daerah termasuk di Sub DAS Kampili, Kabupaten Gowa. Penelitian ini mengidentifikasi kesetaraan akumulasi curah hujan serial terhadap debit banjir rancangan untuk mengetahui keadaan curah hujan serial penyebab kejadian banjir. Metode yang digunakan adalah Hidrograf Satuan Observasi (HSO) Metode Collins dan Hidrograf Satuan Sintesis (HSS) Nakayasu yang kemudian akan dianalisa kesetaraan akumulasi curah hujan serial dengan debit banjir rancangan secara relatif. Hasil kesalahan relatif (%) pada perbandingan HSO Collins dan HSS Nakayasu untuk waktu puncak (Tp) sebesar 5,35% dan debit puncak (Qp) sebesar 15,36%. Pada studi kasus ini, curah hujan rancangan kala ulang 2 tahun sebesar 98,299 mm setara dengan akumulasi curah hujan serial sebesar 62 mm. Sedangkan untuk Q1,1th sebesar 49,913 m3/dt disebabkan oleh curah hujan serial dengan keadaan curah hujan sedang pada kejadian banjir tanggal 7 Oktober 2012, curah hujan lebat pada kejadian banjir tanggal 9 Maret 2011, 12  Februari 2015, 3 Februari 2017, serta curah hujan sangat lebat pada kejadian banjir tanggal 20 April 2013.
Analisis Curah Hujan Serial Terhadap Debit Maksimum di Sub DAS Lesti, DAS Brantas, Provinsi Jawa Timur Februanto, Aaron Jeremy; Limantara, Lily Montarcih; Fidari, Jadfan Sidqi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.40

Abstract

Changes in climate and land use cause a high potential for flooding in the Lesti watershed. Rainfall that can cause flood discharge varies greatly, so an analysis of the equality of rainfall with discharge is needed. In this study, we will discuss the comparative analysis of serial rainfall with design rainfall to determine the amount of serial rainfall that can cause flooding. The method used in this research is Nakayasu Synthetic Hydrograph Unit and Collins Observation Unit Hydrograph so that the results are equivalent to rain which can cause flooding. Serial rainfall with a height of 58 mm will be equivalent to a design rainfall of 87.37 mm with a return period of 2 years. The peak discharge value and peak time between Collins and Nakayasu have deviation results with a relative error for the peak time of 9.173%, while for peak discharge of 9.999%. The AWLR discharge of 187.29 m3/s on 5 April 2015 will be equivalent to the design flood discharge with a 2-year return period of 189,143 m3/s.Perubahan iklim dan tata guna lahan menyebabkan potensi bencana banjir yang tinggi pada DAS Lesti. Curah hujan yang dapat menyebabkan terjadinya debit banjir sangat bervariasi, sehingga dibutuhkan adanya analisis kesetaraan curah hujan dengan debit. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai analisa perbandingan curah hujan serial dengan curah hujan rancangan untuk mengetahui besaran curah hujan serial yang dapat menyebabkan banjir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu dan Hidrograf Satuan Observasi Collins sehingga didapatkan hasil kesetaraan hujan yang dapat mengakibatkan banjir. Curah hujan serial dengan tinggi sebesar 58 mm akan setara dengan curah hujan rancangan sebesar 87,37 mm dengan kala ulang sebesar 2 tahun. Nilai debit puncak dan waktu puncak antara Collins dan Nakayasu memiliki hasil penyimpangan dengan kesalahan relatif untuk waktu puncak sebesar 9,173%, sedangkan untuk debit puncak sebesar 9,999%. Debit AWLR sebesar 187,29 m3/dt pada tanggal 5 April 2015 akan setara dengan debit banjir rancangan dengan kala ulang 2 tahun sebesar 189.143 m3/dt.
Analisis Volume Limpasan Permukaan dan Erosi Tanah dengan Model Soil Conservation Service (SCS) dan Modified Universal Soil Loss Equation (MUSLE) Menggunakan Alat Rainfall Simulator Pramasela, Pramasela; Limantara, Lily Montarcih; Wahyuni, Sri
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2022.002.01.34

Abstract

Jumlah curah hujan melampaui laju infiltrasi dan penguapan maka akan mengakibatkan limpasan permukaan. Hujan dengan kekuatan dan butiran yang besar akan membuat tanah menjadi terkelupas dan akan menyebabkan erosi. Maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pengaruh dari intensitas hujan yang bervariasi terhadap volume limpasan permukaan dan laju erosi pada alat rainfall simulator. Studi ini dilakukan pada alat rainfall simulator dengan variasi hujan yaitu 0,5 liter/menit, 1,0 liter/menit, 1,5 liter/menit, dan 2,0 liter/menit dengan kemiringan alat rainfall simulator sebesar 5% dan tanpa vegetasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Soil Conservation Service (SCS) yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variasi intensitas hujan terhadap volume limpasan permukaan serta menggunakan metode modified universal soill loss equation (MUSLE) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variasi intensitas hujan terhadap laju erosi. Hasil dari hubungan intensitas hujan dan Volume Limpasan Permukaan tersebut menunjukan nilai koefisien determinasi (R2) yaitu sebesar 0,9993. Dan pada metode MUSLE tersebut menunjukan nilai koefisien determinasi (R2) yaitu sebesar 0,9995.
Studi Optimasi Pemanfaatan Air Irigasi Menggunakan Program Linier pada Daerah Irigasi Pirang Kabupaten Bojonegoro Triwidianto, Heru; Limantara, Lily Montarcih; Soetopo, Widandi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.01.26

Abstract

The Pirang Irrigation Area has a total area of 1,314 hectares of raw rice fields located in Bojonegoro Regency. The problems that occur in this irrigation area are irregularities in the implementation of cropping pattern that are not according to the plan and the availability of water that cannot meet irrigation needs. Therefore, it is necessary to optimize the available land area and discharge to maximize agricultural profits. Optimization is carried out using a linear programming method with a solver facility in Microsoft Excel. In this study, 1 existing cropping pattern and 4 alternative are planned with 80% and 50% mainstay discharge conditions. The results of the water balance at each cropping pattern before being optimized experienced a water balance deficit with a percentage of 22-25%. However, after optimizing all cropping patterns, none of them experienced a water balance deficit. The optimization results also showed that each alternative cropping pattern experienced an increase in planting intensity and also the benefits of agricultural products compared to the existing cropping pattern at 80% and 50% mainstay discharge conditions. For the best cropping pattern at 80% mainstay discharge conditions, namely alternative 3 (rice ­- peanut - rice) with a planting intensity of 228.33% and a profit of Rp. 54,664,759,359, and in the 50% mainstay discharge condition, alternative 1 was chosen (rice, corn - rice, corn - rice, corn) with a planting intensity of 253.37% and a profit of Rp. 54,099,646,076. Daerah Irigasi Pirang memiliki luas baku sawah 1.314 Ha yang berlokasi di Kabupatern Bojonegoro. Permasalahan yang terjadi pada daerah irigasi ini yaitu penyimpangan pelaksanaan PTT yang tidak sesuai rencana serta ketersediaan air yang tidak dapat mencukupi kebutuhan irigasi. Maka dari itu diperlukanlah pengoptimalan luas lahan dan debit yang tersedia sehingga dapat memaksimalkan keuntungan pertanian. Optimasi dilakukan menggunakan metode program linier dengan alat bantu fasilitas solver pada Microsoft Excel. Pada studi ini direncanakan 1 PTT eksisting dan 4 PTT alternatif dengan kondisi debit andalan 80% dan 50%. Hasil neraca air pada setiap PTT sebelum dioptimasi mengalami defisit neraca air dengan persentase 22-25%. Namun, setelah dioptimasi seluruh PTT tidak ada yang mengalami defisit neraca air. Dari hasil optimasi juga menunjukkan pada setiap PTT alternatif mengalami peningkatan intensitas tanam dan juga keuntungan hasil pertanian daripada PTT eksisting di kondisi debit andalan 80% maupun 50%. Untuk PTT terbaik pada kondisi debit andalan 80% yaitu alternatif 3 (padi - palawija (kacang tanah) - padi) dengan intensitas tanam 228,33% dan keuntungan Rp. 54.664.759.359, serta pada kondisi debit andalan 50% terpilih alternatif 1 (padi, palawija (jagung) - padi, palawija (jagung) - padi, palawija (jagung)) dengan intensitas tanam 253,37% dan keuntungan Rp. 54.099.646.076.
Studi Optimasi Pemanfaatan Air Irigasi Menggunakan Program Linier Pada Daerah Irigasi Manikin Kabupaten Kupang Kharistanto, Robertus Tegar Kurnia; Limantara, Lily Montarcih; Soetopo, Widandi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.01.42

Abstract

Manikin Area of Irrigation irrigates 201.87 hectares of rice fields, located in NTT which is known for its long dry season, this directly affects the availability ofwater for irrigation. So that the availability of water during the dry season is sufficient and can irrigate the fields, optimization is carried out on the area of plants to be irrigated using the available water availability with the linear programming method in order to get the optimal planting area and the benefits obtained are also more optimal. This study was conducted by optimizing the existing cropping pattern and adding three alternative cropping patterns as an option at 80% (dry), 50% (normal), and 30% (wet) discharge. After optimizing all mainstay discharges, the average water balance which can only be met by 80% of the fulfilled period can be maximized to 100% of the fulfilled period, with details for the existing planting intensity of 200%, and a profit of Rp. 4,643,010,000, alternative 1 has a planting intensity 269.78%, anda profit of Rp. 6,234,664,440, alternative 2 has a planting intensity of 300%, and a profit of Rp. 6,915,540,000, alternative 3 has a planting intensity of 269.78%, and a profit of Rp. 5,854,139,490. Alternative 2 cropping pattern with rice-paddy/peanutrice was chosen as the best one to implement because it has an optimal planting intensity of 300% and a profit of Rp.6,915,540,000 per year, which is greater than Rp. 2,272,530,000 from the profit of the existing cropping pattern which is only Rp. 4,643,010,000 per year. Daerah Irigasi Manikin mengairi sawah seluas 201,87 hektar, terletak di NTT yang dikenal dengan musim kemarau panjang, hal tersebut secara langsung berpengaruh pada ketersediaan air untuk irigasinya. Agar ketersediaan air saat musim kemarau tercukupi dan dapat mengairi sawah, dilakukan optimasi pada luas areal tanaman yang akan diairi menggunakan ketersediaan air yang ada dengan metode program linier supaya mendapatkan luasan tanam yang optimal dan keuntungan yang didapat juga lebih optimal. Studi ini dilakukan dengan pengoptimalan pola tanaman di lapangan dan penambahan tiga pola tanam alternatif sebagai pilihan pada debit andalan 80% (kering), 50% (normal), dan 30% (basah). Setelah dioptimasi pada semua debit andalan, rerata neraca air yang hanya dapat tepenuhi 80% periode tercukupi dapat di maksimalkan ke 100% periode tercukupi, dengan rincian untuk eksisting memiliki intensitas tanam 200%, dan keuntungan Rp.4.643.010.000, alternatif 1 memiliki intensitas tanam 269,78%, dan keuntungan Rp.6.234.664.440, alternatif 2 memiliki intensitas tanam 300%, dan keuntungan Rp.6.915.540.000, alternatif 3 memiliki intensitas tanam 269,78%, dan keuntungan Rp.5.854.139.490. Pola tanam alternatif 2 dengan tanaman padi- padi/kacang tanah-padi dipilih sebagai yang terbaik untuk dilaksanakan karena memiliki intensitas tanam yang optimal 300% dan keuntungan sebesar Rp.6.915.540.000 per tahun lebih besar Rp. 2.272.530.000 dari keuntungan pola tanam eksisting yang hanya Rp.4.643.010.000 per tahun.
Rasionalisasi Kerapatan Pos Stasiun Hujan dan Pos Duga Air Sub DAS Pacal dengan Metode Stepwise Yanuar Wicaksono, R. Fajar; Limantara, Lily Montarcih; Wahyuni, Sri
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.01.33

Abstract

Dalam kegiatan perencanaan serta pengembangan sumber daya air, dibutuhkan data hidrologi dengan kuantitas dan kualitas data yang akurat. Kualitas data yang dimaksud adalah bahwa data dapat menggambarkan kondisi hidrologi sesuai dengan yang terjadi di lapangan, seperti apakah data hujan berkaitan dengan data debit yang ada. Penyebaran pos stasiun hujan di suatu wilayah serta nilai kerapatannya dapat mempengaruhi tingkat kesalahan rerata suatu data hidrologi. Rasionalisasi kerapatan pos stasiun hujan dan pos duga air dilakukan dengan metode Stepwise dan standar WMO pada Sub DAS Pacal. Data yang digunakan adalah data hujanusebagai variabelibebas dan dataodebit sebagai variabeloterikat dengan panjang data selama 10 tahun. Metode Stepwise ini merupakan metode stastistika yang dapat mengetahui pos hujan mana yang berkorelasi secara signifikan terhadap data debit. Standar WMO dapat mengetahui kebutuhan minimal jumlah pos hujan berdasarkan karateristik geografi suatu daerah. Hasil analisis pada studi ini didapatkan rekomendasi dengan kombinasi 2 dan 3 pos stasiun hujan. Kombinasi antara pos stasiun hujan Gondang dan pos stasiun hujan Tretes/Pacal merupakan kombinasi yang paling rasional apabila menggunakan 2 pos stasiun hujan dengan koefisien determinasi sebesar 50,41% dan dengan koefisisen thiessen masing-masing sebesar 31,46% dan 68,54%. Kombinasi antara pos stasiun hujan Gondang, Klepek, dan Pajeng merupakan kombinasi yang paling rasional apabila menggunakan 3 pos stasiun hujan dengan koefisien determinasi sebesar 47,70% dan dengan koefisisen thiessen masing-masing sebesar 37,60%, 28,39 % ,dan 34,00 %. Kedua kombinasi ini telah memenuhi standar minimum WMO dan masing-masing pos hujan juga memiliki peran yang sama-sama efektif dan efisien.In planning and developing water resources, hydrological data with accurate quantity and quality is required. The quality of the data in question is that the data can describe the hydrological conditions following what is happening in the field, such as whether the rain data is related to the existing discharge data. The distribution of rainfall station in an area and their density values can affect the average error rate of hydrological data. The rationalization of the density of the rain station post and water level station was carried out using the Stepwise method and the WMO standard in the Pacal sub-watershed. The data used is rain data as the independent variable and debit data as the dependent variable with a data length of 10 years. This Stepwise method is a statistical method that can find out which rainfall station are significantly correlated with discharge data. The WMO standard can determine the minimum requirement for the number of rainfall station based on the geographical characteristics of an area. The results of the analysis in this study obtained recommendations with a combination of 2 and 3 rainfall station. The combination of Gondang rainfall station and Tretes/Pacal rainfall station is the most rational combination when using 2 rain stations with a coefficient of determination of 50.41% and a Thiessen coefficient of 31.46% and 68.54%, respectively. The combination of Gondang, Klepek, and Pajeng rainfall stations is the most rational combination when using 3 rain stations with a coefficient of determination of 47.70% and a Thiessen coefficient of 37.60%, 28.39%, and 34,00%. Both of these combinations have met the minimum WMO standards and each rain post also has an equally effective and efficient role.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Achmad Hariyadi Adiputra, Dhimas Satibi Agi Putra Kharisma, Agi Putra Agung Rahmadi Agus Priombodo Agustina Pagatiku Alamsyah, Muhammad Bayu Ambarwati, Arum Nurwidya Aniek Masrevaniah Arfiyanti, Anandini Fatma Arief Andy Soebroto Arif Rahmad Darmawan Ariston Samosir Azhari, Zeinnia Alya Azwar Annas Kunaifi Chandrasasi, Dian Damayanti, Alvine Cinta Dian Chandrasasi Dian Sisinggih Diando, Azamulail Djunaedi Djunaedi Donny Harisuseno Dwi Priyantoro Edison Hukom Eka Agus Subiyantoro Emma Yuliani Endang Purwati RN Ery Suhartanto Ery Suhartanto Ery Suhartanto Fandianto, Erno Fathia, Ayasha Fauziyah, Fauziyah Februanto, Aaron Jeremy Ferina, Marisa Ayu Hana Arum Rossy Tamaya Haris Djafar, Haris Harisuseno, Donny Harri Pranowo Ikrar Hanggara, Ikrar Ilham, Rendy Khoirul Indra Kusuma Sari Islamiyanto, Yudho Putra itojo Tri Juwono Iwan Nursyriwan Jadfan Sidqi Fidari Jamhari Jamhari Juma'a, Muhammad Walidi Juni, Riska Wulan Kharistanto, Robertus Tegar Kurnia Lalu Sigar Canggih Ranesa, Lalu Sigar Canggih Lenny Febriana Ideawati, Lenny Febriana Linda Prasetyorini Lucky Dyah Ekorini M. Bisri Mahendra, Hardiman Maulida Hayati Megantara, Anggit Gilang Mochammad Ibrahim Moh. Sholichin Moh. Sholichin Mohammad Bisri Mokhamad Rusdha Maulana Muhamad Rodhita Muhammad Bisri Muhammad Ilham nalurita, sari Nuf'a, Hilma Nugrahanto, Bagus Aji Nurdiyanto Nurdiyanto, Nurdiyanto nurfitriani, Alvina nurfitriani, Alvina Nurul Hidayat Pitojo Tri Juwono Pramasela, Pramasela Putra, Whima Regianto Qomarul Huda, Qomarul Rachma, Siti Talitha Rahmah Dara Lufira Ramadian, Bagas ramdhani, fitroh Respatiningrum, Amalia Wara Rini Wahyu Sayekti Rini, Firda Agustiya Rispiningtati Rispiningtati Riwin Andono Riyanto Haribowo Rony Rudson Rossy Tamaya, Hana Arum Runi Asmaranto Safira Anisah Haromain Safira Anisah Haromain Salimah, Ghaida Nurul Salsabila, Nadia Semuel J. Ch. Ahab, Semuel J. Ch. Shihab, Muhammad Qurais Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Suhardjono Suhardjono Sulianto Sulianto Suwanto Marsudi Tae Lake, Geovani Valerian Maria Tri Budi Prayogo Tri Budi Prayogo, Tri Budi Triwidianto, Heru Tyas Daru, Tyas Ussy Andawayanti Very Dermawan Wahyuni, Sri Wahyuni, Sri Wayan Firdaus Mahmudy Whima Regianto Putra Widandi Soetopo Yanuar Wicaksono, R. Fajar Yudha Mediawan Yumna Atika